Salvagar

Salvagar
13. Kesempatan Terakhir


__ADS_3

"Ar.. Ar..", terdengar samar-samar suara lelaki diluar sana. Tak hanya suara, tapi tubuhnya pun ikut diguncang-guncangkan. "Ar, bangun Ar!", ucapnya lagi. Kali ini nadanya terdengar lebih panik.


Arlon terlalu lelah untuk sekedar membuka mata. Rasanya ia masih ingin memejamkan matanya beberapa jam lagi. Namun, sinar mentari menyinari wajahnya, memaksa dirinya untuk segera terjaga.


"Ar! Ayo bangun! Jangan main-main dong!", ucap suara diujung sana yang lagi-lagi mengusik dirinya. "Ar..", ucap suara yang ternyata adalah Marvin. Kini suaranya sudah lebih pelan. Arlon pun membuka matanya pelan-pelan, cahaya masuk dan memaksanya harus cepat beradaptasi.


"Vin..", ucap Arlon lirih. Badannya baru terasa sakit sekarang. Apalagi tulang punggungnya yang terasa sangat kaku. Marvin membantunya bangun dan meletakkannya dalam posisi duduk. Butuh waktu agar Arlon bisa duduk dengan posisi sempurna.


"Ya ampun, kirain lu udah lewat.", ucap Marvin lega sambil mengguncang badan Arlon dan memeluknya dengan erat.


"Vin, pelan-pelan dong, sakit.", ucap Arlon lirih. Ia meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya.


"Hehe iya maaf maaf.", jawab Marvin sambil tersenyum malu. Ia melepas pelukannya dan mengecek kondisi tubuh Arlon dari kepala sampai kaki, yang ternyata baik-baik saja. "Aman kok Ar, ga ada yang patah. Yaaa walaupun agak memar aja sih paling.", lanjutnya sambil meringis ngeri melihat punggung dan pinggang Arlon yang memar cukup parah. Ia menutup kembali baju Arlon yang agak basah karena keringat. Udara jadi terasa lebih panas sekarang.


"Lu gapapa?", tanya Arlon. Kini ia sudah mulai bisa menopang tubuhnya sedikit demi sedikit.


"Gapapa, cuma tangan aja tadi agak sakit, ternyata ketusuk kayu.", jawab Marvin santai. Arlon melihat lengan kiri Marvin yang tertusuk kayu tadi. Ternyata lukanya lumayan besar dan agak menganga.


"Itu.. Bersihin dulu kali lukanya.", ucap Arlon sambil menunjuk ke arah darah yang sedikit demi sedikit masih menetes di lengannya. Marvin langsung membersihkan lukanya dengan air yang tersisa di botol minumnya. Ia nampak kesakitan tapi tetap berusaha kuat.


"Bagaimana?", tanya Xeron yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka. Badannya yang besar dan tegap menutup sebagian cahaya matahari yang menyinari mereka. Arlon dan Marvin sangat terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. "Apa yang kalian temukan tadi?", lanjut Xeron penasaran. Wajahnya terlihat puas setelah tahu dua manusia dihadapannya babak belur.

__ADS_1


"Kami bertemu Hansel.", ucap Arlon tegas. Ia ingin melihat ekspresi Xeron jika mendengar hal ini. Dan dugaannya tepat. Xeron langsung terdiam. Senyum dan tawa yang tadi terpancar, kini langsung memudar. Tatapannya kosong selama sepersekian detik.


"Oh.. Meteor..", ucap Xeron yang tidak mau membahas soal Hansel sama sekali. Ia langsung memalingkan wajahnya dan membelakangi mereka berdua.


"Kami sudah tahu semua ceritanya. Ini semua bukan salahmu.", ucap Marvin berani.


"Kami yakin kau tidak akan jadi seperti ini kalau manusia-manusia itu tidak menghancurkan tempat tinggalmu. Tapi itu bukan berarti kau harus benci sama semua orang.", ucap Arlon. Mendengar hal itu, Xeron kesal dan langsung menatap mereka lagi.


"Tahu apa kalian! Kalian tidak tahu apa-apa!", bentak Xeron. Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru hutan. Begitu kuat dan menggema. Kemudian ia memukul pohon yang paling dekat dengannya dengan sangat kencang. Pohon itu pun bergetar dan banyak daun yang berguguran. Beruntung pohon itu tidak langsung tumbang.


"Aduh, kayanya lo salah ngomong deh..", bisik Marvin yang ketakutan melihat Xeron.


"Yang duluan bahas Hansel kan lu, Ar.", ucap Marvin tidak mau dirinya disalahkan sendirian.


"Tapi lu ngapain pake sok-sokan bijak kasih tahu dia apa yang harus dia lakuin?", bela Arlon pelan. Mereka memang selalu seperti itu sejak dulu, saling menyalahkan tapi tidak pernah mendendam.


"Sudah! Tidak usah banyak omong!", bentak Xeron yang berusaha menahan emosinya. "Kalian langsung pilih saja jalan yang ke tiga!"


Arlon langsung memaksakan diri untuk bisa berdiri, dengan bantuan Marvin tentunya, walaupun punggungnya masih terasa sangat nyeri. Mereka harus memanfaatkan waktu yang tersisa. Arlon, diikuti dengan Marvin di belakangnya, bergegas ke jalan nomor 1 dan 3. Karena dua jalan itu yang berada di paling barat.


"Vin, lu perhatiin jalan nomor 3. Kalau lu lihat ada semut 1 aja, panggil gua ya!", seru Arlon. Marvin mengangguk dengan semangat dan langsung bergegas ke jalan nomor 3.

__ADS_1


Sayang, semut yang diharapkan tak juga muncul. Arlon baru teringat ucapan Hansel, bahwa ia harus memancing dahulu agar semut itu mau keluar. Ia langsung mengeluarkan coklat yang ia bawa di ranselnya dan memotongnya menjadi bagian kecil-kecil. Arlon meletakkannya di sudut jalan nomor 1 dan 3. Tapi ia pikir, akan lebih baik jika ia meletakkan coklat itu disetiap jalan yang tersisa. Karena bisa saja pilihan mereka salah.


Xeron hanya diam sambil memerhatikan tingkah Arlon yang jelas berbeda dibandingkan dengan manusia lain yang ditemuinya. Begitu gigih dan penuh dengan perhitungan. Mereka menunggu selama beberapa saat. Belum ada yang terjadi.


"Gimana Ar? Gua belum nemu tanda-tanda ada semut disana.", ucap Marvin yang menghampiri Arlon. Ia sudah memerhatikan dan memastikan berkali-kali kalau tidak ada satu pun semut yang datang. Begitu pula Arlon. Ia masih diam di depan jalan nomor 1 dan potongan coklat itu masih utuh disana.


"Tunggu sebentar lagi deh.", ucap Arlon yang masih penuh harap caranya benar.


"Jadi kalian pilih jalan yang mana?", tanya Xeron yang sekarang sudah berdiri tepat di belakang Marvin. Kali ini taringnya terlihat jelas, dihiasi dengan air liur yang menetes dengan menjijikan. Ia selalu berhasil membuat Marvin bergidik ketakutan.


"Kami minta waktu sebentar lagi.", ucap Arlon yang tidak memalingkan pandangannya sama sekali dari jalan nomor 1 dihadapannya.


"Tidak! Kalian harus pilih sekarang!", ucap Xeron kesal. Nampaknya Xeron tidak ingin mereka berhasil dan keluar dari sini.


"Ar!", teriak Marvin dengan semangat. "Sini! Cepat sini!", panggilnya lagi. Arlon mencari dimana Marvin dan ternyata ia sudah ada di seberang jalan, di depan jalan nomor 8. Saking seriusnya menatap jalanan, ia sampai tidak tahu kapan Marvin pergi.


"Kenapa?", tanya Arlon sambil berdiri. Melihat wajah Marvin yang sumringah, ia menjadi yakin bahwa mereka akan selamat. Ia langsung berlari menghampiri Marvin, disusul dengan Xeron dibelakang mereka dengan langkah beratnya.


Marvin menunjuk ke bawah, dekat dengan semak-semak dimana para semut membawa potongan coklat itu dengan antusias. Tidak sedikit, namun sekumpulan besar semut terus datang silih berganti.


"Kami pilih jalan nomor 8.", ucap Arlon dengan sangat yakin dan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2