Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Jangan mengganggu ku


__ADS_3

Kampung Sasa memang cukup berbeda, jika disiang hari terik matahari seperti membakar kulit namun jika malam tiba suhu dingin amat mencekam.


nampaknya sasa begitu kedinginan ia meringkuk didalam selimutnya begitu enggan untuk banyak bergerak. entah kenapa tapi untuk sekedar bangun mengambil air putih saja membuatnya malas ia hanya ingin berbaring meskipun tenggorokannya minta untuk dibasuh dengan air.


"uuhh, sakit.." ringis Sasa merasakan keram dibagian perut bawahnya. ia merasakan ada sesuatu yang panas keluar dari bawah sana dengan cepat menyentuhnya "basah?, apa ini?" ia merasa bingung kenapa bisa CDnya itu basah dan lengket.


disingkapnya selimut untuk memastikan apa yang membuat bawahannya basah.


"Alhamdulillah yaa Allah, ternyata aku datang bulan" senyum mengembang di bibirnya hal yang Sasa khawatirkan dari kemarin akhirnya tidak terjadi, sasa benar takut jika hamil akibat musibah yang menimpanya.


sasa bangkit dari kasurnya menuju bathroom untuk membersihkan diri, takut jika cairan merah itu akan mengenai seprei yang baru saja digantinya siang tadi.


tok tok tok


"sa, diluar ada yang cari tuh" rupanya ibu Sania yang mengetuk, karena tak ada jawaban ibu Sania kembali mengetuk kali ini ketukannya lebih keras.


tok tok tok


"Sasa, nak kamu ada di dalam? di luar ada yang cari kamu nak" ucap ibu Sania suaranya sudah mulai naik satu oktaf.


"iya mah, tunggu sebentar Sasa lagi pakean" jawabnya sasa.


"cepat yah jangan lama-lama kasian tamunya" ibu Sania berjalan menuju ruang tamu untuk memberitahu orang yang mengaku sebagai teman Sasa itu agar menunggu sebentar.


"tunggu sebentar yah nak, Sasa lagi pakean. nama kamu siapa nak?" ibu Sania memandangi wajah tampan pria yang duduk diseberang sofa tersebut.


"nama saya Dimas Bu" jawabnya sopan.


ibu Sania mengangguk paham, nama Dimas begitu asing di telinganya berarti ia memang belum pernah bertemu dengan Dimas sebelumnya.


"nak Dimas mau minum apa?" tawar ibu Sania


"tidak usah repot-repot Bu, lagian aku gak lama kok Bu cuma ada beberapa hal penting yang mau ku sampaikan pada Sasa" tolaknya lembut, ia takut akan membuat ibu Sania tersinggung.


beberapa menit kemudian sasa pun muncul.

__ADS_1


"baiklah nak, ibu masuk dulu karena Sasa udah datang"


"iya Bu"


Sasa masih saja berdiri mematung, matanya memicing mencoba mengingat siapa gerangan pria yang datang bertamu dan mengaku sebagai temannya. tapi rupanya Sasa tak ada mengingat jika pernah mengenal pria tersebut.


Sasa berjalan pelan kemudian mendaratkan bokongnya di sofa bersebrangan dengan pria asing itu.


"Anda siapa?" baru juga mau angkat bicara namun Sasa lebih dulu menodongnya dengan sebuah pertanyaan.


"perkenalkan nama saya Dimas?" jawabnya seraya mengulurkan tangan dengan maksud salam perkenalan, Sasa bergeming.


"ada tujuan apa mencari saya? ku rasa kita tidak pernah bertemu?" sorot mata Sasa penuh rasa penasaran, ini kali pertamanya ada seorang pria yang bertamu untuk mencarinya.


Dimas tersenyum lalu berdehem, mencoba mengatur nafas dan kata-kata yang pas untuk ia ucapkan.


"benarkah? apa kamu tidak mengingatku?" tanya Dimas memastikan.


kening Sasa mengkerut mencoba mengingat kembali siapa gerangan pria ini.


Dimas tersenyum "baru 5 hari yang lalu kamu sudah melupakan ku?" bukannya menjawab, Dimas malah balik bertanya.


Sasa menunduk memutar kembali ingatannya ke 5 hari yang lalu. saat telah teringat sesuatu Sasa membulatkan matanya seraya mendongak menatap pria tampan didepannya.


Sasa tak habis pikir kenapa Dimas bisa sampai ke kampung halamannya, darimana dia bisa tahu alamatnya mungkinkah Ratih yang memberi tahu, lalu ada hal penting apa yang membuatnya datang kemari untuk menemuinya.


"aku ingat anda lah yang menemukan KTP ku, bukan kah aku sudah mengucapkan terimakasih?" Sasa dibuat bingung apa maksud kedatangan pria ini.


"hanya itu yang kamu ingat? tidakkah kamu mengingat sesuatu kejadian hampir 4 Minggu yang lalu?" Dimas kembali bertanya, kejadian itu belum sebulan berlalu tapi kenapa Sasa dengan mudah melupakannya.


mendengar pertanyaan Dimas Sasa tercekat, tubuhnya menegang, lidahnya terasa keluh. Sasa sudah bersusah payah untuk bangkit namun Dimas Kembali mengingatkan peristiwa mengerikan itu, keringat mulai keluar dari pori-pori kulit Sasa, bibirnya bergetar ia menoleh kearah belakang takut jika ibu dan papanya mendengar.


"pergi dari sini" ucapnya pelan namun penuh penekanan.


"sa,..."

__ADS_1


"jangan menggangguku, pergi sekarang juga...." Sasa menatap benci Dimas, matanya memerah karena amarah yang bergemuruh didalam dadanya, namun air menggenang di mata cantik nan putih itu.


"sa maafkan aku, aku ti....." ucapan Dimas terpotong saat Sasa kembali mengulangi ucapannya.


"apa anda tuli, aku bilang pergi..." tunjuk Sasa kearah pintu keluar.


Dimas menghela nafas berat, Dimas bisa memaklumi reaksi Sasa dan itu wajar. semua ini karena kesalahannya, karena kecerobohannya lah sampai seorang gadis harus kehilangan kehormatannya. perlahan Dimas bangkit dari duduknya menatap nanar pada Sasa yang sedari tadi hanya menunduk dengan bahu yang bergetar.


"aku pulang sa, tapi aku akan kembali lagi saat itu tiba semoga kamu sudah tenang dan kita bisa bicara secara baik-baik" memutar tubuhnya dan berjalan, Dimas menghentikan langkahnya sejenak dipintu tanpa menoleh Dimas mengucapkan salam


"assalamu'alaikum"


Sasa berlari masuk ke kamarnya, menyandarkan punggungnya di daun pintu perlahan tubuhnya merosot kebawah Sasa menekuk lututnya lalu memeluknya.


Sasa Kembali menangis, ingatannya kembali berputar pada kejadian yang membuatnya kehilangan kehormatannya.


"tidak, ku mohon jangan mengusik hidup ku lagi, ku mohon" ucapnya pada Dimas namun hanya didengar oleh dirinya sendiri.


Sasa ketakutan, bagaimana bisa Dimas menemukan rumahnya. Sasa semakin takut jika kedua orang tuanya mengetahui kejadian itu, ibu Sania dan papa Hendri akan syok dan mungkin akan mempengaruhi kesehatannya terlebih papa Hendri mempunyai penyakit jantung bawaan.


Sasa menjambak rambutnya rasa takut menyelimuti hatinya. penderitaan ini cukup ia saja yang merasakan, jangan sampai orang tuanya ikut merasakan sakitnya sungguh ia benar-benar tak sanggup jika itu terjadi, orang tuanya adalah segalanya bagi Sasa ia tak mau jika orang tuanya jatuh sakit karena kepikiran.


cukup lama Sasa menangis didepan pintu hingga rasa lelah dan kantuk mendera, tanpa sadar Sasa tertidur didepan pintu dalam lutut yang masih ditekuk beruntung pintu kamar sudah ia kunci saat masuk tadi.


pukul 3 dini hari Sasa terbangun dari alam bawah sadarnya karena mendadak ingin biang air kecil, ia melihat sekelilingnya ternyata ia tertidur didepan pintu sejak semalam dan posisi itu cukup membuat tengkuknya terasa sakit.


"aduuh leherku" keluhnya mengusap leher bagian belakang. perlahan iya bangkit. kakinya terasa bebas karena terlipat berjam-jam.


Sasa menyeret pelan kakinya menuju bathroom untuk membuang sesuatu yang sedari tadi ingin dikeluarkan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Syarah Mohon like dan coment yah teman-teman..

__ADS_1


ini pengalaman pertama Syarah dalam menulis, semoga teman-teman suka.🙏🤗


__ADS_2