Salvagar

Salvagar
9. Hujan Meteor


__ADS_3

Mereka langsung memasukkan botol minum kedalam tas masing-masing dan segera berdiri dalam posisi siap. Mereka melihat kesana kemari, mencari sumber suara dentuman tadi. Masih terlalu jauh untuk terlihat benda apa yang jatuh. Lalu, terdengar lagi suara dentuman yang kedua. Kali ini terdengar lebih kencang dan lebih dekat.


Mereka terjebak ditengah hutan belantara, dimana tidak ditemukan tempat untuk bersembunyi. Dikiri dan kanan hanya ada pohon, batu dan tanah. Tempat yang strategis untuk dihantam dari sisi mana pun. Mereka semakin panik saat terdengar dentuman keras yang ketiga, yang kali ini terdengar lebih dekat lagi.


"Kita harus gimana?", tanya Marvin dengan wajah yang pucat dan kondisi yang tidak tenang. Arlon hanya menggelengkan kepala sambil memandang sekitar untuk mencari tempat berlindung.


"Ayo naik!", bentak suara berat yang mengejutkan mereka. Mereka saling tatap dan memastikan bahwa tidak ada siapa pun selain mereka berdua disana. Mendengar hal itu, membuat jantung mereka berdegup lebih cepat.


"Itu suara siapa lagi?", bisik Marvin. Kali ini suara Marvin terdengar jelas bergetar, begitu pula badannya.


"Itu bukan suara lu ya?", tanya Arlon heran sambil memandang sahabatnya, yang sekarang sudah mengucurkan keringat dari dahinya.


"Bukan lah! Sejak kapan suara gua kaya gitu!", jawab Marvin sambil bergidik. Dentuman ke empat pun terdengar lagi. Kali ini suara itu terdengar lebih jauh dari dentuman sebelumnya. Suasananya sudah seperti berada di medan perang.


"Ayo naik sini!", ucap suara berat lelaki itu lagi. Mereka berdua saling tatap dan mereka sadar bahwa suara itu berasal dari arah belakang mereka berdiri. Mereka pun menengok ke atas dengan perlahan dan lagi-lagi mereka harus bertemu dengan pohon yang bisa berbicara.


"Bagaimana bisa?", tanya Arlon sambil melihat kedua tangannya yang tidak sedang menyentuh pohon itu. Ia pun melihat tangan Marvin yang juga tidak sedang menyentuh pohon besar itu.


"Ya, aku ini memang spesial.", ucap pohon yang terlihat lebih tua dari yang sebelumnya ia jumpai. Daunnya yang rindang dan batangnya yang besar dan kokoh, membuat pohon ini terlihat berwibawa. Wajahnya pun terlihat seperti seorang lelaki yang bijaksana, ditambah dengan kerutan halus yang menghiasi kedua ujung matanya.

__ADS_1


Tiba-tiba dentuman ke lima kembali terdengar, dan kali ini dentuman itu berada sekitar 500 meter dibelakang mereka. Suaranya sangat memekakkan telinga. Tanah pun sampai bergetar kuat.


"Apa kalian berdua memang sengaja diam disana menunggu sampai meteor itu mengenai kepala kalian dan mengeluarkan semua isi perut kalian?", tanya pohon itu lagi lebih santai. Sontak mereka berdua langsung memanjat pohon itu batang per batang. Beruntung mereka berdua sudah biasa memanjat selama bekerja mengurus hewan-hewan, jadi untuk menaklukkan pohon ini adalah hal yang mudah.


Dentuman demi dentuman terus terdengar. Entah sudah berapa kali benda yang diduga meteor itu jatuh ke atas permukaan tanah. Serangan demi serangan terus terjadi, serasa sedang perang dunia ke-3.


Sampai tibalah meteor itu jatuh dekat sekali dengan pohon yang mereka panjat. Bentuknya seperti bongkahan batu yang besar dan berwarna merah menyala. Definisi indah namun mematikan. Getarannya membuat mereka berdua hampir terjatuh dari atas pohon apabila mereka tidak berpegang erat. Saking hebatnya, banyak juga dedaunan yang berguguran dari pohon-pohon disekitarnya.


Asap dari meteor itu menyeruak dan membuat udara disekitar menjadi lebih gelap dan terlihat kelam. Tercium bau asap yang sangat pekat, membuat pernapasan menjadi terganggu. Tiba-tiba Arlon mendapati Marvin bersandar lunglai di pundaknya.


"Vin, kenapa lu?", tanya Arlon panik sambil berusaha menahan badan Marvin yang makin lemah. Wajahnya makin pucat dan bibirnya agak membiru. Arlon masih berusaha menahan Marvin dan dirinya sendiri agar tidak jatuh dari ketinggian tempat mereka bernaung.


Tak lama, Arlon pun merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya berputar dan sesekali pandangannya gelap. Ia mulai sempoyongan sambil tetap mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh karena ranselnya yang berat menarik tubuhnya ke belakang. Menyadari hal itu, sang pohon langsung berusaha membantu.


"Tutup hidungmu!", ucap pohon tua itu berusaha menyadarkan dua manusia yang hampir mati diatasnya. "Ambil daunku dan segera hirup!", lanjutnya.


Mendengar hal ini, Arlon pun sadar bahwa asap dari meteor itu lah yang membuat ia dan Marvin hampir kehilangan kesadaran. Ia langsung berusaha mengambil beberapa helai daun yang berada disamping tubuhnya. Hal ini semakin sulit dikarenakan sekarang pandangannya berputar. Ia harus berusaha berkali-kali agar dapat memegang daun didepannya. Setelah usahanya berhasil, ia langsung menghirupnya dalam-dalam.


Kesadaran Arlon berangsur pulih. Sedangkan sahabatnya semakin pucat dan lemas, ditambah napasnya sesak luar biasa. Tubuhnya sudah mulai dingin. Arlon langsung mengambil beberapa helai lagi dan menempelkan daun itu ke hidung Marvin. Perlahan wajahnya kembali normal dan napasnya mulai stabil. Syaraf dan ototnya perlahan mulai menunjukkan eksistensinya lagi.

__ADS_1


Mereka menghirup daun itu sampai asap perlahan menghilang. Dentuman demi dentuman terus terjadi, membuat kepulan asap datang silih berganti. Mereka lebih memilih menunggu dengan sabar dibandingkan harus pergi dari sana sesegera mungkin.


Saking lelahnya, mereka sempat tertidur diatas pohon itu. Walau hanya beberapa menit, namun cukup membuat energi mereka terisi kembali.


"Kalian sudah bisa pergi dari sini.", ucap pohon itu mengagetkan Arlon yang tertidur menunggu benda asing itu berhenti. Ia pun membangunkan Marvin yang masih lelap tertidur.


"Ayo vin, kita turun!", ucap Arlon sambil mengguncangkan badan Marvin dan menggendong kembali ranselnya.


"Sudah aman?", tanya Marvin masih linglung. Nyawanya belum terkumpul sempurna. Arlon pun mengangguk dan bergegas turun dari sana. Marvin yang masih setengah sadar pun segera mengikuti Arlon.


"Terima kasih, Tuan. Kami tidak tahu harus membalas kebaikanmu seperti apa.", ucap Arlon kepada pohon besar itu. Sang pohon hanya bisa tersenyum.


"Tidak apa. Sudah lama aku tidak membantu manusia yang memilih jalan ini. Terakhir sudah sangat lama sekali.", ucap pohon tua itu sambil mengamati wajah mereka berdua sambil mempertahankan senyumnya. Beruntung mereka dipertemukan dengan pohon tua ini, kalau tidak mereka pasti sudah mati dan bergabung menjadi penghuni hutan sunyi.


"Sepertinya wajahmu sangat familiar.", ucap si pohon sambil mengamati dengan seksama wajah Arlon, membuat dirinya salah tingkah. Pohon tua itu tampak berpikir keras. "Aku pernah melihat wajahmu sebelumnya, tapi dimana ya?", lanjut si pohon tua sambil berusaha mengingat-ingat.


"Oh ya? Tapi ku tidak pernah kesini sebelumnya.", jawab Arlon dengan santai. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan perkataan si pohon karena selama ini banyak juga yang menyamakan wajahnya dengan wajah orang lain.


"Aku ingat! Kau mirip dengan salah satu orang yang dulu sempat kutolong disini!", ucap sang pohon tua dengan antusias.

__ADS_1


__ADS_2