Salvagar

Salvagar
8. Pilihan ke-2


__ADS_3

Xeron membalikkan badan dan melihat mereka kembali dengan selamat, tanpa goresan sedikit pun. Ia terlihat benar-benar sangat terkejut.


"Wow.. Permulaan yang bagus.", ucap Xeron yang kembali memperhatikan mereka dari atas ke bawah. "Kalian benar-benar sangat beruntung."


"Kenapa kami bisa kembali lagi kesini?", tanya Arlon bingung sambil memandang sekitar.


"Itu karena kalian memilih jalan yang salah, tapi percayalah itu yang paling baik.", ucap Xeron. "Didalam sana apa yang kalian temukan?", lanjutnya sambil tetap mengamati mereka berdua, nampak masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Ga ada apa-apa. Hanya jalanan hutan biasa dan tiba-tiba kami sudah ada disini lagi.", jawab Marvin kebingungan. Ia merasa seperti dipermainkan. "Jadi sebenarnya kami yang kembali lagi ke hutan ini atau kau yang mengikuti kami?"


"Apa untungnya aku mengikuti kalian? Kau bisa lihat sendiri sekarang kau ada dimana.", jawab Xeron ketus. Dan benar saja, mereka kembali ke hutan itu dengan 8 jalanan terhampar dihadapan mereka yang siap untuk mereka pilih. Seolah perjalanan mereka tadi hanya berputar-putar saja di hutan itu.


"Lalu maksudnya beruntung apa?", tanya Arlon yang sekarang cukup kelelahan.


"Kalian beruntung tidak bertemu apa pun dan kembali ke hutan ini dengan selamat. Dari 7 jalan yang salah, hanya pilihan kalian tadi yang paling baik. Selebihnya kalian bisa jatuh ke jurang, disiram larva gunung dan yaa.. nanti biar kalian lihat sendiri lah.", jawab Xeron agak kesal. Ia berharap mereka mendapatkan kesalahan yang lebih daripada ini.


"Tuh kan! Untung tadi lu percayain pilihannya ke gua. Emang feeling gua tuh selalu bener.", jawab Marvin dengan ekspresi sombong. Arlon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Lu juga pasti milih jalan yang nomor 4 karena pas ada didepan mata kan.", ucap Arlon santai. Marvin hanya tertawa bangga tanpa mempedulikan ucapan Arlon.


"Sudah, sekarang kalian pilih lagi jalan yang lain. Kalian juga pasti sudah tidak sabar ingin melihat kejutan lain yang tersembunyi dari hutan ini.", ucap Xeron yang sudah kembali bersemangat. Ia yakin kali ini pasti mereka akan gagal.


Arlon langsung berkeliling lagi melihat lebih dekat tiap jalan yang ada, seolah tidak mau sampai kehilangan tiap detik pun. Kali ini Marvin juga ikut memperhatikan jalanan yang ada, mengikuti cara Arlon walaupun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Arlon melihat jam tangan dan tanpa sadar mereka sudah terjebak bersama Xeron hampir 3 jam lamanya. Pantas saja ia merasa lelah. Tangannya yang tadi di cengkram oleh Xeron masih terasa panas dan perih. Bekas tangannya pun masih jelas terlihat disana.

__ADS_1


"Jadi kalian pilih yang mana?", tanya Xeron yang mulai tidak sabar. Marvin langsung menghampiri Arlon.


"Gimana Ar? Ada pencerahan ga?", tanya Marvin yang wajahnya berubah menjadi panik.


"Belum sih, tapi ingat ga tadi kata bapak pohon itu apa?", ucap Arlon sambil coba mengingat kembali petunjuk yang diberikan. Marvin menggeleng, ia benar-benar tidak ingat. "Sama sekali ga ingat?", tegas Arlon tidak percaya.


"Ngga. Emang apa?", tanya Marvin yang berusaha sekuat tenaga mengingat. Ia memang bukanlah pengingat yang baik.


"Kita diminta pergi ke barat, dan ikuti kawanan semut. Dan kalau gua perhatikan, memang benar kita harusnya menuju ke barat.", ucap Arlon sambil mengambil kompas perak miliknya dari saku celana. Jarum kompas yang berwarna merah, bergerak berputar tidak beraturan. Ia langsung mencari arah barat dan menoleh ke kiri, sesuai dengan apa yang ditunjukkan kompas.


Matanya tertuju pada jalanan nomor 2. Arlon langsung menghampiri jalanan itu dan mencari semut disekitar jalan masuk, namun ia tidak menemukan apapun.


"Ayo waktu kalian sudah habis.", ucap Xeron yang kini sudah berdiri tenang ditengah hutan sambil mengibaskan ekornya kesana kemari, menunggu jawaban mereka.


"Waktu sudah habis.", ucap Xeron yang sekarang sudah berada didepan mereka berdua. "Pilih sekarang atau akan ku pilihkan jalan yang sudah pasti salah." Wajahnya menunjukkan ekspresi licik dengan ekor yang sudah berada didepan wajah Arlon dan Marvin, siap menyerang. Mereka berdua harus mundur selangkah agar tidak kena duri-duri itu.


"Ar?", ucap Marvin yang berharap sahabatnya akan memberikan jawaban yang tepat. Namun Arlon tidak bergeming dan masih menatap kompas dan tanah bergantian, berharap ada setidaknya seekor semut saja lewat.


Ekor Xeron pun sudah berada didepan mata Arlon, membuat duri-duri kecilnya terlihat sangat jelas. Warnanya yang perak membuat duri itu terlihat indah.


"Ar!", panggil Marvin. Arlon segera tersadar dari lamunannya dan memberi isyarat bahwa ia tidak yakin dengan pilihannya. Marvin pun membalas isyaratnya dengan anggukan. Marvin sudah tidak tahu harus apa lagi dan lebih baik memang mengikuti kemana pun sahabatnya pergi.


"2. Nomor 2.", ucap Arlon ragu. Ia sangat tidak yakin dengan pilihannya.

__ADS_1


"Baik, silahkan kalian masuk.", ucap Xeron sambil berdiri tegap menatap rute yang akan mereka masuki.


Arlon masuk disusul dengan Marvin dibelakangnya. Arlon masih menatap tanah, mencari semut yang tak kunjung nampak. Disitulah ia benar-benar merasa salah pilih jalan.


"Entah kenapa gua yakin ini bukan jalan yang benar. Jadi, siap-siap ya..", ucap Arlon pelan disusul dengan anggukan kecil Marvin.


Tibalah ia di belokan jalan besar. Disana masih terlihat normal dan baik-baik saja. Mereka terus masuk menyusuri hutan. Jalan yang dilalui masih sama seperti pilihan jalan yang pertama. Dan sejauh ini masih belum ada hal aneh yang terjadi.


"Istirahat sebentar yuk! Capek banget gua", ucap Arlon yang memilih untuk duduk dibawah salah satu pohon yang rindang. Ia mengeluarkan makanan ringan dari tasnya dan menawarkan kepada Marvin.


"Udah, lu aja. Gua kenyang kok.", ucap Marvin menolak dengan halus. Ia juga sekarang duduk disebelahnya. Napsu makannya sudah hilang seketika. Sekarang ia mengeluarkan air mineral yang sudah dibawanya.


"Gimana ya kita bisa keluar dari sini?", tanya Arlon sambil terus sibuk mengunyah. Ia terlihat sudah putus asa. Apalagi mengingat pilihan yang ada tinggal satu lagi.


"Itu dia Ar! Disini cuma ada kita berdua. Siapa lagi yang bisa kita tanyain.", ucap Marvin sambil sesekali meneguk air di tangannya. "Apalagi Xeron yang selalu kasih kita waktu pas kita lagi mau milih, membuat kita panik dan seolah-olah kesempatan yang dikasih hanya formalitas. Kita kan jadi ga bisa fokus!", lanjut Marvin dengan kesal.


"Iya juga sih,", jawab Arlon yang sekarang juga menenggak minumannya. Mereka berdua pun terdiam beberapa saat, memikirkan nasib mereka yang entah akan selamat atau bahkan menjadi bagian dari hutan sunyi ini.


"Eh! Gua punya ide!", sentak Arlon tiba-tiba, membuat Marvin benar-benar terkejut.


"Apa?", tanya Marvin. Ia yakin sahabatnya sudah menemukan ide yang brilian, terlihat dari matanya yang berbinar-binar.


Namun, belum sempat Arlon menjawabnya, tiba-tiba tanah dibawah kakinya bergetar pelan. Lama kelamaan terdengar bunyi dentuman keras, seperti ada yang jatuh menghantam hutan itu, membuat tanah bergetar lebih hebat.

__ADS_1


__ADS_2