
Satu minggu telah berlalu kini Max dan Theo berada di sebuah hutan belakang rumah rencananya mereka akan memetik beberapa jamur liar dan juga buah-buahan di sana.
"Apa kau sudah membawa apa yang aku suruh, Theo?"
"Ya, kau bisa lihat ini," Theo menunjuk pada punggungnya yang membawa sebuah keranjang besar, di sana pula terdapat sebuah sekop kecil untuk di gunakan jika perlu.
"Apa kau juga sudah membawa pedangmu?"
"Pedang? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk berjaga-jaga bodoh!"
"Aws! Tapi tidak dengan memukulku bodoh!" Theo mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan dari Max.
Pak!
Satu pukulan lagi Theo dapatkan dari Max "Apa kau bilang hah? Bodoh? Siapa yang bodoh?!" Teriak Max tidak terima.
"Tentu saja kau bodoh! Bodoh kok dipelihara," Theo menghindar saat Max kembali ingin memukulnya, dengan langkah seribu bayangan Theo berjalan duluan di depan Max.
"Tsk! Sialan tunggu saja kau bocah!"
Max menyusuri hutan itu bersama Theo sesekali dia akan berhenti untuk memetik jamur liar dan buah-buahan liar di sana.
Ketika mereka sampai di sebuah air sungai yang lumayan dalam Max dan Theo memutuskan untuk beristirahat sebentar disana.
"Kita istirahat dulu."
Theo menyimpan keranjang besar di punggungnya dan mencelupkan kakinya kedalam air.
"Ah... Segarnya__! Hm? Hei bodoh, apa kau lihat itu?" Theo mengucek matanya memastikan apa yang dia lihat tidaklah salah.
Pak!
"Siapa yang panggil bodoh!" setelah memukul Theo dan menyumpahinya Max ikutan jongkok dan melihat kedalam air sungai.
"Hm? Bukankah itu__!
Byur!
"Hey! Apa yang kau lakukan!"
Theo terkejut ketika Max dengan tiba-tiba melompat begitu saja kedalam air sungai yang dalam, Theo menggerutu sambil mengusap wajahnya yang terkena cipratan air.
"Sialan! Memang tidak salah aku memanggilnya bodoh dia memang bodoh! Bagiamana bisa melompat begitu saja! Bahkan dia tidak tahu ada bahaya apa didalam sana yang sedang menunggunya, Aisss!"
Byur!
Karena tidak tenang Theo pun akhirnya ikut menceburkan dirinya dan berenang menyusul Max.
30 menit kemudian Max dan Theo kembali ke darat dengan hasil yang memuaskan, pasalnya kini di tangan mereka berdua terlihat segenggam ginseng air yang masih berusia kecil.
__ADS_1
"Setidaknya ini sudah cukup mahal jika di jual," Max memasukan ginseng tersebut ke keranjang yang Theo bawa, setelah menyelesaikan urusan disana merekapun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka terus berjalan memasuki hutan terdalam jujur saja semakin masuk ke tengah hutan semakin banyak pula yang mereka temukan salah satunya yaitu bunga kitolod.
Bunga kitolod sendiri memiliki bentuk tegak dan tangkai yang panjang. Bentuk mahkotanya mirip seperti bintang dengan warna putih. Tanaman yang memiliki batang lunak satu ini tingginya bisa sampai 60 sentimeter dan punya daun tunggal meruncing dengan bagian pangkal yang menyempit.
Bukan hanya bunganya saja yang memiliki manfaat untuk menyembuhkan mata tapi daun dari bunga kitolod juga dipercaya bisa menyembuhkan luka luar.
Ketika hari sudah hampir gelap Max memutuskan untuk keluar dari hutan selain karena takut akan tersasar karena penerangan yang minim tapi juga untuk menghindari akan bahaya dari hewan buas.
Grrrr!
"Suttt!" Max membekap mulut Theo yang sedari tadi terus mengoceh.
"Mmmh! Mmmmh!"
"Aghk! Kenapa kau mengigit ku, bocah?" Max meniup tangannya yang digigit oleh Theo.
"Bajingan! Tanganmu itu bau! Berani sekali kau membekap mulutku!" Dengan lengan bajunya yang panjang Theo mengusap-usap mulutnya.
Bugh!
"Berhenti mengoceh! Apa kau tidak sadar akan situasi sekitar?"
"Berhentilah bersikap sok bijak! Katakan saja dan tidak usah memukulku!" Theo balas memukul Max dan itu sukses mendapatkan balas yang lebih dari Max.
"Awch! Bajingan sialan ini kenapa suka sekali memukul ku?"
"Ada apa dengan muka ku?" Theo meraba mukanya dan memastikan tidak ada kotoran burung.
"Muka mu mengatakan ayo pukul aku."
"Apa? Tunggu! Kenapa dia bisa tahu apa yang aku ucapkan?" Seakan baru tersadar bahwa Max bisa mendengar suara batinnya Theo menoleh dan melihat Max dengan tatapan horor.
"Tentu saja aku dengar bodoh! BERHENTILAH MENATAP KU DENGAN ANEH! Cepat keluarkan pedangmu!" Max berteriak kemudian memasang kuda-kuda bersiap menerima serangan.
"Ada apa?" Melihat sikap Max yang serius Theo menurunkan keranjang di punggungnya dan mengeluarkan pedang kayu pemberian Max.
!!
Aaauuuuu~~!!!
Ggrrrr!!!
Segerombolan serigala liar keluar dari tempat persembunyiannya satu persatu, mereka mengepung Max dan Theo dengan tatapan lapar dan mulut yang meneteskan air liurnya.
"Se-Serigala... Gu-Guru a-apa yang harus ki-kita lakukan?" Theo berkata dengan nada penuh ketakutan tubuhnya tanpa sadar bergetar bahkan pedang yang dipegangnya itupun jatuh ketanah.
"Ambil pedangmu dan bunuh mereka!" Max berucap dengan nada rendah matanya mengawasi sekeliling berusaha mencari celah untuk kabur.
"Ti-tidak..."
__ADS_1
Plak!
"Apa yang kau takutkan bodoh? Cepat bunuh mereka! Anggap ini sebagai latihan pertamamu."
Max duduk bersila agak di belakang setelah memukul Theo dan menyuruhnya untuk maju.
"Sialan! Setidaknya jangan menjadikanku sebagai makan serigala ini," Sambil mengambil pedangnya Theo bergumam dengan nada kesal sekaligus takut.
"Cepat lakukan! Ibuku sudah menunggu di rumah!"
"Berhenti berteriak bajingan! Jika kau mau mati maka kau saja yang lawan mereka jangan kau tumbal kan aku!" Balas Theo dengan nada yang tidak kalah tinggi.
"Ck! Mereka terlalu lemah untuk menjadi lawanku!"
Grrrrrr!
Salah satu serigala menerjang kedepan setelah mendengar perkataan Max, mereka seperti bisa memahami perkataan Max yang bilang mereka lemah.
"Kyaaa!" Theo melempar pedangnya dan menyilangkan tangan berusaha melindungi diri dari terjangan serigala.
Slash!
Slash!
Slash!
Bugh! Bugh! Bugh!
Karena Theo menutup matanya dia jadi tidak tahu apa yang sudah terjadi pada segerombolan serigala tersebut, Theo hanya bisa mendengar suara potongan daging dan juga cipratan air. "Apa mungkin hujan?" Batin Theo.
Plak!
Satu tamparan di lengannya membuat Theo membuka matanya dan melihat pemandangan yang berdarah didepannya.
"I--ini?" Dengan sorot mata ketakutan Theo melihat di mana Max yang sudah bermandikan darah sedang menguliti serigala-serigala itu dengan tawa, entah apa yang ditertawakan oleh gurunya itu padahal disini tidak ada hal lucu sama sekali.
Max yang asik sendiri baru menyadari dan menoleh pada Theo "Kau mau ikut Theo?" Dengan muka yang di penuh darah serigala Max tersenyum dan mengajak Theo dengan santai.
Dengan mengibaskan tangannya Theo berkata dengan gemetar "Tidak, terimakasih. Kau saja!" Theo menutup mulutnya dan segera menjauh dari sana.
Reaksi Theo yang berlebihan itu hanya mendapatkan tanggapan acuh dari Max. Sebenarnya Theo tidak berlebihan lagi pula itu hal yang wajar bagi mereka yang pertama kali melihat banyak darah apa lagi ini diajak oleh seseorang yang penuh akan darah untuk ikut menguliti para serigala itu.
"Sialan! Aku tidak tahu kalau dia bisa juga bertingkah gila!" Theo menyandarkan tubuhnya di pohon setelah mengeluarkan isi perutnya yang mual.
Theo merobek ujung bajunya dan mengelap cipratan darah di mukanya. Kemudian duduk dengan nafas yang masih tersengal.
Disisi Max sendiri kini pemuda berusia 15 tahun itu sudah menyelesaikan tugasnya dia menyimpan semua daging di keranjang dan mengikat kulit serigala dengan akar.
"Apa aku bisa mengambil sisanya?"
?
__ADS_1
"Siapa kau?"