
Sasa terus mengurung diri didalam kamar setelah beberapa hari kejadian naas yang menimpanya.
gadis cantik yang dari sananya memang anak rumahan semakin menjadi anak rumahan saja, Sasa seolah memenjarakan dirinya didalam kamar tak ingin bersosialisasi dengan siapapun.
Ratna yang melihat perubahan sasa merasa ada yang aneh, sudah seminggu Sasa tak heboh dipagi hari saat ingin pergi melamar pekerjaan dan juga Sasa jarang keluar kamar yang notabene nya suka bermain-main dengan Ahmad kini tak lagi ada tawa renyah yang terdengar, bahkan hanya sekedar bertemu dengan Ahmad saja pun sudah tak pernah dalam seminggu padahal mereka tinggal dibawah atap Yang sama.
"ada apa dengan anak ini kenapa tiba-tiba menjadi pendiam dan menutup diri" batin Ratih bermonolog, ia menimbang-nimbang kira-kira apa penyebab Sasa berubah sedemikian drastis tak lagi ada wajah yang ceria hanya wajah dan tatap kosong yang tersisa, jika ditanya pun hanya menjawab alakadarnya. seperti bukan Sasa saja, pikir Ratih yang mulai buntu karena tak menemukan alasan yang tepat penyebab diamnya sasa.
"kalau dia bukan Sasa lalu dia siapa, masa iya hantu" gumam Ratih bergidik ngeri bercampur rasa khawatir terhadap adik bungsunya itu.
"ada apa?" bisik Rafi yang sedari tadi melihat Ratih hanya berdiri menatap pintu kamar Sasa tapi tak juga mengetuknya.
"ah tidak apa-apa, aku hanya khawatir dengan Sasa beberapa hari ini ia sangat berubah tak seperti biasanya" keluh Ratih dengan nada yang lemas.
"mungkin dia lelah karena tak juga mendapat pekerjaan, biarkan dia istirahat menenangkan pikirannya. kita jangan mengganggunya dulu" tuturnya seraya membelai lengan Ratih.
"ayo kita lihat Ahmad jangan sampai ia terbangun dan menangis karena tidak melihat keberadaan mu" Rafi menuntun Ratih agar menjauh dari kamar Sasa dengan pandangan yang masih mengarah ke kamar Sasa air mata Ratih menggenang di pelupuk ia benar-benar khawatir.
"kamu kenapa sih sa, cerita sama mbak kalau ada masalah" batin Ratih ia merasa sedih melihat sikap adiknya bungsunya.
didalam kamar Sasa menangis tersedu-sedu ia membekap mulutnya agar Isak tangisannya tidak terdengar sampai keluar kamar, Sasa tahu jika sedari tadi Ratih terus berdiri didepan pintu kamarnya. ia sungguh tak sanggup bertemu tatap dengan Ratih, takut akan kejadian itu terbongkar dan membuat keluarga besarnya menjadi sedikit dan kecewa.
"maafkan Sasa mbak, biarlah kepedihan ini Sasa tanggung sendiri. Sasa gak mau kalian sedih dan kecewa sama Sasa" matanya sudah membengkak karena terus menangis.
"aku akan merahasiakan ini, tidak akan ada yang akan mengetahuinya, cukup aku dan Tuhan yang tahu" cicit Sasa disela Isak tangisnya.
"aku percaya Takdir baik-Mu Tuhan, dan aku percaya dibalik semua ini ada takdir baik yang Engkau siapkan untuk ku, segala sesuatu yang terjadi diatas muka bumi ini tak lepas dari ketentuan Mu termasuk apa yang terjadi padaku saat ini, tapi segala sesuatu keburukan yang ku dapat adalah murni kesalahan ku, aku tak menyalahkan-Mu karena memberiku takdir sepahit ini, namun inilah hidup karena aku yang terlalu jauh darimu berusaha untuk mengejar kesuksesan dunia hingga aku tak sadar semakin jauh dari-Mu aku lebih sibuk mencari pekerjaan tak kenal waktu hingga cinta-Mu ku abaikan, mungkin inilah cara-Mu menegur ku dan membuat ku sadar akan jauhnya diriku dari-Mu" berderai air mata Sasa terus berusaha menguatkan diri meski sulit, ia terus memaksa akalnya untuk berpikir positif pada ketentuan Allah SWT.
seburuk apapun cobaan yang mendera, sepahit apapun pedih yang harus di telan, dan sesakit apapun luka yang tersirat jangan pernah menyalahkan Allah SWT atas musibah yang menimpa mu, cobalah introspeksi diri. apakah kini diri amat terlalu jauh dari Allah SWT sehingga ia memberi sebuah musibah agar kembali lebih dekat dengan-Nya.
__ADS_1
cinta Allah SWT sangatlah besar dan ampunan Allah SWT amatlah luas kepada hambaNya, tersirat namun tak terbaca oleh mata.
jangan membuat akal menjadi pendek karena sebuah musibah menyalahkan takdir yang Allah tetapkan, bukan kah diri ikut andil dalam hal ini, bahkan diri adalah tokoh utamanya. selalu melakukan kesalahan dan dosa tapi masih mampu menghirup udara yang Allah berikan secara gratis. nikmat terbesar di dunia ini adalah nikmat nafas dan kesehatan.
Aib mu rahasiakan lah, cukup dirimu dan Tuhan yang tahu. Allah telah merahmati dengan cara menutup aibmu maka janganlah kamu sekali-kalimenceritakan aibmu sendiri kepada siapapun, tindakan itu sama saja jika kamu membuka Rahmat Allah.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Itulah fitrah manusia. Melakukan kesalahan memang kekurangan manusia, namun setelah melakukan kesalahan hendaknya kita langsung bertobat dan memohon ampunan. Tapi kadang kala kita malah juga menceritakan permasalahan yang bisa dibilang sebagai aib sendiri kepada orang lain untuk menemukan solusi tapi itu bukanlah jalan yang benar.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk ) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk ). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990 )
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sasa bertekad untuk memulai lembaran hidup baru, ia harus semangat dan kembali ceria tak ingin berlarut-larut dalam kubangan kesedihan, takut membuat Ratih dan keluarganya semakin curiga dan cemas Sasa mencoba membulatkan tekad untuk mencoba bersosialisasi kembali secara normal dan tentunya dengan batasan yang sesuai syariat, Sasa benar-benar meningkatkan ibadah dan pendekatan pada Allah SWT tak ingin lagi jauh dari Allah SWT Sasa pun berusaha melakukan yang terbaik dengan memilih jalan hijrah.
1 Minggu kemudian
setelah shalat subuh Sasa bergelut didapur kembali melakukan rutinitas yang sudah menjadi hobby sejak duduk di bangku SMA.
suara lantunan lagu shalawat terdengar merdu, Sasa terlihat sangat mahir dalam memainkan perannya didapur. berhadapan dengan dapur membuat rasa trauma dan sedih Sasa mengudara begitu saja.
Indra penciuman Ratih dan Rafi terganggu saat sedang asik bermain dengan Ahmad setelah melaksanakan shalat subuh.
merasa yakin bahwa yang menggangu Indra penciumannya adalah bau masakan Ratih dan Rafi saling bertatapan penuh tanya. dengan cepat ia berjalan menuju dapur tak lupa iya menggendong Ahmad si kecil yang tampan dan menggemaskan itu.
setibanya didapur Ratih dan Rafi dibuat tercengang dengan apa yang disaksikannya. dengan tatapan tak percaya Ratih menatap punggung Sasa yang asik bernyanyi shalawat sambil bergulat dengan benda ditangannya tanpa berkedip dengan mulut yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"tutup mulut mu sayang" cicit Rafi yang melihat istrinya terbengong
"apakah aku tidak salah lihat, itu beneran Sasa kan mas? aku gak salah lihat kan?" tanya Ratih beruntun merasa tak percaya sudah hampir 2 Minggu Sasa tak bergelut didapur dan hanya mengurung diri dikamar keluar kamar pun hanya pada saat makan itupun sekali sehari wajar saja jika Ratih menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"itu beneran Sasa sayang, aku pun bisa melihatnya, kamu pikir dia hantu apa" sela Rafi memutar matanya malas.
merasa ada yang mengawasi Sasa memutar tubuhnya, dilihatnya Ratih dan Rafi menatap tak percaya pada dirinya.
Sasa menampilkan senyum manisnya, senyum manis yang sudah 2 Minggu hilang.
melihat senyum Sasa Ratih menghambur memeluk adik bungsunya.
"mbak kangen sa, mbak kangen dengan senyuman mu. kemana aja selama ini, kita serumah tapi berasa jauh" suara Ratih mulai melemah tubuhnya bergetar tanda sebentar lagi air hujan akan mengguyur pundak sasa.
"iih apaan sih mbak, lebay deh.. tuh lihat Ahmad sampai kegencet kan kasian" sela Sasa cepat, mendengar rintihan Ratih hampir saja kembali membuatnya kehilangan akal, Sasa menarik nafasnya dalam-dalam berusaha mengatur ritme jantung dan perasaannya ia sudah berjan6akan melupakan kejadian itu.
biarlah terkubur sedalam-dalamnya.
"kamu yah, ini artinya mbak peduli asal kamu tau" sergah Ratih tak terima dikatai lebay oleh sasa.
Sasa hanya terkekeh pelan melihat reaksi sewot Ratih yang malah terlihat lucu.
tumbuh dari didikan orang tua yang mengajarkan Budi pekerti membuat mereka Hidup rukun dan harmonis sebagi kakak beradik.
"mbak besok Sasa balik kampung yah, Sasa kangen sama mama dan papa" sahut Sasa setelah kembali berbalik dan berjibaku dengan masakannya tak lupa menempelkan headset dikedua telinganya.
Ratih terkejut mendengar penuturan Sasa, rasa tak rela ditinggal oleh adik kesayangannya itu membuatnya hanya berdiri mematung. rumahnya akan kembali sepi jika tak ada suara cempreng Sasa, iya terus sibuk dengan pemikirannya hingga akhirnya Ahmad menangis digendongannya Karena merasa tak nyaman dengan posisinya.
Rafi yang melihat kelinglungan Ratih segera meraih Ahmad dalam pelukannya, ia menuntun Ratih agar kembali kemar mereka.
__ADS_1