
Pagi buta Arlon sudah terbangun dan siap untuk berangkat menuju hutan Salvagar. Ia tidak bisa tidur tadi malam. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara menemukan binatang itu dan bergegas keluar dari sana. Apakah ia perlu masuk terlalu jauh ke dalam hutan yang begitu gelap dan lebat atau ia bisa menemukannya diluar hutan? Apakah benar hewan aneh itu ada? Dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab sedang berkecamuk di kepalanya.
Ia pun bergegas mandi sebelum pikirannya melangkah terlalu jauh. Tak seperti biasanya, pagi ini Arlon sangat tidak bersemangat dan hanya menghabiskan waktu dikamar mandi kurang lebih selama 10 menit.
Ia langsung bersiap dan memastikan tidak ada hal penting yang tertinggal. Ransel hitam yang akan dibawanya sudah penuh dengan perlengkapan pribadi, seperti beberapa stel pakaian dan persediaan makanan kering. Ada juga senter, busur dan anak panah, pisau lipat yang sudah diasah tajam, tenda dan senapan angin. Ia juga menyiapkan beberapa perlengkapan kesehatan seperti perban, obat anti serangga dan obat-obatan lain. Ransel itu terlihat sangat besar dan berat.
Pukul tujuh pagi, Arlon sudah berangkat menuju kebun binatang Yorka. Perjalanan dari tempat ia tinggal ke kebun binatang terlampau dekat, hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Arlon sengaja berangkat lebih pagi sambil menikmati rindangnya pepohonan dan langit yang cukup cerah. Angin pagi itu menerpa wajahnya, membuat ia nyaman dan ingin memejamkan mata.
Tanpa sadar, ia sudah sampai didepan gerbang yang begitu besar dan kokoh. Pintu gerbang itu memiliki sejarah besar untuknya, saat pertama kali ia datang ke kesana.
Saat itu, kebun binatang masih sangat baru dan tidak seluas sekarang. Pintu gerbang pun masih terbuat dari bambu seadanya. Pemandangan sekitar masih dikelilingi hutan yang belum serapi sekarang. Masih banyak ditumbuhi alang-alang disana sini. Apalagi jumlah binatang yang hanya 3 macam, yaitu ular, gajah dan buaya. Itu pun ditangkap langsung oleh warga karena berkeliaran liar saat lokasi tersebut masih mirip hutan belantara.
Arlon, yang masih berusia 13 tahun, datang dengan kebingungan. Saat itu dia baru saja kehilangan ayahnya, seorang pemburu handal, yang sudah tidak pulang sebulan lebih selepas berburu di hutan seberang. Begitu pula dengan rekan ayahnya yang lain, tidak ada seorang pun yang kembali.
Ia pun diusir dari tempat tinggalnya karena sudah tidak mampu membayar sewa. Dengan beberapa pakaian yang tersisa, ia pergi mencari tempat lain untuk singgah hingga ia sampai di kebun binatang ini. Dengan kerendahan hati pak Darlen, akhirnya Arlon bisa tinggal dan bekerja disana. Baginya, pak Darlen sudah seperti ayahnya sendiri. Itu mengapa, apapun perintah dan keinginan pak Darlen selalu berusaha ia turuti.
"Ar!", teriak Marvin menyadarkannya seketika. Ia berlari ke arah Arlon yang masih terkejut. "Lu ngapain bengong aja disitu? Dari tadi dipanggilin ga nyaut."
"Ga apa-apa. Lagi liatin gerbang aja.", jawab Arlon salah tingkah. Rasanya ia sudah cukup lama berdiri disana.
"Aneh lu!", ucap Marvin dengan tatapan bingung. " Puas-puasin deh besok liatin gerbang sebelum pindah.", lanjutnya sambil tertawa bersama. Perkataan Marvin membuat Arlon kembali sedih karena sebentar lagi waktu itu akan tiba.
"Eh, ngomong-ngomong lu udah bawa teropong sama jaring yang kemarin gua minta kan?", tanya Arlon sambil melihat ransel yang dibawa Marvin tampak begitu penuh.
"Bawa kok, aman.", ucap Marvin percaya diri. "Tapi ini kita langsung kesana atau harus ketemu pak Darlen dulu?"
__ADS_1
"Kita masuk dulu aja, kemarin pak Darlen minta ketemu sebentar.", jawab Arlon sambil membuka gerbang yang cukup berat itu. Kebun binatang itu masih tampak sangat sepi, bahkan petugas keamanan pun tidak terlihat batang hidungnya.
Mereka berjalan menuju kantor pak Darlen yang berada tak jauh dari sana. Kondisi pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Loket tampak begitu sepi, begitu pula arena bermain utama yang berada dekat pintu masuk.
Sembari mengobrol, tak terasa kantor pak Darlen sudah terlihat oleh mereka berdua. Lalu, keluarlah Carel dari sana membawa gulungan kertas dan pena berwarna biru. Ia sibuk melihat catatan yang dibawanya tadi.
"Carel! Abis ngapain lu disitu?", tanya Marvin penasaran.
"Biasa.. Laporan dulu ke bos besar. Karena kan nanti gua harus pantau keadaan sekitar.", jawab Carel bangga. Arlon dan Marvin tersenyum terpaksa. "Gua duluan ya, mau cek kandangnya Leon dulu abis itu mau liat kerjaan teman-teman yang lain.", ucap Carel sambil berlalu.
"Laganya udah kaya bos aja.", ucap Marvin kesal. Sejak awal, Marvin sudah tidak suka dengan kelakuan Carel yang seperti penjilat bermuka dua.
"Biarin aja vin,", ucap Arlon sambil menepuk pundak Marvin pelan. "Lagian juga masa berjayanya cuma 3 hari doang, abis itu dia bakal jadi bawahan lu."
"Iya ya, nanti gua suruh bersihin kandang buaya sendirian sama kasih makan singa langsung pake tangan.", ucap Marvin kesal. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Jangan dong, cuma dia yang kerjanya paling bener, yaaa walaupun.. Tau sendiri lah gimana.", jawab Marvin yang masih terpingkal.
"Hey! Sedang apa kalian disitu? Sini masuk!", ucap pak Darlen yang sudah berdiri didepan pintu ruangannya. Nampaknya tawa mereka terlalu keras sampai terdengar ke dalam ruangan. Mereka berdua langsung menghampiri ruangan itu.
Mereka menaruh ransel didekat pintu dan bergegas duduk dibangku kayu depan meja. Hari ini kantor pak Darlen tampak lebih bersih dari kemarin. Tumpukan kertas sudah tertata lebih rapi. Pak Darlen pun duduk di kursi kebanggaannya sambil mengambil selembar kertas dan menyodorkannya diatas meja. Arlon dan Marvin melihat gambar disana.
"Apa itu pak?", tanya Arlon.
"Ini Tabi. Makhluk langka yang saya minta kalian temukan dan bawa kemari.", jawab pak Darlen dengan semangat.
__ADS_1
"Itu gambar darimana pak?", tanya Marvin sambil mengamati gambar itu dengan seksama. Sesuai dengan apa yang dibicarakan banyak orang -pendek, buntal, berbulu lebat.
"Teman mancing saya waktu itu pernah lihat langsung. Saat dia mau menangkapnya, makhluk itu berlari kencang sekali.", ucap pak Darlen. "Dan saya yakin, kalian berdua pasti bisa menangkapnya dengan mudah."
"Tapi mohon maaf sebelumnya pak, ini kan hutan Salvagar ya pak, hutan yang.. Bapak tahu sendiri lah bagaimana seramnya.", ucap Marvin. "Resiko untuk kita kesana juga besar. Apalagi banyak yang tidak pernah kembali."
"Dan setau saya, akses kesana juga cukup berbahaya. Ditambah perlengkapan kita yang seadanya, sedangkan kita tidak tahu dengan pasti bagaimana medan disana.", sahut Arlon.
"Ya saya paham.", jawab pak Darlen menatap mereka berdua sambil mengangguk pelan. "Memang kesana bukan hal yang mudah. Makanya saya ijinkan kalian pergi berdua."
Sepertinya pak Darlen tidak menangkap maksud dari ucapan Marvin dan Arlon. Akhirnya Arlon pun membuka suara.
"Kalau makhluk itu tidak bisa kita temukan dan bawa kesini, bagaimana pak?", tanya Arlon.
"Berarti kalian harus lekas pulang. Jangan terlalu lama disana. Paling lama cukup 3 hari.", jawab pak Darlen tegas.
"Nah, kalau kita berhasil membawa makhluk itu kesini, kita dapat apa pak?", tanya Marvin yang langsung bertanya ke intinya.
Pak Darlen pun tertawa. "Tenang saja.. Nanti kalian akan dapat bagian masing-masing. Bayaran yang luar biasa besar. Karena saya yakin, kalau makhluk itu bisa kita tangkap, pasti kebun binatang kita akan lebih berjaya dari sebelumnya. Masing-masing 1 juta."
Inilah kalimat yang mereka tunggu-tunggu. Imbalan. Mereka mana mau berjuang mati-matian kalau tidak ada timbal baliknya. Dan penawaran pak Darlen cukup memuaskan ekspektasi mereka. Dengan nominal tersebut, mereka bisa membeli rumah, mobil, dan masih banyak sisanya untuk keperluan lain.
"Oke, deal.", ucap Arlon & Marvin bersamaan. Mereka pun bersalaman dengan pak Darlen.
"Hati-hati kalian.", ucap pak Darlen sambil memeluk mereka berdua. Khususnya Arlon, yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Mereka pun bergegas mengambil ransel dan meninggalkan ruangan sebelum sinar matahari semakin terik.
__ADS_1
"Ar! Vin!", panggil pak Darlen sambil menatap mereka di depan pintu ruangan, mengantarkan mereka pergi. "Ingat, jangan menjauh dari cahaya."