Salvagar

Salvagar
11. Sebuah Petunjuk


__ADS_3

"Luvian?", tanya Arlon terkejut. "Kau yakin namanya Luvian?", ia memastikan lagi dengan antusias.


"Ya! Aku ingat jelas itu namanya. Ia pergi bersama 3 orang temannya dan kurasa dia pemimpin dari kelompok itu. Wajah, sifat dan tingkahmu lah yang membuat ku ingat padanya.", jawab Hansel dengan santai. Guncangan pun kembali terjadi. Kali ini terasa lebih kencang dari sebelumnya dan membuat daun di beberapa pohon jadi berguguran.


"Ayo kita pergi!", ucap Marvin yang sudah mulai khawatir akan apa yang terjadi selanjutnya. Suaranya kembali bergetar dan wajahnya pucat.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia selamat? Apa dia terluka?", tanya Arlon menggebu-gebu. Ia tidak menggubris omongan Marvin sama sekali. Tatapannya cerah, seperti menemukan apa yang dicari selama ini.


"Ya.. Setahuku begitu.", jawab Hansel bingung karena banyaknya pertanyaan yang diberikan sekaligus. Lagi-lagi tanah itu bergetar, walaupun getarannya tidak sedahsyat yang pertama dan kedua.


"Ayo, Ar!", ucap Marvin sambil menarik tangan Arlon agar segera pergi darisana. Namun, usahanya sia-sia dan Arlon masih terdiam di tempatnya.


"Kau serius? Apa kau bisa pastikan ia bukan bagian dari pohon-pohon disini?", tanya Arlon. Dirinya penuh harap sekarang.


"Aku tidak tahu. Namun sepertinya.. tidak.", jawab Hansel menerka-nerka.


"Tolong pastikan lagi, apa dia selamat dari sini atau ia malah terjebak disini?", pinta Arlon yang semakin bersemangat.


"Aku tidak tahu, aku butuh waktu untuk mengetahuinya.", ucap Hansel yang juga tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan. Guncangan kembali terjadi, kali ini membuat tanah didekat kaki mereka sedikit retak.


"Tolong pastikan lagi! Aku akan tunggu disini!", ucap Arlon dengan terus memaksa agar Hansel mau membantunya. Ia tidak memperdulikan retakan tanah yang terjadi. Baginya, jawaban Hansel lah yang jauh lebih berarti sekarang.


"Kau tidak bisa lebih lama disini. Kalian harus segera pergi. Semua akan segera runtuh!", ucap Hansel yang jadi ikutan panik karena dentuman kembali terdengar. Beberapa pohon sudah mulai tumbang dan terbakar.

__ADS_1


"Aku akan tetap disini sampai kau memberiku jawaban! Tolong pastikan apa dia selamat?", desak Arlon yang masih bertahan tak bergeming menatap Hansel. Ia membuat Hansel kebingungan dan tidak nyaman.


"Ar, ayo kita harus pergi!", bujuk Marvin yang berusaha menarik Marvin menjauh dari pohon itu. Ia menarik tangan Arlon namun Arlon selalu melepasnya. "AR!", Marvin pun membentak sambil menarik baju hitam Arlon, membuatnya berdiri menghadap Marvin. "Kita harus pergi!", lanjut Marvin dengan lebih pelan namun tegas.


"Gua akan tetap disini sampai Hansel memberi jawaban! Kalau lu mau pergi, silahkan pergi sendiri!", ucap Arlon yang wajahnya sudah berubah merah padam. Terlihat jelas antara ia kesal dan ingin menangis. Ia tidak terlihat seperti biasanya, karena Arlon adalah pribadi yang sangat jarang marah. Hal ini membuat Marvin sangat terkejut.


"Maaf anak muda, aku tidak bisa memberi jawaban apapun. Karena aku tidak tahu. Aku hanya bertemu sekali. Dan butuh waktu yang lama untuk memastikan apakah Tuan Luvi ada disini atau tidak.", ucap Hansel berusaha menengahi percakapan mereka. Mendengar ucapan Hansel, Arlon hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Ia kesal dan masih belum bisa menerima apa yang terjadi.


Tanah kembali bergetar dan kali ini membuat pijakan mereka benar-benar retak. Pohon di sekeliling mereka semakin banyak yang tumbang. Yang masih bertahan adalah pohon-pohon berbatang besar seperti milik Hansel.


"Dia itu siapa Ar? Luvi itu siapa?", tanya Marvin yang sudah pasrah dan kelelahan.


"Luvian van DeGrass, dia adalah ayahku.", ucap Arlon tenang dengan tatapan kosongnya. Marvin dan Hansel hanya bisa terdiam. "Dia mungkin satu-satunya keluargaku yang tersisa. Itu kenapa aku memilih keluar dari kebun binatang. Karena aku harus menemukannya!", lanjutnya dengan pelan.


"Sekali lagi aku minta maaf anak muda, aku tidak bisa membantu memastikan kondisi Tuan Luvi. Tapi terakhir bertemu aku sudah memberi tahu jalan mana yang harus ia pilih. Aku yakin ia bisa menebak jalan dengan benar.", ucap Hansel bijaksana.


"Kalian ke barat, ikuti semut, itulah jalan yang benar.", ucap Hansel buru-buru. Getaran pun terjadi lagi, pohon disebelah kiri Hansel mulai tumbang lagi dan menyisakan 3 diantaranya, termasuk Hansel.


"Aku sudah memilih barat tapi tidak ada semut sama sekali.", ucap Arlon berusaha kembali ke realita. Tiba-tiba meteor merah itu jatuh lagi di dekat mereka. Kali ini tidak ada asap seperti sebelumnya, tapi meteor itu langsung mengeluarkan api yang besar.


"Kau panggil dulu semutnya dan biarkan dia yang memilih jalannya.", ucap Hansel setengah berteriak karena suaranya harus beradu dengan suara disekitarnya. Angin pun membawa api itu terbang mengenai beberapa helai daun Hansel. Api dengan cepat menjalar ke dahan dan batang. Arlon langsung mengeluarkan air minumnya dan bergegas menyiram air itu kearah api yang mengenai Hansel.


Namun, usahanya sia-sia, karena api itu menyulut dahan per dahan, batang per batang dengan sangat cepat. Tapi Arlon tetap menyiram sampai airnya habis. Urusan air sudah tidak ia pikirkan, yang penting Hansel bisa selamat.

__ADS_1


"Kau tidak bisa sebut saja jalan nomor berapa yang harus kami pilih?", tanya Marvin yang mulai menyerah dengan petunjuk yang diberikan Hansel. Marvin mengeluarkan botol minum miliknya dan melakukan hal yang sama seperti Arlon.


"Tidak ada yang tahu jalan mana yang benar. Setiap hari jalanan itu akan berubah sesuai dengan kehendak alam. Bahkan Xeron pun tidak tahu.", ucap Hansel tegas. Kini sudah setengah badannya tersulut api. "Pergilah kalian!"


"Biar kami coba padamkan dulu!", tegas Arlon yang kini kebingungan mencari cara untuk menyelamatkan Hansel. Ia melihat kesana kemari mencari apa yang sekiranya bisa memadamkan api, tapi ia tidak menemukan apapun.


"Sudahlah. Silahkan kalian pergi dan ku doakan kalian bisa keluar dari hutan ini, seperti ayahmu.", ucap Hansel sambil tersenyum. Ucapannya cukup menenangkan hati Arlon dan membuatnya juga ikut tersenyum. Kini, ia harus yakin dan percaya bahwa ayahnya pasti selamat.


"Lalu kau bagaimana?", tanya Marvin sedih.


"Sudah waktunya aku pergi. Kalian sudah tidak bisa melakukan apa pun untuk menolongku.", ucap Hansel. Arlon dan Marvin pun berusaha menerima keadaan dan berhenti mencari cara agar Hansel selamat. Ditambah mereka harus fokus menghindar dari retakan yang semakin parah di bawah kaki mereka. "Kalian pergilah sekarang! Dan kalau kalian berhasil keluar dari sini, sampaikan salamku pada Hairen, ia ada di sungai Cambora."


"Baik, Tuan Hansel. Terima kasih semuanya dan maafkan kami.", ucap Arlon sedih harus kehilangan teman baru yang begitu baik. Kenangan terakhir mereka dengan Hansel adalah sebuah senyuman seorang wajah pria tua bijaksana yang menyejukkan.


Api sangat cepat menjalar ke tubuh Hansel. Mereka mulai menjauh dan pergi entah kemana pun kaki ingin melangkah. Mereka terus berlari menghindari retakan tanah agar tidak masuk ke perut bumi.


Arlon pun menengok lagi ke arah Hansel berada dan sekarang pohon tua nan bijaksana itu sudah terbakar sepenuhnya. Sudah tidak ada yang tersisa disana. Dengan berat hati, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


Getaran dari perut bumi masih terus terjadi, membuat mereka harus lebih berhati-hati. Dan tidak sengaja Marvin melangkah ke permukaan yang sudah rentan. Ia pun terpeleset. Dengan sigap, Arlon yang berada dibelakangnya, langsung menangkap tangannya.


"Jangan banyak bergerak! Jangan dilepas!", ucap Arlon mencari cara untuk menarik Marvin. Kali ini, ia tidak mau kehilangan sahabatnya lagi. Tanah kembali bergetar, membuat Marvin semakin merosot.


"Lepas aja Ar, gapapa.", ucap Marvin yang sudah pasrah. Lubang dibawah kakinya begitu gelap sampai tidak terlihat dimana ujungnya.

__ADS_1


"Ngga lah! Gila ya! Gamau!", ucap Arlon kesal. Ia masih berusaha menarik Marvin tapi apa daya dirinya sudah lelah dengan kejadian hari ini. Hanya sedikit tenaga yang tersisa.


Dentuman semakin kencang dan getaran makin menjadi. Pegangan Arlon semakin merosot dan membuat dirinya juga hampir terjatuh. Berat bobot ransel Marvin nampaknya yang membuat mereka terus tertarik kebawah. Tiba-tiba, meteor berwarna merah itu jatuh didekat mereka dan meluluh lantahkan tanah disana. Mereka berdua pun akhirnya terjatuh ke lubang yang dalam, gelap dan sunyi dan entah akan bermuara dimana.


__ADS_2