Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi
Masakan Pertama


__ADS_3

Max mempelajari semuanya dengan tekun dia mengingat bahan dan alat yang sudah di jelaskan oleh Sandra.


Kini Max mulai akan belajar memasak dengan dipimpin oleh Sandra, pertama-tama Max mengambil sayuran kol lalu mencucinya disebuah baskom lalu Max mengambil pisau dan talenan kemudian mulai memotong nya sesua arahan dari Sandra.


"Tidak-tidak bukan begitu caranya Max," Sandra mengambil alih dan memberikan contohnya.


"Kau mengerti?"


"Ya."


Max kembali bersiap untuk memotong sayuran kol yang sudah dibagi dua oleh Sandra, kali ini Max melakukannya dengan sangat hati-hati. Max menyipitkan matanya dan dengan perlahan pisau di tangannya mendarat di atas kol.


Krek~


Satu potongan telah Max lakukan dengan benar, Berulang-ulang Max lakukan hal yang sama dan itu cukup membuat Sandra yang melihatnya tidak sabaran.


"Max jika kau lakukan dengan perlahan seperti itu, mungkin kau butuh waktu seharian untuk memasak," Tegur Sandra.


"..................."


Seakan tidak mendengar teguran Sandra tadi Max terus memotong kol tersebut dengan perlahan. Namun tidak lama kemudian gerakannya yang lambat perlahan-lahan bertambah cepat dan akhirnya Max memotong kol tersebut dengan gerakan yang sangat cepat bahkan Sandra yang sempat menguap akibat melihat gerakan Max yang lambat kini dia tercengang melihat kecepatan Max memotong kol itu.


"Ini...?"


"Max... Kau?," Sandra tidak tahu harus berkata apa melihat Max yang kini sudah selesai memotong kol, Max sendiri tersenyum dengan bangga kala potongannya itu sangat rapi sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Selanjutnya, apalagi bu?"


"......... Lakukan hal yang sama pada Wortel ini," Sandra menyerahkan 3 buah wortel yang sudah di cuci kepada Max.


"Tentu."


Max menerima wortel di tangan Sandra dan kembali mengulang potongannya, sama seperti sebelumnya Max melakukannya dengan gerakan perlahan dan kemudian bertambah cepat.


Kini tidak butuh waktu yang lama karena Max hanya satu sampai dua potongan saja yang perlahan.


"Apalagi?"


"Potong ini."


"Lalu?"


"Kupas ini."


"Selanjutnya?"

__ADS_1


"Ini."


"Mana lagi?"


"Yang ini."


"Lalu?"


"Yang itu."


"Lalu?"


"Yang ini."


"Selanjutnya?"


"......................"


"Selanjutnya?"


"......................"


"Ibu?"


"......................"


"Kenapa?" Dengan polosnya Max hanya bertanya kenapa dengan posisi kepala yang miring ke kanan.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan Max?" Sandra balik bertanya.


Max menggelengkan kepalanya dan menjawab "Tidak, memangnya apa yang sudah aku lakukan?"


Sontak saja jawaban Max itu mendapatkan helaan nafas kasar dari Sandra, sungguh Sandra tidak tahu jika anaknya itu memiliki bakat dalam hal memotong, lihat saja, kini semua bahan masakan di dapur semuanya sudah terpotong dengan rapi dan simetris oleh Max tidak ada satupun dari mereka yang terlihat berbeda.


Sandra akui jika Max lebih hebat dalam memotong, dia saja jika memotong wortel tidak akan serapi itu mungkin akan ada bagian wortel yang tebal sebelah atau tipis sebelah, tapi itu semua tidak ada yang Sandra temukan dari sayuran yang telah Max potong, bahkan, sayuran kol pun tidak ada yang berbeda mereka semua sama persis, begitu rapi.


"Aku baru tahu kau hebat dalam hal ini max," Sandra tersenyum tidak tahu harus bersyukur apa tidak.


Max yang mendapatkan pujian dari ibunya itu tersenyum dengan bangga dan menepuk dadanya "Huh tentu saja, Yang Mulia ini sangat hebat."


Setelah berkata dengan bangga dan memuji dirinya sendiri itu Max kembali melanjutkan memotong timun yang tersisa.


"Bagus! Semuanya sudah selesai."


Max menaruh potongan timun terakhir di tempat temannya berada.

__ADS_1


"Ibu sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Sebelumnya biarkan aku bertanya padamu. Masakan apa yang ingin kau buat pertama kali?"


"Hmmm karena aku suka dengan tumis jamur tiram maka aku ingin masakan pertamaku ini adalah nasi goreng."


".................." Sudut mata Sandra berkedut mendengar perkataan Max, apanya itu tadi? Bukankah jika dia suka dengan tumis jamur tiram seharusnya makanan itulah yang jadi masakan pertamanya, tapi apa ini dia malah ingin nasi goreng yang menjadi masakan pertamanya.


"Kenapa nasi goreng?" Tanya Sandra penasaran.


"Karena aku ingin," Max hanya mengangkat bahu dengan santai tidak memperdulikan Sandra yang ingin memukulnya akibat terlalu greget dengan sikap Max.


"Pusing aku Max dengan sikapmu yang ini," Sandra menghela nafas dan memijat keningnya yang terasa pusing. Max hanya menatap ibunya itu dengan tatapan polos dan kembali mengangkat bahunya.


"Hah.... Baiklah," Sandra mengibaskan tangannya dan menyuruh Max untuk menyalakan apinya terlebih dahulu.


Max mengangguk kemudian mengambil kayu bakar dan memasukannya kedalam tungku kemudian tangannya membuat segel dan bersiap untuk menyalakan api.


"Pengendalian__!


"Apa yang kau lakukan Max."


Max terkejut ketika mendengar suara Sandra, dia hampir saja mengeluarkan api birunya. Max lupa jika sekarang dia tidak bisa dengan leluasa mengeluarkan kekuatannya itu jika Sandra melihatnya apa yang harus Max lakukan bagaiman caranya dia untuk menjelaskan semuanya pada Sandra.


"Kenapa kau malah melamun Max? Dan untuk apa pose mu itu? Bukankah aku menyuruhmu untuk menyalakan api?"


Lagi-lagi Max terkejut dan dengan tergesa-gesa Max berdiri kemudian mengitari dapur mencari barang yang bisa menghasilkan api.


"......................" Sandra merasa heran dengan tingkah Max yang seperti cacing kepanasan meminta air. Dia hanya menyuruh Max untuk menyalakan api tapi apa yang Max lakukan membuatnya keheranan.


"Berhentilah Max! Kau ini sedang mencari apa?" Sandra yang tidak tahan melihat Max yang sibuk sendiri akhirnya bertanya dan itu sukses membuat Max menghentikan kegiatannya, dengan cepat Max menghampiri Sandra yang tengah duduk di salah satu kursi dan berdiri didepannya dengan nada malu Max bertanya "Itu.. Bagaimana cara ketika kau menyalakan apinya?" Max menggaruk tengkuknya dan mengalihkan pandangan ketika Sandra menatapnya dengan alis berkerut "Aku tidak tahu cara melakukannya," Max berkata dan membalikkan badanya memunggungi Sandra.


"Pfftt Ahaha," Sandra tertawa mendengar penuturan Max yang malu-malu.


"Dasar kau ini," Sandra menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju tungku kemudian mengambil sebuah korek dan menunjukannya pada Max.


"Kau lihat ini? Korek ini bisa menghasilkan api, kemarilah aku akan menunjukkan caranya padamu."


Dengan menahan malu Max berjalan mendekat ke arah Sandra dan melihat bagaimana ibunya itu menyalakan api.


"Kau bisa mencobanya, Max."


Max memperhatikan korek ditangannya dengan seksama, dia awalnya heran bagaimana kotak hitam itu bisa mengeluarkan api ketika benda kecil yang mirip tongkat namun dalam versi kecil didalamnya di gesekan dengan tubuh kotak tersebut. Dengan mantap Max menggesek benda kecil itu dan akhirnya kini di ujung tongkat kecil itu menyala.


Max mengambil wajan dan menuangkan sedikit minyak ketika dirasa sudah panas Max mulai memasak. Kali ini Max lakukan dengan benar sesuai arahan dari ibunya. Bau harum yang menggoda tercium di seluruh ruangan ketika Max mengangkat masakan buatan pertamanya.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga..!" Max berkata dengan penuh kebahagiaan dia dan Sandra mulai menyantap nasi goreng itu. Sandra lagi-lagi dikejutkan dengan bakat Max ini, ternyata dia juga pandai dalam hal memasak, Nasi goreng yang dia buat memang enak namun itu akan kalah jika dibandingkan dengan nasi goreng yang Max buat.


"Masakanmu sangat enak Max, sekali lagi aku baru tahu bakatmu ini."


__ADS_2