
Melihat wajah Theo yang seperti ikan kakap yang mulutnya buka tutup begitu, membuat Max mendengus di tempat. Awalnya Max tidak ingin memberitahukan penemuannya tapi Max kasihan juga pada Theo.
"Nih ambilah,"Max menyerahkan cincin di jari manisnya dan di terima dengan baik oleh Theo.
"Apa ini?" Tanpa sengaja Theo mampu mengeluarkan semua isi didalam cincin tersebut, dan itu sukses membuatnya melongo karena terkejut. Ada dua hal yang membuatnya terkejut, pertama adalah bagaimana dari cincin sekecil itu dapat mengeluarkan banyak harta, dan yang kedua adalah kenapa dia bisa melakukannya.
"Ii--ini bagaimana ini mungkin..?!" Theo masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat, berulang kali dia melihat cincin ditangannya dan tumpukan harta didepannya.
Setelah menenangkan dirinya, Theo berdiri dan berjalan ke salah satu peti dan membukanya. Cahaya emas yang keluar dari sana mampu membuat dia menutup matanya dan setelah beradaptasi sebentar, Theo membuka matanya dan melotot melihat banyak emas didalam peti yang ia buka. Dengan tangan gemetar dia mengambil satu dan menggigitnya.
!
"Ini... Emas sungguhan?" Theo terdiam tidak bisa berkata apapun, dalam dua belas tahun dia hidup, baru pertama kali ini dia melihat emas yang begitu banyak. Dengan menggelengkan kepalanya, Theo mengusap air yang tiba-tiba turun dari sudut matanya, dia terisak di tempat badannya gemetar saking bahagianya.
"..................."
Max menatap Theo dengan bingung dia berdiri dan berjalan mendekat, kemudian menepuk punggungnya. "Ada yang salah?"
Sebelum menjawab Theo sempatkan untuk menghapus air matanya dan menatap sang guru. "Hiks... Apa kau gila?"
"Hah?"
"Dari mana kau dapatkan ini semua... Jangan bilang kau habis merampok orang kaya?" Tuduh Theo dengan suara yang masih senggukan.
Tak!
Bukannya menjawab Max malah menjitak kepala Theo dan mengambil kembali cincinnya, dengan sekali lambaian semua harta itu masuk kembali. "Kau terlalu banyak berpikir, ini belum sebagian dari hartaku dulu."
"Hm? Bukankah kau tidak punya apa-apa?" Dengan menggaruk pipinya Theo mencoba mengingat tentang harta Max yang mungkin pernah tidak sengaja dia lihat waktu main kerumahnya. Namun sebaik apapun dia mengingat, dia tidak ingat pernah melihat harta sebanyak ini.
"Sudahlah jangan terlalu ambil pusing, mari bersiap kita akan pergi sekarang," Max sempatkan untuk memetik semua mangga di pohon dan menyimpannya di cincin ruang, dia juga meminta semua hewan buruan Theo untuk disimpan didalam cincin.
"Praktis juga," celetuk Theo melihatnya.
"Ayo!"
Max berjalan dengan Theo disampingnya, mereka terus berjalan menyusuri padang rumput yang luas itu, sesekali mereka berhenti untuk makan.
Ketika bulan sudah berada tepat diatas kepala mereka berhenti dan memutuskan untuk istirahat, tidur.
"Kenapa berhenti?"
__ADS_1
"Apa kau ingin tidur di padang rumput ketika matahari sedang terik-teriknya?"
"Tidak."
"Yasudah, kita tidur disini," Max menggelar kain dan berbaring tanpa memperdulikan Theo lagi.
"Kita tidak membuat tenda?"
"................"
"Baiklah," karena tidak mendapatkan jawaban dari Max, Theo pun segera berbaring agak jauh di sampingnya. Dengan posisi tidur yang menghadap langit, Theo mengangkat tangannya dan berusaha menggapai bintang di atas dan mengepalkan tangan.
"Tunggu saja, suatu saat nanti aku pasti bisa menggenggam mu!"
"Diam dan tidurlah."
Mendengar teguran Max yang bernada dingin itu Theo hanya menghela nafas dan segera memejamkan matanya.
Mereka berdua kini tidur dengan berselimut langit malam yang penuh bintang, ini adalah pertama kalinya Max merasakan tidur tanpa alas begini dan itupun di alam liar.
...****************...
"Hm, belum bangun juga? Masa bodo yang penting perut kenyang dulu," Max melahap masakannya tanpa menunggu Theo bangun, dia dengan asik terus makan tanpa memperdulikan orang lain.
Sampai siang hari barulah Theo bangun dengan heboh, bocah berusia dua belas tahun itu berteriak dan berlari kesana-kemari sambil mengatakan 'panas'. Dia baru berhenti ketika hidungnya mencium bau yang lezat, perutnya keroncongan dengan hebat, matanya mencari kesekitar dan menemukan Max yang sedang asik memanggang ikan.
"AAAARRRRGGGGHHH! Kenapa kau tidak membangunkan ku..?!" Theo berlari dan merebut satu ikan kemudian memakannya dengan lahap.
".................."
"Kau sendiri yang tidur seperti orang mati."
"Nyam nyam nyam nyam"
"Cepat habiskan makananmu, lalu kita lanjut berjalan."
Theo hanya mengangguk dan mengangkat jempolnya lalu lanjut kembali makan. Tidak menunggu lama, Theo pun berjalan menghampiri Max.
"Yok berangkat!" Dengan tangan penuh oleh makanan, Theo berjalan duluan asik sendiri dengan makanannya.
Sepanjang jalan itu mereka tidak merasakan apapun apalagi Theo yang masih anak kecil, dengan sikapnya itu dia sering kali berlarian kesana-kemari. Meski sudah diingatkan untuk tetap menjaga tenaganya, tapi Theo yang notabennya masih anak kecil itu hanya mengangguk, perkata Max hanya angin lalu yang masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.
__ADS_1
"Haaaah... Kapan ini berakhir guru? Aku sudah tidak kuat..."
"Guru... Apa masih ada air?"
"Guru aku lelah..."
Theo terus mengoceh mengatakan ini dan itu, dia tidak seperti orang yang kelelahan saja.
"Berhenti bicara jika memang kau lelah."
"Huh... Ini panas sekali.." Theo mengusap keringat yang mengalir dari dahinya, dia menyandarkan kepalanya pada pundak Max.
"Diamlah! Kita akan segera sampai," Max lelah bukan hanya karena dia harus menggendong Theo, tapi dia juga lelah karena terus mendengarkan ocehannya.
"Simpan tenagamu dan berhentilah berbicara, aku juga lelah kau tahu?"
"Haah... Tapi kau masih sanggup berjalan bahkan ketika menggendong ku pun."
"................" Aku pun terpaksa melakukannya.
"Guru... Tubuhmu sejuk sekali, apa yang kau lakukan?"
"................" Kau masih saja mengoceh meski sudah begini?.
"Guru... Apa kau bisa mengajariku juga?"
"................" Berjalanlah sendiri baru aku akan mengajarimu!.
"Guru... Mengapa kau diam saja?"
"................" Aku lelah.. apa ada seseorang yang bisa membantuku?.
Max sungguh tertekan sekarang, masa iya dia yang seorang Dewa harus menggendong anak kecil? Apalagi kini dia terus saja mengoceh tanpa henti. Tubuhnya memang lemah karena lelah tapi kenapa mulutnya tidak pernah lelah untuk berkata.
Sebenarnya manusia macam apa yang dia pungut? Sekarang rasanya dia sedikit menyesal telah menerimanya sebagai murid.
Apa aku tinggalkan saja? Tidak-tidak, bagaimana pun dia juga telah menjadi muridku. Lalu apa aku masukan saja dia dalam cincin? Tapi apa itu bisa?
"Hmm?"
"................." Ada apa dengan guru?
__ADS_1