Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Mengangkat murid


__ADS_3

Saat ini jamur Lingzhi yang Max olah barusan sudah berubah menjadi cairan dengan warna merah yang kental, lalu dengan perlahan Max mengarahkan api birunya yang masih membungkus cairan merah tersebut ke sebuah wadah yang sudah Max siapkan dan menuangkan cairan tersebut kedalamnya.


Max melihat dengan teliti cairan tersebut kemudian Max meminumnya dengan sekali teguk. Rasa panas menjulur ke seluruh tubuhnya yang mana ini di sebabkan oleh kotoran yang menumpuk dan kini kotoran itu sedang di bersihkan oleh cairan jamur Lingzhi tadi.


Max berkata dengan nada yang menahan sakit "Wah.. Apa ini salah satu yang mereka rasakan?" Jujur saja rasa panas dan sakit ini adalah hal yang baru bagi Max sebab sebelumnya dia tidak pernah merasakan apapun seolah dia sudah mati rasa saja dan kini Max merasa bahagia bisa merasakannya.


Sekian telah berlalu dan kini tubuh Max terlihat basah kuyup oleh keringat yang bau dengan menutup hidungnya Max pergi kebelakang untuk membersihkan diri lagi.


Max berjalan dengan perlahan dia takut membangunkan ibunya yang sedang tidur di kamarnya. Ketika sampai di kamar mandi Max dengan sigap memompa airnya terlebih dahulu, untung kemarin-kemarin Sandra sudah mengajarkan bagaimana caranya jadi sekarang Max tidak perlu meminta bantuan pada ibunya lagi. Setelah air di bak sudah cukup penuh Max segera menanggalkan pakaiannya dan memasukan tubuhnya kedalam bak mandi, meskipun ukuran baknya yang tidak terlalu besar tapi itu tidak masalah bagi Max.


"Hah... Setelah meminum cairan itu aku merasa sekarang tubuh ini sedikit lebih kuat di bandingkan dengan sebelumnya."


...****************...


Pagi harinya Max sudah bersiap di sebuah area yang cukup luas di dalam hutan Max akan memulai dengan berlari memutari area tersebut, di tangan dan kakinya sudah terdapat sebuah karung kecil yang berisi batu Max sengaja mengikat mereka di tubuhnya supaya mereka bisa membantu Max membangun otot-otot dan kekuatan dari kaki dan tangan.


Perlahan Max merentangkan tangannya terlebih dahulu dan membuat gerakan pemanasan setelah itu Max mulai berlari mengelilingi area luas tersebut. Namun baru saja satu putaran Max sudah merasa kelelahan mungkin tubuh ini dulunya tidak pernah melakukan olahraga sama sekali.


Dengan terus memaksakan dirinya Max akhirnya tumbang di putaran ke lima, Max merebahkan tubuhnya yang lelah di atas rumput.


"Hah.. Hah.. Tubuh ini terlalu lemah," Max mengangkat tangannya dan melihat bahwa tangannya itu bergetar dengan hebat.


"Baru lima putaran saja tubuh mu ini sudah tidak kuat bahkan untuk berdiri pun kamu harus berusaha."


"Sejak kapan kau disana bocah?" Tanya Max tanpa menolehkan wajahnya. Sebenarnya Max sudah tahu jika di area tersebut tidak hanya dirinya seorang melain ada satu orang lagi.


"Huhmp, Kenapa kau selalu memanggilku dengan bocah! Asal kau tahu saja kau ini juga masih seorang bocah!"


Max berusaha untuk duduk dan menoleh pada anak kecil yang tidak lain adalah Theo itu dan menyuruhnya untuk duduk " Baiklah baiklah, jadi ada perlu apa kau disini?"


"Sudah aku bilang jadikan aku muridmu," jawab Theo.


"Kau ini gila atau apa hah! Kau lihat sendiri tubuhku ini begitu kecil dan lemah bagaimana bisa aku menjadi gurumu?"


"Tapi.. tapi.. Aku bisa melihat bahwa kau bukanlah orang yang lemah maksudku aku bisa melihat bahwa kau memiliki kekuatan yang besar namun entah kenapa kekuatan itu seakan terkurung di bagian terdalam tubuhmu," Theo berkata dengan tangan saling bertaut dan pandangan yang menurun.

__ADS_1


Deg


Max terdiam mendengar perkataan Theo barusan, apa yang dikatakan Theo adalah benar bahwa dia bukanlah orang yang lemah dan juga kekuatan aslinya memang tersegel Lili pernah memberitahunya sebelumnya. Namun sekarang, bagaimana mungkin anak kecil ini bisa tahu itu semua?


Max menatap Theo dan berusaha mencari celah disana siapa tahu kan bocah ini hanya mengarang cerita saja.


"Theo," Panggil Max dengan nada yang serius.


Theo yang dipanggil mengangkat wajahnya dan berkata "Apa kau bilang? Bilang apa kau barusan? Theo? Apa aku tidak salah dengar? Wah... Ini kali pertama kau memanggilku dengan namaku," Theo malah heboh sendiri hanya karena Max tidak memanggil nya bocah lagi.


"Tsk! Kau ini! Berhentilah bertingkah hanya karena aku memanggil namamu saja bocah," Kesal Max.


"Hei! Hei! Kau baru saja memanggil namaku dan sekarang kau sudah memanggilku dengan bocah lagi? Huhmp! Dasar kau menyebalkan!" Theo melipat tangannya dan membuang muka ke arah lain.


Sudut bibir Max berkedut melihat tingkah Theo yang kekanakan, memang tidak salah Max memanggilnya dengan sebutan bocah.


Max menghela nafas sebentar berusaha menenangkan dirinya kemudian berkata "Baiklah cukup sekarang aku ingin bertanya padamu, bagaimana kau tahu kalau aku memiliki kekuatan besar yang tersembunyi didalam tubuhku?"


"Huhmp! Tentu saja aku tahu," Theo masih membuang mukanya dan tidak mau melihat ke arah Max "Kau ini berbeda dengan orang yang pernah kutemui, didalam tubuhmu aku bisa melihat kekuatan tersembunyi itu,"


"..................."


"Jadi, bisakah kau menjadikan ku muridmu?"


Sepertinya Theo ini orang yang tidak akan pernah menyerah sebelum keinginannya di turuti. Max melihat Theo sekali lagi dan memikirkan semua perkataannya barusan, jika memang Theo bisa melihat kekuatannya bisa jadi suatu hari nanti dia juga bisa membantunya untuk melepaskan kekuatannya yang tersegel.


"Hm.. Baiklah. Mulai sekarang kau akan ikut berlatih denganku!" putus Max.


"Wah... Benarkah? Kua serius?" Melihat Max yang menganggukkan kepalanya Theo dengan gembira mengangkat tangannya dan berteriak kegirangan "Asyik..! Akhirnya aku bisa menjadi muridmu."


"Ekhem!"


!


"Murid memberi salam pada guru!" Theo dengan terburu-buru menyatukan tangannya ala pendekar dan memberi hormat pada Max.

__ADS_1


Max mengulas senyum melihat Theo memberi salam padanya dengan begitu dia bisa menindas bocah tersebut.


"Baiklah tugas mu yang pertama sebagai murid adalah ambilkan aku makanan."


"Baik."


"Theo ambilkan aku handuk!"


"Baik."


"Oi bocah! Ambilkan aku air!"


"Ini guru."


"Ambilkan aku__


"Theo__


"Oi bocah__


"Ambil ini__


"Angkat itu__


"Theo__!


"Berhentilah menyuruhku dasar sialan!"


!


"Aku ini muridmu bukan pelayanmu! Mengapa aku harus menuruti semua keinginanmu? Kau lakukan saja sendiri! Aku cape!" Theo berteriak dengan kesal ketika dirasa dirinya malah seperti dijadikan pelayan oleh Max, dia lelah di suruh ini dan itu.


"Hei bocah bukankah itu juga salah satu abdi mu padaku?"


"Apanya yang abdi? Pantat mu yang abdi! Seluruh keluarga mu abdi! Sialan aku benar-benar kesal sekarang!" Theo merebahkan tubuhnya yang penuh oleh keringat akibat melakukan semua tugas yang di suruh Max padanya.

__ADS_1


__ADS_2