
"gimana sa udah siap semuanya?" Ferdi meraih satu koper ditangan Sasa lalu memasukkannya kedalam bagasi mobil.
"sering-sering yah berkunjung ke rumah mbak" Ratih meraih salah satu tangan Sasa dan menepuk-nepuknya pelan.
"iya mbak entar main lagi deh kesini, awas ajah klau mbak bosan lihat Sasa" Sasa berusaha menghibur Ratih dengan sedikit candaan.
Ratih menggeleng "tentu mbak tidak akan bosan, justru mbak akan sangat senang" ucapnya kemudian. "sampaikan salam rindu mbak sama papa dan mama" lanjut Ratih lagi.
"iya mbak, Sasa dan bang Ferdi pamit dulu" ucap Sasa memeluk erat Ratih. Ratih mengecup kening Sasa dengan lembut "jaga adik kesayangannya mbak yah fer, awas ajah kalau lecet" ucap Ratih memelototi Ferdi.
"Sasa itu adik Ferdi juga loh mbak, kalau mbak lupa" ucap Ferdi mengingatkan seraya memeletkan lidahnya.
Ratih tak menanggapi iya hanya fokus pada Sasa, mengelus pelan lengan kanan Sasa. "hati-hati sayang" ucapnya dengan nada berat. sassa mengangguk ia kemudian beralih mencium Ahmad yang berada di gendongan Ratih.
"dadah mbak ku, dada Ponakan comelku" ucap Sasa setelah mencium tangan Ratih ia sedikit menoel pipi gembul Ahmad dan berlalu masuk ke mobil ia melambaikan tangan kepada Ratih.
"dramatis banget" ejek Ferdi sesaat setelah mengambil alih kemudi.
"biarin, iri bilang" sedikit kesal karena ucapan Ferdi Sasa menyilangkan kedua tangannya didada dan menatap lurus kedepan, ia tak ingin menoleh sedikitpun ke Ferdi.
"aah aku mencium aroma ngambek" ucap Ferdi usil. Sasa bergeming ia begitu malas menanggapi Ferdi ia masih dalam suasana duka karena meninggalkan Ratih.
"oke oke maafin Abang" Ferdi mengalah, ia tak mau mengibarkan bendera perang dingin dengan Sasa karena tentunya dia bakalan kalah lebih dulu. Ferdi lembek sama adik sendiri 😁
bukannya menjawab Sasa hanya membuang muka ke arah jendela, Ferdi hanya bisa menghela nafas berat "dasar bodoh kamu fer" Ferdi membatin merutuki kebodohannya.
Pukul 08.00 WIB, Pesawat yang ditumpangi Ali dan Hasan berserta bodyguardnya berhasil landing di Bandar Udara Internasional Juanda.
__ADS_1
Ali tak langsung pulang kerumah, ia mengambil jalur langsung menuju rumah sakit dimana Ma'had dirawat.
Ali melangkah lebar menuju lobby dan menghadang salah satu mobil taksi Hassan dan bodyguardnya tersentak kaget dengan tindakan Ali yang cukup ekstrim hampir saja ia ditabrak jika supir taksi itu tidak mengerem dengan mendadak.
Ali sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi untuk menunggu jemputan khusus dari pondoknya, mau tidak mau Ali nekat menahan salah satu taksi yang tidak sengaja ia lihat memasuki pintu masuk lobby bandara.
"ke rumah sakit xxx" dengan cepat supir taksi menginjak pedal gasnya, ia melihat jika konsumennya itu sedang dalam mode yang tidak baik.
Hasan beserta bodyguardnya pun ikutan menghadang sebuah taksi dan segera menyusul Ali karena mobil jemputan belum juga tiba.
Hasan mengeram ia mengepalkan tangannya emosi kenapa disaat genting seperti ini jemputan tiba-tiba saja terlambat.
didalam perjalanan menuju RS Ali terus mengepalkan tangannya sangat kuat hingga pembuluh darahnya terlihat menonjol keluar, rasa khawatir yang berlebihan hampir sama ia tunjukkan ketika marah namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menahan diri.
sesampainya di RS ia segera merogoh kantongnya menarik beberapa lembaran uang kertas berwarna merah yang entah ia tidak tahu itu berapa lembar lalu memberikan kepada supir taksi tersebut.
tidak berselang lama Hassan dan bodyguardnya pun tiba, supir tua renta yang membawa Ali tadi menoleh melihat Hasan ada bersama Ali di bandara beberapa puluh menit yang lalu ia pun mencoba mengembalikan kelebihan uang itu pada Hasan.
"permisi apakah tuan temanya tuan tadi, ia sangat terburu-buru hingga tidak menyadari jika memberikan bayaran 10x lipat dari harga yang sebenarnya, aku titip untuk dikembalikan kepada beliau" ucap supir taksi dengan sopan.
"itu rezeki bapak, dan mohon diterima" Hasan menahan tangan supir itu. "kami sangat buru-buru, kami pamit permisi, assalamu'alaikum" ucap Hasan dan berlari masuk kedalam RS.
"Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini, terimakasih banyak yaa Allah" gumam supir tua renta
"bagaimana dengan Buya um" Ali berusaha mengatur pernafasannya karena berlari dari lantai satu ke lantai 3, ia menghampiri Khumaira dan beberapa anggota keluarganya yang menunggu didepan ruangan.
"masih ditangani dokter didalam, tadi Buya tiba-tiba kritis" Khumaira tertunduk sesekali ia mengusap sudut matanya yang basah. Ali merengkuh tubuh Khumaira dari samping.
__ADS_1
"tenanglah um Abuya akan baik-baik saja, kita berdoa pada Allah SWT" ucap Ali berusaha membuat tegar Khumaira sedang hatinya sendiri juga sangat takut dan khawatir, Khumaira hanya mengangguk menanggapi ucapan sang putra.
"bagaimana keadaan Abuya" sahut Hasan sesaat setelah mengatur nafasnya.
"masih di tangani oleh dokter, kita tunggu sembari berdoa memohon pertolongan untuk Buya" sela Ali.
20 menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda dokter akan keluar, berbagai lantunkan doa terus membasahi semua bibir yang orang-orang yang sedang menanti didepan pintu berharap mereka akan mendengar kabar baik.
beberapa saat kemudian pintu ICU pun terbuka seorang dokter wanita spesialis penyakit dalam keluar dengan memakai masker menutup wajahnya. disusul beberapa dokter lainya
"Pasien mengalami penyakit liver tahap 4 yaitu kerusakan pada fungsi hati secara keseluruhan. Kami, tim dokter di rumah sakit ini telah melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi pasien meninggal dunia" ucap dokter wanita tersebut, yang merupakan ketua tim dari dokter yang menangani Ma'had.
bagai disambar petir, tubuh Ali menegang bibirnya terasa kelu, air yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya saat menanti pintu ICU terbuka akhirnya mengucur deras, Khumaira tak kalah kagetnya seketika tubuhnya merosot ke lantai tulang betisnya terasa lunak tak mampu untuk menopang tubuhnya, semua keluarga yang berada disana diliputi rasa sedih yang mendalam.
Hasan sedikit mengambil jarak, lalu mengusap sudut matanya yang berair ia merogoh saku celana dan meraih ponselnya. ia menelpon penanggung jawab dipondok untuk menyampaikan kabar duka ke seluruh penduduk pondok dan selalu anggota keluarga besar Ma'had. setelah selesai ia kembali ke tempat semula.
"kuatkan hatimu Al, jangan sampai kamu kehilangan akal sehat mu. bukan hanya kamu yang mencintai Abuya tapi kami semua juga mencintainya. namun Allah lebih mencintai Abuya" ucap Ali berusaha menopang tubuh kekar Ali.
"sadarlah, jika kamu lemah siapa yang akan menguatkan ummah, lihatlah ummah beliau butuh sandaran" Harun begitu terpukul melihat Ali yang sudah terlihat seperti orang kehilangan akal, diam membisu dengan tatapan gamang serta air mata yang terus mengucur.
semua rekaman kenangan saat Ma'had mendidiknya dengan sabar dan penuh kasih sayang terasa berputar di kepalanya.
tidak berselang lama pandangannya mulai mengabur dan tak sadarkan diri melihat Ali jatuh pingsan Khumaira semakin terisak ia begitu terpukul namun ia berusaha kuat karena inilah takdir Allah.
Kematian setiap manusia sudah terjadwal dan itu tidak bisa diundur, ditolak atau pun ditawar. semua mutlak takdir Allah.
sesungguhnya setiap yang bernyawa akan kembali kepada-Nya, Dunia ini hanya persinggahan sementara dan akhirat adalah tempat tinggal yang sebenarnya dimana kita kekal/abadi didalamnya.
__ADS_1
namun hampir setiap dari manusia berperilaku seolah mereka hidup kekal di dunia, ia lupa tentang adanya kematian. terlalu sibuk mengumpulkan harta dan mengejar dunia yang tidak berujung hingga tiba kematiannya tinggalan rasa penyesalan.