
Siang hari di hari yang sama.
Max bangun lebih dahulu dibandingkan Theo, pemuda itu bangun dengan rasa nyeri di bagian punggung mungkin karena posisi tidur yang kurang nyaman apalagi dia tidur begitu saja di antara bebatuan. Untungnya hari tidak terlalu cerah jika sampai itu terjadi, bisa dipastikan seberapa panas suhu batu ini.
Berjalan sedikit kedepan Max dapat menemukan sebuah air sungai kecil yang lumayan untuk mandi. Setelah bersih dan segar, Max memanggang beberapa ikan untuk sarapan atau lebih tepatnya makan siang.
Beberapa jam kemudian, Theo bangun karena mencium bau ikan bakar yang menggoda, dengan sekali lihat saja dia tidak bisa menahan air liurnya. Padahal, hanya ikan bakar biasa, tapi apapun jenisnya jika itu sudah ditangan Max maka lain lagi cerita.
"Cuci dan bersihkan mukamu dulu, Theo."
Max membalik satu ikan dan yang lainnya. Mengambil daun kemudian menaburkan sedikit bumbu penyedap.
"Nih, makanlah!"
Mengusap bibirnya dengan tangan, Theo memakan ikan bakar dengan riang, persia seperti ikan yang diberi air. Berenang sana-sini.
Jika dipikir-pikir selama perjalanan ini, Max seperti seorang ayah yang mengasuh dan membesarkan anaknya, tidak tampak seperti guru dan murid.
Meski tidak begitu benar, namun memang hal itu tidak salah. Selain mengajarkan dasar dasar kultivasi dan teknik bertarung, selebihnya Max hanya memberi makan anak itu saja.
Lagipula dengan kepadatan qi di tempat tandus seperti ini sedikit sulit jika harus mengajarkan sesuatu yang lebih rumit. Jadi Max memilih teknik yang menurutnya tidak terlalu sulit meski dengan qi yang sedikit.
"Selanjutnya kita kemana?" Tanya Theo.
"..."
Melihat peta ditangannya, Max menyebutkan satu nama yang membuat Theo menghentikan gerakan makannya.
"Apa tadi ???" Theo mengorek kupingnya dengan jari memastikan pendengarannya.
"Kota hujan."
Max menjawab dengan tegas. Dia berjalan dengan mantap tidak ada keraguan sedikitpun didalam langkahnya, tidak memperdulikan Theo, Max tetap lanjut berjalan menuju satu arah di depan.
"..."
Mengikuti Max dibelakang, Theo mengenang ingatan buruk yang tiba-tiba muncul kembali setelah ia berusaha payah untuk melupakannya.
__ADS_1
...****************...
Di sebuah kota yang tidak pernah merasakan musim lain selain hujan, terlihat beberapa lebih tepatnya lima orang yang sedang mengepung sebuah rumah di bagian paling luar kota.
Rumah yang tidak terlalu besar dan memiliki cat berwarna putih itu sebagian sudah hangus dilahap api, meski di kota itu sering turun hujan tapi entah kenapa hujan itu tidak mampu untuk memadamkan api.
Lima orang yang tadi mengepung rumah itu kini berkumpul dibawah sebuah pohon yang ada disana. Mereka berpenampilan sama, berpakaian sama yang menutupi seluruh tubuh mereka dan hanya menyisakan bagian mulut saja. Berpakaian sama namun beda warna
Jika dilihat lihat, terdapat dua perempuan dan lima laki-laki, terlihat dari postur tubuh dan bentuk mulutnya.
"Merah, seperti keluarga ini tidak ada yang selamat."
Si baju biru menyampaikan informasinya yang telah menyusuri area belakang rumah.
"..."
"Dan aku pun tidak menemukan jejak orang lain disana."
Kata si kuning.
"..."
Kata si hijau yang di benarkan oleh si pink.
"..."
Ketu dari kelompok itu menghela nafas barat, kemudian si merah berkata. "Kalau begitu ...
Robohkan rumah ini!"
"BAIK ! ! !"
Jawab mereka serentak dan berpencar menjalankan perintah.
"..."
Si merah hanya diam menyaksikan bagaimana para saudara/i nya bekerja. Dia melihat sekitar dan memang tidak ada hal yang mengganjal dari kebakaran rumah tersebut.
__ADS_1
Sepertinya entah memang sengaja ada orang yang membakarnya, atau mungkin ... Rumah itu terbakar sendiri.
...****************...
Beberapa jam kemudian.
Max dan Theo akhirnya tiba di kota hujan, berbeda dengan kota sebelumnya. Kini, Max dan Theo tidak dimintai tanda pengenal, mungkin karena hujan jadi tidak ada yang menjaga gerbang.
Berjalan di guyuran hujan yang lebat, Max menghampiri seorang pedagang kaki lima dan bertanya.
"Maaf, apa kau tahu The Rushers?"
"..."
Bukannya menjawab, si pedagang malah buru-buru mengemasi barangnya setelah terdiam sesaat. Dengan panik si pedagang berkata "Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!"
"..."
"Ada apa dengannya?" Tanya Theo ketika pedagang itu lari begitu saja.
Max mengangkat bahu "Ayo!"
Kali ini Max bertanya pada seorang ibu-ibu yang ada didepan rumahnya. Namun, hal yang sama kembali terjadi, si ibu segera masuk dan mengunci rumahnya, satu hal yang dia katakan "Aku tidak tahu!*
"..."
Entah sudah berapa warga yang mereka tanyakan namun tidak ada satupun yang menjawab selain "Aku tidak tahu!". Meski sedikit kesal namun Max tidak menyerah, dengan berjalan semakin masuk kota akhirnya dia menemukan titik terang dari seorang kakek-kakek.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu, dan aku sarankan lebih baik kau urungkan niatmu itu ...
Tapi jika kau memang terdesak, kau bisa pergi ke pusat kota dan cari bangunan tertinggi dengan patung 5 orang di atasnya.
Aku pergi dulu, jangan tanya hal ini lagi pada orang lain."
"Terimakasih kek," Max dan Theo membungkuk dan mempersilahkannya pergi.
Memandang dikejauhan Max berkata "Satu langkah menuju tujuan!
__ADS_1
Ayo!"