Salvagar

Salvagar
2. Tugas Terakhir


__ADS_3

Arlon hanya bisa diam mendengar keinginan pak Darlen. Ia tak tahu harus bicara apa. Hutan itu bagaikan mimpi buruk bagi tiap orang. Apalagi untuk masuk kesana demi sesuatu yang tidak pasti.


"Arlon? Bagaimana? Kamu bisa kan?", ucap pak Darlen semangat dan percaya diri.


"Makhluk apa maksudnya pak?", tanya Arlon hati-hati.


"Sejenis binatang yang akhir-akhir ini sempat terkenal dan jadi bahan rebutan orang-orang. Saya yakin kamu tahu hal itu.", lanjut pak Darlen.


"Tapi itu kan hanya dongeng pak, lagipula mana ada hewan seperti itu.", lanjut Arlon dengan sangat yakin.


"Tapi beberapa orang melihatnya dengan sangat jelas, ia memang ada di hutan itu. Sepertinya penjaga disana.", desak pak Darlen dengan penuh keyakinan.


"Tapi kalau pun ada, tidak ada yang tahu bagaimana bentuknya pak. Yaa, setidaknya mereka hanya tahu gambaran garis besarnya saja. Pendek, buntal dan berbulu lebat, lidahnya seperti ular.. Binatang macam apa itu? Dan sampai saat ini, tidak ada juga yang berhasil menangkapnya, kan.", ucap Arlon dengan nada yang agak tinggi. Nampaknya pak Darlen sudah tidak bisa membedakan mana hal nyata dan mana yang khayalan. "Bahkan seingat saya, mereka yang bilang makhluk itu ada, tak lama kemudian berubah jadi gila. Atau kalau kurang beruntung, tak lama setelahnya mereka meninggal.", lanjut Arlon ngeri.


Pak Darlen masih berusaha mencari sesuatu diantara tumpukan kertas yang semakin berantakan tanpa memperdulikan ucapan Arlon. Wajahnya mulai putus asa. Nampaknya apa yang dicari tidak juga ditemukan. Setelah 15 menit mencari dan tidak membuahkan hasil, ia pun menyerah.


"Yah nanti saya tunjukkan ke kamu ya kalau gambarnya sudah ketemu. Saya ada teman yang pernah tidak sengaja melihatnya.", ucap pak Darlen sembari menatap Arlon. "Intinya kamu besok mulai berangkat saja ke hutan itu. Jangan lupa bawa peralatan yang biasa harus dibawa untuk berburu. Dan sebelum berangkat, pastikan kamu mampir dulu kesini bertemu saya."


"Lalu, saya berangkat sendiri pak?", tanya Arlon. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika ia sendirian di hutan itu. Terpikir melewatinya saja tidak mau.


"Kamu mau ajak siapa?", tanya pak Darlen. "Biar saya tebak.. Kamu mau ajak.. Marvin?"


"Iya pak.", ucap Arlon yakin. Walaupun terkadang mereka tidak akur, tapi sejauh ini hanya Marvin yang bisa diandalkan. "Nanti untuk pengurusan hewan-hewan, saya akan minta tolong pengurus yang lain."


Pak Darlen hanya mengangguk tanda setuju. "Ya sudah, kalau begitu kamu boleh lanjutkan lagi pekerjaanmu."

__ADS_1


"Maaf pak, kalau saya boleh tahu, kenapa bapak mau saya menangkap makhluk itu?", tanya Arlon penasaran.


"Konon, bagi siapa pun yang bisa memiliki hewan itu, kehidupannya akan sejahtera. Pastinya kamu mau kan kebun binatang kita ini tetap berjaya? Apalagi sekarang peminatnya sedang berkurang. Kita benar-benar butuh dana untuk menghidupi hewan-hewan dan semua karyawan. Jangan sampai kejadian waktu itu terulang.", ucap pak Darlen sambil mengingat kembali masa dimana kebun binatang hampir ditutup akibat hutang disana sini. Wajahnya seketika sedih tak bersemangat. "Dan sampai detik ini, hanya kamu yang saya percaya bisa melakukan itu.", lanjutnya.


"Baik pak.", ucap Arlon. Ia mulai menerima kegilaan yang diminta pak Darlen hari ini.


"Sudah, kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu. Jangan khawatir, kamu akan dapat bagian nantinya.", lanjut pak Darlen sambil mengedipkan sebelah matanya.


Arlon pun bergegas keluar dan berniat segera menemui Marvin. Ia langsung menuju ke kandang gajah dan merasa yakin sahabatnya itu ada disana. Ia berjalan cepat sembari pikirannya memikirkan apa yang akan terjadi padanya beberapa jam ke depan. Entah ia akan selamat atau tidak.


Benar saja, di kandang gajah ia melihat Marvin baru selesai memberi makan hewan besar itu dan bersiap menuju kandang selanjutnya.


"Marvin!", panggil Arlon dengan suara nyaring terhentak, membuat wajah Marvin sangat terkejut. Arlon pun mempercepat langkahnya.


"Kenapa Ar?", tanya Marvin sambil mengambil kertas dari saku celananya. Kertas itu berisi checklist hewan selanjutnya yang harus diurus.


"Kemana?", tanya Marvin dengan wajah antusias. Terlihat jelas ia butuh liburan.


"Salvagar."


Suasana hening sejenak. Marvin terkejut mendengar hal itu, sesuai dengan prediksi Arlon.


"Ga mau! Gila kali!", sahut Marvin sambil mengalihkan pandangan ke gajah dengan raut wajah panik.


"Ayo lah.", rengek Arlon. "Pak Darlen minta gua kesana dan gua gamau sendirian." Arlon pun menceritakan kejadian yang tadi terjadi di ruangan pak Darlen dengan tergesa-gesa. Hal itu sangat gila dan tetap tidak masuk akal baginya.

__ADS_1


"Yaa.. Katanya memang ada sih makhluk itu. Tapi memang orang-orang sampai dengan saat ini belum pernah ada yang berhasil menangkapnya.", ucap Marvin.


"Dan lu percaya binatang itu ada?", tanya Arlon kepada sahabatnya yang ia rasa sudah mulai ikutan gila.


"Hemm.. Ya.. Percaya sih.", jawab Marvin ragu sambil mengangguk perlahan. "Karena paman gua dulu pernah lihat langsung."


"Beneran?", tanya Arlon terkejut. Ia sama sekali tidak percaya akan hal itu. "Mungkin halusinasi?"


"Katanya sih begitu. Dia lihat waktu masih jadi pemburu dan kebetulan waktu itu hutan Salvagar masih aman. Masih banyak orang-orang yang berani kesana untuk sekedar mencari kayu bakar.", jelas Marvin sambil berusaha mengingat cerita pamannya waktu ia kecil. "Malah dia lihat bukan cuma binatang aneh itu, tapi juga..", ia menghentikan kata-katanya.


"Apa?", tanya Arlon mulai penasaran. Marvin hanya menggelengkan kepalanya. "Serius Vin, ada apa?"


"Ngga.. Ngga ada apa-apa.", jawab Marvin segera mengakhiri pembicaraan dengan wajah seolah menutupi sesuatu. "Hei, Carel!", sapa Marvin pada salah satu petugas kebun binatang yang kebetulan sedang lewat.


"Hai Vin, Ar.. Lagi pada ngapain?", tanya Carel sambil menyipitkan mata, memastikan ia menyapa orang yang benar.


"Ngobrol.", jawab Marvin singkat. "Tumben ga pake kacamata?“


"Iya tadi buru-buru, jadi kacamatanya ketinggalan di rumah.", jawab Carel sambil tersenyum. Tampilannya lebih cocok jadi anak kutu buku daripada petugas kebun binatang.


"Eh ya, besok lu masuk kan?“, tanya Arlon. Carel berfikir sebentar dan mengangguk. "Nah, kebetulan.. Jadi sebenarnya gua punya tugas mulia buat lu nih."


"Wah, apa itu Ar?", tanya Carel dengan antusias dan mata yang berbinar. Hanya Carel yang semangat dengan adanya tugas tambahan.


"Jadi gini.. Kan gua minggu depan udah pindah nih, dan posisi gua nanti akan diganti sama Marvin.", ucap Arlon setengah berbisik, membuat Carel harus lebih mendekat. "Nah, selama kurang lebih tiga hari kedepan, gua ada keperluan sama Marvin diluar. Dan dari sekian pengurus yang ada, kayanya lu yang paling cocok handle kerjaan Marvin sementara. Gimana?"

__ADS_1


Marvin menggelengkan kepalanya dengan maksud memberikan kode pada Carel untuk menolak, namun ia tidak mengerti. Ekspresi Carel malah berubah sumringah. "Boleh.", jawab Carel dengan tatapan berbinar. "Jadi mulai kapan?"


"Mulai besok.", jawab Arlon.


__ADS_2