Salvagar

Salvagar
4. Hutan Sunyi


__ADS_3

Arlon dan Marvin segera bergegas menuju hutan misterius itu. Sebenarnya mereka meninggalkan kebun binatang dengan sangat berat. Namun, tawaran imbalan dari pak Darlen sangat sayang apabila harus ditolak.


Mereka berjalan menyusuri jalan pintas yang diyakini para penduduk akan mengarahkan mereka ke hutan Salvagar dengan lebih cepat. Jalanan setapak itu sangat sulit dilewati, mulai dari jalanan berbatu tidak beraturan sampai tanah yang lembab, yang terkadang dihiasi oleh jejak kaki bermacam-macam hewan. Oleh sebab itu tidak ada seorang pun yang berani lewat, bahkan hanya untuk mencari kayu bakar.


Tanpa terasa, mereka sudah berjalan cukup lama. Marvin, dengan wajahnya yang sudah kemerahan, mengajak Arlon untuk berhenti sejenak.


"Ini kita ngga salah jalan kan?", tanya Marvin sambil mengamati sekitar. Sekarang mereka dikelilingi rimbunnya pepohonan besar, membuat sekitar menjadi lebih gelap. Ia pun tidak tahu ada dimana.


"Seharusnya sih benar.", jawab Arlon sambil tetap memantau kompas berwarna perak ditangan kanannya. Kompas itu pemberian dari ayahnya saat dirinya berulang tahun yang ke 10.


"Kira-kira masih jauh ga nih?", tanya Marvin. Tampak jelas ia kelelahan. Ia mengambil botol air minum dari tasnya dan mulai meneguk sedikit demi sedikit.


"Sabar Vin. Kalau sesuai perhitungan, nanti sebelum gelap kita akan sampai di sungai Cambora.", ucap Arlon sambil menunjuk peta yang ia keluarkan dari kantong depan ransel kesayangannya. "Kita akan istirahat dulu disana."


"Oke, gua mau istirahat sebentar ya, udah lama ga olahraga jadi begini.", ucap Marvin sambil mengatur napasnya agar tetap stabil. Ia pun berbaring dibawah salah satu pohon besar disana.


Arlon yang masih bersemangat, mulai mengamati sekitar dan memastikan bahwa mereka tidak salah jalan. Ia pun membuka lagi peta yang dibawanya dari rumah, melihat rute yang masih cukup panjang untuk dilewati. Saat sedang asyik mengukur waktu untuk sampai tujuan, tiba-tiba ia mendengar suara daun yang bergerak cepat.

__ADS_1


Arlon langsung menengok ke arah sumber suara yang berada jauh dibelakangnya. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Hanya ada ia dan Marvin yang tampak terlelap.


Ia berpikir mungkin itu hanya suara daun yang tertiup angin. Ia pun mengacuhkannya dan kembali berfokus pada kompas dan peta. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi. Namun sekarang lebih dekat.


Dengan sigap, ia langsung menengok ke belakang. Namun hasilnya tetap sama, nihil. Ia pun dengan tenang membuka ranselnya dan mengambil pisau yang sudah diasah tajam. Ia pun menyembunyikan pisau tersebut dalam kantong celananya.


Perasaannya mulai tidak enak. Seperti ada yang memperhatikan tapi tak ditemukan sama sekali wujudnya. Yang ada dipikirannya saat itu adalah hewan liar. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan.


Arlon memberanikan diri menghampiri sumber suara tadi. Namun ia tidak menemukan jejak sedikit pun, bahkan suara itu tidak terdengar lagi. Arlon berpikir mungkin benar yang tadi didengarnya hanya suara angin. Ia pun kembali ketempat ia menaruh ranselnya tadi.


Ia mulai memasukkan peta kembali ke ransel dan kompas ke dalam saku celananya. Arlon pun merasa lapar dan mengeluarkan sebungkus makanan ringan yang dibawanya. Ia pun mulai menggigit crackers gandum itu dengan lahap. Perjalanan yang berlangsung kurang lebih 3 jam itu cukup menguras energi, ditambah dengan medannya yang tidak bisa ditebak.


Tak lama kemudian, suara daun bergesek itu terdengar kembali, sekarang tak hanya sekali, tetapi 3x berturut-turut. Hal itu yang membuat Arlon yakin bahwa itu bukan sekedar suara angin. Ia langsung menengok ke arah sumber suara dan kali ini akhirnya ia melihat sesuatu.


Dari balik pepohonan yang besar, ia melihat sesuatu yang menjuntai dari sela-sela dedaunan. Ia menduga antara buntut hewan atau ular, masih terlalu samar untuk menentukan makhluk apa itu.


Biasanya Arlon akan dengan percaya diri menghampiri hewan apa pun jenisnya, bahkan buaya, ular atau singa sekali pun ia tidak takut. Ia sudah tau cara terbaik untuk menangkap hewan-hewan tersebut. Namun, entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia tidak pernah merasa seragu ini untuk maju.

__ADS_1


Setelah sekian menit mengumpulkan nyali untuk berjalan kearah sumber suara, akhirnya ia mulai melangkah walau masih ragu. Ia berjalan dengan begitu pelan dan hati-hati, sampai tidak terdengar jejak langkahnya di dedaunan. Semakin mendekat, ia makin yakin bahwa itu adalah buntut hewan, namun masih belum tahu hewan apa yang akan dihadapinya. Dan yang lebih aneh lagi, buntut itu berwarna biru muda. Lagipula, baru kali ini onArlon melihat buntut hewan sepanjang itu.


Buntut itu bergerak lebih pelan dan mulai bergerak naik seperti berusaha sembunyi. Arlon mempercepat langkahnya menghampiri pohon besar itu sambil mengeluarkan pisau yang tadi ditaruhnya di saku celana.


Semakin ia menghampiri pohon itu, semakin cepat pula buntut hewan tersebut merambat naik. Nampaknya makhluk itu sudah tahu dirinya akan ditangkap. Dan benar saja, saat Arlon hampir menggapainya, buntut aneh itu langsung menghilang keatas pohon yang terlihat sangat gelap. Arlon tidak bisa melihat apa yang ada di atas pohon itu.


Arlon merasa ada yang tidak beres. Ia pun langsung bergegas kembali ke tempat dimana ranselnya berada dan segera menuju Marvin yang terlihat masih lelap tertidur. Pisau tajam itu masih berada ditangan kanannya, sudah siap apabila benar-benar diperlukan.


Setelah ransel sudah terpasang dengan benar, ia langsung berlari kearah Marvin. Ia langsung mengguncangkan badan Marvin, namun entah karena begitu lelah, Marvin tak bangun juga.


"Vin! Vin!", ucap Arlon. Sekarang tangannya sudah berada dikerah baju coklat milik Marvin. Perlahan Marvin mulai sadar.


"Kenapa?", tanyanya masih setengah sadar. Ia melihat wajah Arlon sudah menegang.


"Ayo! Sudah waktunya kita pergi!", ucap Arlon sambil memandang sekitar. Kini ia makin yakin bahwa disana bukan hanya ada mereka saja.


"Oke.", ucap Marvin yang berusaha menahan keseimbangan saat hendak bangun. Ia tahu bahwa ada hal yang tidak beres tengah terjadi. Ia langsung memakai ranselnya dan mengikat tali sepatunya yang terlepas. "Ada apa sih?", lanjutnya.

__ADS_1


"Nanti aja gua ceritain! Sekarang kita keluar dulu dari sini.", jawab Arlon sambil menatap jam tangan digital di tangan kirinya. Ia mengeluarkan kompas dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Marvin menarik tangannya dengan hentakan yang kuat.


"Kenapa sih?", tanya Arlon sambil menoleh ke arah Marvin dan mendapati sahabatnya sudah terdiam dengan mulut sedikit menganga. Matanya melotot dan wajahnya agak pucat. Arlon dengan perlahan menghadap kedepan dan benar saja, ia melihat sesuatu yang misterius berada sangat dekat dihadapannya. Sesuatu yang membuat nyali seorang pemberani menjadi ciut seketika.


__ADS_2