Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Memilih jalan hijrah


__ADS_3

"bukan kah perjalanan kita 3 hari, kenapa tiba-tiba kita kembali besok?" tanya Ali heran saat mereka sudah berada didalam mobil menuju hotel.


"penyakit Abuya semakin parah, beliau sekarang berada di ruang ICU" Jawab Harun sedikit menoleh ke Ali lalu kembali fokus kedepan.


Mata Ali melotot lalu kemudian membuang pandangannya keluar jendela rasa khawatir seketika menggerogoti hatinya tergambar melalui matanya yang memerah karena menahan air mata, pikiran yang tadinya dipenuhi oleh Sasa kini mengambang entah hilang kemana.


"tidak bisakah kita kembali malam ini" tanya Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


"penerbangan paling cepat hanya ada besok pagi setelah shalat subuh" sahut Harun melirik Ali Sejenak. "sabar dan berdo'alah, bukan kan itu hal yang paling ampuh saat ini" Harun menepuk-nepuk bahu Ali.


Ali sejenak memejamkan matanya "yang dikatakan Harun memang benar, seharusnya aku berdoa" batin Ali bermonolog


"istirahatlah, besok setelah shalat subuh kita langsung ke bandara, selamat malam. Assalamu'alaikum" ucap Harun saat mereka sudah tiba di depan pintu kamar mereka.


Ali mengangguk lalu masuk lebih dulu kedalam kamarnya, ia begitu enggan membuka suara hanya untuk menanggapi ucapan Harun. salam dari Harun pun berlalu bersama angin.


Ditempat lain Sasa dan Ferdi berdebat karena Sasa yang sibuk mengemasi pakaiannya untuk ia bawa pulang besok hingga tak memperdulikan dirinya yang sejak tadi duduk dikasur "sa, ngapain sih bawa pulang baju banyak-banyak gitu heran deh"


ferdi sedikit heran dengan tingkah Sasa, karena biasanya Sasa lebih memilih meninggalkan pakaiannya didalam lemari dirumah Ratih dari pada harus dibawa pulang kembali.


"Sasa sengaja bang, nanti pas pulang Sasa mau tanya papa lagi tentang keinginan Sasa untuk mondok, nah kalau papa mengizinkan pakaian ini akan Sasa bawa ke pondok" tanpa menoleh Sasa terus saja sibuk mengemasi pakaiannya.


"kamu beneran serius mau mondok?" tanya Ferdi lagi.


sejenak Sasa berhenti lalu menoleh kearah Ferdi seraya tersenyum "Sasa serius bang, masa Sasa becanda sih" ucap Sasa kembali fokus dengan pekerjaannya.


"kamu tegah tinggalin Abang sa?, mama papa mbak sama bang Yusuf. kamu tegah?" cicit Ferdi dengan suara pelan.

__ADS_1


lagi-lagi Sasa tersenyum lalu bangkit berjalan dan duduk di sebelah Ferdi.


"bang, Abang mau kan Sasa jadi anak yang sholeha dan adik sholeha buat Abang dan mama papa? sebenarnya Sasa juga gak mau tinggalin kalian tapi bang Sasa sudah bertekad memilih jalan hijrah ini. Sasa pengen menjadi sebaik-baiknya perempuan Sasa gak mau menyia-nyiakan waktu, gak ada yang tahu kapan waktu kematian tiba dan Sasa gak mau menghadap Allah tapi gak punya bekal ilmu sedikit pun. dan juga Sasa pengen belajar sembari mementaskan diri untuk menyambut pasangan Sasa kelak agar saat kami bertemu kami sudah sama-sama pantas. bukan kah Abang sendiri tahu bahwa jodoh adalah cerminan diri? nah Sasa gak mau dapat jodoh yang gak bisa membimbing Sasa kelak, Sasa mau dapat jodoh yang terbaik dari Allah, kalau Sasa mau jodoh yang terbaik maka Sasa juga harus menjadikan diri Sasa menjadi yang terbaik. bagaimana mungkin Sasa mengharapkan yang terbaik kalau Sasa sendiri tidak baik bang.. sampai sini Abang paham kan?" Sasa meraih wajah Ferdi dan menangkup dengan kedua tangan mungilnya ia menatap jauh ke dalam mata Ferdi terlihat jelas jika didalam Sana ada rasa sedih yang dirasakan Ferdi.


Ferdi mengulurkan tangannya, didekapnya Sasa dengan erat. sejenak Ferdi memejamkan matanya setetes bulir air jatuh keatas kepala Sasa, spontan Ferdi segera menghapusnya, mengetahui adik yang selalu ia jaga sedari kecil akan pergi jauh membuatnya seakan menjadi pria yang lemah.


Sasa pun membalas pelukan Ferdi, ia melingkarkan tangannya di pinggang Ferdi sesekali usapan halus ia layangkan di bokong Kokoh milik Ferdi. Sasa sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, bahunya bergetar dengan isakan kecil dibawah sana sejenak Ferdi tertegun apakah Sasa menangis karena sikapnya barusan, perlahan ia mengurai pelukannya dengan masih tetap memegang bahu Sasa ditatapnya wajah cantik adik kesayangannya kemudian sebuah senyuman manis terukir jelas di sudut bibir Ferdi.


"hey jangan menangis princess, Abang akan merasa sangat bersalah kalau kamu menangis, maafkan Abang ya. semoga kamu bisa menjadi apa yang kamu harapkan, Abang akan mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk mu. jangan pernah lupa kalau Abang, mama, papa, mbak, dan bang Yusuf selalu ada buat Sasa dan akan selalu sayang sama Sasa" ucap Ferdi lemah lembut.


Sasa tersenyum namun rupanya air mata itu masih sulit untuk ia hentikan, perlahan Ferdi mengusapnya lalu kembali meraih Sasa kedalam dekapannya.


"Huuhhft adik kesayangannya Abang, yang paling cantik, manis, dan cerewet" ucap Ferdi lagi dengan nada dibua-buat mengejek ia ingin agar sasa berhenti menangis.


"iih Abang, merusak moment sweet ajah" Sasa menggerutu dengan bibir sudah manyun 5cm, ia menepuk pelan bokong Ferdi lalu melepaskan diri dari dekapannya.


"iya bang" Sasa pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


"bang kira-kira respon mbak Ratih kalau tahu Sasa mau mondok gimana yah?" tanya Sasa tiba-tiba.


"gak usah kamu pikirin itu, mbak pasti setujulah kayak kamu gak tahu mbak ajah. mbak itu selalu memprioritaskan keinginan kamu, asal kamu tau kalau kamu lupa" jawab Ferdi mengingatkan seraya mencebikkan bibirnya. ia kembali mengingat masa lalu setiap Sasa menangis karena mainannya Ferdi dan Yusuf selalu kena batunya diomelin oleh Ratih belum lagi Omelan papa dan mamanya.


Sasa terkikik tanpa dosa melihat ekspresi Ferdi.


"uups maaf Abang" ucap Sasa dengan nada centil.


"yah udah Abang balik kamar trus istirahat biar besok charger Abang full saat bawa mobil, Okee" ucap Sasa seraya mendorong tubuh kekar Ferdi keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"iya iya tau, gak usah didorong juga kali" ucap Ferdi sewot.


selepas kepergian Ferdi, kali ini Sasa kembali menghayal. pikirannya menerawang jauh, sudah betulkah keputusannya untuk mondok, bagaimana nanti ia menjalani kehidupan hari-harinya dipondok, apakah ia bisa dikekang dengan berbagai aturan pondok yang harus ia turuti dan bisakah ia bertahan beberapa tahun tidak bertemu dengan keluarganya, membayangkan itu ada sedikit rasa sesak menghantam dadanya.


saat ingin menjadi baik kenapa begitu sulit, namun saat ingin menjadi manusia paling buruk sangatlah mudah.


jawabannya cuma ada satu.


(karena surga tidaklah murah) banyak hal yang harus dikorbankan, harta, waktu, emosi dan masih banyak lagi.


Dalam sebuah hadits diriwayatkan:


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)


pada zaman nubuwah para sahabat rela mengorbankan harta bahkan nyawa hanya untuk membela agama, dengan semangat yang berkobar parasa syuhada maju dibarisan pasukan untuk berperang memerangi kaum Quraisy. banyak nyawa syuhada yang tumpah untuk membela agama Allah SWT, Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW rela dilempari kotoran hewan, batu-batuan dan dihina sana sini namun tetap teguh pendirian untuk mensyiarkan agama.


Ketika Rasulullah mendapat penentangan dari kaum Quraisy yang tidak menerima dakwah beliau, bahkan para bangsawan Mekkah banyak yang menentang keras risalah beliau dengan melakukan penyiksaan, pengusiran dan pemboikotan, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid mengorbankan semua harta yang dimilikinya untuk membela misi Rasulullah.


Bahkan ketika kaum musyrik Quraisy melakukan pemboikotan kepada bani Hasyim dan Bani Muthalib, Sayyidah Khadijah rela meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan Rasulullah dan Sahabat di syi’ib (pemukiman) bani Muthalib. Pemboikotan berlangsung selama tiga tahun dari tahun ketujuh kenabian sampai tahun kesepuluh kenabian. Kaum muslimin dan kaum kafir dari bani Hasyim dan bani Muthalib dikepung. Mereka tidak dijinkan melakukan jual-beli dan bermasyarakat dengan suku lain.


Manusia zaman sekarang sudah menikmati dengan mudah hasil upaya perjuangan itu, bisa beribadah dengan tenang dan bisa bepergian dengan aman.


tidakkah cukup kisah Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW menjadi suri tauladan bagi kita semua.


mengeluarkan uang 10 ribu untuk bersedekah dijalan Allah SWT kita masih berpikir panjang, namun mengeluarkan uang 100 ribu untuk berbelanja sesuatu yang hanya mendatangkan Nikmat sementara tanpa harus berpikir.


"huuuft" Sasa menghela nafas lalu kembali mengemasi pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2