
Mereka berjalan dengan perasaan tenang, ditemani pohon dikiri dan kanan jalan, dimana pohon-pohon ini adalah pohon yang asli. Sudah tidak ada lagi anggota tubuh lain yang muncul disana saat mereka sentuh. Ditambah dengan angin yang berhembus lembut menerpa wajah mereka. Semakin mereka berjalan, semakin terdengar bunyi burung yang berkicau dari kejauhan. Mereka sangat lega, karena pada akhirnya, ada suara makhluk hidup terdengar setelah kesunyian dan kengerian yang luar biasa di hutan sunyi.
"Akhirnya kita bisa keluar ya dari hutan itu.", ucap Marvin yang sekarang sudah lega tidak harus melihat Xeron lagi. "Untung gua pergi sama lu, si manusia yang ngerti banget soal binatang.", lanjutnya. Mereka pun tertawa bersama.
"Ya itu semua kan juga karena Hansel. Kalau dia ga kasih tahu juga mungkin kita udah bernasib sama kaya mereka.", jawab Arlon santai. Mereka bergidik membayangkan hal itu. "Terjebak selama beberapa jam saja rasanya sudah mengerikan, bagaimana kalau seumur hidup.", lanjutnya, membuat Marvin langsung berimajinasi betapa mengerikannya kalau hal itu terjadi.
"Aduh jangan sampe deh! Lu ngomongnya jangan gitu dong! Pokoknya nanti pas kita pulang dari Salvagar, jangan lewat hutan itu lagi ya!", ucap Marvin sambil mengancam ke arah Arlon untuk lebih berhati-hati dalam memilih jalan.
"Siap bos! Nanti kita jalan lebih jauh aja, yang penting aman!", jawab Arlon sambil tertawa. Tanpa diberitahu Marvin pun, Arlon sudah pasti tidak akan mau lewat tempat itu lagi, apapun yang terjadi.
"Ngomong-ngomong, habis ini kita istirahat dulu kan?", tanya Marvin yang sudah kelelahan. Keringat sebesar biji jagung mulai terlihat menetes di dahinya. Ranselnya yang berat, membuat badannya lebih membungkuk.
"Iya, malam ini kita istirahat dulu di sungai Cambora.", jawan Arlon santai. Ia sudah membayangkan tidur malam ini dengan nyenyak untuk persiapan esok hari. Ia ingin memulihkan kondisi punggungnya yang semakin ia bergerak, semakin terasa pedihnya.
"Aman?", tanya Marvin sambil melirik khawatir ke arah Arlon.
"Semoga aman. Sungai ini sebenarnya juga udah lama ga ada yang datang. Mungkin karena penduduk yang mau lewat terjebak di hutan sunyi kali ya.", ucap Arlon yang tetap berusaha berpikiran positif.
"Ya semoga ngga ada apa-apa lagi ya.", jelas Marvin penuh harap. "Gua cuma pengen tidur doang ini, ngantuk banget. Badan pada sakit semua lagi.", lanjut Marvin sambil meregangkan badannya.
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar dua puluh menit. Sampai akhirnya suara burung yang bersiul semakin dekat dan jelas terdengar. Tak hanya itu, bunyi aliran air yang mengalir dan gemericik air yang berbunyi dengan konsisten, seperti berada di depan mata. Seakan menyambut kedatangan mereka berdua. Mereka pun bergegas mempercepat langkah mereka.
Lelah mereka terbayar sudah. Tepat didepan mata, terhampar aliran sungai yang begitu luas. Airnya yang jernih membuat mereka tidak sabar ingin segera minum dan mandi disana. Burung-burung yang berwarna warni, tampak bertengger di dahan pohon paling atas, di sekitar danau. Tupai berlarian, ikan berenang kesana kemari, bahkan mereka juga melihat kelinci yang bergegas kabur begitu melihat Marvin yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
Tak hanya itu, banyak bebatuan berwarna warni yang begitu indah didekat hulu sungai. Membuat Arlon sangat terpesona dan sibuk mengamatinya satu per satu. Rasanya apabila mereka harus tinggal disana, ia akan sangat siap dan bahagia. Tak hanya itu, banyak juga bebatuan besar disekitarnya yang berdiri kokoh menahan laju air yang cukup deras. Tempat yang sangat cocok untuk beristirahat.
Tanpa berpikir panjang, mereka langsung memasang tenda dengan semangat. Rasa lelah dan sakit yang dirasa sebelumnya, mendadak hilang begitu saja. Nampaknya, udara yang begitu sejuk ikut mempengaruhi perubahan mood mereka.
Setelah tenda berwarna kuning telah mereka pasang, mereka bergegas mandi dan mempersiapkan api unggun untuk malam hari yang akan datang sebentar lagi. Dimulai dengan Arlon yang sudah siap dengan handuknya, segera berjalan menuju sungai untuk mencari tempat berendam yang tenang. Saat Arlon mandi, dengan sigap Marvin mencari kayu bakar di sekitar tenda dan menyalakan api dengan gesekan dua buah batu berukuran cukup besar.
Saat sedang sibuk menyalakan api, Marvin merasa ada yang memperhatikannya dari balik pepohonan di belakangnya. Namun, ia tak menemukan apapun. Ia yakin itu adalah kelinci atau tupai yang tadi dilihatnya. Ia menajamkan lagi pandangannya dan ia terkejut dengan suara yang ada dibelakangnya.
"Lu lagi liat apa sih?", tanya Arlon santai yang sudah berpakaian lengkap, sambil mengeringkan rambut dengan handuk di kepalanya.
"Ya ampun, Arlon! Lu ngapain sih muncul tiba-tiba gitu!“, ujar Marvin dengan ekspresi kesal namun lega sahabatnya sudah kembali. Jantungnya masih berdegup dengan cepat.
"Ya abis lu serius banget sih.", jawab Arlon sambil tertawa kecil melihat tingkah Marvin. "Mandi gih, buruan! Keburu malem.", lanjutnya sambil mempersiapkan kelinci yang tadi habis diburunya untuk makan malam. Ia mulai dengan menguliti bulunya dengan hati-hati.
Masakan pun matang dan siap untuk disantap. Daging kelinci itu terlihat sangat enak. Baunya pun sungguh menggoda. Ia yakin, makanannya akan habis dalam sekejap oleh mereka berdua. Sekarang hanya tinggal menunggu Marvin kembali dari mandinya yang tak kunjung selesai.
Sambil menunggu Marvin, Arlon duduk didalam tenda sambil mengeluarkan peta dan kompasnya. Ia mengamati peta itu dengan tatapan kosong. Ia masih teringat dengan mimpinya yang bertemu dengan ibu. Ia semakin yakin bahwa ayahnya memang benar masih hidup, dan ia harus segera menemukannya agar mereka bisa kembali hidup bersama.
Tiba-tiba suara langkah kaki berlari terdengar dari luar tenda. Tak lama kemudian, Marvin masuk ke dalam tenda dalam keadaan badannya yang masih basah, campuran antara air sungai dan keringatnya.
"Lu kenapa?", tanya Arlon terkejut. Ia langsung melongok keluar jendela dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Didalam tenda, Marvin hanya diam sambil duduk memeluk kedua lututnya. "Vin?", ucapnya memastikan Marvin masih sadar.
Arlon langsung mengambil minum yang sudah diisinya tadi di mata air. Marvin langsung meminumnya dengan tangan yang gemetar. Sesekali Arlon masih melongok keluar tenda untuk memastikan semua aman. Setelah Marvin terlihat agak tenang, Arlon langsung menginterogasinya.
__ADS_1
"Kenapa sih?", tanya Arlon penasaran. Sekarang ia duduk didepan Marvin sambil menaruh dua piring berisi kelinci yang siap dimakan tepat dihadapan mereka berdua.
"Aduh, apa kita harus nginep sini malem ini?", tanya Marvin panik.
"Ga ada pilihan lain kan, sekarang sudah hampir malam. Emang kenapa?", tanya Arlon yang sekarang juga panik mendengar nada suara Marvin yang takut bukan main.
"Lo ga akan percaya!", ucap Marvin sambil menunduk menatap handuknya yang masih basah. Tangannya masih bergetar.
"Kenapa?", tanya Arlon. Marvin hanya menggelengkan kepalanya. "Ada apa sih?"
"Lo ga akan percaya!", ucap Marvin lagi. Kali ini matanya melihat Arlon lekat-lekat.
"Percaya apa? Lu aja belum cerita apa pun, tapi udah langsung nuduh kalo gua pasti ga akan percaya.", ucap Arlon kesal. Kali ini dia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Jadi tadi pas gua mandi, gua liat ada yang bergerak-gerak di sungai ujung sana.", ucap Marvin antusias, sambil menunjuk ke arah sungai yang dimaksud. "Awalnya gua ga peduli sama sekali dan anggap itu paling rusa atau kelinci atau apalah..Tapi ternyata pas gua perhatiin lagi, itu bukan hewan!"
"Terus apa?"
"Lu ga akan percaya!", ucap Marvin lagi dengan wajah panik dan menunduk. Mendengar hal itu, Arlon menjadi kesal.
"Apa, Vin? Jangan setengah-setengah gitu lah kalau cerita!"
"Ternyata itu.. seorang perempuan.", jawab Marvin dengan nada suara yang lebih pelan.
__ADS_1