Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Tapak penembus awan


__ADS_3

"Kalahkan dia dengan satu gerakan, Tono!" Teriak si bos.


"Siap bos!"


Tono bersiap akan memulai serangannya, dia tidak menunggu Theo lagi dan mulai berlari sambil mengayunkan tinjunya.


Bam!


Theo berhasil menghindar kini dia membalasnya dengan tendangan dan mengenai pinggang kiri Tono. Tono yang tidak terima kembali menyerang Theo tanpa henti, pukulan dan tendangan dia arahkan tanpa jeda sedikitpun. Namun tidak ada satupun yang berhasil mengenai Theo.


"Apa? Bagaimana mungkin?"


Semua orang tercengang melihat hal itu, yang mereka tahu Tono adalah salah satu preman paling kuat setelah Marco, si bos. Selama ini belum ada yang bisa menang melawan Tono, tapi apa sekarang? Theo yang masih berusia dua belas tahun itu mampu mengimbanginya.


"Berhenti menghindar bocah! Kalau kau berani terima pukulan ini!"


Theo menghindar sambil mendengus "huhmp! Hanya orang bodoh yang akan menerima pukulan mu!"


"Cukup main-main nya."


!


Theo yang mendengar suara Max sedikit terkejut dan menoleh padanya. Dia bisa melihat bahwa ekspresi gurunya itu begitu bosan. Mengerti akan sesuatu, Theo segera memfokuskan dirinya pada Tono dan menyerang dengan serius.


Dia berlari dan kali ini tidak menghindar lagi melainkan langsung menerima pukulan Tono dengan pukulannya. Angin kejut menerbangkan debu-debu disana, semua orang menutup matanya dan penasaran siapa yang menang.


Lima menit kemudian ketika debu sudah mulai reda, mereka semua sekali lagi dibuat terkejut. Kini diarena tanding terlihat satu orang yang sedang berlutut dan satu lagi yang sedang berdiri.


"Ini... Tidak mungkin..." Tono melihat Theo dengan tatapan tidak percaya, dirinya yang dikenal sebagai orang terkuat kedua setelah bosnya malah dikalahkan dengan begitu saja. Siapa bocah ini?


Marco yang melihat itu bahkan sampai berdiri saking tidak percayanya, preman berbadan besar itu memastikan pandangannya tidak salah. "Tono dikalahkan?" Katanya tidak percaya.


"Oh?" Max tersenyum melihat perkembangan muridnya itu yang mampu mengalahkan preman hanya dengan sekali pukulan.


Theo terdiam tidak percaya dengan hasilnya, kemudian tersenyum senang dengan mengangkat dagunya tinggi dia menunjuk dan berkata "Aku menang!"


"Sialan!"


"Tepati janjimu, dan bebaskan mereka!"


...****************...


Setelah Theo mengalahkan Tono dengan sekali pukulan, para preman menepati janjinya dan melepaskan si pemilik warung beserta anaknya.


"Terimakasih terimakasih tuan muda," si pemilik warung yang bernama Wili itu terus-menerus berterimakasih. Dia menyuruh anaknya untuk menyiapkan makanan. Dan disinilah Max serta Theo berada, mereka duduk di dalam warung dan menikmati makanan yang telah dibuat oleh Meli anak pak Wili.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati, tuan."


"Kalau begitu kami tidak sungkan lagi pak," berhubung mereka juga lapar jadi Max tentu saja tidak akan menolak rezeki yang datang. Dengan ditemani pak Wili, Max ngobrol-ngobrol dan menanyakan hal tenang The Rushers.


"The Rushers?" Tanya pak Wili memastikan. Matanya mengamati sekitar memastikan tidak ada yang mendengar perkataan mereka.


"Ya, apa bapak tahu?" Max memperhatikan raut wajah pak Wili yang seperti orang ketakutan, ada apa dengan The Rushers? Tempat apa itu?


"Untuk apa kamu kesana nak Max?" Pak Wili mencoba menghindar kontak mata dengan Max, dia sekarang terlihat seperti orang yang gugup dan ketakutan.


"Apa yang salah tentang tempat itu?" Sahut Theo yang sedari tadi diam menyimak. Theo juga memperhatikan wajah pak Wili yang tidak seperti biasanya.


Dengan rasa gugup pak Wili bercerita bahwa tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat berbahaya, semua orang tahu tentang tempat itu. Namun, tidak ada yang berani membahasnya bahkan untuk menyebutkan namanya saja mereka takut.


Dengan suara berbisik pak Wili berkata "Tempat itu dihuni oleh orang-orang yang kuat, mereka bahkan bisa meluluhlantahkan kota ini hanya dengan sekali ayunan saja."


"Jika kalian memang tetap ingin melanjutkan kesana, maka kalian bisa mengikuti peta ini," pak Wili menyerahkan sebuah peta yang dia ambil dari balik laci meja resepsionis.


"Aku sarankan kalian lebih baik mengurungkan niat untuk pergi ke sana."


"Tidak pak! Tujuan kami lebih jauh berbahaya jika dibandingkan dengan The Rushers, dia hanya tempat awal pijakan bagiku," sahut Max dan melihat peta di tangannya.


"..."


Melihat reaksi pak Wili, Max pun tidak ambil pusing. Dengan menyerahkan bingkisan kue pada Theo, dia berpamitan dan berjalan pergi.


"Sebenarnya tempat apa The Rushers itu?" Tanya Theo penasaran.


"Tempat yang akan mengantarkan kita pada tujuan."


...****************...


Beberapa jam kemudian Max dan Theo telah keluar dari kota, kini mere berjalan menuju gunung batu di belakang kota, sesuai dengan isi peta.


Gunung batu ini merupakan gunung yang memiliki tinggi tidak lebih dari dua ratus kaki, namun karena penuh oleh bebatuan tajam, gunung ini menjadi sulit untuk di lewati.


Apalagi jika melewatinya pada saat siang hari, maka batu batu itu akan terasa begitu panas, bahkan jika kau memakai sepatu yang tebal sekalipun panasnya akan tetap terasa.


Maka dari itu Max memilih untuk menaiki gunung batu ini pada hari mulai petang. Sambil menunggu malam, Max akan mengajari Theo satu jurus yang mungkin akan berguna dimasa depan.


Dia tidak ingin jika suatu hari Theo akan bertindak gegabah seperti tadi, dan untungnya preman yang dia lawan tidak sekuat yang orang orang katakan. Atau mungkin Theo lah yang sudah mampu mengimbanginya dengan jurus meringankan tubuh sehingga bisa menghindar dari setiap serangan.


"Jurus ini aku ciptakan dulu ketika sedang bosan, kau bisa menggunakannya meski tanpa bantuan kekuatan spiritual sekalipun.


Dalam jurus ini kau hanya perlu ketenangan batin dan pikiran untuk bisa menguasainya.

__ADS_1


Maka dari itu cobalah untuk mengosongkan pikiran mu terlebih dahulu!"


Max berkata dan menjelaskan setiap halnya pada Theo yang sekarang sedang duduk dengan gaya lotus.


"Kosongkan pikiran mu dan rasakan energi yang ada disekitar!"


Theo memfokuskan dirinya dan mencoba merasakan energi disekitarnya, tiga puluh menit kemudian barulah dia bisa merasakan energi yang dimaksud gurunya.


Tanpa membuka matanya Theo bertanya.


"Guru aku sudah bisa merasakannya, lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Oh? Coba kau satukan energi energi disekitar dan cobalah kumpulan di satu titik di tanganmu!"


"Seperti ini?"


"Ya! Seperti itu."


Max sekali lagi dibuat kagum oleh kecerdasan Theo, meski sikapnya kurang ajar dan cerewet tapi Theo termasuk orang yang pintar dalam belajar.


Theo membuka matanya dan melihat kini di telapak tangannya terdapat sebuah bola energi berwarna kuning.


"Woaaahh...!"


"Gabungkan dan ubahlah energi itu menjadi yin dan yang lalu fokuskan dan buat dia menjadi tajam."


"Baik."


Mengikuti arahan Max, Theo melakukan semuanya dengan sempurna.


Kini bola energi itu berubah menjadi sebuah cahaya yang begitu tajam.


"Buanglah!"


"..."


Tanpa menunggu dua kali, Theo melepaskan energi ditangannya pada sebuah pohon besar disana. Ledakan besar terjadi ketika serangan itu mengenai batang pohon bahkan ledakan ledakan selanjutnya masih terus berlanjut sampai pohon kesepuluh yang tumbang barulah ledakan itu berhenti.


Dengan mulut yang terbuka lebar, Theo menyaksikan sendiri bagaimana serangan yang dia buat begitu kuat dan daya hancurnya begitu menyeramkan.


Dengan rasa yang masih penuh kejutan Theo bertanya.


"Guru... Serangan macam apa ini?"


"Kau bisa menyebutnya dengan tapak penembus awan!"

__ADS_1


__ADS_2