Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
siluet indah


__ADS_3

Sudah setengah tahun berlalu semenjak hari wisuda Sasa terus mencari pekerjaan namun tak kunjung ia temukan, uang jajan yang ia tabung saat kuliah yang sengaja ia siapkan untuk menfotocopy dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan mulai menipis. tidak tahu sudah berapa puluh surat lamaran kerja yang ia sebar namun tak juga ada hasil.


Sasa selalu mendapat panggilan tes dari setiap lamaran yang ia sebar namun hanya sampai ditahap tes interview namun tak pernah dihubungi kembali setelah interview terkahir artinya ia tak lolos ke tahap berikutnya.


bukan karena nilainya yang rendah atau karena kurangnya skill. tapi karena kriteria pekerjaan dengan penampilan Sasa yang tak memenuhi syarat.


ada satu poin utama yang tidak dimiliki Sasa yaitu berpenampilan menarik.


Sasa yang berjilbab syar'i cukup menutupi dada serta gamis yang selalu melekat pada tubuhnya membuat dirinya tak pernah lolos dalam seleksi perekrutan.


"aah sungguh negara ini sangatlah miris, lebih mengedepankan penampilan diatas segalanya" helaan nafas yang berulang kali terdengar dari mulut Sasa, ia berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya teringat ibu sania dan papa hendri yang berada di kampung.


Sasa tinggal bersama mbaknya yang sering ia panggil mbak Ratih sambil mencari pekerjaan dikota kecil tersebut.


"sa, jaga Ahmad dulu yah mba mau ke Hypermart beli ikan salmon buat campuran bubur" terdengar ketukan pintu dikamar Sasa "sa kamu tidur yah?" ulangnya karena tak terdengar sahutan dari dalam Ratih kembali bertanya.


"ah iya, tunggu mba.. mba pergi ajah, Sasa akan segera ke kamar Ahmad" dengan gerakan cepat Sasa memakai kerudungnya asal, ia takut Ahmad akan menangis karena tak melihat siapapun dikamar.


...****************...


"sa ini udah selesai masaknya belum? ini sudah boleh ku buang?" tanya Rafi suami Ratih sambil menunjuk tumpukan batang kangkung yang tergeletak di lantai.


"eh, iya bang udah kok" jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan.


ia tengah asik mengaduk tumis cah kangkung andalannya, baunya menyeruak ke udara tersebar seluruh penjuru rumah membuat setiap yang menciumnya merasakan kelaparan mendadak.


Sasa selain cantik, pintar, juga hobby memasak.


yang namanya hobby otomatis cukup pandai perihal dapur.


"waaah, masak apa nih wangi bener bikin lapar ajah" cicit Ratih yang datang dari arah teras karena mencium bau masakan yang menggiurkan


Sasa terkekeh "biasa mbak makanan kesukaan ku"


"yah udah cepetan dikit udah laper nih" desak Ratih tak sabaran, ia mengusap-usap perutnya seolah minta segera diisi.


tidak butuh waktu lama kini masakan Sasa usai sudah, cah kangkung, udang saus mentega, ikan bakar madu dan sayur bening menghiasi meja makan.


"sini mbak Ahmad biar Sasa yang gendong, biar mbak bisa makan dengan tenang" Sasa mengulurkan kedua tangannya untuk meraih Ahmad dari gendongan Ratih.


"emang kamu gak ikut makan sa?" tanyanya seraya memberikan Ahmad ke pelukan sasa


"Sasa belum lapar mbak, mbak duluan ajah"

__ADS_1


"yah udah mbak minta tolong panggilin mas Rafi didepan" ucap Ratih kemudian dibalas anggukan oleh sasa


Sasa berjalan ke arah depan ia duduk diteras seraya memangku Ahmad melihat kendaraan yang berlalu-lalang, ia melihat Rafi sedang asik menyirami tanaman.


"bang, dipanggil mbak Ratih kedalam untuk sarapan" ucap Sasa sopan


mengetahui bahwa sang istri ada memanggil dirinya Rafi segera menghentikan aktivitasnya mematikan keran air dan berjalan gontai kedalam rumah.


beberapa jam telah berlalu, kini malam telah tiba sang senja telah menyelam ke dasar bumi karena bumi yang terus berputar pada porosnya.


usai shalat magrib Sasa berencana keluar rumah untuk kembali mempersiapkan dokumen yang ia perlukan melamar kerja esok hari.


berbalut hijab berwarna Lilac dan gamis hitam membuat keanggunan seorang Sasa semakin terpancar. sungguh sangat manis dan cantik, tak bosan mata untuk memandang.


"mbak bang, Sasa izin keluar sebentar yah Sasa mau ke fotocopy sekaligus Sasa mau mampir bentar jengukin teman Sasa yang lagi sakit" ucap Sasa dengan sopan.


sasa tak pernah lupa untuk meminta izin saat ingin keluar meski ia tahu sang kakak tidak pernah melarangnya, ibu Sania dan papa Hendri selalu menanamkan tata Krama kepada anak-anak sedari belia. semua anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang penuh sopan santun dan menghormati siapapun. baginya tata Krama adalah harta yang sangat berharga.


"iya sa, hati-hati yah" ucap Ratih memperingati.


"baik mbak, Sasa pergi dulu. Assalamu'alaikum" karena takut kemalaman Sasa sedikit menaikkan kecepatan laju motornya cukup 5 menit Sasa tiba di sebuah percetakan yang cukup besar.


selesai mencetak beberapa dokumen penting, Sasa kembali melajukan motornya menuju rumah Ratna untuk menjenguknya.


"yaa Allah lindungilah hambamu" Sasa berdoa memohon perlindungan seraya terus berusaha mendorong motornya berharap ia segera sampai pemukiman warga.


dengan langkah tergesa-gesa Sasa terus mendorong motornya sesekali mengusap peluh dikeningnya.


mobil dengan kecepatan cukup tinggi melaju membelah jalan sepi, si empu pemilik mobil berusaha menajamkan matanya saat melihat ada siluet indah didepannya. ia perlahan menurunkan kecepatan lajunya ia terus mengucek-ngucek matanya karena mabuk berat membuat pandanganya mengabur.


seringai licik terbit di bibir yang ditumbuhi kumis tipis. "ah rupanya makanan yang lezat" pria itu maju dan mengerem secara mendadak didepan Sasa.


"astaghfirullahal'adzim" hampir saja ia serangan jantung karena terkejut.


sepasang kaki panjang dibalut sepatu sport turun dari mobil dengan langkah lebar dan cepat mendekat kearah Sasa.


Sasa menyipitkan matanya berusaha untuk melihat siapa gerangan sosok yang berada didepannya kini, Karena kondisi cahaya yang remang-remang ia tak mampu melihat dengan jelas siapa orang tersebut namun ia yakin jika orang tersebut adalah pria.


Tubuh Sasa menegang, perasaan takut seketika menyelimuti hatinya. Sasa melepaskan pegangan tangannya dari motor dan berjalan mundur. pria itu semakin mendekat kearahnya.


Sasa memutar tubuhnya untuk segera berlari.


melihat Sasa mengambil ancang-ancang untuk lari pria itu segera berlari dan berhasil menangkap tangan Sasa.

__ADS_1


"ku mohon lepaskan, aku mohon" bulir air mata merembes begitu saja dari mata indahnya.


namun pria tak juga merasa iba.


dengan cekalan yang keras ia menyeret sasa cukup kuat kearah mobilnya.


"ku mohon lepaskan saya" Sasa berpegang keras di ranting pohon yang menjuntai kebawah namun naas pegangannya pun terlepas karena tarikan pria itu sangat kuat.


"tolong, tolong, tolong" teriak Sasa dengan kencang disela Isak tangisannya.


"percuma kamu minta tolong disini tidak ada orang dan tempat ini cukup jauh dari pemukiman warga" ucap pria. "patuhlah" lanjutnya penuh penekanan.


Sasa menggelengkan kepalanya, berharap ini hanyalah mimpi.. ia terus meminta tolong agar dilepaskan namun pria itu tak peduli, ia benar-benar dikuasai setan karena mabuk berat.


"masuk" pria itu mendorong sasa secara paksa masuk kedalam mobilnya.


Sasa beringsut mundur karena ketakutan ia memeluk tas ranselnya didepan dada, berusaha meraih handle pintu mobil agar bisa keluar dan kabur, namun pria itu menangkap pergerakan Sasa dengan cepat ia mengunci pintu mobil


"Tek" pintu terkunci otomatis.


"ku mohon lepaskan saya mas, apa salah saya" ucap Sasa terus mengiba.


"salah mu? hah, salah mu Karena kamu muncul tepat saat saya butuh penuntasan" ucapnya, ia mencengkram kuat dagu Sasa.


Sasa meringis merasakan sakit.


pria itu mulai menarik paksa baju Sasa hingga sobek menyisakan pakaian ********** penutup aset bagian dadanya yang berharga. pria itu semakin kesetanan saat melihat dada Sasa yang terpampang menggoda, ia membekap mulut Sasa dan kembali menarik hijab yang selalu menutup rambutnya yang indah.


"kamu sungguh cantik" ucap pria itu sensual.


Sasa yang diliputi rasa takut ia terus berusaha menutupi dadanya walaupun ia tahu itu tetaplah sia-sia.


pria itu kembali melancarkan aksinya buka satu persatu pakaian Sasa hingga tak tersisa satupun, kini tubuh Sasa benar-benar polos.


bagian bawah pria itu menegang, sesak dan segera ingin dituntaskan, walau pencahayaan yang remang ia bisa merasakan betapa indahnya tubuh Sasa, kulit mulus dan halus semakin membuat gairah pria itu semakin meningkat.


"layani aku, jika kamu masih ingin hidup" sarkasnya penuh penekanan.


hingga terjadilah apa yang tidak di inginkan Sasa, kehormatan yang ia jaga sepenuh hati terenggut paksa oleh pria yang sama sekali tak ia kenal, senyum bangga ibu Sania dan papa herdi, serta seluruh keluarganya berputar-putar di kepalanya.


ia menangis sesenggukan, mencubit-cubit dirinya karena merasa kotor.


"mah, pah, mbak, bang maafin Sasa, Sasa gak bisa jaga diri dengan baik"

__ADS_1


dengan sisa tenaga yang dimiliki ia berusaha bangun dan memakai kembali satu persatu pakaian yang tadinya terlepas secara paksa dari tubuhnya beruntung ia memiliki baju Hoodie didalam tas ranselnya ia segera memakainya kerena bajunya yang tadi ia pakai sudah tak berbentuk. Sasa membuka kunci pintu mobil dan perlahan turun dari mobil ia meringis kesakitan merasakan sakit dibagian intinya. sebelum menutup pintu mobil Sasa kembali memandangi pria yang terlelap setelah berhasil merenggut kesuciannya. ia memandang benci pada pria itu.


__ADS_2