
"Ikuti aku!", ucap Xeron sambil berjalan menuju tengah hutan. Tidak ada pilihan lain, mereka pun mengikutinya walaupun ragu. Ditambah ekor menggemaskannya melingkar mengelilingi Arlon dan Marvin agar mereka tidak kabur.
Mereka akhirnya berhenti ditengah hutan yang cukup lapang. Jarak antar pohon sekarang sudah berjauhan. Sinar matahari masuk dengan leluasa, membuat mereka harus menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas.
Xeron membalikkan badannya dan melihat kearah mereka dengan tatapan antusias. "Aku sudah lama tidak melakukan ini.", ujarnya sambil menarik napas panjang. "Jadi, kalian akan kuijinkan bebas pergi dari hutan ini apabila kalian bisa memilih jalan yang benar. Disana ada 8 jalan yang berbeda dan hanya ada 1 jalan yang benar. Kalian hanya punya 3 kali kesempatan untuk memilih. Apabila kalian gagal sampai pilihan ke-3, maka nasib kalian akan sama seperti mereka yang sekarang sedang diam mematung dihutan ini.", lanjut Xeron sambil menunjuk pohon-pohon yang mengelilingi mereka dengan jumlahnya yang sangat banyak. "Apa ada pertanyaan?"
Marvin mengangkat tangannya dan Xeron pun mengangguk, mempersilahkan dirinya untuk bertanya. "Apa semua pohon disini adalah manusia?", tanya Marvin masih tidak percaya sambil memandang sekeliling.
"Ya. Semua. Tanpa terkecuali.", jawab Xeron. Pernyataan itu membuat Arlon dan Marvin bergidik.
"Tapi, apakah selama ini ada yang selamat keluar dari sini?", tanya Arlon memastikan bahwa mereka benar-benar punya kesempatan.
"Ada.", ucapnya sambil mengingat-ingat kejadian itu. "Itu pun hanya satu kelompok dari ratusan orang yang datang. Tapi itu sudah bertahun-tahun lamanya."
"Dan satu kelompok itu selamat semua?", tanya Marvin antusias.
"Ya. Tapi sebagian besar dari mereka luka-luka disekujur tubuhnya.", jawab Xeron sambil tertawa. Ia menganggap hal itu terlalu lucu untuk diingat. "Ada yang lengannya terbakar, ada yang matanya lebam, bahkan ada yang pahanya robek.", lanjutnya sambil tertawa terbahak-bahak. Arlon dan Marvin hanya bisa menelan ludah. Pikiran mereka sudah berkelana memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Jadi, selama ini kabar tentang banyaknya orang yang tidak kembali itu sebenarnya karena hutan ini? Bukan karena hutan Salvagar?", tanya Arlon mencoba menganalisa misteri yang selama ini terjadi di masyarakat kota Yorka.
"Hemm.. Tidak juga. Lebih tepatnya tidak tahu. Aku tidak peduli. Lagipula ini hanya jalan pintas menuju kesana kan. Masih banyak jalan lain yang tidak kalian tahu apa yang ada didalamnya", ucap Xeron sambil menatap tajam, berhasil membuat dua manusia didepannya ketakutan.
Arlon teringat oleh ayahnya yang hilang beberapa tahun lalu saat sedang berburu. Ada kemungkinan ayahnya mungkin sekarang jadi salah satu pohon yang dikutuk disini.
__ADS_1
"Jadi, setelah rombongan yang kau maksud tadi, sampai sekarang belum ada yang berhasil lolos?", tanya Arlon memastikan lagi.
"Belum ada sama sekali.", jawab Xeron dengan tegas. "Itu mengapa aku sangat rindu untuk memainkan permainan ini.", lanjutnya sambil tertawa.
Mereka melihat sekeliling. Sesuai perhitungan mereka, benar saja ada 8 jalan yang berbeda. Namun semua itu nampak sama. Sama-sama kelam dan sunyi. Dan 100 meter dari jalan utama, semua jalanan itu berbelok ke kiri, seolah menyimpan misteri dibaliknya. Yang berbeda hanyalah nomor-nomor yang diukir diatas potongan kayu tua yang ditancap disetiap ujung jalan.
"Ada apa saja diujung jalan itu?", tanya Marvin sambil melongok ke salah satu jalan, berusaha mencari perbedaan.
"Banyak. Kalian temukan saja sendiri.", jawabnya sambil tersenyum memandang jalanan yang terhampar didepannya. "Sudahlah, kalian terlalu banyak bertanya. Sekarang kalian boleh pilih jalan yang pertama.", ucap Xeron sambil memberikan ruang untuk mereka memilih.
Tanpa buang waktu lagi, Arlon langsung berkeliling melihat semua jalan yang ada. Berusaha keras mencari perbedaan. Tapi semua tampak sama. Marvin mengikuti kemana pun Arlon melangkah, ia pasrah dan mempercayai semua pada sahabatnya.
Mereka berjalan bolak balik dari jalanan nomor 1 sampai nomor 8, dan berkeliling lagi berkali-kali. Baik jalanan, struktur tanah, batuan, tata letak pohon, semua sama tanpa cela. Nampak seperti duplikat. Tapi Arlon yakin pasti ada pembeda diantara ke-8 jalanan itu.
"Diawal tidak diberi tahu kalau ada waktunya.", protes Marvin dengan wajah kesal.
"Apa masalahmu? Aku tidak suka menunggu lama.", ucap Xeron santai sambil melanjutkan hitungannya. "8... 7...“
"Ar, kita pilih yang mana?", tanya Marvin yang sudah sangat panik mendengar hitungan Xeron yang terus berjalan.
"Ga tau!", jawab Arlon. Ia pun panik, tapi ia lebih kesal karena Marvin tidak membantunya sama sekali. Marvin terlalu panik dan hanya melihat ke kiri dan kanan.
" 6... 5...", hitungan terus berjalan tanpa memperdulikan kepanikan mereka. Perlahan tapi pasti.
__ADS_1
"Gua akan ikut kemana pun pilihan lu.", ucap Marvin yang sudah mulai pasrah dengan keadaan. Sementara Arlon semakin panik karena ia harus segera memutuskan. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih.
" 4... 3..."
"Menurut lu jalan yang mana?", tanya Arlon. Ia masih belum dapat pencerahan apapun. Marvin hanya menggelengkan kepala sambil melihat kesana kemari. "Pilih aja sesuai feeling!", ucap Arlon.
"2... 1... Ya, waktunya sudah habis.", ucap Xeron yang sekarang sudah berada dibelakang mereka berdua. "Cepat pilih atau ku pilihkan jalan yang sudah pasti salah.", lanjut Xeron sambil tersenyum dengan taring yang mencuat keluar.
"Marvin, kau pilih saja dulu. Kita masih punya kesempatan 2 kali lagi.", ucap Arlon yang mempercayakan pilihan yang pertama pada Marvin, walaupun ia sudah tahu hasilnya akan seperti apa.
"Cepat!", teriak Xeron yang sudah tidak sabar ingin melihat mereka berdua kalah.
"Jalan nomor 4!", ucap Marvin dengan tegas sambil menunjuk ke jalan yang berada didepannya.
"Baik, silahkan masuk.", ucap Xeron sambil mempersilahkan mereka masuk.
Dengan ragu mereka pun berjalan perlahan ke jalan yang dipilih. Sejauh ini tidak ada yang aneh. Disekitar mereka masih banyak pohon dengan suasana yang sunyi namun menenangkan. Mereka terus berjalan dengan posisi Marvin berada dibelakang Arlon.
"Kalau kita kenapa-kenapa, jangan salahin ya!", ucap Marvin sambil menoleh kekanan dan kiri, waspada pada apapun yang mungkin terjadi.
"Iya ngga, lagipula kita punya kesempatan 2 kali lagi kan.", ucap Arlon santai dengan tangan di saku celananya, sudah siap kalau sewaktu-waktu harus memakai pisau. "Semoga aja ini jalan yang benar ya."
Mereka berjalan cukup lama, kurang lebih 15 menit dan tidak ada yang terjadi. Mereka mulai optimis bahwa jalan itu adalah jalan yang benar. Mereka terus melangkah sampai mereka melihat ada sosok yang berdiri dihadapan mereka. Sosok yang mereka kenal, tak lain adalah Xeron.
__ADS_1