
Ia pun tertawa puas dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini, sampai air liurnya menetes dari sudut bibir kirinya. Arlon yang sudah menyadari perbuatan Xeron hanya bisa diam terpaku.
"Maksudnya bapak tua yang dimaksud itu sekarang berubah jadi pohon?", tanya Marvin yang masih tidak percaya, sambil sesekali menatap ke arah pohon yang dimaksud. Arlon menyikut pinggang Marvin agar ia diam dan tidak usah banyak bicara. Mendengar pertanyaan itu membuat Xeron tertawa lebih keras.
"Silahkan, kuberi kalian waktu untuk melihat sendiri hasil karyaku.", ucap Xeron dengan bangga. "Kalau kalian lihat lebih dekat, pasti kalian akan lebih kagum."
Marvin yang masih penasaran langsung berlari kearah pohon rapuh yang dimaksud tadi. Namun, ia tidak melihat hal yang berbeda dari pohon pada umumnya, bedanya hanya terlihat lebih tua saja. Arlon pun enggan ditinggal berdua dengan Xeron dan memilih menyusul Marvin. Ia ikut mengamati pohon tua itu.
Tak terlihat ada yang janggal sama sekali. Masih pohon yang sama seperti yang ia pandangi dari jauh. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik mengamati pohon itu. Ia hanya merasa lelah dan ingin beristirahat. Sambil menatap jam ditangan kirinya, Arlon pun bersandar sejenak. Menerka-nerka waktu yang masih tersisa untuk bisa sampai sungai Cambora. Tiba-tiba, Marvin berteriak sambil menatap kearah pohon, membuat Arlon juga ikut tersentak dan kembali berdiri tegak.
"Kenapa sih?", tanya Arlon sambil menatap kesal kearah Marvin.
"Tadi ada..", ucap Marvin terhenti sambil menunjuk kearah pohon.
"Ada apa?", tanya Arlon lagi sambil sesekali melihat kearah pohon tersebut. Tapi tetap tidak ada yang aneh. "Apa sih?", lanjut Arlon. Namun Marvin masih belum juga bergeming. Matanya masih melihat ke arah pohon dengan mulut terbuka. Ia mematung.
Xeron hanya diam memperhatikan tingkah mereka berdua. Arlon menengok ke belakang pohon, mencari tahu apa yang dilihat Marvin barusan. Dan sekali lagi Marvin berteriak.
"Apa?", tanya Arlon yang makin kesal. Ia tidak melihat apa pun yang mencurigakan.
"Itu matanya.. Tadi ada mata..", ucap Marvin terbata-bata. Arlon langsung mencari mata yang dimaksud Marvin.
__ADS_1
"Mata apa? Dimana?“, tanya Arlon kebingungan. Dan lagi-lagi Marvin berteriak. Jarinya menunjuk batang pohon ringkih itu sambil gemetar. Arlon mendekati batang itu, tapi tidak ada perubahan yang berarti.
"Disitu! Didekat tangan lo tadi!", ucap Marvin setengah berteriak. Sekarang wajahnya terlihat lebih pucat dan badannya mulai berkeringat.
"Mana?", tanya Arlon lagi sambil tetap mencari mata yang dimaksud disekitar pohon. Marvin lagi-lagi berteriak sambil menunjuk ke arah pohon dan saat Arlon melihat ke arah yang dituju, ternyata mata yang dimaksud Marvin sejak tadi muncul tepat disamping tangannya. Bola mata itu bergerak menatap Arlon dan Marvin bergantian.
Arlon terkejut dan langsung mundur menjauh dari pohon itu. Disaat yang sama, wajah itu juga pudar dan menghilang. Jantung Arlon berdetak cepat. Masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Kali ini, ia maju lagi untuk mencari wajah itu, memastikan apakah benar yang dilihatnya, namun sekarang benar-benar hilang. Mereka berdua saling pandang.
Arlon kembali mendekat dan memegang batang pohon yang sudah ringkih itu dengan perlahan. Dan benar saja, wajah itu kembali muncul. Arlon kembali mundur dan wajah itu hilang lagi.
Akhirnya Arlon pun sadar penyebabnya. Ia langsung memegang kembali pohon itu dan wajah seorang bapak tua muncul kembali. Kali ini Arlon harus menahan dirinya agar tidak menjauh dan melepas tangannya, walaupun ia ingin.
"Apa?", ucap Marvin sambil menunjuk telinganya dan menggelengkan kepala, memberi tanda bahwa tidak terdengar apapun. Namun, bapak itu tetap saja berbicara.
Arlon diam sejenak dan memberanikan diri menempelkan telinganya ke dekat mulut bapak pohon itu. Tidak ada suara sama sekali. Ia berusaha memahami maksud dari ucapan pohon ini melalui gerak bibirnya. Dari sekian ucapan yang berusaha disampaikan, Arlon beberapa kali menangkap kata 'tangan'.
"Tangan?", ucap Arlon pada pohon itu. Mata pohon itu pun berbinar, seperti benar apa yang dikatakannya.
Ia berpikir sejenak dan mencoba menempelkan tangannya yang lain, jadilah kedua tangannya memegang batang pohon itu. Dan percobaan Arlon berhasil. Suara pohon itu kini terdengar jelas.
"Ya! Anak pintar! Tidak seperti temanmu yang bisanya hanya teriak-teriak saja.", ucap pohon itu dengan pelan namun kesal. Marvin pun berteriak lagi mendengar pohon itu berbicara.
__ADS_1
"Ssstt! Jangan berisik!", ucap Arlon yang mengamati Xeron diseberang sana, yang nampaknya belum sadar bahwa pohon itu sudah berbicara kepada mereka.
"Maaf.", ucap Marvin sambil berbisik sesekali menatap Xeron dan pohon itu bergantian. "Hebat juga lo! Cuma lo yang paham bahasa pohon sama binatang ya.", lanjut Marvin sambil menepuk pundak Arlon dengan bangga.
"Waktuku tidak banyak. Xeron terlalu berbahaya! Cepat pergi selagi bisa! Jangan sampai kalian tertangkap!", ucap bapak tua itu pelan dan jelas. Mereka berdua hanya bisa saling tatap dan menyadari kalau mereka sedang dalam bahaya besar.
"Bagaimana caranya? Kami mau ke hutan Salvagar.", tanya Arlon berbisik. Xeron nampaknya sekarang sudah sadar dan sedang bergegas ke arah mereka.
"Pergi ke barat, ikuti rombongan semut dan segera pergi! Kalian bisa tanya penghuni yang lain, mereka mungkin lebih tahu.", ucap pohon itu . Xeron pun menghampiri mereka dengan tatapan marah. Menyadari hal itu, Arlon langsung melepas kedua tangannya dan mundur dari sana.
"Sudah kubilang, DIAM!", bentak Xeron sambil memukul pohon itu dengan tangannya yang besar dan berbulu. Saking kencangnya, pukulannya membuat tanah disekitarnya bergetar. Wajah tua itu pun hilang. Beruntung pohon itu tidak hancur, hanya membuat beberapa daun berguguran. Seketika, hutan kembali sunyi.
Arlon dan Marvin langsung mundur pelan-pelan. Xeron pun membalikkan badannya kearah mereka berdua, dan mereka pun bergegas kabur. Namun, belum sempat pergi jauh, ekor panjang Xeron sudah menghalangi didepan mereka dan durinya mengenai tangan Marvin.
Marvin langsung berteriak kesakitan, sedangkan tangannya langsung mengeluarkan darah segar. Lukanya sedikit namun cukup dalam. Arlon langsung mengambil handuk dari dalam tasnya dan mengikat tangan Marvin.
"Kalian tidak bisa pergi kemana-mana. Lagipula, tambahan dua pohon baru tidak masalah buatku.", ucap Xeron sambil tertawa. Ia pun membusungkan dadanya, membuat dirinya terlihat lebih besar dari sebelumnya.
"Kami hanya mau menyebrang. Kami janji kami tidak akan kemari lagi.", ucap Arlon memohon. Ia harap ini bukanlah akhir hidupnya. Handuk yang digunakan untuk mengikat tangan Marvin, kini sudah meninggalkan banyak bercak berwarna merah.
"Baiklah, kalau itu mau kalian. Sekarang kalian harus memilih jalan keluar kalian sendiri.", ucap Xeron.
__ADS_1