Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Gerakan Hati


__ADS_3

Hiruk pikuk kota cukup menyesakkan dipagi hari, kabut asap polusi mengudara dimana-mana terlihat beberapa mobil sibuk berlalu-lalang menuju tempat dimana mereka mengumpulkan pundi-pundi uang. hidup dikota memang cukup rumit jiwa gotong royong amatlah tipis bahkan tidak terlihat sama sekali, saling mementingkan keuntungan dan urusan sendiri seperti beberapa kata yang cukup viral 'hidup ku urusan ku, dan hidup mu urusan mu' begitulah prinsip hidup dikota saling berlomba-lomba meraup kesejahteraan semata.


terlihat beberapa makhluk yang bernyawa memenuhi pekarangan Auditorium disalah salah satu universitas yang cukup terkenal di kota A mereka saling sibuk menyapa, bertegur sapa dan saling memberi ucapan selamat kepada anak-anaknya.


"Rat, untuk merayakan hari wisuda mu dan sebagai bentuk rasa syukur ku aku ingin mentraktir mu nonton di bioskop entar malam ada film bagus yang lagi tayang judulnya Cinta karena Ta'aruf, gimana kamu mau?" tanya Sasa pada Ratna yang baru saja selesai menyalami beberapa teman wisudawan lainnya.


"wah mau dong mau, cuma kita berdua nih?" Ratna begitu antusias dapat dilihat dari mata Ratna yang berbinar sudah lama dirinya tidak menonton dengan sahabatnya itu, terakhir kali saat semester 5 hampir 1 tahun yang lalu karena terlalu sibuk mengurus penelitian skripsi begitupun dengan sasa.


"gak rat, ada abangku juga. dia juga ada disini loh dia duduk di gazebo sebelah sana tuh" Sasa menunjuk salah satu gazebo yang berada di sudut halaman, mata Ratna pun mengikuti kemana arah jari telunjuk Sasa.


"yuuk kita kesana" ajak Sasa merangkul lengan Ratna, mereka melangkah dengan langkah pelan dan anggun terlebih pakaian Ratna yang cukup membuat ruang geraknya semakin terbatas.


"Abang" seru Sasa saat telah berdiri di hadapan Ferdi.


Ferdi mendongak saat mendengar suara yang cukup familiar ditelinganya. seketika Ferdi terdiam mematung melihat kecantikan Ratna yang berada disamping sasa Ratna hampir sama dengan Sasa cantik dan mungil namun Ratna sedikit lebih tinggi dari sasa, polesan makeup natural dan tidak mencolok menambah kesan manis diwajahnya, b


balutan Dress berwarna Avocado dan dihiasi toga diatas kepalanya membuat penampilan Ratna terlihat anggun dan elegan. "cantik" batin Ferdi masih diam mematung memperhatikan Ratna tanpa berkedip.


Sasa dan Ratna dibuat melongo, bukannya menjawab malah diam mematung.


"Abang Ferdi" seru Sasa suaranya sudah naik satu oktaf.


Ferdi tersentak kaget dari lamunannya "Eh..."


"kok malah ngelamun sih bang, kenalin ini sahabat Sasa namanya Ratna" sahut Sasa memperkenalkan keduanya.


Ferdi mengangkat tangannya hendak menyalami Ratna, namun tangannya mendapat pukulan dari Sasa.


"gak usah salam-salaman, bukan mahram" sentak Sasa memperingati.


Ratna terkekeh pelan memperhatikan kekonyolan saudara sekandung itu, dengan cepat Ratna mengatupkan kedua tangannya di depan dada "Ratnasari, panggil saja Ratna seperti Sasa" ujar Ratna sopan memperkenalkan diri.


Ferdi tersenyum manis "Ferdinan Darent" membalas mengatupkan kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


"Abang udah lupa yah sama Ratna?, waktu itu kan Ratna juga hadir di acara wisuda Sasa" tanya Sasa merasa heran dengan ekspresi Ferdi yang seakan-akan baru bertemu pertamakali.


Ferdi menaikkan alisnya sebelah, memperhatikan Ratna sekali lagi mencoba untuk mengingat gadis mana yang Sasa maksud.


"kamu gadis aneh itu" tanpa sadar ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Ferdi saat teringat gadis yang senyum-senyum sendiri saat berada di rumah Ratih dengan segera ia menutup rapat mulutnya, seraya merutuki kebodohannya "sial.. dasar mulut bodoh" hancur sudah kesan baik dirinya di mata Ratna gadis cantik wanita pertama yang mampu menggerakkan hatinya.


Ratna menautkan alisnya saat mendengar ucapan Ferdi. "gadis aneh?" ucapnya mengulang kembali ucapan Ferdi.


"Eh.. bukan itu maksud ku, Emmm..." Ferdi kikuk sendiri merasa canggung karena tak tahu harus mengatakan apa.


lagi-lagi Ratna melempar senyum manisnya membuat Ferdi kembali terpesona.


ddrrrrt drrtt


ponsel Ratna berdering.


"Hallo, Assalamu'alaikum mah"


"......."


"sa aku harus pulang keluarga ku sudah menunggu, kamu gak mau ikut kerumah ku?" tawar Ratna.


"ah terimakasih rat, sepertinya tidak bisa soalnya tadi abangku ada kepentingan mendesak" tolak Sasa dengan sopan, ia sengaja melakukan itu karena Sasa merasa tidak enak jika harus kerumah Ratna membawa seorang pria, mendengar penolakan Sasa membuat mata Ferdi melotot.


"baiklah sa kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk hadir" seru Ratna dengan tulus, lantas memeluk Sasa sejenak sebelum beranjak pergi.


sejak meninggalkan lokasi kampus Ferdi terus diam mematung, Sasa melirik sekilas kearah Ferdi sambil terkikik geli ia tahu apa yang menyebabkan abangnya itu diam membisu apa lagi kalau bukan karena Sasa menolak diajak kerumah Ratna kalau saja Sasa tidak menolak Ferdi bisa menjadikan ajang perkenalan dan pendekatan terlebih dahulu sebelum mendekati Ratna, namun Sasa tidak ingin mengambil pusing ia memilih tidur dari pada meladeni Ferdi yang sedang mengajaknya perang dingin.


ferdi melirik sekilas kearah Sasa, ia mencebik melihat Sasa yang tertidur pulas bahkan ia tidak peduli sama sekali mengapa dirinya menjadi diam membisu.


"dasar Sasa gak peka" sungut Ferdi sedikit jengkel.


...****************...

__ADS_1


Ditempat lain terlihat seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, bulu mata lentik dan lebat mata coklat serta hidung yang tinggi dan mancung, bulu-bulu jambang menghiasi rahang runcingnya, sebuah cincin permata zamrud melingkar sempurna di jari kelingkingnya yang panjang, dikepalanya ia lilitan sorban berwarna putih, semakin memancarkan aura kewibawaan dan ketampanan yang ia warisi dari bangsa keturunan arab, pria itu sedang sibuk membaca kitab-kitab yang tersusun rapi di hadapannya.


kitab-kitab dengan kertas yang berwarna kuning di bubuhi tulisan berbahasa Arab tanpa baris berhasil menyita perhatian pria tersebut.


pria itu sangat hobby membaca kitab, bahkan sudah beberapa jam dirinya duduk diam membaca namun belum juga terlihat rasa bosan sedikitpun, untuk sekedar bersandar sejenak disandaran kursi saja ia tak pernah rupanya kitab-kitab itu adalah hobby yang sangat ia cintai.


ia lebih menyukai menyendiri sambil membaca kitab dari pada sekedar berjalan-jalan, baginya kegiatan jalan-jalan adalah kegiatan yang unfaedah dan membuang-buang waktu. bagaimana jika nyawanya dicabut saat dirinya sedang asik jalan-jalan dan melihat hal-hal yang tidak diridhoi Allah. membayangkannya saja ia tak ingin.


tok tok tok


suara ketukan mengalihkan netra pria tersebut, perlahan ia menutup kitabnya dan berjalan kearah pintu


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"


ucap seseorang diluar sana


"wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawabnya seraya membuka pintu


"Ali, Abuya memanggil mu temui lah beliau di ruang baca" ucap wanita paru baya penuh kelembutan.


pria Tampan itu bernama Ahmad Ali Assegaf, anak sulung dari dua bersaudara, adiknya bernama Ahmad Alwi Assegaf, Ali adalah calon penerus yang ditunjuk langsung oleh ayahnya. Ali merupakan anak dari salah satu toko pemuka agama yang tersohor di pulau Jawa yaitu Sayyid Habib Ma'had Assegaf dan ibunya bernama Khumaira, Habib Ma'had adalah pimpinan sekaligus pendiri pondok pesantren no.1 dipulau tersebut.


"iya um, Ali akan segera kesana" jawabnya seraya mencium tangan Ummahnya.


"baiklah, jangan biarkan Abuya menunggu lama" ucapnya seraya beranjak pergi.


Ali kembali masuk keruangannya, ruangan khusus untuknya dan tidak sembarang orang bisa memasukinya, didalam ruangan itu dipenuhi lemari yang berderet mengelilingi setiap sisi ruangan itu, semua lemari penuh dengan kitab-kitab dimulai dari yang terbesar hingga yang terkecil, dan yang paling tebal hingga yang paling tipis, semua diurut dan disusun sesuai jilid dan golongannya.


Ali segera membereskan kitab-kitab yang sempat ia baca tadi, dan menyusunnya kembali ke dalam lemari di tempat semula. merasa semua telah beres ia keluar hendak menemui Ma'had di ruang baca sesuai perkataan Ummahnya tadi.


...****************...


CTT: setiap nama yang tertera didalam cerita ini murni karangan Author, tapi mengenai marga/Fam Assegaf adalah fakta adanya.😇

__ADS_1


bijak dalam membaca, jika ada yang ingin dikomentari silahkan author sangat senang demi kemajuan karya.🤗🌼


terimakasih 🙏🤗


__ADS_2