
"bang entar malam kita jadikan ke bioskop bareng Ratna" Sasa sedikit menggeser tubuhnya ke Ferdi yang sedang asik memainkan ponselnya.
"hmmm" gumam Ferdi
"Iis Abang jawab dong, jangan cuma haa hmm haa hmm ajah" Sasa merasa kesal karena tak direspon dengan baik.
"iya sayang jadi kok, jam berapa emang?" jawab Ferdi seraya menoleh sekilas ke arah Sasa.
"setelah shalat isya bang kita langsung OTW, biar gak terlalu kemaleman pulangnya" ujar Sasa tersenyum.
"mau nonton apa emang sa" Ratih ikut menimpali karena sedikit penasaran, jiwa keponya seketika bangkit.
"film mbak judulnya Cinta karena Ta'aruf" jawab Sasa singkat.
Ratna hanya manggut-manggut mengerti.
"kalau gitu Sasa mau telpon Ratna dulu, nanti kita jemput dia yah gak pake nolak, titik." ucap Sasa cepat lalu berlari meninggalkan Ferdi yang melongo karena tingkah Sasa yang kelewat pecicilan.
"dasar anak itu gak ada kalem-kalemnya mbak" Ferdi dibuat geleng-geleng kepala.
Ratna yang menyaksikan tingkah Sasa hanya bisa terkekeh, mau gimana lagi sasa memang amat dimanja sehingga apapun yang ia lakukan selalu terlihat lucu Dimata kakak-kakaknya, meskipun selalu di manja Sasa adalah anak yang cukup mandiri dan rajin, Sasa lebih suka mengerjakan pekerjaannya sendiri dari pada meminta bantuan kepada orang lain terkecuali Sasa benar-benar tidak mampu menyelesaikan barulah meminta bantuan.
Disisi lain diwaktu yang berbeda, Ali mendiskusikan beberapa hal dengan Ma'had.
"Ali besok kamu harus ke kota A ada perintah kunjungan Safari Dakwah dibeberapa daerah disana" sahut Ma'had langsung pada intinya setelah Ali menyempurnakan posisi duduknya.
"baik buya, besok Ali akan berangkat, kalau Alwi tidak kah dia ikut Buya?" tanya Ali lembut dan sopan.
"Alwi akan tetap tinggal menggantikan buya untuk memimpin pengajian di pondok putra, ohya jangan lupa bawa beberapa lembar pakaian karena disana kamu akan menetap selama 3 hari dan jadwal mu cukup padat kamu gak akan ada waktu untuk membeli pakaian, kamu tidak pergi sendiri ada beberapa pengawal dan Harun yang akan mendampingi mu" jelas Ma'had
"baik buya, Ali akan segera bersiap. apakah sudah ada jadwal penerbangan Buya?"
"sepertinya belum, coba kamu diskusikan dengan Harun semua jadwal Harun yang mengatur, buya hanya mengetahui kalau lusa adalah jadwal pertemuannya"
"baik buya, kalau begitu Ali izin undur diri dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Ali seraya bangkit dari duduknya.
"wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Ma'had, sepeninggalan Ali Ma'had kembali melanjutkan dzikirnya yang sempat tertunda.
Ringan tapi mulia adalah dzikir.
__ADS_1
Dari Abu Darda RA berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Maukah aku beritahukan sebaik-baik perbuatan, lebih bersih dan suci di hadapan Tuhan kalian dan lebih tinggi derajatnya, dan lebih baik dari berinfaq dengan emas dan perak, bahkan lebih baik dari kalian berjumpa dengan musuh lalu kalian penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian (syahid)?’ Mereka berkata: ‘Tentu!’ Nabi bersabda : ‘Dzikir kepada Allah.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ali sangat jarang masuk ke kamarnya, ia hanya akan kemar jika malam ingin beristirahat. Ali lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kitab-kitab atau mengisi beberapa pengajian dan pelajaran di pondok putra maupun putri.
Ali masuk kedalam ruangan tempat dimana kitab-kitabnya berada ia lebih merasa nyaman melakukan segala sesuatunya didalam ruangan itu termasuk juga saat dirinya sekedar ingin menghubungi Harun menanyakan beberapa hal tentang agenda penerbangannya besok ke kota A.
...----------------...
Malam yang dijanjikan pun tiba, Sasa dan Ferdi sudah bersiap untuk segera meluncur ke rumah Ratna, sasa menggunakan high heels setinggi 5 cm, dan tentu dengan dress polos berwarna manis namun tidak mencolok dipadukan dengan pasminah yang cukup menutupi punggung dan bagian dadanya. berbeda dengan Ferdi pria itu lebih memilih berpenampilan kasual kaos berwarna hitam dengan setelan celana kain berwarna abu-abu beserta sepatu sneakers berwarna putih. sepasang adik kakak yang sangat memperhatikan kerapian dalam berpenampilan cukup membuat orang-orang salah paham ketika melihatnya karena terlihat sangat serasi.
"ayo cepetan bang ini sudah hampir jam 8 loh" desak Sasa segera menarik tangan Ferdi.
"iya tunggu bentar, Abang mau pamit sama mbak dulu, masa mau pergi keluar gak pake adab sih sa" ucap Ferdi geleng-geleng seraya masuk untuk berpamitan dengan Ratih dan Rafi.
"pulangnya jangan kemalaman yah fer jangan ngebut, ingat jaga Sasa baik-baik jangan ditinggal sendiri kalau perlu antarin ke toilet juga kalau Sasa kebelet" ucap Ratih mengingatkan.
"siap mbak bawel amat sih" ujar Ferdi
"eh awas ajah kalau Sasa pulang-pulang lecet" Ratih memutar tangannya mencontohkan seolah sedang menjewer telinga.
Ferdi meringis membayangkan jika telinganya benar-benar dijewer oleh Ratih, dengan segera ia menemui Sasa yang sudah menunggunya diteras rumah akan semakin rumit kalau adik kesayangannya itu mengomel karena menunggu terlalu lama.
Mobil Pajero berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Ratna. tidak menunggu waktu lama mereka pun sampai di rumah Ratna.
"assalamu'alaikum" ucap Sasa mengetuk pintu rumah Ratna.
"wa'alaikumsalam" ucap seorang pria paruh baya didalam sana. dibukanya pintu dan menampakkan Sasa dan Ferdi dengan senyum termanis yang selalu bertengger di bibir mereka berdua saat bertemu seseorang. Ferdi menyalami tangan Kusuma papanya Ratna sedangkan Sasa seperti biasa hanya mengatupkan kedua tangannya didepan dada dan Kusuma sangat paham maksud tindakan Sasa karena keluarga Kusuma juga memiliki bibit bebet bobot yang cukup paham agama kalau hanya perihal hal kecil seperti itu.
"eh nak Sasa, tumben baru muncul" ucap Kusuma saat melihat Sasa, ia kembali melirik Ferdi yang hanya diam mematung.
melihat lirikan Kusuma dengan cepat Sasa angkat bicara sebelum terjadi kesalahpahaman "kenalin om ini abangnya Sasa namanya Ferdi" ucap Sasa memperkenalkan
"Ferdi om" Ferdi mengulurkan tangannya hendak kembali menyalami Kusuma, Kusuma pun meraih uluran tangan Ferdi seraya tersenyum manis.
"Ratna nya ada om?" tanya Sasa setelah beberapa saat.
"ada nak, ayo masuk dulu biar om panggilkan" Kusuma membuka pintu dan mempersilahkan Ferdi dan Sasa masuk, namun baru saja Sasa ingin melangkah Ratna sudah muncul dari arah belakang.
"eh Sasa bang fer udah lama nunggunya" sahut Ratna seraya memperbaiki posisi tasnya kearah samping. iya berjalan mendekati Kusuma.
__ADS_1
Ferdi lagi-lagi terpesona dengan penampilan Ratna yang selalu saja terlihat cantik dan anggun. selera Sasa dan Ratna hampir sama memakai dress dan pasminah terlihat sangat kompak seperti sedang janjian.
"belum lama kok baru ajah tiba" jawab Sasa cepat
Ratna mengangguk paham ia meraih tangan Kusuma dan menciumnya, begitupun dengan Ferdi melakukan sama persis dengan apa yang dilakukan Ratna, sedang Sasa jangan ditanya lagi sudah pasi hanya mengatupkan kedua tangannya.
"pah Ratna pamit yah, insyaaAllah Ratna balik sebelum jam 10" Kusuma mengangguk tanda setuju.
setelah 15 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di bioskop, ternyata filmnya baru saja dimulai mereka segera mengambil tempat sesuai tiket yang mereka beli tentunya Sasa berada ditengah memberi batas antara Ferdi dan Ratna yang bukan mahram.
satu jam setengah berlalu begitu saja, Sasa sempat beberapa Kali meneteskan air matanya di beberapa adegan sad, berbeda dengan Ratna gadis itu hanya diam ingin ikut menangis namun malu jika Ferdi melihatnya. Ferdi yang berada disebelah sasa sekilas melirik ke arah Ratna saat film sudah menampilkan deretan tulisan dilayar pertanda jika film telah usai, mata merah Ratna cukup terlihat meskipun dibawah cahaya remang-remang lampu Ferdi tersenyum tanpa menanggapi.
ketiga manusia itu pun berjalan keluar sejenak berniat untuk singgah di stand makanan agar dapat mengisi perut yang sudah keroncongan akibat lupa membeli cemilan sebelum masuk ke dalam bioskop.
"Sasa.." suara bariton dari arah belakang membuat ketiga orang yang tadinya asik berjalan sambil bercerita menoleh secara bersamaan, sedari tadi Dimas memperhatikan Sasa dari jarak jauh mencoba menajamkan matanya untuk memastikan benarkah gadis yang ia lihat adalah sasa.
mata Sasa melotot tangannya seketika keringat dingin tubuhnya pun gemetar namun secepat kilat ia menguasai dirinya berusaha mengontrol agar ta terlihat mencurigakan oleh Ferdi dan Ratna. Sasa baru saja ingin angkat bicara namun didahului oleh Ferdi.
"dimas kan, Dimas Anggara?" tanya Ferdi antusias seraya menunjuk ke arah Dimas. Dimas menautkan kedua alisnya mencoba mengingat siapa gerangan pria yang mengenalnya ini.
"Ferdinan Darent kan, apa kabar bro?" mereka saling merangkul sama seperti kebanyakan pria yang tidak bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dimas adalah teman satu jurusan Ferdi saat berkuliah tepatnya 3 tahun yang lalu di universitas tempat Sasa dan Ratna menempuh pendidikan.
"seperti yang kamu lihat, aku selalu sehat wal'afiat Alhamdulillah" jawab Ferdi.
"terus mereka berdua siapa?" tanya Dimas menunjuk Sasa dan Ratna.
"ini adik gue, dan ini Sabahat adik gue" ucap Ferdi menjelaskan.
"jadi Sasa adik Lo yah fer"
"kalian saling kenal? dimana?"
"iya" "tidak" jawab Dimas dan Sasa bersamaan.
mata Ferdi memicing merasa ada yang janggal antara mereka berdua. Sasa semakin dibuat gugup karena tatapan Ferdi sedangkan Dimas tetap santai dan tersenyum manis.
"aku kenal sama Sasa tapi mungkin Sasa udah lupa sama aku, waktu itu aku menemukan KTP Sasa dijalan dan ku kembalikan ke orangnya, kejadiannya udah lama hampir 2 Bulan yang lalu dan kami hanya bertemu sekali wajar kalau Sasa lupa dengan muka ku" jelas Dimas panjang lebar, iya melirik sekilas kearah Sasa gadis itu terlihat menghela nafas legah namun masih terlihat gugup.
__ADS_1
"i.iya bang Sasa lupa soalnya udah lama" sahut Sasa menimpali. Ferdi hanya mangut-mangut paham sedangkan Ratna hanya diam menyimak ia bisa menangkap gelagat aneh dari Sasa tapi ia tak ingin ikut campur.