
Mereka berdua terdiam ketakutan, hanya bisa memandangi makhluk aneh yang ada didepan mereka. Entah apa sebutan yang pantas. Tapi, dengan bentuk yang tidak masuk akal, makhluk ini terlalu aneh untuk di deskripsikan.
Badannya besar dan tegap seperti badan beruang Grizzly dengan bulu berwarna agak kecoklatan. Buntutnya sangat panjang berwarna biru muda, sama persis seperti yang Arlon lihat tadi menghilang diatas pohon. Perpaduan warna yang membuat dirinya terlihat aneh. Tapi yang mengerikan adalah kepalanya seperti kepala seorang laki-laki. Benar-benar kepala manusia pada umumnya.
Makhluk aneh itu menatap mereka berdua dengan tatapan tajam. Apalagi tingginya yang melebihi tinggi dua manusia normal yang ada dihadapannya, membuat Arlon dan Marvin terlihat kecil dan ingin segera angkat kaki dari sana.
"Siapa kalian?", tanya makhluk itu dengan suaranya yang berat. Matanya sejak tadi belum berkedip sedikit pun. Giginya terlihat lebih panjang saat ia bicara. Arlon dan Marvin masih terdiam memandang makhluk itu.
Dengan agak menunduk, makhluk itu mengamati Arlon dan Marvin lebih dekat, membuat mereka harus mundur satu langkah. Nafasnya berat dan berbau sangat busuk. Terlihat pula kerutan di wajahnya yang nampak mulai menua.
Tak mendengar adanya jawaban, makhluk aneh itu pun maju lagi dan mengulang pertanyaannya "Siapa kalian?", kali ini suaranya lebih keras dan tegas. Hal ini sangat mengejutkan mereka. Marvin, yang bersembunyi dibelakang Arlon, memaksa Arlon untuk menjawab pertanyaan makhluk itu.
"Saya.. Arlon.. Dan ini Marvin..", ucap Arlon terbata-bata sambil menunjuk ke arah Marvin. Tak sedikit pun ia melepaskan pandangannya dari makhluk itu, begitu pula sebaliknya.
Makhluk itu berputar mengitari mereka dan memperhatikan dari atas ke bawah secara terus menerus. Buntut birunya ternyata jauh lebih panjang dari yang mereka duga. Panjangnya sekitar 2 kali panjang badannya. Apabila diperhatikan lebih seksama, ternyata ada duri-duri kecil bertebaran disekitar buntutnya yang terlihat menggemaskan.
"Mau apa kalian kemari?", tanyanya sambil memperhatikan ransel mereka yang terlihat penuh. Langkah besarnya membuat Marvin semakin menempelkan badannya ke Arlon.
__ADS_1
Diam-diam, tangan Arlon meraba kantong celananya, berusaha mengambil pisau yang sudah ia siapkan tadi. Namun saat tangannya hampir memegang pisau itu, makhluk aneh itu mencengkeram tangan Arlon dengan kuat, seakan ia sudah tahu apa yang ada dipikiran Arlon saat itu.
"Aaaaah! Tolong lepas!", ucap Arlon berteriak sambil meringis kesakitan. Genggamannya sangat erat dan terasa panas ditangannya. Rasanya seperti terbakar. Bahkan saat Arlon berusaha memberontak, makhluk itu tidak bergeming sama sekali. Ia sadar bahwa hampir mustahil melawan tenaganya yang begitu besar. "Maafkan aku, tolong lepas sekarang.", lanjutnya memohon sambil tetap menahan perih.
Makhluk itu pun melepaskan tangannya dan diam sambil tetap menatap Arlon lekat-lekat. "Mau apa kalian kemari?", ulangnya lagi.
"Kami hanya numpang lewat. Kami mau pergi ke hutan Salvagar dan kata orang-orang ini jalan pintasnya.", ucap Arlon lebih tegas. Ia langsung melihat tangannya yang masih terasa panas walaupun sudah dilepas oleh makhluk itu. Terlihat samar-samar bentuk tangan makhluk tadi menempel ditangannya. Membuat tangannya menjadi kemerahan.
"Mau apa kalian kesana?", tanyanya lagi penasaran. Kali ini ia sudah berdiri di tempat awal ia muncul dihadapan Arlon dan Marvin. Sedangkan, ekornya mengelilingi tubuh mereka berdua.
"Ada urusan yang harus kami kerjakan.", ucap Marvin yang masih mengumpat dibelakang Arlon. Tangannya memegang baju bagian belakang Arlon dengan cukup erat.
"Aku Xeron. Penjaga hutan ini.", ucapnya dengan berwibawa. Ekornya bergerak kesana kemari, persis seperti anak kucing yang ingin diajak bermain oleh majikannya.
"Hai Xeron, maafkan sikap kami kalau mengganggu ketenanganmu dan membuatmu tidak nyaman dengan keberadaan kami.", ucap Arlon mencoba menjaga ucapannya sebaik mungkin.
Xeron hanya mengangguk sambil menatap mereka berdua. Satu hal yang baru disadari Arlon adalah makhluk aneh ini ternyata tidak pernah sekali pun berkedip sejak awal ia muncul. Matanya terlihat besar dengan bola mata yang seperti hampir keluar. Arlon pun baru tersadar kalau makhluk ini ternyata tidak punya kelopak mata.
__ADS_1
"Terima kasih, Xeron. Kami akan pergi sekarang.", ucap Marvin sambil mendorong punggung Arlon untuk segera bergerak meninggalkan tempat ini.
Namun Xeron tidak bergeming didepan mereka. Masih tetap berdiri tegap sambil menatap tajam. Arlon jadi ragu untuk melangkah dan lebih memilih diam sampai sang penjaga hutan mau berdamai dan memberi mereka jalan. Apalagi tangannya masih terasa perih.
"Maaf Xeron, kami akan pergi sekarang dan tidak akan mengganggumu lagi.", ucap Arlon berusaha setenang mungkin. Xeron masih tidak bergeming seolah tidak mendengar ucapan mereka.
Arlon memutuskan untuk berjalan mengitari Xeron. Namun badannya yang besar selalu menghalangi kemana pun mereka akan melangkah, seolah tidak mengijinkan mereka pergi dari sana begitu saja. Buntutnya pun bergerak-gerak tidak menentu disekitar mereka. Membuat lebih was-was mengingat banyaknya duri disana.
"Sudah lama aku tidak melihat manusia disini.", ucapnya sambil tersenyum mengerikan. Membuat Arlon dan Marvin merasa yakin makhluk itu punya rencana jahat. Taringnya yang agak panjang membuat wajahnya lebih mengerikan. "Seingatku, terakhir kali ada seorang bapak tua yang suka mengambil kayu dengan sesuka hatinya, namun ia tidak pernah sedikit pun meminta ijin padaku. Dan sampai saat ini, ia masih berada disana.", lanjut Xeron sambil menunjuk ke belakang mereka. Namun saat mereka menengok, tidak ada siapa pun disana. Hanya ada hutan lebat layaknya hutan yang sepi pada umumnya.
"Dimana?", tanya Marvin sambil mencari kesana kemari mengikuti arah telunjuk Xeron yang masih mematung menunjuk ke suatu tempat. Jangankan sosok manusia, suara hewan pun sudah tidak terdengar lagi sejak Xeron hadir.
"Kalian lihat pohon yang agak kecil disana? Yang berbatang lebih tipis dari yang lain dan terlihat agak rapuh.", tanya Xeron. Mereka pun mencari pohon yang sesuai dengan arahan Xeron dan ternyata memang ada pohon seperti itu dibelakang mereka. Tampak kecil dan ringkih, dengan daun yang berwarna agak pucat dan kering. Namun walaupun begitu, pohon itu masih berdiri tegak dan kokoh.
"Lalu, dimana bapak tua itu?", tanya Arlon yang masih belum paham apa yang dimaksud Xeron.
"Itu adalah dia.", jawab Xeron. Mereka berdua masih memasang wajah bingung. Jawaban yang diberikan hanya membuat mereka berdua semakin penasaran.
__ADS_1
"Maksudnya?", tanya Marvin bingung. Ia masih melihat kesana kemari mencari sosok manusia yang dimaksud, namun kenyataannya masih tidak ada siapapun selain mereka bertiga.
"Pohon kurus itu adalah bapak tua yang dimaksud. Akibat perbuatannya yang semena-mena, dia harus menemaniku dihutan ini selamanya.", jawab Xeron sambil tersenyum jahat tanpa dosa.