Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Latihan malam


__ADS_3

Setelah menghabiskan semua makanan, kini Max dan Theo berdiri saling berhadapan bersiap untuk latihan malam. Meski di malam hari dan sedikit gelap, tapi itu tidak menghentikan Max untuk melatih dirinya dan juga Theo, apalagi ini bagus untuk mempertajam penglihatan.


"Baiklah, setelah kenyang tentu saja kita harus berlatih agar tidak gemuk."


"Baik, guru!"


"Latihan pertama kita adalah melatih ketajaman mata," Max mengeluarkan beberapa kerikil dari balik sakunya. "Kau lihat ini? Kerikil ini akan melukaimu jika kau tidak pandai untuk menghindar."


"Baik, guru!"


"Ambil 10 langkah kebelakang dan bersiap."


Satu


Dua


Tiga


Empat


Lima


Enam


Tujuh


Delapan


Sembilan


Sepuluh


"Saya sudah siap, guru!" Teriak Theo ketika sudah mengambil posisi.


"Bagus, sekarang menghindar-lah!"


Tanpa memberi aba-aba lagi, Max melemparkan kerikil ditangannya pada Theo. Setiap lemparan yang dia lakukan selalu menghasilkan suara sayatan yang tajam, hal itu dilakukan agar Theo tahu dimana arah batu itu berasal. Bukan hanya itu, hal ini juga akan membantu Theo dalam mengasah ketajaman indra pendengarannya.


"Ya!"


"Aduh!"


"Aaa!"


"Berhenti berteriak! Dan hindari mereka!" Max terus melemparinya tanpa memberi celah sedikitpun, Max ingin tahu seberapa lama Theo bisa bertahan dari serangannya.


Theo sendiri terus berusaha menghindar dari setiap lemparan yang Max lakukan. Dia dengan serius mulai mempertajam indra penglihatan dan pendengarannya, dan itu berhasil kini Theo mulai bisa menghindari setiap hujaman batu yang Max lempar.

__ADS_1


"Bagus! Bagus nak! Meski agak terlambat, tapi akhirnya kau tahu juga caranya," Max memuji ketika melihat pergerakan Theo yang mulai teratur dan bisa menghindari lemparannya.


Sambil terus menghindar, Theo berlari kedepan mengikis jaraknya dengan sang guru. Namun ternyata, hal itu tidak semudah apa yang dia pikirkan, ketika jaraknya sudah dekat maka Max akan berjalan kebelakang dan lemparannya-pun bertambah kecepatan.


"Hah... Guru! Sampai kapan ini hah... Berlangsung?"


"Baiklah, selesai!" Max mengakhiri latihan dengan melemparkan kerikil terakhir dengan sedikit keras dan itu sukses mengenai jidat Theo.


"YAAA! KENAPA KAU MELEMPAR LAGI?!"


"Salah sendiri kenapa tidak menghindar," Max berjalan kearah pohon mangga tempat mereka semula.


"Aiss! Huhu~ ibu! Theo mau pulang..!" Sambil meringis kesakitan dan berdrama sedikit Theo mengekori Max dan duduk berjauhan.


"Mendekat lah, aku akan memberi penjelasan sedikit tentang latihan kita selanjutnya."


Theo mendekat dengan tangan yang masih mengelus kepalanya, dia dengan patuh mendengarkan semua penjelasan Max. Theo ingin dengan ini, dia bisa menjadi kuat dan hebat seperti gurunya.


"Saat ini yang terpenting adalah berkultivasi. Metode kultivasi dibagi menjadi empat tahap. Aliran Bela Diri, Aliran Yuan, Aliran Spiritual, dan Aliran Mistik."


"Karena kau adalah pemula maka, kita akan mulai dari tahap yang paling dasar yaitu, Aliran Bela Diri."


"Besok pagi saat matahari baru muncul, kau akan melakukan latihan ini."


Max mengambil ranting dan menggambar pola kasar "Ini dan ini, kau harus bisa memperagakan nya."


"Angkat bokong mu! Luruskan kaki ke atas! Putar bagian sini!"


Semalam penuh, Max mengajari Theo dasar dasar dari Aliran Bela Diri, semua yang dia tahu telah ia ajarkan dengan baik.


Di bawah sinar rembulan, Theo dengan serius terus mengulang setiap gerakan yang Max contohkan.


Angin malam yang dingin tidak mampu mematikan api semangat dalam diri Theo, dia bersungguh-sungguh dalam berlatih. Dengan di awasi oleh Max secara langsung, pelatihan Theo berjalan dengan lancar, tidak ada tanda-tanda serangan hewan buas atau apapun. Max memperhatikan setiap gerakan Theo, sesekali dia akan mengomentarinya dan memukulnya jika dia ada salah dalam ambil gerak.


"Fokus! Pandangan lurus kedepan!"


Ditemani oleh sinar bulan dan suara hewan malam, mereka melalui hari dengan berlatih dengan giat. Tidak berhenti jika masih bisa bangun! Itulah yang selalu Max katakan.


Max sendiri tidak diam saja, sambil mengawasi dia ikut melatih dirinya dan memperkuat kekokohan tubuhnya.


Sebagai Sang Dewa Tertinggi di kehidupan sebelumnya, Max telah membuat banyak jurus-jurus hebat. Kultivasi-nya pun telah mencapai ranah terakhir Aliran Mistik. Ranah penggabungan Mistik. Tapi dengan tubuhnya yang sekarang ranah penggabungan Mistik terlalu jauh. Yang paling mendesak harus ber-Kultivasi kembali, dan mengokohkan dasar di aliran bela diri.


Aliran bela diri adalah latihan tahap pertama. Juga sebagai awal jalan, terbagi menjadi ranah pemindahan darah, ranah kondensasi Qi, ranah kelahiran tungku, dan ranah tanpa celah. Ini adalah empat aliran ranah aliran bela diri.


Terbagi menjadi empat lapisan, pemurnian kulit, tubuh, otot dan tulang. Ketika semua ini lengkap. Energi darah menjadi kuat, kulit dan tulang menjadi keras.


Max menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan-nya melalui hidung kemudian mulai melakukan gerakan pertama. Max membuat kuda-kuda dan menendang kedepan kemudian melenturkan tubuh kebelakang, tinju depan dan sikut samping, membungkuk melompat, Max ulang-ulang hingga mantap.

__ADS_1


"Oke Theo! Kemarilah."


"Ada apa?"


"Serang aku!"


"Apa!"


"Cepat lakukan."


Dengan mengambil langkah pasti Theo maju kedepan untuk menyerang Max, namun semua serangannya masih dengan mudah di tangkis olehnya.


"Perhatikan gerakan mu, dengan gerakan yang berantakan begini kau akan mudah dikalahkan," Max melintir lengan Theo kebelakang.


"Serang lagi!"


"Hiyyatt..." Theo kembali menyerang Max dan kali ini melakukan tendangan, Theo memutari tubuh Max dan menyerang dari belakang.


"Hm, meski cukup bagus dengan melawan dari arah buta, tapi itu masih belum cukup. Serang lagi!"


"Ulangi!"


"Jaga kepalamu dari serangan musuh!"


"Hindari tusukan jantung!"


Max memberi arahan di setiap tangkisannya, dan memberi tahu Theo dimana dia harus menjaga dan menyerang lawan dengan baik.


"Haah... Aku tidak akan kalah!" Berulang-ulang Theo menyerang Max dengan kekuatan penuh namun tidak ada satupun yang mengenainya bahkan sehelai rambut pun tidak.


"Mati!" Max mengakhiri latihan dengan serangan akhir yang mengarah pada leher Theo dan itu sukses membuat Theo berkeringat dingin.


Dengan menghempaskan lengan bajunya Max berbalik arah menuju pohon mangga "Kau masih perlu banyak latihan dan memperbaiki setiap langkah yang kau ambil," Tanpa menoleh kebelakang Max melanjutkan ucapannya "Serangan mu terlalu mudah dibaca, bocah!"


"Tsk! Sialan! Kau tunggu saja, suatu hari nanti aku akan mengalahkan mu!" tunjuk Theo.


"Huhmp! Jika kau masih hidup untuk melakukannya."


"Hah... Sunggul lelah," Theo tersenyum dan menatap punggung gurunya "Kau tunggu saja, suatu hari nanti... Aku akan membuatmu melihat punggung ku!"


"Heii! Tunggu!"


Tanpa rasa sungkan Theo merangkul bahu Max dan mulai mengoceh tentang apapun, dia bertanya tentang semua yang dia ingin tahu. Bahkan, sampai warna ****** ***** favoritnya pun dia ceritakan pada Max tanpa malu.


"................." Helaan nafas keluar dari mulut Max ketika Theo membahas hal yang tidak tahu malu.


"Berisik!"

__ADS_1


__ADS_2