Salvagar

Salvagar
1. Permulaan


__ADS_3

Siang hari yang cukup terik, membuat udara di dalam ruangan ber-AC itu sangat nyaman. Walaupun terlihat agak gelap, namun termaafkan dengan wangi lavender dan musik bossa Nova yang mengalun merdu.


Diruangan yang tidak seberapa besar itu, terdapat meja kayu berbentuk persegi panjang dengan tumpukan kertas diatasnya. Disana, duduklah dua orang lelaki berhadapan dalam diam, membuat suasana diruangan menjadi lebih dingin.


"Kamu yakin?", tanya seorang pria dari balik meja dengan tatapan tajam, membuat lawan bicaranya menjadi ragu.


"Ya pak.", jawab lelaki paruh baya dengan baju hijau lumut sambil membawa kantong besar berwarna hitam didekat kakinya.


Pria itu hanya menghembuskan nafas panjang sambil tersenyum pasrah. Ia lalu berjalan kearah jendela dengan tatapan kosong. Sinar matahari membuat ekspresi sedih terpancar jelas dari wajahnya, walaupun ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya.


"Tenang Pak Dar, saya pasti akan usahakan mampir kesini kalau ada kesempatan.", ucap lelaki itu dengan suara agak bergetar, seolah ia ragu bisa kembali lagi bertemu dengan pria tersebut. Pria tua itu hanya tersenyum ramah sambil mengangguk pelan. Kerutan diwajahnya membuat ia terlihat lebih tua namun bijaksana.


Suasana hening kembali berlangsung sekitar 10 menit, membuat satu sama lain merasa canggung. Lelaki paruh baya itu bernama Arlon, seorang penjaga kebun binatang yang sudah bekerja disana hampir 15 tahun, mulai dari awal kebun binatang itu berdiri, hampir tutup, berjaya sampai sepi pengunjung, semua sudah dilaluinya. Ia sangat akrab dengan semua hewan disana, baik yang jinak sampai yang paling buas. Dan sampai sejauh ini, hanya Arlon yang setia mengurus hewan-hewan disana.


Sedangkan, pria tua dengan kumis agak lebat itu bernama pak Darlen. Ia adalah pemilik dari kebun binatang tersebut. Awalnya kebun binatang itu memiliki 3 pemimpin, namun sekarang hanya tinggal beliau yang melanjutkan segala perawatan hewan disana. Pengurus yang pertama pergi dengan meninggalkan hutang yang cukup banyak, hingga akhirnya kebun binatang tersebut hampir tutup dan membuat beberapa hewan mati kelaparan. Sedangkan pengurus yang lain pindah ke kota seberang dan tidak terdengar lagi kabarnya sampai sekarang.


Pak Darlen, dengan kancing baju yang hampir lepas itu, akhirnya memulai kembali percakapan.


"Ya sudah kalau itu keputusanmu yang terbaik.", lanjutnya berusaha tegar. Nada tidak ikhlas dengan raut wajah yang dipaksakan membuat Arlon berat untuk meninggalkannya, membuatnya semakin tidak mampu berkata-kata.


"Maaf pak, saya pasti akan usahakan yang terbaik sampai minggu depan.", ucap Arlon sambil berdiri. "Semua kegiatan sudah saya rangkum untuk Marvin dan teman-teman yang lain." Pak Darlen lagi-lagi hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tapi, ngomong-ngomong, bau apa ya ini?", tanya Pak Darlen sambil mengendus mencari sumber bau busuk yang sejak tadi mengganggu seisi ruangan.


"Hehe.. Maaf pak, ini anak rusa yang kemarin malam saya buru untuk Buwa.", ucap Arlon tersenyum sambil mengangkat kantong plastik hitam tadi dengan tangan kanannya. "Habis dari sini saya akan langsung kasih ke dia.", lanjutnya sambil merapatkan kantong plastik tersebut dengan kedua tangannya yang terlihat kotor. Ia terlihat agak kesulitan mengangkatnya.


"Buwa? Si panther?", tebak pak Darlen.


"Buaya pak, yang anaknya Yaya sama Bubu.", ucap Arlon dengan wajah serius. Pak Darlen hanya bisa tertawa kecil.


"Entah apa nanti penggantimu bisa sepeduli itu pada mereka. Paham dan kenal tiap detail semua hewan disini.", ucap pak Darlen pelan. Suasana pun kembali hening selama beberapa menit. Arlon hanya diam dan menyetujui ucapan pak Darlen.


"Ya sudah, kamu beri makan dulu si Buwa sebelum dia berubah jadi lebih ganas.", lanjut pak Darlen sambil kembali duduk ke meja kerjanya dan mulai mencari sesuatu di antara tumpukan kertas.


Arlon pun langsung keluar dari ruangan pak Darlen dan bergegas menuju kandang buaya yang berada lumayan jauh dari kantor. Sebenarnya meninggalkan semua kehidupan ini sangatlah berat bagi Arlon, tapi ia merasa sudah waktunya untuk pergi mencari keluarganya yang mungkin masih ada.


Arlon pun mengeluarkan bangkai rusa dari dalam kantong plastik dan melemparkannya ke dekat Buwa. Tidak ada semenit, bangkai rusa itu sudah hilang dari pandangan. Arlon pun terlihat senang dan bergegas keluar dari kandang, bersiap untuk memberi makan hewan lain yang sudah menunggu giliran.


Arlon pun berjalan menuju hewan selanjutnya, koala. Namun, ditengah perjalanan, ada suara yang memanggilnya dari arah belakang.


"Ar!", ucap Marvin, lelaki tinggi dan kurus yang juga memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai Arlon. Ia langsung berlari kecil kearahnya.


"Kenapa vin? Dadak udah dikasih makan kan?", tanya Arlon sambil menatap jam tangannya.

__ADS_1


"Aduuh, siapa lagi Dadak?", ucap Marvin kesal. Karena sampai saat ini hanya Arlon yang hafal nama-nama binatang disana.


"Dadak itu si Badak. Lu harus hafal loh, kalau ngga nanti mereka bisa marah.", jawab Arlon santai.


"Iya iya.. Nanti juga lama-lama hafal.", jawab Marvin agak kesal. "Oh ya, lu ditunggu Mr. Darlen tuh di ruangan, katanya penting."


"Kapan? Tadi gua baru dari sana kok.", ucap Arlon santai sambil tetap berjalan menuju kandang koala.


"Sekarang, Ar. Jangan sampe si Mr marah deh.", jawab Marvin sambil membayangkan bagaimana wajah Mr Darlen yang sangat ramah bisa berubah seketika saat sedang marah.


"Oke,", jawab Arlon sambil mengeluarkan bungkusan kantong plastik hitam kecil dari saku celana kanannya. "tapi tolong kasih ini dulu ya ke Kola, soalnya jam makan siang dia sudah lewat 1 jam. Takutnya kaya minggu lalu, dia jadi ngga mau makan."


Arlon pun bergegas berlari kembali ke ruangan pak Darlen dengan meninggalkan Marvin dibelakangnya, yang mematung sambil memegang bungkusan yang diberikan Arlon tadi. Sembari berlari, ia mengingat lagi bagaimana dulu ia pertama kali bekerja disana. Semua terasa begitu cepat berlalu, rasanya seperti baru kemarin.


Akhirnya Arlon sampai di kantor pak Darlen. Ia mengetuk pelan sambil melongok ke dalam ruangan. Pak Darlen yang sadar akan keberadaan Arlon, langsung menengok ke arah pintu dan mempersilahkan Arlon masuk.


"Sini sebentar, aku lupa memberitahu sesuatu.", ucap pak Darlen sambil mencari dokumen yang sepertinya penting. Arlon pun masuk dan duduk di kursi kayu tepat didepan pak Darlen.


"Ada apa pak?", tanya Arlon sambil matanya mengikuti tangan pak Darlen yang masih saja bergerak kesana kemari mencari dokumen yang entah apa.


"Kamu disini masih seminggu lagi kan? Saya mau minta tolong sama kamu. Boleh?", ucap pak Darlen.

__ADS_1


"Apa itu pak?", tanya Arlon sambil mengernyitkan dahinya. Ia sangat bersemangat untuk membantu, apalagi ia akan pergi dari tempat itu sebentar lagi.


"Tolong kamu cari dan bawa kemari makhluk aneh yang ada di hutan Salvagar.", ucap pak Darlen serius.


__ADS_2