Salvagar

Salvagar
12. Ibu


__ADS_3

Arlon membuka matanya dengan perlahan dan ia melihat langit yang sangat cerah, dimana matahari bersinar begitu terang. Ia terkejut dan langsung terduduk diam. Ia mendapati dirinya terbangun disebuah taman yang indah. Suasana yang sangat asing baginya. Ia dikelilingi oleh hamparan ilalang dan rerumputan hijau yang agak lembap, dengan sentuhan sedikit bunga camomile yang bertebaran tidak beraturan namun mampu memberi kesan begitu indah. Desiran angin menambah ketenangan dan kesejukan yang luar biasa. Sejauh mata memandang hanya ada langit dan rerumputan, sampai tak terlihat dimana ujungnya. Taman itu memang begitu indah namun terlalu sunyi.


Seketika ia teringat kejadian saat dimana ia dan Marvin terjatuh ke dalam lubang yang gelap. Namun setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Ia mulai mengecek bagian tubuhnya yang lain, barangkali ada yang terluka atau bahkan patah, dan ternyata semua masih lengkap tanpa goresan sedikit pun. Ia langsung berdiri mencari dimana Marvin, tapi tak terlihat sedikit pun batang hidungnya.


"Marvin!", panggilnya. Tak terdengar balasan apa pun, kecuali dari pantulan suaranya sendiri. "Marvin!", panggilnya lagi. Ia menunggu beberapa saat namun belum juga ada balasan. Saking sunyinya, ia bisa mendengar suara angin yang berhembus. Ia merasa yakin disana ia hanya sendiri. Ia mulai merasa putus asa.


Ia memilih untuk kembali duduk dan berdiam diri sejenak, mencoba untuk mencerna apa yang terjadi. Apakah taman indah ini adalah dasar dari lubang gelap tadi, atau ini hanya halusinasinya saja. Kepalanya begitu sakit dan berat. Rasanya seperti berputar-putar tak terkendali. Kesadarannya pun belum pulih seratus persen.


"Arlon.", panggil suara yang terdengar sangat familiar, begitu lembut dan menenangkan. Arlon menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok yang selama ini ia kagumi dan cintai, sedang berdiri sambil memandangnya dengan senyuman.


"Ibu!", sahut Arlon dengan wajah yang sumringah. Seketika sakit kepalanya hilang begitu saja. Ia langsung berdiri dan memeluk ibunya dengan erat. Ibu pun menyambut pelukannya dengan penuh kasih sayang sambil beberapa kali mencium keningnya, walaupun Arlon sudah lebih tinggi dari ibunya. Disitu, Arlon langsung menangis layaknya bayi.


"Sudah.. Ibu disini..", ucap ibu sambil menepuk-nepuk pundak Arlon dengan lembut. Pelukan Arlon terasa semakin erat, seolah tak mau untuk melepasnya walaupun sebentar. Air mata tak henti-hentinya membasahi pipi Arlon. Ia mulai sesenggukan tak karuan. Sudah sangat lama ia tidak menangis selepas dan sebebas ini. Terakhir ialah saat ia sadar bahwa ayahnya tidak mungkin akan kembali lagi dan harus menerima kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang yatim piatu.

__ADS_1


Perempuan itu mengajak Arlon untuk duduk, berusaha untuk menenangkannya. Ia pun membuka keranjang dari anyaman kayu yang dibawanya, dengan hiasan pita biru menjuntai indah, persis seperti yang selalu dibawanya dulu. Ia mengeluarkan setangkap roti isi coklat dan memberikannya ke Arlon.


Mata Arlon langsung berbinar melihatnya dan segera melahapnya dengan rakus dari tangan ibunya. Bahkan, kurang dari semenit roti itu sudah habis tak tersisa. Ibunya pun tertawa melihat tingkahnya, sembari mengelus lembut kepala anak semata wayangnya. Arlon sampai tidak sadar betapa berantakannya ia saat melahap roti itu.


Sekarang, ibunya mengeluarkan botol minum ukuran sedang dari dalam keranjang dan memberikannya kepada Arlon. Saking hausnya, Arlon langsung mengambil botol itu dan meminumnya. Ternyata botol itu berisi minuman favorite dirinya sejak kecil, jus mangga kental tanpa gula. Sudah lama ia tidak menikmati momen makan seindah ini, mengingat yang menemani ia makan biasanya hanya hewan-hewan buas. Mereka menghabiskan waktu dengan penuh tawa. Tiba-tiba ia menghentikan minumnya saat sudah hampir habis setengah.


"Ibu kenapa baru muncul sekarang? Ibu kemana saja? Aku kangen bu!", ucap Arlon kesal. Perempuan itu hanya tersenyum sambil menutup keranjang makanan yang tadi dibawanya. "Apalagi sama roti isi dan jus mangga buatan ibu. Orang lain tidak bisa buat seenak yang ibu bikin.", ucap Arlon dengan wajah yang sedih.


Ibunya tidak mampu berkata-kata. Hanya senyuman yang dilontarkan. Arlon bisa melihat dengan jelas air muka ibunya begitu sedih, khawatir namun bahagia. Karena ia tahu, ia tak bisa melakukan apa-apa. Arlon kembali meneguk minumannya, kali ini dengan ritme yang lebih pelan dan santai.


"Kau kalau cerita masih sama seperti dulu ya. Selalu penuh semangat.", ucap ibu sambil tertawa kecil. Arlon hanya bisa tersenyum malu. "Tenang nak, sahabatmu aman. Ia baik-baik saja.", ucap ibu dengan nada yang santai.


"Lalu, aku dimana bu? Apa ini di.. Surga?", tanya Arlon sambil melihat sekitar. Baginya tak masalah jika ia harus mati sekarang, yang penting ia bisa bersama-sama dengan ibunya. Malah mungkin ini hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya.

__ADS_1


Ibu hanya tersenyum, masih tidak memberikan jawaban apa pun. Ia terlihat begitu cantik walaupun wajahnya agak pucat. Rambutnya lebih hitam dibandingkan terakhir kali ia melihatnya saat berusia 6 tahun. Badannya juga lebih tegap dan segar, tidak seperti yang diingatnya terakhir kali, lemas dan sangat kurus. Badannya pun harum, mengingatkannya saat ia tertidur pulas dipelukan ibunya sepulang dari bermain.


"Ini tempat ibu beristirahat. Indah, kan?", ucap ibu pelan sambil memandang tempat indah itu dengan tatapan kosong. Kesunyian berlangsung cukup lama.


"Berarti aku sudah.. mati?", tanya Arlon memastikan dengan hati-hati. Ibunya hanya menggeleng pelan.


"Kamu masih punya banyak tugas di dunia yang harus kamu selesaikan.", jawab ibu masih dengan senyumnya yang menyejukkan.


"Aku mau disini saja! Biar aku bisa jaga ibu!", ucap Arlon sambil memegang tangan ibunya yang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ibu pun memeluk Arlon dan mendekatkan bibirnya ke telinga Arlon.


"Ibu disini baik-baik saja. Ibu sudah tenang, sudah bahagia.", ucap ibu dengan sangat meyakinkan. Kali ini, ia pun berbisik lebih pelan, "Ibu yakin, ayahmu lebih butuh kamu disana."


Arlon terkejut dan melepaskan pelukan ibunya. Ia terdiam beberapa saat. Ia melihat mata ibunya, memastikan apa yang didengarnya tidak salah.

__ADS_1


"Jadi, maksud ibu, ayah masih hidup?", tanya Arlon sangat terkejut. Ibu hanya tersenyum dalam diam, membuat Arlon yakin bahwa dugaannya benar. "Lalu ia dimana sekarang?", lanjutnya. Perlahan ibu mulai memudar, Arlon berusaha meraih kembali tangan ibu namun sudah tidak bisa. Semakin lama, ibu hanya tinggal bayangan dan akhirnya menghilang.


__ADS_2