
Keesokan Harinya pukul 17.00 di Bandara Internasional Kota A.
sebua pesawat Elit berhasil landing dengan baik, Ali turun dari pesawat didampingi oleh Harun dan 5 orang pengawal pribadi yang berdiri disisi kanan, kiri dan belakang Ali. selaku toko agama keberadaan pengawal sangat dianjurkan karena diluar sana sangat banyak penguntit yang sangat membencinya bukan karena ia sering terlibat pertengkaran namun karena keberadaannya dan dakwahnya menjadi sosok sang motivator dalam bertindak sesuai aturan, hal itulah yang menjadi sebuah ancaman baginya dari para toko-toko yang hanya mengejar kesejahteraan pribadi.
"Harun, Apakah malam ini kita ada pertemuan?" Ali berjalan dengan tatapan menatap lurus kedepan, matanya menelisik setiap objek yang melintas dihadapannya.
"tidak ada Al, malam ini khusus kita gunakan untuk beristirahat full untuk kegiatan besok jam 8 pagi"
Ali mengangguk paham.
"Silahkan tuan" Supir itu membukakan pintu mobil Alphard khusus menjemput Ali dan Harun sedangkan para pengawal menggunakan mobil Pajero sport, sejak tadi mobil jemputan itu sudah menunggunya di bandara untuk mengantarkan mereka ke hotel tujuan.
"ini kamar kamu Al, dan sebelah kanan ini kamar ku, sementara sebelah kiri kamar pengawal. jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menghubungi ku atau menghubungi pengawal, jangan keluar dari kamar ini tanpa didampingi pengawal" Harun memberikan kartu akses untuk membuka kamar hotel kepada Ali, Ali mengangguk dan meraih kartu tersebut dan segera membuka pintu kamarnya.
"selamat istirahat, Assalamu'alaikum" ucap Ali seraya menutup pintu, dan langsung dijawab serentak oleh Harun dan para pengawalnya.
Ali merebahkan tubuhnya di kasur, merilekskan tubuh sejenak dari rasa lelah perjalanan yang mendera. Ali perlahan memejamkan matanya meresapi rasa empuk kasur yang di tindihnya saat ini rasa nyaman mengantarkan rasa kantuk tiba-tiba pada kedua kelopak mata indahnya. beberapa menit kemudian Ali berhasil masuk kedalam alam bawah sadarnya.
setengah jam berlalu waktu shalat magrib kian dekat Ali terbangun, ia menarik tangannya dari dalam selimut kemudian melihat jam yang berada dipergelangan tangannya. "hmm waktunya membersihkan diri sambil menunggu waktu shalat" batin Ali segera bangkit menuju bathroom.
Kriiet..
pintu kamar mandi terbuka, Ali keluar dari bathroom hanya melilitkan handuk menutupi bagian tubuh bawahnya menampakkan tubuh kekar dengan 8 belahan rotisobek serta otot-otot di kedua lengannya terlihat sangat menonjol dada kekar dan tubuh yang tinggi, beberapa air menetes meluncur melalui pelipis yang di tumbuhi jambang terlihat sangat mempesona. untung Ali hanya sendiri dikamar hotel😁
Ali berjalan menuju walk in closet untuk memakai baju, pilihannya jatuh pada baju Koko gamis khusus pria berwarna putih. selesai memakai baju dengan lilitan sorban yang tidak pernah alpa menghiasi kepalanya Ali memutar tubuhnya berjalan ke arah balkon memperhatikan kota dari atas lantai 30 ia dapat menikmati sinar senja berwarna jingga secara langsung tanpa penghalang yang sebentar lagi akan tenggelam menyisakan gelapnya malam.
"Masyaa Allah betapa indahnya ciptaan-Mu yaa Allah" gumam Ali seraya bertasbih memuji kebesaran Allah SWT.
tok tok tok.
"Assalamu'alaikum
__ADS_1
Ali membuka pintu menatap 6 orang pria yang sudah rapi dengan balutan gamis dan kopiah yang warnanya sama persis dengannya.
"mari tuan kita segera berangkat ke masjid" ucap salah satu pengawal mempersilahkan agar Ali dapat berjalan lebih dahulu didepan mereka kemudian disusul Harun yang berdiri disisi kanannya serta para pengawal berdiri tepat satu meter dibelakang mereka.
mereka kembali menaiki mobil Alphard dan Pajero sport menuju masjid terdekat untuk melaksanakan shalat magrib.
sementara di tempat lain, Sasa baru saja keluar dari bathroom karena habis berwudhu seraya mengangkat kedua tangannya untuk membaca doa sehabis wudhu, setelah membaca doa Sasa segera memakai mukenah dan bersiap untuk shalat.
drrrt drrrtt drrrt
sekilas Sasa melirik ponselnya yang bergetar diatas ranjang tanpa peduli siapa yang meneleponnya di waktu shalat magrib tiba, ia mengambil posisi diatas saja dan memfokuskan dirinya untuk beribadah.
"Yaa Allah wahai Tuhanku, Tuhan seluruh alam, Engkau lah pemegang kendali atas diriku Aku memiliki rencana dan Engkau pun memiliki rencana dan aku pun tahu sebaik-baik rencana adalah rencana-Mu, maka dari itu bantu aku untuk tetap teguh pendirian dan kuat dalam menghadapi kenyataan hidup. aku tidak tahu seperti apa masa depanku setelah apa yang telah menimpa ku tapi aku percaya bahwa Engkau selalu mempersiapkan takdir baik bagi setiap Hamba-Mu yang bersabar dan taat. sebelum waktu itu tiba bantu aku untuk menguatkan iman yang tipis ini, mempersiapkan diri menjadi yang terbaik untuk masa depanku, kirimkan lah seorang imam yang baik untuk ku, untuk dunia ku, untuk agama ku dan untuk akhirat ku, seorang imam yang bisa membimbing dan membuatku semakin dekat dengan-Mu, Aamiin Allahumma Aamiin" doa Sasa penuh pengharapan setelah dirinya selesai mengerjakan shalat
sasa menangis tersedu-sedu, sejujurnya ia merasa khawatir dan lemah tentang hidupnya. tapi ia tahu bahwa segala sesuatu yang menimpanya ada hikmah baik yang Allah SWT selipkan dibalik itu semua. ia hanya perlu meningkatkan rasa sabar dan lebih menguatkan hatinya hingga waktu yang dijanjikan Allah SWT tiba hingga mampu membuatnya terpana dan melupakan segala rasa pedih yang ia derita.
cobaan mungkin sangat berat tapi cinta Allah SWT selalu lebih banyak, jika merasa bimbang, gundah, lemah, dan sedih datang lah pada-Nya maka Allah akan menolong mu, meminta lah pada-Nya maka Allah akan memberikan, rasa nyaman dan aman itu akan kamu peroleh.
percayalah.
skenario paling terbaik adalah skenario Allah SWT.
setelah shalat Sasa merapikan alat shalatnya, lalu mengecek siapa gerangan yang meneleponnya tadi.
"rupanya Ratna" sudut bibirnya menukik mengukir senyum, iya segera menekan tombol hijau, menelpon balik untuk menanyakan apa yang membuatnya menelpon di waktu jam shalat.
Tut Tut Tut
telpon Sasa tersambung namun belum juga di jawab oleh Ratna, hingga panggilan kedua barulah Ratna menjawab.
"Hallo Assalamu'alaikum, maaf yah sa baru ku jawab tadi aku gak denger"
__ADS_1
"gak apa-apa, emang ada apa sampai harus nelpon di jam shalat tadi?, apakah sangat penting dari pada shalat?" cecar Sasa namun tetap terdengar lembut.
"aah itu maaf sa, karena sedang cuti bulanan jadi aku gak sadar kalau lagi jam shalat, ohya aku cuma mau ngajak kamu makan siang besok di restauran xxx dengan bang Ferdi, tenang ajah aku yang traktir kok"
"wah ku rasa kamu habis dapat rezeki nomplok sampe kamu mau traktir kita di restauran mahal seperti itu" Sasa tersenyum meski tidak ada yang melihat senyumnya.
"of course, biasalah kado wisuda dari paman aku" ucap Ratna diseberang telpon.
"baiklah besok kita ketemu dimana?" tanya Sasa lagi
"langsung ketemu di restauran ajah, jangan lupa bawa bang Ferdi" Ratna kembali mengingatkan untuk membawa bodyguard gratisnya itu, lumayan untuk melindungi mereka dari buaya-buaya kurang modal.
"ada bau-bau PDKT nih" canda Sasa
"sorry yah asal kamu tau selera ku bukan kayak bang Ferdi, kalau bang Ferdi ikut kan lumayan buat jaga kita dari terkaman buaya" ucap Ratna dibubuhi kekehan kecil.
"betul juga sih, eh.. tapi jangan salah yah gitu-gitu Abang ku rebutan cewek-cewek loh asal kamu ta ajah, jangan sampe suatu saat kamu yang klepek-klepek sama Abang ku" ucap Sasa membanggakan abangnya.
"bebek kali yang klepek-klepek di sungai" ejek Ratna tertawa geli.
"awas ajah kalau sampe menjilat ludah sendiri" ucap Sasa menekan kata menjilat.
Glek
Ratna menelan ludahnya "yah kalau bang Ferdi Takdir ku yah mau gimana lagi" ucap Ratna membela diri.
"heleeh bilang ajah kalau takut beneran terjadi malah kamu yang jatuh cinta lebih dulu" Sasa tertawa jahat, merasa puas telah membuat Ratna kikuk.
"ah sudah yah sa, aku tutup telponnya" Ratna segera memutuskan telponnya, lalu melempar kesembarang arah diatas kasur sedangkan Sasa sudah tertawa terbahak-bahak.
Ratna segera merebahkan tubuh mungilnya ditatapnya langit-langit sekilas wajah Ferdi yang sedang tersenyum melintas dibenaknya dan sialnya Ratna juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Ajh tidak tidak, sepertinya aku sudah gila. jangan sampai aku beneran menjilat ludah sendiri" Ratna memukul pelan kepalanya berusaha mengusir bayangan Ferdi.
"aah akhirnya besok bisa makan di restauran itu lagi, aaah Menu favorit ku tunggu aku" senyum manisnya terus saja terukir di bibirnya.