
Esok harinya Matahari terbit di ufuk timur mulai menampakkan sinarnya tanpa malu-malu, secercah cahaya masuk menyeruak menembus celah jendela yang dihiasi tirai berwarna putih bercorak bunga mawar, cahaya silau matahari tidak sedikitpun mengusik Sasa, ia masih setia tidur dengan damai bergelung didalam selimutnya yang wangi dan lembut, hari ini ia tidak semangat untuk bangun hanya ingin berdiam diri dikamar.
ddrrrt drrrtt
Rupanya Bunyi getaran ponsel diatas nakas membuat tidur siempuh sedikit terusik, ia memaksakan diri untuk membuka mata Sasa mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya masuk ke retina matanya. diraihnya ponsel tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon Sasa segera menggeser icon berwarna hijau.
"hallo" jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"astaghfirullahal'adzim sa, jam segini kamu belum bangun" suara cempreng Ratna seketika membuat Sasa berjingkrak kaget.
"iih apa sih Rat, pagi-pagi udah teriak" keluh Sasa mengusap kupingnya yang terasa berdenging akibat suara Ratna.
"eh sadar gak sih sa ini udah jam 7 pagi loh, ketiban apa sih kamu sampe jam segini masih molor" maki Ratna tak habis pikir, ia tahu betul jika Sasa adalah anak yang paling rajin bangun pagi bahkan setelah shalat subuh Sasa tidak pernah melanjutkan tidurnya.
Sasa melirik sekilas ke jam yang berada diatas nakas diikuti helaan nafas berat dari mulutnya, Indra pendengaran Ratna cukup menangkap maksud dari helaan nafas Sasa jika saat ini sahabatnya itu sedang ada masalah yang cukup rumit.
"kamu kenapa sa, cerita dong kalau ada masalah" sahut Ratna kemudian karena tak ada respon dari Sasa.
"gak ada kok rat, aku baik-baik ajah.. ohya ada berita penting apa ini jam segini udah nelpon" sela Sasa mengalihkan perhatian Ratna.
Ratna menghela nafasnya saat Sasa tak berniat untuk menjawab pertanyaannya, meskipun cukup membuatnya penasaran tapi ia tidak ingin mendesak Sasa suatu saat jika sudah siap Sasa juga pasti akan menceritakan masalahnya sendiri.
"Minggu depan aku wisuda sa, maaf karena tidak menghubungi mu saat acara yudisium kemarin ponsel ku rusak karena jatuh dari lantai dua kampus aku segera menghubungi mu setelah membeli ponsel" jelas Ratna sedikit merasa bersalah.
Sasa sedikit terkejut disusul senyum manisnya.
akhirnya kedua sahabat itu saling bertukar cerita, sesi telponan yang diperkirakan hanya memakan waktu 10 menit menjadi hampir sejam karena terlalu asik bercerita. mereka memutuskan untuk mengakhiri sesi telponan saat Sasa mendengar ketukan berulang kali di pintu kamarnya.
dengan langkah malas Sasa meraih handle pintu untuk membukanya, menampilkan wajah tampan Ferdi dengan senyum termanisnya menyambut sang princess yang ada di hadapannya.
"selamat pagi princessnya Abang" Ferdi mencondongkan tubuhnya mengecup sekilas pipi mulus sasa.
__ADS_1
"selamat pagi juga Abang ku yang tampan" balas Sasa dengan wajah yang ditekuk seraya berjalan masuk kembali kedalam kamarnya.
Ferdi menutup pintu lalu menyusul Sasa ke kasur, ia duduk tepat di samping Sasa.
"aduuh, princess Abang makin cantik ajah kalau mukanya di tekuk gitu" canda Ferdi menoel dagu Sasa
"iiss gak lucu tau" Sasa mencebik, ia memanyunkan bibirnya.
"udah sa, kayak kamu gak tau papa ajah. papa itu gitu karena terlalu sayang sama kamu papa gak mau kalau kamu jauh-jauh darinya, tapi Abang yakin sebenarnya papa itu setuju kok sama keinginan kamu orang tua mana sih yang ga dukung anaknya menjadi orang baik. papa mau lihat kesungguhan kamu makanya kamu tunjukkin keseriusan kamu, papa gak mau kalau kamu hanya panas-panas tai ayam hanya semangat diawal pas lama udah bosen belajar dipondok. asal kamu tau yah sa mondok itu gak mudah kamu harus mandiri dan bisa urus diri kamu sendiri kamu harus tahan tidur tengah malam karena terus belajar dan bangun dini hari untuk qiyamullail, kamu ngerti gak?" ucap Ferdi panjang lebar penuh kelembutan untuk memberi pemahaman pada adiknya.
"satu lagi, sengambek-ngambeknya kita sama orang tua kita gak boleh sampe gak ngajak orang tua ngomong apa lagi gak mau ketemu orang tua, ingat loh sa ridho orang tua adalah ridho Allah. jadi kalau kamu mau mendapatkan ridho Allah kamu harus mendapatkan ridho orang tua terlebih dahulu" lanjut Ferdi menjelaskan, mengusap pucuk kepala Sasa dengan sayang.
Ferdi mengulurkan tangannya meraih tubuh mungil Sasa dan membawanya masuk kedalam dekapannya. "udah dong jangan ngambek"
Sasa hanya diam mematung mencerna setiap nasehat yang diucapkan oleh Ferdi memang ucapan Ferdi semua benar adanya dan Sasa baru menyadari itu.
"sejak kapang Abang Ferdi jago ceramah" ejek Sasa
Sasa tersenyum kikuk ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, merasa tertampar dengan ucapan ferdi.
"bang Minggu depan acara wisuda sahabat sasa boleh gak bantu Sasa minta izin sama papa dan mama" ucap Sasa lagi, ia mendongak untuk melihat reaksi Ferdi, benar saja kening Ferdi menekuk.
"bang ayolah bantu Sasa izin, 3 Minggu lagi kan Abang balik ke MAKO, emang Abang tegah gak mau temenin adik cantiknya Abang sambil quality time bareng Sasa" Sasa mengeluarkan jurus andalannya untuk meluluhkan hati Ferdi ia memanyunkan bibirnya pura-pura merajuk.
Ferdi tak kuasa untuk menolak keinginan Sasa, dengan terpaksa ia mengangguk setuju.
"yeeeyyh terimakasih abangku tersayang yang paling tampan" sorak Sasa kegirangan.
"kamu mandi gih masa jam segini anak gadis masih bau iler, Abang mau bicara dulu sama papa untuk minta izinin" ucap Ferdi dibalas anggukan oleh Sasa.
Ferdi berjalan gontai meninggalkan kamar Sasa menuju ruang keluarga tempat herdi dan Sania berada. Ferdi mendaratkan bokongnya di sofa tepat di samping herdi duduk.
__ADS_1
"pah mah, Ferdi mau ngomong sesuatu" ucap Ferdi memulai pembicaraan.
"ada apa fer, sepertinya penting" balas herdi tanpa menoleh, tatapannya masih terfokus pada kertas koran yang ia pegang.
"pah Sasa mau izin lusa mau ke kota untuk menghadiri acara wisuda sahabat Sasa Ferdi yang akan menjaga Sasa pah" jelas Ferdi sopan.
"suruh Sasa minta izin sendiri sama papah" titah herdi.
"baik pah, tapi papa jangan marahin Sasa kan kasian" ucap Ferdi kembali mengingatkan.
Sania hanya diam menyimak.
"papa lebih tau apa yang harus papa lakukan buat anak papa fer" herdi melipat koran yang ia pegang mengalihkan fokusnya kini matanya menatap sang putra.
"baiklah pah, Ferdi kan cuma ngingetin papa kalau gitu Ferdi kasi tau Sasa dulu yah pah".
Beberapa menit kemudian, setelah mengumpulkan keberanian dan berulangkali menghela nafas akhirnya Sasa setuju dengan permintaan Ferdi untuk menemui herdi dan meminta izin secara langsung.
"papa gak pernah yah ajarin anak papa minta izin melalui orang lain, itu gak sopan" ucap herdi setelah Ferdi dan Sasa mendaratkan bokongnya di sofa.
"Sasa minta maaf pah" ia menatap mata herdi yang juga sedang menatap putrinya itu, hatinya tercubit melihat genangan air di pelupuk mata Sasa. Aah rasanya ia tak sanggup melihat anak bungsunya itu meneteskan air mata.
"Sasa mohon izin yah pah, Sasa mau ikut hadir di acara wisuda sahabat Sasa karena sahabat Sasa cukup banyak berjasa membantu Sasa semasa kuliah dulu Sasa gak enak kalau Sasa gak hadir pah" lanjut Sasa memohon pada herdi
"iya papa izinkan, biarkan Abang mu yang mengantar" jawab herdi kemudian.
"nah kan papa pasti kasi izin kok sama kamu sayang" ucap Sania setelah cukup lama berdiam diri dan hanya menyimak, ia mengusap air yang sempat menetes dari mata sang putri kesayangannya.
Sasa mengangguk pada Sania, kemudian bangkit memeluk herdi.
"terimakasih banyak pah, Sasa sayang banget sama papa" Sasa mengeratkan pelukannya, Sasa benar-benar tidak sanggup jika harus lama-lama mendiami papanya. meski satu rumah namun Sasa selalu merasa rindu.
__ADS_1
Sania dan Ferdi saling menatap lalu tersenyum melihat pemandangan haru di depannya.