Salvagar

Salvagar
10. Hansel


__ADS_3

"Yaaa mungkin memang hanya mirip. Mukanya memang pasaran.", ucap Marvin sambil tertawa. Arlon hanya bisa tersenyum tipis. Mereka pun memilih untuk duduk dibawah pohon itu daripada harus duduk diatasnya. Walaupun kokoh namun mereka tidak bisa leluasa. Pohon itu pun menunjukkan ekspresi paham.


"Oh ya, kau siapa?", tanya Arlon ke pohon tua tersebut.


"Aku Hansel. Aku termasuk penghuni golongan pertama di hutan ini.", ucap pohon tua itu dengan bangga.


"Penghuni golongan pertama?", tanya Marvin mengulang dengan antusias. "Tepatnya sudah berapa lama?"


"Aku tidak tahu. Mungkin sudah... 15 atau 20 tahun yang lalu?", jawab Hansel yang juga ragu kapan terakhir ia menjadi seorang manusia.


"Wow lama juga ya..", ucap Marvin yang merasa aneh harus berbasa-basi dengan sebatang pohon.


"Tuan Hansel, kenapa kau bisa ada disini?", tanya Arlon sopan. Ia tahu bahwa manusia yang dikutuk jadi pohon ini berusia jauh diatasnya.


"Apa kalian benar-benar mau mendengarkan ceritaku? Karena mungkin cerita ini akan sangat panjang.", tanya Hansel dengan tatapan sedih dan ragu. Terlihat bahwa ia butuh teman bercerita dan bertukar pikiran.


" Ya, pastinya. Kami ingin tahu apa yang terjadi.", ucap Marvin antusias. Ia berharap agar mereka bisa mendapat petunjuk dari cerita Hansel. Setidaknya agar mereka tidak cepat-cepat bertemu dengan Xeron saat itu.


"Aku dulunya adalah seorang pemburu yang handal. Aku biasa berburu sendiri atau kadang dengan teman-temanku. Suatu hari, aku sedang pergi berburu seperti biasa dan sekalian akan pergi ke sungai Cambora. Lalu, tanpa sengaja aku menemukan jalan menuju ke hutan ini yang ternyata perjalanannya jauh lebih cepat. Waktu itu hutan ini bisa dibilang seperti tanah lapang, hanya ada beberapa pohon kecil disini. Hal itu karena struktur tanah dan batuan yang tidak subur.", cerita Hansel sambil mengingat-ingat kisahnya dimasa lampau. Arlon dan Marvin memperhatikan dengan seksama, begitu penasaran dengan asal muasal tempat ini.

__ADS_1


"Selama beberapa kali, aku melintasi hutan ini sendiri atau bersama dengan beberapa temanku yang juga pemburu handal, dan tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan aman. Bahkan, perjalanan yang tadinya bisa memakan waktu seharian, dengan melewati hutan sunyi hanya butuh setengah hari saja. Apalagi lokasi hutan ini sangat strategis kalau kalian tahu celahnya. Suatu hari, saat aku pulang dari sungai Cambora, persediaan bekalku habis dan entah mengapa aku dehidrasi berat. Lalu, datanglah ayah Xeron memberikan aku air yang begitu segar, entah darimana. Padahal kalau ditelaah, lokasinya sangat jauh dari sumber air. Disitulah pertemuan pertama kali.", ucap Hansel sambil menarik napas panjang.


"Jadi, sebenarnya ada banyak makhluk seperti Xeron disini?", tanya Arlon cukup terkejut. Dari raut wajahnya, terlihat jelas Hansel menunjukkan ekspresi setuju. "Lalu, kemana mereka semua?"


"Semua sudah tidak ada.", ucap Hansel dengan wajah yang sedih. "Biar aku lanjutkan. Saat itu, aku jadi semakin akrab dengan makhluk itu. Walaupun perawakannya mengerikan, namun mereka memiliki hati yang baik.", lanjut Hansel sambil membayangkan masa lalunya. Sedangkan, Arlon dan Marvin hanya bisa saling tatap mendengar cerita Hansel, seolah bersyukur makhluk-makhluk aneh itu sudah tidak ada. Menghadapi satu makhluk saja rasanya sudah kewalahan, bagaimana kalau ada yang lainnya.


"Hati yang baik?", tanya Marvin heran. "Kalau mereka benar punya hati yang baik, pasti tidak ada yang sampai harus dikutuk disini."


"Itu dia masalahnya. Semua dimulai sejak banyaknya orang yang tahu tentang hutan ini dan sering melewatinya. Bahkan, terakhir kali aku pernah dengar kalau ada sekelompok penguasa yang ingin menjadikan lahan kosong ini sebagai pusat hiburan kota. Semua kembali lagi karena lokasinya yang strategis. Ayah Xeron pun mengeluhkan kekhawatirannya akan hal itu. Karena keberadaan mereka bisa terancam dan dipastikan pasti akan musnah." Hansel berhenti sejenak. Ia menutup matanya seolah sedang memilih bagian mana yang bisa dibagikan dan mana yang tidak. Ia terlihat kelelahan, napasnya yang pendek membuat ia terlihat semakin tua.


"Kalau kau lelah, istirahatlah dulu.", ucap Arlon. Ia tidak tega melihat Hansel seperti itu. Ia pun mengeluarkan botol air minumnya dan menyiramkan air ke akarnya. Seketika Hansel terlihat segar kembali. Sekarang matanya kembali berbinar.


"Lalu, dimana ayah Xeron?", tanya Arlon penasaran.


"Aku dan Xeron segera mencari ayahnya namun tak juga terlihat. Kami bergegas ke sumber api dan benar saja, ia ada disana sedang diikat dan disiksa oleh para manusia biadab itu. Ia terlalu tua untuk bisa melawan. Xeron pun langsung berusaha menyelamatkan ayahnya namun ia terlambat. Ayahnya ditusuk oleh salah satu dari mereka tepat didepan matanya. Disitulah Xeron mulai marah dan sangat benci dengan manusia.", ucap Hansel tenang. Arlon dan Marvin hanya bisa mendengar kisah itu dalam diam. Sekarang, kepedihan yang dialami Xeron dapat mereka pahami arahnya.


"Lalu kenapa kau dikutuk juga? Bukannya kalian bersahabat?", tanya Marvin.


"Sebenarnya aku begini karena ia tidak sengaja. Ia mengutuk semua orang disana, dan termasuk denganku. Jadilah aku terkena imbasnya.", ucap Hansel menyayangkan apa yang terjadi pada hidupnya.

__ADS_1


"Apa tidak bisa ditarik lagi kutukannya?", tanya Arlon yang ikut prihatin mendengarnya.


"Tidak bisa. Xeron sudah mencoba ratusan kali dan tetap gagal.", ucap Hansel yang nampaknya tidak ada kemarahan sedikit pun atas kelalaian yang dibuat oleh Xeron. "Mungkin ini memang sudah takdirku.", lanjutnya sambil sedikit tertawa, menunjukkan ketegaran yang dipaksakan.


"Pantas tadi kau bilang kalau kau ini spesial.", ucap Marvin sambil tersenyum. "Kami turut prihatin.", lanjut Marvin sedih.


"Haha.. Tidak apa. Aku sudah ikhlas. Setidaknya, sampai sekarang Xeron masih peduli padaku dan merawatku dengan baik.", jawab Hansel tersenyum. Wajah tuanya begitu menenangkan, seperti tidak ada masalah apapun yang dihadapinya.


Tiba-tiba, tanah didekat mereka kembali bergetar dan Arlon tersadar bahwa mereka masih dalam permainan yang dibuat Xeron. Ia melihat jam tangan dan tak terasa mereka sudah satu setengah jam berada disana.


"Nampaknya kami harus pergi sekarang.", ucap Arlon dengan perasaan tidak enak harus meninggalkan Hansel sendirian.


"Tidak apa. Memang sudah waktunya.", ucap Hansel tegar. Ia lagi-lagi harus siap hidup sendiri dalam kesepian. Arlon dan Marvin langsung berdiri dan mulai menggendong ranselnya lagi.


"Oh ya, tadi diawal kau bilang aku mirip seseorang yang pernah kau tolong.“, ucap Arlon memastikan.


"Yap! Amat sangat mirip denganmu.", jawab Hansel semangat sambil mengamati Arlon dari atas ke bawah.


"Kau tahu dia siapa? Atau mungkin kau tahu namanya?", tanya Arlon penuh harap apa yang dipikirkannya adalah kenyataan.

__ADS_1


"Setahuku dia juga pemburu handal, tapi aku lupa siapa namanya.", jawab Hansel sambil berusaha mengingat-ingat. Arlon masih menunggu dengan sabar. "Kalau tidak salah namanya.. Larry.", jawab Hansel yang membuat Arlon kecewa. "Eh tunggu, bukan bukan. Namanya.. Luvi. Ya, Luvi. Luvian."


__ADS_2