Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Keributan


__ADS_3

Siang dan malam mereka terus berjalan melewati padang rumput yang luas, tidak ada orang lain selain mereka berdua. Untungnya, persedian makanan yang mereka kumpulkan lumayan banyak, jadi mereka tidak perlu merasa kelaparan di perjalanan apalagi, ada koki hebat yang akan memasakkan makanan enak, siapa lagi kalau bukan Max.


"Guru berapa lama lagi kita akan di padang rumput ini?" Di sela-sela makannya Theo sempatkan untuk bertanya, pasalnya mereka sudah terlalu lama berada di tempat itu.


"Mana ku tahu."


"Hah?" Mendengar jawaban Max yang acuh tak acuh begitu membuat mulut Theo terbuka dengan lebar, ada apa dengan gurunya itu bahkan tempat tujuan mereka pun tidak tahu.


"Lili, berapa lama lagi sampai di tempat itu?" Max bertanya dalam hati agar Theo tidak menganggap dirinya aneh lagi. Sudah cukup kemarin dirinya tanpa sengaja berbicara dengan Lili dan di ketahui oleh Theo, alhasil dia di anggap seperti orang gila yang berbicara sendiri.


"Dengan kecepatan anda yang sekarang mungkin akan tiba pada dua hari kemudian."


"Dua hari ya?" Max mengelus dagunya dan berpikir sebentar apa yang harus dilakukan. "Theo apa kau sudah menguasai isi di dalam buku?"


"Eum sudah."


"Baiklah, sekarang kau bisa tunjukkan padaku," Max berdiri dan menyimpan kembali semua peralatan masaknya.


"Eh eh aku kan' belum selesai makan..!"


"Sudahlah, kita terlalu lama disini."


Dengan terpaksa Theo pun akhirnya merelakan makanannya disimpan oleh Max, dia dengan muka ditekuk mulai melakukan pergerakan sesuai dengan apa yang tertulis di buku.


Perlahan-lahan Theo mulai merasakan adanya energi disekitar tubuhnya, dengan menutup mata, Theo mengatur energi disekelilingnya untuk masuk kedalam tubuh kemudian dan dikumpulkan di satu titik di bawah dada dan mengubah energi tersebut menjadi Qi.


"Bagus, mari kita lakukan," Max mengubah energi disekitar untuk dijadikan sebuah Qi yang bisa meringankan tubuhnya. Dia dan Theo kini diselimuti sebuah Qi berwarna biru yang dimana Qi ini adalah atribut dari angin.


Karena Theo hanya mempelajari cukup sampai sini dan belum mempraktekkannya, jadi Max lah yang akan menunjukkan bagaimana caranya.


Perlahan-lahan Theo melihat Qi yang menyelimuti tubuh gurunya itu mulai teratur dan dengan sekali injakan ringan, Theo melihat tubuh Max mulai melayang dengan perlahan.


Mulutnya terbuka lebar melihat hal tersebut dia sungguh tidak percaya akan apa yang dia lihat. " Waaaah... Keren! Aku juga ingin!" Mengandalkan apa yang dia lihat Theo mulai mencobanya. Satu dua kali dia gagal namun yang ketiga kalinya dia berhasil melayang walau itu hanya beberapa detik saja. "Hebat..!"


"Oh," Max sungguh tidak menyangka bahwa Theo merupakan seorang jenius, di dunianya dulu saja jika ada orang yang ingin menguasai jurus meringankan tubuh ini maka orang itu harus berlatih selama setahun, jikapun jenius maka dia akan bisa dalam kurun waktu tiga bulan saja. Tapi apa ini? Theo hanya mampu melakukannya kurang dari waktu seminggu.


"HAHAHA Ini sungguh keren," Theo tertawa lepas ketika sudah bisa stabil melayang di udara, dia dengan penasaran mencoba kesana-kemari dan itu sungguh menakjubkan baginya yang hanya manusia biasa.


"Sudah cukup, kita akan melanjutkan perjalanan, jangan sampai tertinggal," Max melesat dengan kecepatan paling lambat yang bisa dia lakukan. Namun bagi Theo itu sungguh keterlaluan, kini dia di tinggal jauh dibelakang.


".... Apanya yang paling lambat? Jika kau bergerak saja secepat itu, haiss," dengan sedikit kesusahan Theo mengejar Max dibelakang. Samar-samar dia bisa melihat sebuah pergerakan aneh dari gurunya, karena penasaran dia pun mengikuti langkah yang di ambil gurunya.


"Apa! Dia bisa mengejar ku?" Karena tidak ingin dipermalukan oleh muridnya Max menambah sedikit lagi kecepatannya saat Theo akan berhasil mengejarnya.


"Itu? Apa guru sedang menunjukkan sebuah contoh padaku? Baiklah aku tidak akan mengecewakan mu!"


Akhirnya mereka berdua pun melesat dengan saling kejar-kejaran. Yang satu merasa sedikit malu bila muridnya bisa mengunggulinya dan yang satu lagi merasa bahwa gurunya sedang memberikan contoh padanya. Alhasil mereka pun melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh pandangan manusia biasa.


Dua hari kemudian, mereka tiba disebuah kota kecil di sebrang padang rumput ini. Max dan Theo berhenti agak jauh dari jarak gerbang kota, mereka melakukannya agar tidak dicurigai hal aneh-aneh.


"Akhirnya kita sampai kota juga, aku sudah bosan melihat padang rumput yang kering itu," ucap Theo dengan rasa penuh syukur.


...****************...


"Mengantri lah dengan teratur! Jangan menerobos barisan!"


"Semuanya dapat memasuki kota! Jadi jangan berdesakan!"


Para penjaga didepan gerbang berteriak dan mengambil kartu identitas untuk memasuki kota. Max dan Theo ikut berbaris di barisan pejalan kaki. Perlahan namun pasti, kini giliran Max dan Theo untuk memasuki kota.


"Tunjukan identitas mu!"

__ADS_1


Max celingukan ketika si petugas meminta kartu identitasnya, karena tidak punya dia hanya memberitahukan namanya saja.


"Jika tidak punya kartu identitas maka tidak boleh masuk kota! Selanjutnya!"


"Hei tapi aku harus masuk kota ini," Max tidak terima dan mencoba bernegosiasi, namun memang peraturannya jika tidak punya kartu identitas maka tidak bisa memasuki kota. Akhirnya, Max pun pergi dengan rasa kesal.


"Tunggu! Ini aku ada."


"Hm, Theodoric? Baiklah kau bisa masuk!"


Theo tersenyum dan menarik tangan Max "Dia bersamaku, kartu identitasnya hilang saat di perjalanan bolehkah dia ikut masuk?" Tanya Theo.


Si penjaga melihat Max dan Theo bergantian dan akhirnya memutuskan untuk mengijinkan mereka berdua masuk.


"Dari mana kau dapatkan kartunya?" Max bertanya ketika sudah didalam kota.


"Yaaah... Aku punya," seakan tidak ingin memberi tahu Max lebih detail, Theo menarik tangan Max kesebuah toko dipinggir jalan.


"Pak berapa manisan ini?"


Si penjual hanya mengangkat dua jarinya saja tanpa menjawab, dia hanya sibuk membungkus manisan di tokonya saja.


"Baiklah terima ini, dan ku ambil manisannya."


Kembali si penjual hanya mengangguk tanpa berbicara.


"Apa dia tidak bisa bicara?" Tanya Max penasaran.


"Entahlah, kau mau?" Max menerima manisan dari Theo dan memakannya. "Manis."


"Jadi, selanjutnya kita kemana?" Theo kembali memakan manisannya, matanya melihat-lihat sekitar dengan penasaran.


Suasana kota yang ramai tidak menghentikan Max dan Theo untuk berjalan-jalan di sekitar. Mereka baru kali ini menginjakan kaki di kota, jadi selain mencari penginapan Max juga memperhatikan keadaan disekitar. Siapa tahu dia bisa mendapatkan sedikit informasi tentang tempat tujuannya.


Dari kejauhan Max dan Theo melihat orang ramai-ramai berkumpul didepan sebuah warung, karena penasaran mereka mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Dasar sialan! Jika kau tidak bisa membayar hutang maka tutup saja warung mu!"


"Tuan beri saya waktu satu bulan lagi.."


"Sudah berapa kali kamu meminta waktu! Jika hari ini kamu tidak bisa bayar, maka warung mu saya sita!"


Max menerobos dan maju paling depan, disana dia melihat seorang pria tua yang sedang berlutut di tanah, sedangkan didepannya berdiri beberapa pria yang berpenampilan layaknya preman.


Si pria tua terus memohon minta waktu dan si preman tidak peduli, dia bahkan sudah memukul beberapa meja di sana hingga warung itu berantakan.


Salah satu dari mereka maju dan berbisik pada pria paling depan mungkin dia bosnya, entah apa yang dia bisikan namun hal itu mampu membuat si bos tersenyum licik.


Dengan pandangan merendahkan dia duduk di kursi yang telah anak buahnya siapkan, wajahnya terangkat dengan arogan, si bos berkata "Aku dengar, kau memiliki seorang anak gadis?" Sebuah seringaian dari si bos mampu membuat si pemilik warung gemetar ketakutan, apalagi kini dia membawa-bawa anak gadisnya.


Dengan suara gemetar si pemimpin berkata "Tuan, apa maksudmu?"


"Kau paling tahu apa maksudku! Anggap saja semua hutangmu lunas! Tetapi..." Si bos tidak melanjutkan ucapannya. Namun, siapapun tahu apa yang dia maksud.


"Mohon anda beri saya keringanan tuan, jangan bawa anak saya!" Pria tua itu bersujud dan membenturkan kepalanya beberapa kali bahkan kini keningnya mulai mengeluarkan darah.


Theo yang melihat hal itu tidak tega dia ingin menolongnya, namun tidak tahu harus berbuat apa. Dengan menarik sedikit ujung lengan baju gurunya Theo berbisik "Guru, bisakah kau membantu pria itu?"


"Tidak."


!

__ADS_1


"Apa? Tapi guru.."


"Tidak untuk sekarang! Kita lihat alurnya dulu," Max menghentikan ucapan Theo dan memperhatikan sekitar dengan serius. Banyak orang orang yang menonton namun tidak ada satupun yang berniat membantu. Mereka asik sendiri menonton si pria tua yang sedang ditindas oleh beberapa preman.


"Geledah tempat ini, dan temukan gadis itu!" Satu perintah dari si bos membuat anak buahnya segera menyebar ke dalam.


"Tidak! Tidak! Tuan jangan sentuh anak saya!" Sekuat apapun dia memberontak namun tenaganya tidak bisa melawan dua preman yang menahan tubuhnya.


Semakin lama Theo melihat semakin dia tidak tahan melihatnya, tanpa menunggu persetujuan dari Max, Theo berjalan kedepan dan menghadap pria yang akan memukul si pemilik warung.


"Anak itu!" Max hanya mampu menepuk jidatnya melihat sikap Theo yang tidak sabaran.


"Kau!" Si preman mundur sedikit kebelakang dan menatap Theo dengan tajam, dia memperhatikan Theo dari atas ke bawah lalu berkata "Ternyata hanya seorang bocah tengik."


"Lepaskan paman itu," tunjuk Theo pada pemilik warung.


"Apa? Lepaskan? Hahaha apa kau sedang bermain jadi pahlawan bocah tengik!"


"Aku bilang lepaskan paman itu!"


Si preman berjalan dan memutari Theo, ketika didepannya, tangannya menepuk-nepuk bahu Theo dengan mimik muka merasa kasihan si preman berkata "Pulanglah nak, aku tidak ingin kau terluka."


"Maaf paman, aku tidak akan pulang sebelum kau melepaskannya," Theo menyingkirkan tangan di pundaknya dan menjaga jarak.


"Huh?" Alisnya terangkat satu melihat sikap Theo barusan. Dia menyeringai dan kembali ketempat semula "Kau ingin aku melepaskannya? Jika kau bisa menang melawan salah satu anak buahku, maka akan aku turuti permintaanmu!"


Mendengar perkataan si bos, Theo tidak langsung menjawab dia hanya berdiri diam dan menoleh kearah Max, matanya menyiratkan agar Max membantunya.


Melihat hal itu, Max berpura-pura tidak melihat dan malah bersiul dengan santai. Mendapat reaksi begitu dari gurunya, Theo sedikit kesal. Dengan tekad bulat dia akan menolong pria tua itu meski tanpa bantuan dari gurunya.


"Baik, namun sebelum itu," Theo melihat kebelakang yang dimana anak buah si bos telah kembali dengan membawa seorang gadis yang seumuran dengan gurunya, tangannya terangkat dan menunjuk "Kau lepaskan dulu dia!"


"Hm?" Si bos melihat arah yang di tunjuk Theo, kemudian dia menyeringai melihat apa yang di maksud.


"Lepaskan mereka!"


...****************...


Kini Theo dan para preman itu berada di sebuah pekarangan yang lumayan luas di belakang warung. Beberapa dari warga sekitar pun turut hadir untuk menyaksikan pertarungan mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menyayangi tindakan Theo yang sok bak pahlawan, mereka mengasihani Theo yang hanya bocah berusia dua belas tahun yang akan jadi sasaran empuk para preman itu.


Bukannya apa, tapi preman-preman itu sudah terkenal di daerah sekitar. Sikapnya yang kejam membuat orang tidak berani untuk menyinggung mereka, bahkan polisi sekitar pun kebanyakan memilih untuk angkat tangan dibanding harus berurusan dengannya.


"Sungguh malang nasibmu nak."


"Huh, apa bagusnya bertindak bagai pahlawan! Lebih baik kau diam dan menonton saja!"


"Sungguh sayang, kau belum tahu betapa kejamnya mereka anak muda!"


Beberapa lontaran kata bisa didengar oleh Max, dia memperhatikan bagaimana para warga saling berkata. Sekarang dia tahu mengapa tidak ada yang datang membantu, itu karena memang preman-preman itulah yang mereka takuti.


Max melihat kedepan dimana di sana kini Theo sudah bersiap untuk melakukan duelnya.


"Apa kau sudah siap bocah?"


"..... Tentu!"


"Kalau begitu jangan salahkan aku bila nanti ibumu tidak dapat mengenali anaknya sendiri," si bos mengisyaratkan pada salah satu anak buahnya untuk maju.


"Jangan merengek minta ampun, bocah tengik!"


"Huhmp! Masih belum dapat dipastikan siapa yang merengek siapa!"

__ADS_1


__ADS_2