
Mereka berdua terlihat bahagia. Tapi tidak dengan Xeron. Ia kesal karena mereka berhasil melewati tantangan ini. Tapi Xeron adalah makhluk yang akan menepati tiap detail ucapannya. Ia pun mempersilahkan mereka berdua untuk pergi ke jalan yang tadi dipilih tanpa berkata-kata.
"Hai Xeron,", ucap Arlon yang sekarang sudah berdiri di depan Xeron, menatapnya dengan tatapan yang tenang, tak ada rasa takut sama sekali terpancar dari matanya. "Jangan salahkan dirimu sendiri ya. Jangan samakan semua orang, karena tidak semua orang jahat."
Xeron hanya diam mendengar hal itu. Baru kali ini ia menunduk dan terlihat tidak berdaya. Seperti merasa baru dipedulikan setelah sekian lama memendam. Terlihat jelas, dibalik tubuhnya yang gagah dan penampilannya yang menakutkan, tersimpan kenangan yang begitu pahit.
"Kami pergi dulu ya.", ucap Marvin berusaha santai. Rasa takutnya berkurang setelah melihat bagaimana responnya yang tak berdaya terhadap ucapan Arlon. Walaupun saat harus melewatinya, ia masih bergidik dan terburu-buru, takut terkena ekornya yang suka bergerak kesana kemari layaknya kucing yang ingin bermain.
Mereka berjalan menuju jalan nomor 8 dengan langkah pasti. Mereka merasa sudah menjadi seorang pemenang. Walaupun menyisakan luka dan lebam disana sini, namun akhirnya mereka bisa keluar dan tidak harus berdiam didalam hutan sunyi menjadi sebatang pohon.
"Hansel.", ucap Xeron yang akhirnya bersuara memberanikan diri. "Bagaimana kabar Hansel?" Arlon dan Marvin yang sudah berjalan menuju jalanan nomor 8 itu langsung menoleh dan berhenti. Mereka terkejut atas perilaku Xeron. Mereka saling tatap selama beberapa saat. Arlon mengangguk, menandakan mereka harus kembali sebentar, tetapi Marvin sebaliknya, ia menggeleng karena sudah tidak mau berhadapan lagi dengan makhluk besar itu. Akhirnya Arlon memutuskan untuk kembali ke hadapan Xeron, berusaha mengulik sesuatu yang mungkin berharga, disusul dengan Marvin dibelakangnya yang mau tidak mau mengikuti kemauan keras sahabatnya.
"Terakhir kami lihat, ia terbakar oleh api yang dibawa meteor.", ucap Arlon dengan sangat hati-hati dan perlahan. Tidak ada ekspresi sedih sedikit pun di wajah Xeron. Nampaknya itu bukan jawaban yang ia cari.
"Tapi waktu pertama kalian lihat dia, bagaimana?", tanya Xeron datar. Ia seperti menahan ekspresi penasarannya dan tetap mempertahankan wajah sangarnya.
"Ia baik saja, walaupun terlihat tua dan sesekali kelelahan kalau bicara. Tetapi iia sangat membantu kami, apalagi saat asap meteor hampir membunuhku.", ucap Marvin mengingat kejadian itu. Rasanya ia berhutang budi begitu besar kepada Hansel dan ingin membuatnya kembali menjadi manusia, walaupun ia tidak tahu bagaimana caranya.
__ADS_1
Xeron hanya mengangguk. Tatapannya kosong dan dalam. Ada begitu banyak penyesalan disana. Terlalu banyak luka yang harus ia pendam sendirian.
"Lalu, itu artinya apa? Apakah Hansel berarti sudah.. tidak ada?", tanya Arlon. Kali ini ia juga kepikiran bagaimana nasib Hansel disana.
"Ia akan tetap disana. Besok ia juga akan muncul lagi.", ucap Xeron tenang.
"Tapi kan ia sudah terbakar habis. Kami lihat langsung.", lanjut Marvin bingung.
"Dia akan tetap disana. Semua akan kembali normal setelah 24 jam.", jawab Xeron singkat.
"Jadi, maksudmu Hansel akan ada lagi setelah 24 jam? Ia tidak mati?", tanya Arlon antusias, yang dijawab Xeron dengan sebuah anggukan. "Lalu apa tidak ada cara untuk membuat ia menjadi manusia lagi?"
"Tapi bukannya kau sering mengurus Hansel?", tanya Arlon. Mendengar hal itu, membuat Xeron terkejut dan menatap Arlon dengan heran. Pupil matanya membesar, membuat wajahnya terlihat aneh.
"Apa Hansel bilang begitu?", tanya Xeron yang langsung menghampiri Arlon, membuat Arlon harus mundur selangkah. Memang dimatanya Xeron sudah tidak semengerikan sebelumnya, tapi ia tetap was was jika Xeron menghampirinya. Apalagi ditambah dengan ekornya yang terkadang suka mengibas sesuka hati.
"Ya. Ia bilang kau peduli dan masih suka mengurusnya sampai sekarang. Dan ia terlihat senang.", ucap Arlon yang mengingat jelas ucapan Hansel padanya.
__ADS_1
"Ia bohong!", tegas Xeron sambil jatuh terduduk. Terlihat putus asa dan seketika tak berdaya. "Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Bukan aku tak mau, tapi aku tak bisa. Hampir setiap hari aku mencari jalan untuk bisa bertemu dengannya, tapi tidak juga ketemu."
"Kapan kau terakhir kali bertemu dengannya?", tanya Marvin yang mulai iba melihat Xeron yang sekarang matanya berlinang. Ia menahan agar air matanya jangan sampai jatuh, karena baginya itu dapat menjatuhkan harga dirinya. Ia terdiam, mengingat-ingat kapan terakhir kalinya mereka bertemu.
"Mungkin 10 tahun yang lalu.", ucap Xeron tertunduk lesu. Arlon dan Marvin berinisiatif duduk didepan Xeron untuk mendengar cerita lengkapnya. "Dia sudah ku anggap seperti ayahku sendiri. Ayah dan Hansel berteman sangat dekat. Tapi memang karena kecerobohanku, Hansel juga harus merasakan kutukan itu."
"Lalu, kira-kira sampai kapan Hansel dan orang-orang ini ada disini? Apakah sampai mereka.. mati?", tanya Marvin sambil memikirkan nasib orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Mereka tidak akan pernah mati. Mereka akan tetap hidup. Walaupun hutan ini terbakar, tapi mereka semua akan tetap ada disana sampai kapan pun. Pohon-pohon itu akan tumbuh lagi dengan sendirinya seperti kondisi awal dimana ia pertama kali menjadi pohon.", jawab Xeron sambil menatap mata mereka berdua bergantian. Arlon sempat berpikir apakah ini nyata atau Xeron sengaja menakut-nakuti mereka.
"Sampai kiamat?", tanya Marvin terkejut. Arlon hanya menyenggol lengan Marvin agar ia berhati-hati dengan ucapannya.
"Tidak ada yang tahu bagaimana.", jawab Xeron yang sekarang berusaha berdiri dari duduknya. Berusaha tetap tegar seperti sedia kala. Mereka berdua pun ikut berdiri dan tetap menjaga jarak aman dengan Xeron.
"Jadi, mereka yang ada disini akan abadi?", ucap Arlon memastikan ucapan Xeron. Ia pun mengangguk sambil mengibaskan ekornya ke kiri dan kanan, hampir saja mengenai kepala Marvin. Untungnya, refleks Marvin masih berfungsi dengan baik, ia bisa menghindar ke belakang dengan cepat. Ia langsung berdiri di belakang Arlon.
Sungguh mengerikan mengetahui hal itu. Harus hidup sendirian ditengah hutan, dalam kondisi menjadi sebatang pohon, ditambah tidak akan bisa mati. Betapa beruntungnya mereka berdua.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian pergi sana! Selamat, kalian bisa pergi dari sini.", ucap Xeron sambil membungkukkan badannya ke arah mereka berdua. "Akhirnya, setelah sekian lama ada juga yang berhasil.", lanjutnya pelan sambil tersenyum tipis.
Arlon dan Marvin pun bergegas menuju jalanan nomor 8 dan terus melangkah maju, berbangga diri bisa terlepas dari kutukan tak berujung yang diciptakan oleh makhluk yang bahkan tidak bisa membatalkan kutukan yang dibuatnya. Mereka meninggalkan Xeron dalam kesendirian di belakang sana. Kini saatnya mereka bersiap untuk hal-hal gila lain yang sudah menanti didepan.