
Pagi harinya Max dan Theo kembali ke hutan untuk berburu, rencananya mereka akan melanjutkan perjalanan di sore hari.
Max membawa sekop dan Theo membawa pedang, kebalik bukan? Oh tidak tidak memang itu sudah benar kok. Max ingin Theo terbiasa menggunakan pedang supaya nanti jika bertarung sungguhan, Theo tidak akan kaku dalam mengayunkan pedangnya.
Ini juga sebagai bentuk latihan, bisa di bilang ini adalah latihan hidup dan mati versi biasa. Tentu saja versi sesungguhnya masih jauh didepan yang sedang menunggunya. Max serahkan tugas berburu hewan kepada Theo dan dia sendiri bertugas untuk mencari jamur liar, buah liar, dan juga tanaman herbal jika ada.
Mereka berdua berjalan semakin jauh kedalam dan ketika di dua cabang jalan mereka berpisah. Jika kalian bertanya kenapa tidak dari awal perjalanan untuk mengumpulkan bahan makanan? Maka jawabannya adalah tentu saja sudah habis, dengan porsi makan Max yang banyak dan Theo yang tidak ingin kalah, bagaimana mungkin mereka bisa mengumpulkannya? Kerjaan mereka saja hanya makan dan makan, tapi jangan salah, meski suka makan tubuh mereka tetap bagus kok, tidak gemuk sama sekali!
Wajarlah, karena Max dan Theo selalu berlarian, ntah itu karena mengejar hewan buruan atau mereka yang di kejar hewan buas. Sesekali Max akan mengajak Theo memanjat tebing untuk mengambil telur burung, atau menyelam ke sungai untuk mengambil ikan. Semua itu Max lakukan untuk memperkuat tubuh dengan dasar-dasar latihan.
"Baiklah, Theo! Kita akan bertemu lagi disini ketika hari akan gelap!" Max menerima sebuah keranjang besar dari Theo kemudian berjalan kearah kanan.
"Ya! Jaga dirimu jangan sampai kau mati di makan harimau!" Teriak Theo.
"Tenang saja, gurumu yang tampan ini bisa menjaga dirinya dengan baik, harusnya kau katakan hal itu pada dirimu sendiri, bocah!" Balas Max.
"Huhmp! Lihat saja, aku akan membawa hasil buruan yang banyak!"
Tanpa menunggu jawaban dari sang guru, Theo membawa karung yang telah disiapkan dan berbelok kearah kiri. Sepasang guru dan murid itu kini melakukan tugasnya masing-masing.
"Hm... Lumayan," Max memasukan satu jamur kedalam keranjang kemudian lanjut berjalan.
Sampai di pertengahan Max menemukan sebuah pohon apel yang telah matang buahnya, segera saja Sang Dewa Tertinggi itu memutuskan untuk memanjat pohon.
"Panen besar..!"
Dimulai dari yang teratas terlebih dahulu, Max memetik apel demi apel. Dia dengan lihai melompat dari dan satu ke dahan lainnya. Semua apel yang dia lihat selalu masuk kedalam keranjang di punggungnya.
Setelah semua apel di pohon bersih diambilnya, Max duduk di salah satu dahan paling bawah dan memetik apel terakhir kemudian mengigit nya.
"Hm? Manis," Apel merah nan besar itu dilahap habis olehnya, bahkan kini Max malah mengambil lagi dari keranjang. Tanpa terasa Max terus memakan apel itu sampai lima buah, itu doyan apa lapar ya?
"Baiklah, saatnya mencari yang lain."
__ADS_1
Dengan satu lompatan mudah, Max turun dari dahan dan kembali menelusuri hutan, mencari buah, jamur dan herbal. Semua yang dia temui selalu berakhir masuk di dalam keranjang, entah itu yang dia kenal ataupun tidak, Max akan memetik dan menyimpannya.
Dengan segera keranjang besar yang dia bawa telah penuh oleh buruannya. Dan itu baru di sadari Max ketika dia akan menyimpan sepuluh macam herbal muda.
"Apa? Bagaimana cepat sekali penuh?" Max menggaruk rambutnya dan berusaha berpikir mencari cara bagaimana dia harus menyimpan mereka semua. "Apa aku makan saja mereka? Tidak-tidak! Jika aku makan bagaimana untuk bekal nanti? Aiss apa yang harus aku lakukan."
Max mengacak rambutnya karena bingung, dia dengan rasa kesal mendudukkan dirinya sembarang "Harusnya tadi aku minta keranjang lebih banyak pada Theo!" Gerutu Max dengan kesal.
"Jika begini bagaimana aku akan menang dari tu bocah! Haaah... Apa yang harus aku gunakan?" Max menoleh ke sekitar berusaha menemukan apa yang dia butuhkan. Namun nihil, di sana hanya ada pohon dan rumput saja tidak ada barang yang bisa menampung semua jarahannya.
"Kau bisa menggunakan cincin ruang."
!
"Cincin ruang? Apanya yang cincin ruang! Dimana aku bisa menemukan beda itu di hutan belantara begini!" Max berkata dengan nada penuh keluhan, udah mah kesal karena tidak memiliki keranjang lebih, kini dia malah dibuat sedih. Rasanya Max ingin kembali menjadi Sang Dewa, yang dimana dia bisa memiliki apapun tanpa usaha. Menyesal? Oh jelas tidak! Max tidak menyesali keputusannya untuk menjadi manusia biasa, dia hanya rindu dengan kekuatannya, bukan rindu dengan tugasnya. Ingat itu!
"Tenang saja, kau hanya perlu mengambil cincin itu yang sudah aku siapkan," Kembali suara itu berkata.
"Pergilah kesebuah mata air terjun yang tidak jauh dari tempatmu sekarang, kau hanya perlu berjalan lurus kedepan."
"Haaaaaah....." Dengan setengah berat hati Max kembali berdiri lalu memakai kembali keranjangnya, kemudian berjalan lurus sesuai arahan dari suara tadi.
Benar apa yang di katakan, Max kini menemukan sebuah mata air terjun tidak lama setelah dia berjalan. Dengan sedikit tergesa Max menurunkan keranjang di punggungnya dan kemudian dia melompat ke air dengan semangat. Sejuknya air terjun itu mampu menghilangkan rasa lelah yang di rasa, Max berenang kesana kemari mengabaikan tujuan awalnya.
"Masuklah kebalik air terjun dan ambil cincin itu." Kembali Max mendengar suara di kepalanya.
Max berenang ke pinggir dan menyandarkan punggungnya di batu besar kemudian berkata "Berhenti memerintah ku, apa kau sudah tidak menghormati ku lagi, hm?"
"Tidak. Aku hanya membantumu saja," kembali Max mendapat jawaban.
"Yah' terserah, yang jelas. Aku masih ingin berendam," Max menceburkan seluruh tubuhnya di air.
Lama Max tidak mendapat jawaban dari suara tersebut, sampai Max kira tidak akan mendengarnya lagi. Namun belum sampai dia berkata suara itu kembali terdengar "Bilang saja bahwa kau malas untuk mengambilnya. Ya, Dewa."
__ADS_1
"..............."
Max terdiam cukup lama, seakan dia baru tersadar sekarang. Max mengusap wajahnya kemudian menaiki batu "Hahahaa memang kau yang paling mengerti diriku!" Max terkekeh geli. Dengan satu tangan menunjuk ke langit Max berteriak "Aku paling suka dirimu!"
"Kau menyebalkan!"
"Ha-ha-ha Baiklah-baiklah... Jadi aku hanya harus masuk dan mengambilnya saja kan?" Max berjalan kearah balik air terjun dan mulai memasuki mulut gua, ternyata didalamnya lumayan luas juga berbeda dengan pintu masuknya tadi.
Max terus berjalan semakin kedalam gua dan akhirnya Max tiba disebuah ruangan yang cukup luas, dan itu sedikit mengejutkannya.
Dengan mengucek matanya Max tidak percaya dengan apa yang dia lihat, "Apa aku tidak salah lihat?"
"Ambilah, semuanya sudah aku siapkan jauh hari."
"Haaah... Ntah kenapa melihat begitu banyak harta berkumpul di satu tempat, itu sedikit mengejutkanku," Max meraih sebuah kotak di atas batu dan membukanya, Cincin ruang. Benda kecil berwarna perak itu tersimpan dengan baik di dalam kotak.
"Simpanlah semua harta di sana, setidaknya, kau tidak perlu susah-susah untuk mendapatkan uang."
Max berjalan mengelilingi ruangan itu, disana terdapat banyak sekali harta yang tersimpan. Peti-peti bertumpuk dengan rapi, ketika Max mencoba membuka satu, dia menemukan peti-peti itu berisi koin emas, tanaman herbal, berbagai kitab jurus, pil dan senjata semuanya lengkap ada.
Sudut alis Max berkedut melihat isi peti-peti di depannya "Apa kau serius? Semua ini?"
"Ya, apa ada yang salah?"
"..............."
"Harga diriku terluka melihat ini! Aihh memang tidak salah, kini aku hanyalah rakyat biasa yang miskin, hiks! Sungguh menyedihkan."
Max mengusap sudut matanya yang tidak berair dan memakai cincin ruang untuk menyimpan semua harta benda itu didalam. Dengan begini, ruangan yang tadinya penuh akan harta, kini sudah kosong melompong tidak tersisa.
Max kembali keluar dengan pandangan kosong, bukan dia tidak bahagia mendapatkan barang berharga hanya saja, dia tidak percaya bahwa dia bisa mendapatkan semua itu dengan mudah.
Begitu saja?
__ADS_1