Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
mengikuti langkah


__ADS_3

setiap keyakinan mempunyai kewajiban tersendiri, sama seperti Islam yang mewajibkan ummat-Nya agar senantiasa menjalankan ibadah shalat, seperti sebuah syair yang paling masyhur bahwa shalat adalah tiangnya agama dan wanita adalah tiangnya negara, yang apabila tiang itu berdiri tidak Kokoh maka bangunan itu tidak akan bisa berdiri dengan tegak dan akan ambruk.


sebagi wanita muslim Sasa selalu menunaikan ibadah shalatnya tepat waktu, keterbiasaan itu tercipta karena ibu Sania dan papa Hendri selalu menanamkan nilai-nilai religius pada anak-anaknya, jika tak ada Allah SWT maka kita pun tak ada nasehatnya kala itu.


keberadaan kita didunia sampai saat ini adalah bentuk kemurahan dan kasi sayang Allah SWT kepada ummat-Nya.


Pukul 3.00 dini hari Sasa terbangun dari tidurnya, sekilas melirik jam yang terletak diatas nakas disamping ranjangnya.


"rupanya ini panggilan Allah, aku terbangun dijam segini karena Allah menginginkan aku bermunajat kepada-nya disaat orang lain terlelap. terimakasih yaa Allah untuk cinta yang tidak ada batasnya ini padahal aku sudah banyak melakukan dosa tapi Engkau masih saja menyayangi ku" Sasa tersenyum entah senyuman itu untuk siapa ia pun tak tahu.


"baiklah, hei tubuh Sasa mari kita bangun dan shalat tahajjud kita sambut cinta Allah SWT dengan suka cita" disingkapnya selimut yang menutupi tubuh mungilnya, menurunkan kedua kakinya yang ramping hingga menggantung diatas ranjang, terdengar helaan nafas pelan berusaha mengumpulkan separuh nyawa yang tadi sempat mengawang di alam lain ia merenggangkan tubuhnya seraya bangkit dari rajang menuju bathroom yang tidak jauh dari sisi ranjangnya.


selesai shalat tahajjud Sasa melanjutkan dengan membaca Alquran.


Sasa kembali melirik jam "rupanya baru jam 4 setengah jam lagi masuk waktu shalat subuh, dari pada tidur kembali takutnya malah kebablasan mending ku tunggu saja sampai waktu shalat tiba" ucap Sasa pada dirinya sendiri.


ia meraih tasbih sebelum merebahkan tubuh mungilnya diatas kasur empuknya, berdzikir sambil memandangi langit-langit kamar pandangannya kembali gamang, namun ia merasa lebih nyaman dan damai sehabis shalat tahajjud.


"ah perasaan yang tenang, ternyata begini rasanya lebih dekat dengan Allah SWT. aku akan berusaha selalu mengerjakan ibadah ini" Sasa memejamkan mata meresapi rasa tenang yang menyusup masuk kedalam hatinya, ada kenyamanan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata namun hanya bisa ia rasakan.


Suhu Hari ini cukup berbeda dari biasanya, hawa dingin yang meraba kulit menawarkan rasa ngilu pada tulang. sepertinya hari ini matahari akan terik lebih terang dibanding hari kemarin, pertanda musim panas telah tiba.


Sasa membereskan sebagian pakaiannya masuk kedalam koper, dan sisanya ia tetap simpan dengan rapi di dalam lemari, dengan alasan jika suatu saat ia kembali datang berlibur ke rumah Ratih ia tidak perlu lagi membawa pakaiannya.


Sasa hendak ke dapur untuk membuat sarapan namun dihentikan oleh Ratih.


"mau kemana sa, hari ini gak usah masak bang Rafi lagi keluar beli makanan buat sarapan kita" cicit Ratih tersenyum pada Sasa


"oh iya mbak, tumben nih mau beli diluar biasanya juga lebih suka makanan rumahan" sahut Sasa merasa heran karena ini kali pertama Ratih mau sarapan dengan makan yang dibeli diluar.


"mbak sengaja biar kamu gak usah repot buat sarapan sa, lagian kan jam 8 nanti mobil jemputan mu datang kamu gak akan sempat beres-beres kalau harus masak dulu entar kamu ketinggalan mobil lagi" Ratih berusaha menjelaskan.


"tenang ajah mbak soal pakaian udah ku beres kok jadi tinggal mandi ajah Bru pakaian" ucap Sasa


"waah sepertinya kamu semangat sekali yah mau tinggalin mbak" Ratih berpura-pura menekuk wajahnya untuk mengerjai Sasa.


"eh.. gak gitu mbak aku han..." ucap Sasa terhenti saat Rafi tiba-tiba muncul membawa 3 cup bubur ayam.


"taraa, ini dia sarapan kita bubur ayam Manado aku jamin kalian pasti suka" ucap Rafi membanggakan diri.


Sasa berjingkrak dari depan Ratih "aaah beneran bubur Manado bang?" tanya Sasa antusias ia pernah sekali mencicipi bubur Manado dengan teman-temannya saat melakukan olahraga bersama di taman kota, dan rasanya begitu nikmat.

__ADS_1


Ratih dibuat melongo dengan tingkah laku Sasa yang kadang kurang kalem itu, namun ia juga cukup bahagia karena keceriaan Sasa kembali normal seperti biasanya. ia lebih suka Sasa yang cerewet dari pada Sasa yang pendiam.


"iya dong, emang kamu suka?" tanya Rafi menautkan keningnya. ia yakin jika ia belum pernah melihat Sasa mencicipi bubur Manado.


"suka dong bang, Sasa kan udah pernah makan ini di taman kota bareng teman Sasa pas lagi olahraga bareng" jawab Sasa seraya meraih satu cup bubur Manado dari dalam kantong kresek.


Senyum Sasa mengembang sempurna saat tutup cup bubur berhasil ia buka.


"waaahh" matanya membulat dengan mulut yang terbuka membentuk huruf O. merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.


"biasa ajah kali sa, gitu amat sampe air liur mu hampir menetes" Ratih tersenyum mengejek.


Sasa terkekeh tak peduli dengan ucapan Ratih, dengan cepat ia melahap bubur Manado yang mendadak menjadi makanan favoritnya, eh tapi posisi cah kangkung didalam hatinya tetap no.1


"kamu gak ngabarin teman kamu kalau hari ini kamu balik ke kampung sa" ucap Ratna menoleh ingin melihat ekspresi wajah Sasa yang selalu ceria setiap saat.


"tadi malam sudah sasa kasi tau mbak" jawabnya acuh Sasa berpura-pura tetap asik menikmati sarapannya.


"terus apa katanya?" Ratih sejenak mengehentikan pergerakan tangannya.


"gak ada, katanya gak bisa ketemu soalnya dia sibuk ada urusan mendadak, ohya Ratna titip salam sama mbak" Sasa masih asik menikmati buburnya hingga tak tersisa sedikitpun didalam cup itu.


"udah yah mbak Sasa mau mandi dulu baru siap-siap" Sasa bangkit dari duduknya lalu berjalan gontai menuju kamarnya, setelah berhasil menutup pintu ia menyandarkan punggungnya didaun pintu, diremasnya dada yang terhubung dengan jantungnya untuk menekan gejolak didalam hatinya yang tiba-tiba saja muncul. mendengar pertanyaan Ratih tentang Ratna membuat ingatan Sasa kembali mengingat kejadian yang dialaminya saat ingin menjenguk Ratna.


"aku tidak boleh menangis, aku sudah bertekad untuk melupakan semuanya walaupun mungkin tidak bisa merubah segalanya setidaknya aku bisa tetap berjalan maju tanpa dihantui bayang-bayang menjijikkan itu".


sasa sudah siap dengan balutan gamis polos berwana grey dengan warna hijab yang senada turun menjuntai menutup lekuk tubuh bagian depan Sasa, polesan makeup yang natural mempertegas aura Sasa anggun dan berkarisma.


Sasa menyeret kopernya ke teras agar memudahkan sang sopir mobil saat ingin menaikkan barang-barangnya nanti.


"akhirnya selesai juga" sasa menoleh kearah Ratih yang sejak tadi hanya mengekor sambil memperhatikan aktivitasnya.


"mbak kok melamun sih, Ahmad sini biar Sasa ajah yang gendong sebelum Sasa berangkat" Sasa meraih Ahmad dari gendongan Ratih.


"biasalah sa mbak mu ini terlalu sayang sama kamu jadi gak rela pisah sama kamu" sahut Rafi melirik Ratih.


Ratih hanya merespon dengan deheman sedangkan Sasa sudah terkikik geli mendengar ucapan rafi.


"ciee mbak galau yah ditinggal Sasa" Sasa semakin menggoda Ratih.


"idih jangan kepedean jadi orang" sewot Ratna tak terima karena ditertawai.

__ADS_1


sebuah mobil Pajero berwarna hitam berhenti tepat didepan rumah Ratih seorang pria berbadan tegap turun dri mobil dengan pakaian santai sandal kulit dan rambut yang dimodel kesamping semakin membuat tampilan pria itu terlihat sangat tampan.


"jadi.itu mobil jemputan mu?" tanya Rafi merasa tak percaya, mana ada mobil angkutan umum berpenampilan rapi dan bersih seperti itu terlebih dengan postur tubuh dan pakaiannya terlihat tidak seperti sopir mobil.


"Sasa juga gak tau bang, tapi kayaknya bukan deh. masa ia sopir mobil penampilannya Serapi itu," jawab Sasa sambil terus menatap pria yang semakin mendekat kearah mereka.


"lalu kalau bukan dia sopirnya lalu kenapa dia berjalan kemari?" timpal Ratih juga ikut penasaran, kalau penampilan seperti ini mah gak cocok jadi sopir cocoknya jadi calon adik iparnya saja. pikir Ratih yang mulai ngelantur kemana-mana.


"assalamu'alaikum, permisi.. mau numpang tanya benar ini rumah Salsabila putri?" tanya pria itu penuh sopan santun.


Sasa terkejut, kenapa bisa pria ini mengenalnya bertemu pun tak pernah, bahkan ini adalah pertemuan pertama mereka.


"wa'alaikumsalam" ucap mereka bersamaan


"Benar, sayalah Salsabila putri. apa anda mengenal saya?" tanya Sasa penuh rasa penasaran.


"oh ternyata anda nona....." ucapnya menggantung


"jangan terlalu formal cukup memanggil ku Sasa saja" ucap Sasa sopan seraya tersenyum manis.


pria itu terkesiap ia terpesona "manis" batinnya "ini KTP anda aku menemukannya di jalan XX tergelak dipinggir jalan" ucapnya seraya menyerahkan KTP kepada Sasa.


tubuh Sasa seketika menegang matanya membulat sempurna ia baru sadar akibat kejadian malam itu ia tak sengaja menjatuhkan kartu tanda pengenalnya.


"te.teerimakasih" balas Sasa terbata-bata


Ratih dan Rafi mengernyit heran, melihat ekspresi Sasa yang tiba-tiba saja gugup.


Pria itu menangkap tatapan curiga dari pandangan Ratih dan Rafi pada Sasa, dengan cepat ia mengalihkan perhatian keduanya.


"kalau begitu saya pamit nona sasa, saya hanya ingin mengembalikan KTP itu, permisi assalamu'alaikum"


pria itu melangkah pelan namun lebar menuju mobilnya karena kakinya yang panjang tanpa menoleh lagi kebelakang.


"ternyata kamu orangnya" gumamnya, senyum smirk tercetak di sudut bibirnya perlahan ia menyalakan mesin mobilnya dan memutar kemudi meninggalkan kemudian Ratih yang menyisakan orang yang dipenuhi tanda tanya besar di kepala mereka.


"ah mobilnya sudah tiba" sela Sasa saat melihat mobil yang akan ia tumpangi telah tiba.


"mbak bang Sasa pergi dlu, doain Sasa sampai di rumah dengan selamat" Sasa meraih tangan Ratih dan menciumnya, Sasa hanya mengangguk permisi ke arah Rafi yang juga dibalas anggukan oleh Rafi.


"assalamu'alaikum" ucap Sasa lalu berjalan menuju mobil.

__ADS_1


Ratih seketika tersadar dari lamunannya saat Sasa melambaikan tangan kearahnya disertai mobil yang perlahan menjauh dari pandangannya.


"akhirnya aku pulang, aku akan memulai hidup dengan baik di kampung bersama mama dan papa, aku akan mengikuti langkah kaki ini akan membawa ku kemana" Sasa mengalihkan pandangannya keluar jendela menatap pohon-pohon yang seolah ikut berlari mengejarnya.


__ADS_2