
Theo berpisah dengan Max dan mengambil jalan kiri, bocah kecil itu pergi berburu dengan semangat. Hal ini baginya adalah mudah karena sejak dulu dia selalu pergi ke hutan untuk berburu dengan ayahnya, banyak hal yang sudah dia pelajari dari sang ayah dan ilmu itu kini bisa dia gunakan.
"Hahahaa ini akan mudah sekarang," Theo menggali lubang untuk dia gunakan sebagai perangkap, dia memasukan beberapa kayu yang telah runcing ujungnya, kemudian menutup lubang itu dengan daun-daun kering.
Lanjut berjalan Theo kembali memasang jebakan, kini dia mengikat sebuah tali di batang pohon yang melengkung karena ditarik dan ujung tali lainnya dia ikat membentuk lingkaran. Theo menyimpan sisa daging di antara tali tersebut, dan ketika daging itu di makan, maka, si hewan yang memakannya pun akan terikat oleh tali.
Merasa idenya itu sangatlah bagus, Theo memasang jebakan hampir di setiap penjuru hutan. Sampailah dia disebuah sungai yang airnya lumayan dangkal, dengan rasa lelah Theo memutuskan akan istirahat disana, sambil istirahat Theo membuat sebuah pancingan dan mulai memancing ikan.
"YOOSSH! Semoga saja dapat banyak!" Theo melempar kail kedalam air menunggu untuk di makan.
Lama Theo menunggu akhirnya umpan yang dia lempar menunjukan tanda-tanda dimakan, dengan sekali tarikan Theo menarik kail itu dan mendapatkan satu ikan kecil.
"Hahahaa lumayan, meski tidak besar asalkan banyak itu sudah cukup," kembali dia melempar kail pancing.
Sambil merebahkan tubuhnya, Theo bersiul dengan ringan dia dengan sabar menunggu dan ketika kail di makan dia akan menariknya, berulang-ulang hal itu dia lakukan.
"Baiklah! Sekarang tinggal mengambil hewan buruannya."
Dengan rasa bahagia yang membawa sekeranjang kecil ikan, Theo berjalan kembali ketempat dimana ia menaruh jebakan.
"Waah... Ada satu!"
Satu jebakan yang dia pasang menangkap seekor kelinci gemuk, mungkin dia tidak sengaja menginjak tali saat sedang mencari makan. Segera saja Theo mengambil karung dan memasukan kelinci itu.
"Oke selanjutnya!"
Theo kembali berjalan menuju tempat kedua dan disana dia juga mendapatkan seekor anak kambing, dilanjut yang ketiga dia mendapat satu kelinci lagi, di jebakan yang ke empat dia mendapatkan seekor rusa dewasa yang sudah hampir sekarat.
"Ha-ha-ha! Ini namanya panen besar!" Theo mengangkat rusa dewasa itu dan berniat untuk kembali kejalan utama. Dia senang bukan hanya mendapatkan hasil buruan yang banyak, tapi dia juga senang karena tidak harus bertemu dengan hewan buas yang bisa membahayakannya.
"Hehe mungkin hari ini adalah keberuntungan ku," Theo terkekeh dan membayangkan bagaimana dia akan melihat wajah Max yang murung karena telah kalah buruhan. Dengan bangga bocah itu menggosok hidungnya dan mengangkat tinggi dagunya.
"Hehe sepertinya kau terlalu terlena dengan tangkapan mu bocah."
!!
"Siapa kalian!" Theo terkejut ketika tiba-tiba dari balik pohon muncul beberapa pria dengan wajah garang, mereka semua membawa senjata tajam di tangan mereka. Dengan rasa ketakutan Theo mundur beberapa langkah dan berniat kabur. Namun belum sempat dia berlari seseorang sudah berdiri dibelakangnya, kini dia terkepung di tengah mereka.
__ADS_1
Salah satu dari mereka yang sedikit berbeda dari penampilannya berkata. "Ha-ha-ha! Kau mau kemana bocah!?"
"Siapa kalian!" Teriak Theo dengan sedikit gemetar.
"Apa kau tidak tahu siapa kami?" Pemimpin dari kelompok itu maju kedepan, dia merentangkan tangannya dan berteriak "Kenalkan! Kami adalah Bandit Gunung yang bernama...!"
"Bandit!
"Gunung!
"Hitam!
"Manis!
Mereka berkata satu persatu dan membuat gaya yang.. 'keren?'. Si pemimpin yang berjubah hitam bergaya dengan tangan direntang badan di bungkuk, kemudian yang kedua pria berbadan kekar dan garang membentuk love dengan tangan di atas kepalanya. Di sisi kanan yang lebih kurus dia memegang lututnya dan kepala di angkat ke atas, lalu di sisi kiri pria yang botak bergaya sambil mengangkat satu tangan keatas, kepala menoleh dan kaki di buka lebar.
"SI PENAKLUK GUNUNG!"
"Gaya macam apa itu!" Theo merutuk dalam hati ketika melihat sekelompok pria tidak tahu malu didepannya. Sebenarnya mereka ini bandit gunung atau bukan sih? Kenapa tingkah mereka konyol begitu.
"Ha ha ha bagus! Bagus!" Dengan senyum canggung Theo bertepuk tangan, sudut mulutnya berkedut dengan keras.
"Bocah karena kau sudah memuji kami maka kau akan aku ampuni. Cukup kau serahkan daging rusa itu," Tunjuk si pemimpin.
Theo membuka mulutnya dengan lebar melihat tingkah mereka, awalnya dia pikir ini adalah akhir dari hidupnya tapi apa ini? Mereka bukannya bertarung malah ingin melepaskan ku? Hanya karena sebuah pujian singkat? Yang benar saja!
"O--oh tentu tentu! Sebentar," dari pada berkelahi Theo memutuskan untuk memberikan rusa tangkapannya dan segera melarikan diri, dia tidak lagi melihat kebelakang dan terus berlari mencari gurunya.
"GURU...! KAU DI MANA...?!"
...****************...
Max yang sedang berjalan sambil memakan apel dikejutkan dengan teriakan Theo dan disusul oleh pelukan hangat dari muridnya. Dia dengan datar melihat apa yang sedang Theo lakukan, bocah itu menangis hingga wajahnya jelek dan merengek bahwa nyawanya hampir saja melayang dari tubuh.
"Guru..! Guru..! Kau dari mana saja? Hiks... Kau tidak tahu bahwa muridmu yang paling tampan ini hampir kehilangan nyawa... Hiks... Slurrp," tanpa rasa bersalah Theo mengusap ingusnya pada lengan baju Max.
"Guru... Kau harus mencari keadilan untukku!"
__ADS_1
Tanpa memperdulikan curhatan muridnya, Max berjalan dengan santai dia kembali mengigit apel merah di tangannya. "Kau mau?"
!
"Guru! Aku ini sedang mengadu nasib padamu! Kenapa kau malah menawarkan apel padaku!"
"Yasud__!
"Huh! Dasar para bandit gunung sialan! Untung aku ini pintar kalau tidak... Udah habis aku," dengan mulut yang masih mengoceh dia mengambil apel di tangan Max dan memakannya tanpa malu dengan apa yang tadi dia ucapkan.
Max menatap Theo dengan datar kemudian meninggalkannya begitu saja di belakang.
"Untung mereka tidak mengambil semua buruanku! Eh? Guru kenapa kau meninggalkan ku!?"
"Kau lama!"
"AKU KAN!
"Oke cukup! Aku sudah dengar tadi," Max mengangkat satu tangannya menyuruh Theo berhenti bicara, dan sebagai gantinya dia kembali memberi muridnya satu buah apel.
"Makasih."
Hap!
Kini mulut Theo yang tadi terus mengoceh seperti burung beo itu akhirnya berhenti, sekarang perjalanan mereka menuju tempat semula dengan damai tidak ada lalat yang menghalangi jalan.
Sesampainya di pohon mangga di pinggir padang rumput Max dan Theo mengeluarkan semua hasil buruannya. Lebih tepatnya sih hanya Theo yang bersemangat menunjukkan hasil tangkapannya.
"Lihat! Lihat! Aku menangkap begitu banyak hewan bukan," ucapnya dengan nada bangga.
"Yah... Lumayan."
"Lumayan kau bilang? Huhmp! Milikku jauh lebih banyak dari pada punyamu!" Theo mengeluarkan satu persatu dari dalam karung.
"................." Max yang melihatnya hanya diam tanpa berkomentar sedikitpun. Jika dibandingkan dengan buruannya, milik Theo bahkan tidak ada seperempat dari hasil miliknya.
"Coba ku lihat hasil tangkapan mu," Theo berdiri dan mengambil keranjang milik Max. Mukanya berubah ketika melihat isi di dalam keranjang itu "Kenapa hanya 5 buah apel yang kau ambil?!"
__ADS_1
"Kau sudah memakannya di jalan, ingat?" Jawab Max dengan santai.
Mulut Theo terbuka namun tertutup kembali, dia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Dengan pandangan yang seperti ingin menelan orang, Theo kembali duduk dengan kasar.