
Drrrt drrt drrt
"selamat pagi princess" tanpa melihat siapa yang menelponnya di pagi buta Sasa segera menjawabnya.
mendengar suara familiar yang amat ia rindukan seketika kantuknya pun hilang menguap begitu saja.
"Abaaang, Sasa kangen" jawab Sasa dengan suara manjanya. Yusuf menanggapi dengan kekehan.
"Abang juga kangen sayang, lagi dimana?"
"Dirumah kak Ratih, Abang kapan pulang?" Sasa balik bertanya.
"loh kok bisa dirumah mbak?" Yusuf merasa heran.
"Abang Sasa tanya kok malah tanya balik sih" Sasa menggerutu
"jawab dulu sa, kenapa bisa di rumah mbak bukannya dirumah sama mama papa? masih ada urusan apa kok balik lagi kan udah wisudah, yang antarin siapa?" cerocos Yusuf tiada henti pasalnya ia sangat khawatir dengan adiknya jika harus pergi sendiri tanpa ada yang mengantar atau menemani.
"bisa satu-satu gak tanyanya bang, Sasa kan jadi bingung" Sasa menggaruk pelipisnyanya merasa frustasi dengan sifat keposesifan Yusuf.
"yah udah, kamu jawabnya satu-satu toh" desak Yusuf merasa tak sabar.
akhirnya Sasa pun menjelaskan alasannya kembali ke kota, dan juga memberitahu jika besok Sasa akan pulang kembali ke kampung halamannya.
"baiklah, Abang pikir kamu perginya sendiri. awas ajah kalau pergi sendiri Abang akan marah" ancam Yusuf
"siap Abang ku sayang, Abang kapan balik Sasa kangen niih dari kemarin-kemarin Abang gak pernah kasi kabar telpon Sasa juga gak pernah dijawab. emang Abang gak kangen sama Sasa?" dengan suara yang dibua-buat sedih.
"kangen, kangeeenn banget. Abang kangen sama adik kesayangannya Abang. 3 hari lagi Abang balik dapat cuti 1 Minggu dari pimpinan RS, maaf kemarin gak sempet kasi kabar Abang benar-benar sibuk karena banyak jadwal operasi" Yusuf merasa bersalah karena membuat sasa sedih.
"yah udah nanti Abang ajak jalan-jalan deh sebagai permintaan maaf Abang" Yusuf masih berusaha nego karena juga tak mendapat respon dari Sasa, sedangkan Sasa sudah cekikikan dari tadi mendengar nada suara Yusuf yang sudah terdengar sedih.
"awas ajah kalau Abang lupa, Sasa akan ngambek gak mau ngomong lagi sama Abang" jawab Sasa kemudian dengan suara otoriternya
"of course my princess, kamu bisa pegang janji Abang, yah udah Abang tutup dulu yah Abang mau memeriksa pasien dulu, Assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam Abang" Sasa melompat diatas kasur seraya bersorak bahagia. karena terlalu asik sendiri Sasa sampai tak sadar jika Ferdi sudah berdiri didepan pintu dengan pandangan tercengang.
"Heeii hei ada apa ini kenapa lompat seperti itu nanti jatuh sa, berhenti" Ferdi berbicara dengan suara naik satu oktaf dan akhirnya terdengar juga sampai ke telinga Ratih, mendengar kata jatuh Ratih segera berlari dengan tergopoh-gopoh menunju kamar Sasa ia sangat takut jika Sasa benar-benar jatuh.
"jatuh? siapa yang jatuh?" sahut Ratih dari arah belakang dengan suara terengah-engah, mulutnya terbuka lebar saat melihat Sasa sedang asik melompat-lompat diatas ranjangnya.
__ADS_1
"Sasa, berhenti" interupsi Ratih
Sasa berhenti seketika lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Eh Abang Mbak" Sasa nyengir dengan tatapan polosnya, sedang dua orang yang berada dipintu sudah dilanda kecemasan.
"jangan gitu lagi, kalau jatuh gimana" Ratih berucap penuh penekanan.
"siap mbak ku yang cantik" Sasa hormat ala-ala anggota militer.
"hahahaha" Ferdi dan Ratih seketika tertawa melihat tingkah Sasa baru saja dibuat cemas sekarang dibuat tertawa. sedangkan Sasa hanya memanyunkan bibirnya karena ditertawai. melihat muka masam Sasa seketika tawa mereka pun berhenti namun masih terdengar suara tawa yang tertahan.
"emang ada apa sayang, kok sebahagia itu sampe loncat-loncat segala" Ferdi lebih dulu membuka suara.
"3 hari lagi Abang Yusuf balik, yeeyh Sasa bahagia banget" jawabnya dengan mata yang berbinar.
"pantesan" jawab Ferdi dan Ratih serentak. senyum Sasa selalu saja stay di bibirnya ia sudah membayangkan kedatangan Yusuf.
Malam hari di Trans studio XXX.
setelah selesai melaksanakan safari dakwah dan beristirahat sejenak ia kini berada di Trans studio menghadiri acara grand opening cabang baru sebuah brand pakaian muslim ternama yang merupakan brand dari keluarga nya sendiri.
"Waaah itu ada apa rame-rame" tunjuk Ratna kearah kerumunan orang.
Ferdi dan Sasa mengikuti kemana arah Ratna menunjuk. Ferdi sekilas melirik kearah bagian atas dan ia yakin bahwa itu adalah acara grand opening sebuah brand muslim.
"Hmm itu cuma grand opening baju kokoh muslim pria" ucap Ferdi.
"benarkah?, biasanya kalau grand opening akan ada diskon besar-besaran, ayukk kita lihat"
Ferdi mengerutkan keningnya merasa curiga "ngapain kesana? kamu mau beli baju Koko buat siapa?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"papah aku" singkat padat dan jelas "udah ah yuk kesana" Ratna menyeret-nyeret Sasa namun Sasa menolak.
"gak mau ah, walaupun sebenarnya pengen beli buat ketiga pria ku tapi disana rame banget kita akan himpit-himpitan sama yang lain emang kamu gak lihat disana banyak cowoknya" Sasa menunjuk dengan dagunya kearah toko tersebut, Ratna kembali menoleh kearah toko saat melihat banyak pria disana akhirnya Ratna mengurungkan niatnya.
Sasa tiba-tiba merasa hawa menjadi dingin mencekam dan bulu kuduknya merinding. Sasa menoleh kesamping dan mendapati Ferdi sudah menatapnya dengan tatapan yang tajam menusuk.
"astaghfirullahal'adzim, pantas saja Sasa merasa ada hawa mencekam ternyata asalnya dari Abang" ucap Sasa santai.
"ketiga pria siapa yang kamu maksud?" tatapan Ferdi semakin mengintimidasi.
__ADS_1
"bang Ferdi, bang Yusuf dan papa" jawab Sasa kelewat santai.
"huuuft" Ferdi menghela nafas lega perlahan tatapannya melembut ia hampir saja salah paham jika adiknya itu sedang dekat dengan pria bahkan sampai ada 3 pria.
"yeeh Abang pikir ketiga pria itu siapa, Sasa bukan Player yang suka mainin pria yah" Sasa mencebik dengan mata melotot.
Ratna terkekeh sekaligus merasa iri dengan Sasa mempunyai Abang yang amat menyayangi dan menjaganya dengan baik.
"hehehe maaf maaf Abang yang salah, ini karena Abang sayang sama kamu, lagian kalau kamu kenapa-kenapa kamu mau Abang di mutilasi sama keempat orang itu" ucap Ferdi seraya menatap Sasa lalu tersenyum manis.
"kalau diperhatikan ternyata bang Ferdi manis dan tampan juga" batin Ratna memperhatikan Ferdi diam-diam
"empat orang?" tanya Sasa bingung.
"papa, mama, bang Yusuf dan mbak Ratih" jawab Ferdi seraya mengelus pucuk kepala Sasa penuh cinta.
tidak jauh dari mereka ternyata Ali terus memperhatikan aktivitas mereka sejak tadi, karena jarak yang tidak terlalu jauh berhubung didepan Ali terdapat sedikit celah sehingga ia dapat melihat langsung apa yang ada didepannya. cukup lama memperhatikan barulah ia tersadar saat bahunya ditepuk oleh Harun.
"astaghfirullahal'adzim ada apa dengan diriku kenapa aku memperhatikan seorang perempuan ini pertama kalinya terjadi dan lebih parahnya perempuan itu istri orang, yaa Allah ampunilah hamba tidak seharusnya hamba seperti ini" batin Ali gusar
"Al, saatnya kita kembali ke hotel besok kita harus balik lagi ke pondok" ucap Harun
tidak mendapatkan respon Harun kembali memanggil ali.
"Al kamu dengar kan?" Harun mengulangi.
Ali tidak menjawab akibat merasa gusar, meskipun tidak mendengar apa yang dikatakan Harun Ali tetap mengangguk.
"baiklah ayo" harun memberi isyarat agar bodyguardnya membuka jalan untuk Ali.
Ali dan Harun pun berhasil keluar dari kerumunan orang, dengan langkah gontai Ali berjalan melewati Sasa. Ali dan Sasa beberapa saat saling memandang kemudian keduanya membuang muka secara bersamaan.
"eeh bukan kah itu pria Arab yang tadi siang digosipkan di restauran" sahut Ratna tiba-tiba
"dia?" Sasa bertanya dengan mulut terbuka.
"iya dia, tampan kan?" Ratna senyum-senyum sendiri.
"ekheem" Ferdi berdehem "hati-hati zina mata" lanjut Ferdi mengingatkan padahal cemburu. seketika Ratna diam membisu.
"ternyata dia orangnya, sangat tampan.. Astaghfirullahal'adzim apa yang sedang ku pikirkan dasar otak ini" batin Sasa lalu menepuk pelan kepalanya.
__ADS_1