
Arlon cukup terkejut mendengar bahwa bukan hanya mereka yang berada di sungai itu, apalagi lokasinya yang berada di tengah hutan. Bahkan di sepanjang perjalanan, ia tidak melihat adanya rumah atau kehidupan manusia sama sekali.
"Terus masalahnya dimana?", tanya Arlon yang menganggap itu bukan sebuah masalah besar.
"Ya.. Iya juga sih.", jawab Marvin sambil mencerna bahwa itu memang bukan hal yang gawat. Marvin merasa lebih tenang dan langsung mengambil piring berisi kelinci yang ada didepannya. Ia mulai melahapnya, seolah lupa dengan apa yang ia temukan. Begitu pula dengan Arlon. Kali ini, rasa laparnya mengalahkan ketakutannya.
"Eh, tapi aneh juga sih ya.", ucap Arlon sambil menghisap tulang kaki kelinci. "Memang ada rumah disekitar sini?"
"Gua ga liat apa-apa dari awal dateng.", lanjut Marvin sambil mengemut tulang kelinci, entah bagian mana. Arlon mengangguk sebagai tanda ia pun juga tak melihat ada kehidupan disana.
"Terus, kenapa lu bisa setakut itu? Bukannya justru bagus ya kalau ada orang lain? Siapa tau mereka bisa bantu kita kalau kita butuh apa-apa.", tanya Arlon teringat bagaimana ekspresi Marvin yang terlihat luar biasa ketakutan. Marvin langsung menghentikan makannya dan menatap mata Arlon.
"Entah ya bener atau ngga, yang gua liat, perempuan itu kupingnya panjang.", ucap Marvin pelan. Badannya condong ke depan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa yang mendengar hal itu hanya Arlon.
"Maksudnya kuping panjang tuh gimana?", tanya Arlon dengan perasaan yang mulai tidak enak. Ia jadi ikut berbisik seperti yang dilakukan Marvin.
"Panjang, Ar! Runcing!", ucap Marvin sambil mengisyaratkan dengan tangannya, bagaimana kira-kira bentuk kuping yang dimaksud. Arlon terkejut karena itu bukan hal yang normal.
"Lu yakin sama apa yang lu liat?", tanya Arlon yang mulai tertarik dengan wujud makhluk aneh itu.
"Yakin! 1000 persen! Gua liat banget!“, ucap Marvin sambil menaruh piring yang sudah berisi tulang belulang. Daging kelinci itu sudah tidak bersisa, hanya tinggal piring plastik kosong disana.
"Ciri-cirinya gimana?", tanya Arlon sambil mengernyitkan dahi dan menaruh piring kosong miliknya.
"Ya sebenarnya sama aja kaya perempuan pada umumnya. Cantik sih, rambutnya panjang, badannya sempurna lah pokoknya. Bedanya cuma di kuping yang panjang dan agak pucat.", jawab Marvin sambil berusaha mengingat-ingat kejanggalan yang mungkin ia lihat.
"Terus tadi lu liat dimana?", tanya Arlon.
__ADS_1
"Lu ingat ga ada batu besar di tengah sungai? Yang batunya paling besar.", ucap Marvin. Arlon langsung tahu batu yang dimaksud Marvin karena hanya batu itu yang paling besar dan janggal karena berada di tengah-tengah sungai deras. Arlon pun mengangguk. "Nah, dia lagi disitu. Lagi duduk."
"Ngaco! Itu kan arusnya deras banget! Ga mungkin ada yang bisa ke batu itu tanpa alat apapun. Apalagi kalo yang kesitu perempuan.", ucap Arlon yakin.
"Tapi tadi cewe itu duduk santai banget disitu."
"Ga mungkin, Marvin. Tadi aja gua mau kesitu susah banget. Kalau dipaksa, pasti keseret arus."
"Terus maksudnya gua ngarang cerita?", ucap Marvin kesal. "Gua liat sendiri dan ga mungkin salah. Gua sadar kok.", lanjutnya meyakinkan. Mereka berdua terdiam. Arlon bukan tidak percaya dengan sahabatnya, tapi bisa dipastikan perempuan itu bukan manusia biasa. Marvin pun sebenarnya setuju dengan ucapan Arlon. Pasalnya, ia sendiri pun tidak berani mandi agak ke tengah karena arusnya yang luar biasa deras.
"Ya udah, anggap aja lu salah lihat tadi.", jawab Arlon dengan nada santai yang dipaksakan, sambil menumpuk piring yang sudah kosong tadi. Ucapannya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya saat itu. Ia berusaha mencerna, makhluk apa lagi yang sekiranya memiliki telinga runcing seperti yang digambarkan Marvin. Disisi lain, Marvin hanya mengangguk, berusaha berpikiran positif seperti Arlon.
"Terus besok kita nyebrangnya lewat mana?", tanya Marvin lagi-lagi berusaha melupakan perempuan yang ditemuinya.
"Ada, nanti kita ke arah timur, disana ada jembatan kayu. Satu-satunya jembatan yang ada disini.", ucap Arlon sambil meregangkan badannya.
"Eh ya Ar, gua mau minta maaf ya.", ucap Marvin tiba-tiba dengan tatapan menyesal.
"Kenapa?"
"Waktu sebelum Hansel terbakar, gua minta lu buru-buru pergi, padahal lu lagi cari info tentang bokap lu.", ucap Marvin.
"Ga apa-apa kok, gua ngerti. Lagi juga kan lu ga tau kalo orang itu bokap gua. Dan keadaannya juga kita udah hampir mati.", ucap Arlon. Walaupun Arlon tidak mempermasalahkan itu, tapi tetap saja Marvin merasa tidak enak.
"Emang kapan terakhir lu ketemu sama bokap lu?", tanya Marvin.
"Pokoknya terakhir pas umur gua 13 tahun, bokap gua udah ga pulang lagi dari berburu. Terus gua di rumah sendirian nunggu dia, sampe gua di usir dari sana karena ga mampu bayar sewa. Dari situ, gua pergi dan sampai di kebun binatang Yorka. Dan pak Darlen benar-benar bantu gua banget. Cuma dia yang mau nampung hidup gua.", ucap Arlon sambil mengingat kejadian kala itu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Marvin hanya bisa mengangguk. Ternyata masih banyak hal yang tidak ia ketahui dari sahabatnya ini, walaupun pertemanan mereka sudah berlangsung lama. Apalagi Arlon memang pribadi yang tertutup.
"Jadi, lu anak tunggal?", tanya Marvin yang disambut anggukan oleh Arlon. "Lu ga punya kakak atau adik gitu?"
"Ga ada. Gua sendiri sampai sekarang.", jawab Arlon.
"Terus.. Kalau ibu lu?", tanya Marvin yang sebenarnya tidak enak untuk menanyakan hal ini.
"Ibu gua udah gaada dari gua umur 5 tahun.", jawab Arlon santai. "Awalnya dia sehat-sehat aja terus tiba-tiba kesehatannya menurun drastis. Ternyata, dari setahun setelah gua lahir, dia udah sakit kanker rahim dan baru ketahuan 3 tahun kemudian. Tapi dia umpetin itu semua dari gua dan ayah. Jadi, kita gabisa berbuat apa-apa."
"Aduh maaf Ar. Gua ga maksud bikin lu keinget sebenarnya.", ucap Marvin.
"Ga apa-apa, Vin.", jawab Arlon sambil menawarkan makanan ringan yang dia bawa di ranselnya. Mereka pun lanjut makan. Perjalanan hari ini bertemu Xeron begitu melelahkan, sehingga rasa lapar tidak bisa dibendung lagi. Semakin menuju malam, lelah semakin terasa.
"Tapi setelah denger cerita Hansel, gua yakin bokap lu masih hidup sih.", ucap Marvin.
"Kayanya begitu. Apalagi tadi ibu gua dateng di mimpi gua dan bilang bokap gua masih hidup. Walaupun ucapannya tersirat.", jawab Arlon.
"Nah, siapa tahu nanti kita bisa ketemu bokap lu lagi. Mungkin di perjalanan ke Salvagar.", ucap Marvin yang berusaha menyemangati sahabatnya itu. Arlon menjawab dengan anggukan dan senyum tipis.
"Eh iya, kita jangan tidur malem-malem loh, besok pagi kita langsung berangkat lagi!", ucap Arlon sambil merapikan barang-barang yang lumayan berserakan di sekitar tenda. Ia mulai mengantuk, padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.
"Iya bener. Gua juga udah ngantuk nih. Apalagi badan tuh rasanya... Pegel semua.", jawab Marvin sambil meregangkan badannya. Luka di lengannya membuat ia kembali meringis, walaupun sudah tidak lagi terlihat tetesan darah segar disana.
Mereka tertidur tak lama kemudian. Mata mereka terlalu lelah kalau masih harus terjaga disaat seperti ini. Walaupun beralaskan tanah, tapi tetap terasa nikmat.
Saat mereka sedang lelap tertidur, Marvin mendengar suara yang cukup bising diluar tenda mereka. Suara binatang malam terdengar lebih ramai dari yang sewajarnya. Sampai akhirnya terdengar suara wanita sedang bernyanyi diluar sana. Terdengar merdu namun menusuk.
__ADS_1