Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Tertampar kenyataan


__ADS_3

Max berdiri dan menatap sosok gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu memiliki sepasang mata yang berwana merah bagaikan batu Ruby, dia mengenakan pakaian yang sederhana seperti kaos oblong dan celana pendek saja, di punggungnya terdapat tas besar yang melebihi besar tubuhnya.


Max memiringkan kepalanya dan memperhatikan gadis didepannya dengan pandangan heran lalu berkata "Siapa kau?"


"Ah' maaf, kenalkan namaku Bella," dia menyodorkan tangannya dan mengajak Max untuk bersalaman.


Max mengacuhkan tangan yang terulur didepannya "Aku tidak menanyakan namamu, yang ku tanya siapa kau?"


Bella tersenyum dan menurunkan tangannya "Aku Bella."


"Sudah aku katakan aku tidak menanyakan namamu!"


Bella hanya menggaruk rambutnya dan tidak tahu harus berkata apa, bukannya jika ada yang bertanya siapa kau maka jawabannya tentu saja seperti tadi? Lalu di bagian manakah yang salah?


"Siapa kau?" Max kembali bertanya ketika tidak mendapatkan jawaban dari gadis didepannya.


Bella berpikir sebentar kemudian berkata "Aku bukan siapa-siapa yang hanya seorang penjelajah hutan biasa," Bella berucap dengan hati-hati takut jawabannya salah lagi.


"Oh bukan siapa-siapa rupanya," Max bersiap untuk pergi namun urung karena mendengar suara gadis itu lagi.


"Anu maaf apa boleh aku mengambil sisanya?" Tanya Bella.


Max melihat tumpukan sisa daging serigala itu dan kembali menatap Bella "Ambilah." Max berlalu begitu saja berniat mencari Theo dan mengajaknya pulang.


"Tunggu! Sebelumnya terimakasih dan... " Bella dengan ragu-ragu melanjutkan "Siapa namamu?"


"Mereka menyebutku, Sang Dewa Tertinggi."


"Apa?" Bella terus memperhatikan punggung pria yang mengaku bernama Sang Dewa Tertinggi itu sampai dia berbelok dan tidak lagi terlihat.


"Sang Dewa Tertinggi? Aku akan mengingat namamu," Bella tersenyum dan kemudian mengibaskan tangannya sekejap tumpukan sisa tulang serigala itu hilang tanpa sisa, Bella melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


...****************...

__ADS_1


"Apa kau sudah berhenti mual, bocah?" Tanya Max ketika sudah dapat menemukan keberadaan Theo.


"Ini semua gara-gara kau!" Sarkas Theo.


"Gara-gara aku?" Max menunjuk hidungnya "Kapan aku 'melakukan'nya?"


!!


"Sialan! Siapa yang bilang kau melakukan 'itu' padaku!?" Theo hampir tersedak oleh nafasnya sendiri ketika mendengar perkataan Max yang begitu ambigu.


"Sialan! Jika ada orang lain yang mendengarnya mungkin mereka akan salah paham," gerutu Theo dan berusah menjaga jarak dari Max.


"Kenapa kau menjauh?" Max mencium ketiaknya "Meski sedikit kurang enak setidaknya tidak sampai membuat orang menjauhiku."


Max kembali mendekat pada Theo dan sekali lagi Theo mengambil jarak.


"BERHENTILAH! Kenapa kau terus mendekatiku!?"


Max tersenyum dan kembali mengikis jarak diantara mereka dan


Satu jitakan mendarat dengan mulus di kening Theo yang membuat sang empu meringis kesakitan "Berhentilah bertingkah seperti anak gadis, kemarikan tanganmu biar aku memeriksa nadi mu."


Max dengan paksa menarik tangan Theo kemudian memeriksa nadinya, Max menutup matanya dan menyalurkan tenaga dalamnya dan memeriksa kedalam tubuh Theo. Dimulai dari darah, urat dan ototnya serta tulang-tulang dan semua organ dalam Theo Max periksa satu persatu.


"Hm?" Theo menatap tangannya yang sedang diperiksa oleh Max dan bisa merasakan panas yang menjalar di tubuhnya "Apa yang kau lakukan? Kenapa tubuhku terasa begitu panas?" Ucap Theo disela-sela giginya.


?!


Seakan tersadar Max segera membuka matanya dan menarik kembali tenaga dalamnya, dia lupa Theo ini hanya manusia biasa yang tidak akan mampu menahan kekuatannya. Tapi, Max juga heran kenapa Theo tidak hangus terbakar setelah merasakan kekuatannya?


"Aduh! Sakit tahu!" Theo meniup-niup tangannya yang melepuh di tempat Max tadi menyalurkan kekuatannya "Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan hah? Aduh aduh panas..!"


Max memperhatikan Theo sebentar sebelum berkata dan berbalik pergi "Tidak ada, lupakan saja. Mari kita pulang."

__ADS_1


"Ck! Kenapa bisa melepuh begini? Sebenarnya apa yang sudah guru sialan itu lakukan padaku," Theo bergumam sambil mengikuti Max dibelakang.


"Ambil ini," Max menyodorkan satu buah pil pada Theo.


"Apa ini? Bukan racun kan?" Theo menyipitkan matanya dan mengambil pil tersebut.


"Entahlah. Buang jika kau tak mau," Max mengangkat bahunya acuh.


Dengan mengendus baunya sebentar Theo memutuskan untuk menelannya. 5 menit kemudian tangannya yang memiliki luka bakar yang melepuh itu kini sudah sembuh.


"I--ini?" Theo membalikan tangannya dan bulak balik memperhatikan Max didepannya dia tidak percaya bahwa pil pemberian gurunya itu bisa seefektif ini.


"Lima menit? Masih jauh dari yang aku inginkan." Max berkata dengan pelan kemudian memilin poni depannya.


Theo mempercepat langkahnya dan mensejajarkan dirinya dengan sang guru "Ekhem! Guruku yang terhormat, bisakah anda mengajari ku cara membuat pil seperti mu?" Theo tersenyum dan berkata dengan nada yang lembut.


Dengan mendelikan matanya ke arah Theo Max mencibir "Dengan bakat mu yang buruk itu kau tidak akan bisa menjadi seorang Alkimia. Apalagi ingin menjadi seperti ku yang sangat luar biasa ini."


Mendengar perkataan Max sudut bibir Theo berkedut dengan keras "Cih! Sungguh narsis," akibat kesal Theo berjalan mendahuluinya.


"Hey apa kau sedang merajuk seperti anak gadis?" Max kembali meledek Theo.


Jleb satu anak panah tak terlihat menembus Theo ketika dia mendengar ledekan Max.


"Jika kau terus bertingkah layaknya anak gadis yang manja, tidak akan ada yang mau menikahimu."


Jleb sekali lagi Theo seakan tertusuk panah mendengar ledekan Max.


"Theo, kau ini seorang lelaki meski kau tidak setampan dan seberwibawa aku, tidak seharusnya kau bersikap begitu. Lihatlah dan contoh gurumu ini, bukan hanya tampan dan kuat tapi aku juga sangat bermartabat."


"Sudah-sudah aku tidak sanggup lagi mendengarnya," Theo berjalan dengan lesu.


"Kenapa lagi dengan anak itu?" Max bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Yah.. Mungkin dia merasa tertampar oleh kenyataan."


!


__ADS_2