Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Keinginan Mondok


__ADS_3

"bang Ver bisa gak ganti baju dulu, kalau Abang pakai baju seragam TNI gitu bisa-bisa kita jadi sorotan orang bang" keluh Sasa bergidik ngeri saat membayangkan semua tatapan tersorot padanya.


"apa yang salah dari baju ku sa, ini kan hanya seragam, tanpa ganti baju pun Abang tetap tampan dan gak bau sa" Narsis Dimas sedikit bingung, memperhatikan seluruh tubuhnya dan ini wajar-wajar saja tidak ada yang salah ataupun berlebihan.


"iih bang verry Narsis amat, Sasa gak mau yah bang, seragam prajurit itu mengundang perhatian banyak orang apa lagi kaum wanita, Sasa gak mau ditemenin Abang kalau bang very gak mau ganti baju" bulat Sasa tak terbantahkan.


"apa kamu cemburu sa?" tanyanya dengan senyum manis. benarkah Sasa cemburu jika ada wanita yang memperhatikannya monolog Verry pada diri sendiri.


"idiih ngapain cemburu, kak very kan bukan siapa-siapanya Sasa" ucap Sasa mencebikkan bibirnya.


"oke oke iya, trus Abang pke apa sa? Abang kan gak bawa baju?' Verry cukup bingung Sasa menyuruhnya mengganti baju tapi dia sedang tidak membawa baju kecuali baju yang ada ditubuhnya.


"pake baju bang Ferdi dulu ajah bang" usul Sasa


"ohiya, klau gitu kamu tunggu sebentar yah Abang ganti baju dulu" Sasa hanya mengangguk mengiyakan.


Flashback on


"mah pah Sasa mau ke Central Park yah, bentar kok Sasa cuma mau beli beberapa kebutuhan sehari-hari Sasa soalnya udah habis, boleh yah pah mah?" ucap Sasa mengatupkan kedua tangannya di depan dada seraya memohon agar di izinkan, yang namanya anak bungsu tetaplah bungsu selalu menjadi kesayangan yang dianggap anak kecil.


"boleh, asal sama Abang" ucap herdi mutlak gak boleh nego


bibir Sasa menukik membentuk senyuman, "terimakasih papaku sayang yang paling tampan didunia" puji Sasa yang pada kenyataannya tidak terbantahkan, herdi memang masih terlihat tampan walau diusianya sudah kepala lima.


"tapi Abang mu lagi cerita sama kakek sa, kamu tahu sendiri kan kalau kakek gak mau diganggu saat lagi cerita, coba kamu lihat betapa seriusnya mereka bercerita" sahut Sania seraya menunjuk kegiatan sepasang pria tua dan muda sedang asik bercerita.


Sasa mendengus beberapa alat makeup, perawatan dan kebutuhannya dikamar sudah hampir habis, kebutuhan perempuan memang sangatlah banyak dan merepotkan.


"sa, biar Abang yang antar kamu" sahut Verry, ia tersenyum melihat wajah Sasa yang ditekuk namun semakin terlihat imut di mata Verry.


"iya sa biar Verry ajah yang anterin kamu, dari pada dia hanya duduk diam bisa-bisa nanti dia jamuran" timpal Riyan ikut menyahuti, Verry melototkan matanya pada Riyan.


flashback off


Central Park

__ADS_1


"mau beli apa sa?" tanya Verry saat telah tiba di basemen Hypermart.


"ada deh bang, ini kebutuhan perempuan. laki-laki mana tau" Sasa tersenyum memperlihatkan deretan gigi kecilnya.


"iya deh" Verry menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, Sasa benar perihal kebutuhan perempuan Verry nol besar.


melihat Sasa yang sudah turun lebih dulu perlahan Verry pun turun dari mobil melangkah lebar agar dapat mensejajarkan tubuhnya dengan Sasa.


Verry meraih tangan Sasa dan menggenggamnya, agar tak ada pria lain yang melirik Sasa.


Sasa terkejut mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba dari Verry ia memperhatikan tangannya yang digenggam erat oleh verry dan itu sedikit membuatnya risih, berbeda jika itu Ferdi tentu Sasa tidak akan merasa risih karena mereka saudara sekandung bahkan Sasa tak akan malu untuk merangkul lengan Ferdi saat berjalan bersama, berbeda dengan Verry mereka hanya sebatas sepupu.


"iiih lepasin tangan Sasa bang" Sasa menarik tangannya dari genggaman Verry, tindakan Sasa berhasil membuat kening Verry mengkerut merasa heran ia menatap Sasa dengan diam penuh tanda tanya.


"bukan mahram bang" cicit Sasa pelan menangkap kebingungan verry dari tatapannya, Sasa berjalan mendahului Verry menoleh kesana kemari mencari beberapa benda yang ia butuhkan.


Verry terpaku, ia diam mematung sesaat setelah mendengar jawaban Sasa yang mengatakan dirinya dan Sasa bukanlah mahram sehingga tak memperbolehkan mereka bersentuhan. ditatapnya lagi telapak tangan yang tadi menggenggam jari jemari mungil Sasa kemudian menatap punggung Sasa yang berjalan menjauh darinya.


merasa tertinggal jauh dengan cepat verry mengejar Sasa, takut ada orang yang akan menjahilinya atau hanya sekedar menatap penuh ketertarikan pada Sasa sungguh Verry tidak rela.


...****************...


Pukul setengah 8 malam setelah mengerjakan shalat isya adalah rutinitas makan malam yang tidak boleh terlewatkan, hendri mewajibkan semua anggota keluarganya agar makan tepat waktu. semua anggota keluarga Darent pun telah kembali ke kediaman masing-masing. terlihat dimeja yang cukup luas makan malam telah tersaji dengan berbagai ragam masakan yang merupakan hasil pergulatan antara Sania dan Sasa di dapur 1 jam yang lalu. mereka memang mempunyai ART untuk membantu membersihkan rumah, namun urusan dapur Sania terkadang lebih suka memasak sendiri untuk keluarganya, dan hobby memasak itupun menurun ke Sasa menjadikan mereka pasangan yang serasi saat berada didapur.


"mah pah bang Yusuf kok susah dihubungi sih" ucap Sasa disela-sela aktivitas makannya ia hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya, merasa sangat rindu dengan Yusuf karena sudah lama tak memberinya kabar.


"sabar sa, mungkin bang Yusuf sangat sibuk jadi gak sempat memberi kabar" Ferdi mengusap pucuk kepala Sasa lembut, mencoba memberi pengertian pada adik kesayangannya itu.


"lanjutkan makan mu dulu sa, papa gak suka kalau ada yang bercerita saat makan" titah herdi tak ingin dibantah. Sasa mengerucutkan bibirnya membuat Sania dan Ferdi terkekeh. merasa tak terima ditertawai Sasa menatap tajam pada Ferdi membuat Ferdi tersedak.


"uhuuk uhuuk" dengan cepat Ferdi meraih gelas yang beri air minum, ia melirik sekilas kearah Sasa, Sasa menjulurkan lidahnya mengejek. Sania yang menyaksikan aktivitas kedua anaknya hanya geleng-geleng kepala. berbeda dengan Hendri tetap damai menikmati makan malamnya.


2 jam kemudian setelah aktivasi makan malam usai, Sasa kembali ke kamarnya guna merebahkan tubuh mungilnya yang terasa lelah akibat petualangannya di Central Park siang tadi bersama Verry.


Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya saat teringat Verry yang menggenggam tangannya. ia sedikit merasa heran namun Sasa tak ambil pusing, karena itu adalah kali pertamanya ia ditemani berbelanja selain kedua abangnya Yusuf dan Ferdi, selain mereka berdua Sasa juga kadang ditemani herdi dan Sania.

__ADS_1


"huuufft" Sasa menutup matanya lalu menghela nafas panjang, merasa hidupnya teramat hambar, ia tak tahu harus melakukan apa agar rasa kosong yang ia rasakan bisa tersalurkan.


cukup lama menimbang-nimbang dan berpikir, mata Sasa terbuka sempurna ia tersenyum puas saat ia menemukan satu ide yang menurutnya cukup bagus.


keesokan harinya diruang tengah keluarga herdi berkumpul, Sasa melirik satu persatu anggota keluarganya menarik nafas dalam-dalam mencoba mengumpulkan keberanian. "semoga saja papa mama mengizinkan" batin Sasa sedikit khawatir tidak akan mendapatkan izin.


"mah pah Sasa mau mondok di pesantren" akhirnya suara Sasa berhasil meluncur.


mendengar pernyataan Sasa ketiga orang yang tadinya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing terdiam seketika.


Hendri yang awalnya membaca koran, ibu Sania yang asik nonton tv dan Ferdi asik sendiri dengan handphonenya serentak menoleh kearah Sasa.


Sasa menelan salivanya kasar merasa ditatap tajam oleh ketiga orang kesayangannya.


"apa maksud mu sa?" setelah terjadi keheningan dan hanya saling tatap menatap akhirnya herdi membuka suara.


"Sasa ingin mondok pah, Sasa gak mau lanjut S2" jawab Sasa, ia menundukkan pandangannya kelantai cukup takut menatap mata Hendri yang seakan menghunus ke jantungnya.


"papa tidak setuju" balas Hendri seraya melanjutkan aktivitasnya membaca koran.


"tapi pah sa..." ucapan Sasa dipotong oleh Hendri "papa sudah memutuskan pertunangan kamu dengan Verry" ucap herdi tanpa menoleh namun penuh penekanan.


bulir air sudah menggenangi seluruh ruang dimensi Dimata Sasa, ia cukup kecewa dengan keputusan Hendri yang tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Sasa berlari masuk kedalam kamarnya ruangan yang menjadi saksi bisu atas segala kepedihan yang Sasa rasakan, ruangan yang menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi Sasa untuk menyembunyikan dan menumpahkan segala rahasia dan keluh kesahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Syarah mohon dukungannya dengan cara meninggalkan jejak kalian di kolom komen, dan Syarah mohon agar teman-teman Sudi kiranya memberi jempol untuk karya pertama Syarah.


salam hangat dari Syarah,🤗🙏


jika ada yang bertanya siapa tokoh utama prianya?


Syarah jawab yah, tokoh utama prianya bukanlah Dimas ataupun Verry, seperti apa yang sudah tertera dihalaman utama bahwa Sasa akan berjodoh dengan pria yang memiliki Marga Sayyid, harap bersabar yah, karena ini karya pertama Syarah jadi mohon pengertiannya jika ceritanya terlalu berbelit-belit 🙏.Syarah harap agar teman-teman mau bersabar mengikuti alur ceritanya ☺️😘 mengatur alur cerita cukup sulit ternyata 😁😁


Sayyid adalah suatu gelar yang bermakna anak keturunan Baginda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam.

__ADS_1


artinya orang yang bergelar Sayyid adalah keturunan Baginda Nabi jika ditelurusi dari ayah hingga kakek buyutnya.


__ADS_2