
3 hari berlalu dengan begitu saja, kini Max dan Theo sudah bersiap untuk meninggalkan tempat kelahiran mereka itu, dipunggung mereka terdapat sebuah tas yang membawa semua keperluan mereka saat di perjalanan.
Sebenarnya tidak banyak yang mereka bawa selain baju untuk ganti sehari-hari, selain itu tidak ada lagi. Untuk makanan sendiri mereka bisa memetiknya ketika di hutan dan ketika di kota mereka bisa menjual beberapa yang mereka ambil saat di hutan.
Max berjalan dan memeluk Sandra "Kau tenang saja, aku tidak akan melupakan mu. Aku berjanji, jika nanti aku sudah cukup kuat aku akan membawamu pergi bersama ku," bisik Max pada Sandra dan berusaha meyakinkan wanita yang kini menjadi ibunya itu untuk mempercayai ucapannya.
"Tentu... Tentu ibu akan selalu menunggu nak," Sandra mengecup kepala Max berulang kali, ingin rasanya Sandra menolak kepergian Max namun dia juga tidak ingin egois untuk menahannya. Apalagi kini sandra tahu yang menempati tubuh anaknya ini adalah seorang Maha Dewa dulunya, dia yang manusia biasa tidak akan mungkin menentang keinginannya.
"Pergilah... Ibu akan selalu mendoakan mu," Sandra melepas pelukan dan menghapus air matanya.
Max mengambil tangan ibunya dan menciumnya "Aku akan segera kembali, jadi kumohon tunggu aku sebentar," Max berbalik dan berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi "Ayo Theo! Jika kau lama aku akan meninggalkan mu."
"Hey sebentar! Ibu aku pergi dulu jika nanti aku masih hidup aku akan kembali untuk menemui mu! Sampai jumpa lagi bu..!" Theo melambai dan segera berlari menyusul Max yang sudah jauh didepan.
"Lama sekali," cibir Max.
"Berisik!"
"Kau tidak lupa untuk membawa pedangmu kan?"
Theo menunjukan pinggangnya yang terdapat sebuah pedang kayu disana "Mana mungkin aku meninggalkannya."
"Percepat langkahmu kita akan menemukan sebuah gua sebelum malam tiba."
Max dan Theo terus melanjutkan perjalan sesekali mereka akan berhenti untuk memetik buah untuk dimakan, kadang pula akan ada serangan hewan buas seperti serigala dan rusa. Untuk modelan serigala liar Max menyerahkannya pada Theo itung-itung itu sebagai latihannya, dan jika mereka bertemu hewan yang cukup kuat mereka akan berlari menghindar jika Max sedang malas bertarung.
__ADS_1
"Kita akan bermalam disini saja," Max memasuki sebuah gua dan mengitarinya memastikan gua itu kosong tidak ada yang menempati.
"Haaah... Lelahnya..." Theo menyimpan barang-barangnya dan merebahkan tubuhnya begitu saja tanpa alas "Aku lapar," gumamnya yang masih didengar oleh Max.
"Bangunlah, bersihkan dirimu dulu. Aku menemukan sebuah mata air didalam gua, kau bisa mandi disana," Max datang membawa peralatan memasaknya.
"Baiklah."
Selepas kepergian Theo, Max mulai berkutat dengan alatnya, dia sekarang akan memasak untuk mereka makan, kebetulan tadi di jalan mereka menemukan sebuah kambing hutan yang cukup gemuk. Max berniat akan memasak sop kambing untuk malam ini.
Pertama Max nyalakan apinya terlebih dahulu kemudian dia memotong-motong daging kambing untuk di jadikan steak dan kepalanya akan dia rebus dijadikan sop.
Asap mengepul memenuhi seluruh ruangan dalam gua yang menyebabkan dimana pandangan Max sedikit terganggu, dengan kesal Max meniup asap tersebut hingga batu-batu disana berterbangan.
"Ya! Ya! Ya! Bagaimana bisa kau meleleh? Theo! Cepat kau mandi dan ambil panci baru!" Max kalang kabut mencari pengganti panci itu sampai batu-pun dia pukul pukul hingga berkubah dan dijadikan wadah sop pengganti panci.
"Haisss! Repot jika begini, dimasa depan aku harus membuat panci dari bahan yang kuat," Max terus mengaduk sop kambingnya hingga matang.
"Waaaah... Kau masak apa? Baunya sampai tercium kedalam," Theo menghirup aroma sedap itu dan mengelus perutnya yang sedari tadi terus berbunyi.
"Nih! Ambil bagian mu," Max menyerahkan satu wadah kecil untuk Theo sedangkan sisanya dia yang makan. Theo yang tidak terima segera menghabiskan semua bagiannya dan ikut mengambil lagi berebutan dengan Max. Akhirnya sop kambing yang banyak itu habis hanya dalam waktu singkat oleh mereka.
"Ah'kenyang nya..." Theo mengusap sisa di mulutnya dan ikut menyender di samping Max.
"Tidak! Aku masih lapar!" Max mengelus perutnya yang buncit dan bersendawa dengan keras namun masih bisa mengatakan bahwa dia masih lapar.
__ADS_1
Steak yang dia panggang sudah habis terbawa angin tadi, dan sisanya terbakar oleh apinya.
"Kau saja yang berburu, aku ngantuk ingin tidur," tanpa merubah posisinya, Theo tertidur begitu saja.
"Tsk! Sialan!" akhirnya karena lelah Max pun ikut tidur disamping Theo.
...****************...
Besoknya mereka melanjutkan perjalanan sesekali akan berhenti untuk makan dan istirahat. Namun sejauh ini, mereka tidak bertemu dengan bandit gunung dan semacamnya.
Sebenarnya itu hal yang bagus mengingat dimana dalam kelompok Max yang jumlahnya tidak sampai tiga kepala itu masih jauh dari kata kuat. Jangankan untuk melawan bandit gunung, melawan hewan buas saja mereka harus lari tunggang-langgang. Itu sih beda lagi cerita kalau Sang Dewa Tertinggi sudah bertindak, tapi yaaah apalah daya sang Dewa kita ini menjadi pemalas orangnya.
"Guru, kau belum mengatakan padaku tujuan kita yang sebenarnya," Theo menebas ilalang yang menghalangi jalan dan bertanya pada Max, sekedar untuk memecah keheningan di antara mereka saja.
"Kau akan tahu pada saat waktunya," Max menjawab persia seperti jawaban Lili dulu padanya.
"Mengapa bisa begitu?"
"Ya bisa saja, jika aku berkehendak!"
"Ck! Dasar menyebalkan!"
"Berhenti mendumel! Lanjutkan jalanmu jangan sampai kita terlambat akibat jalanmu yang lelet!" Max mendahulu Theo sambil meraih sebuah apel dan memakannya.
Mata Theo berkedut dan kembali mendumel tentang sikap Max yang sembrono. Apanya yanga berwibawa? Apanya yang bermartabat? Semua itu tidak ada jika melihat dari sikapnya yang begitu sembrono itu. Jika tampan... Mungkin Theo akan mengakuinya bahwa Max memang termasuk golongan orang yang tampan. Dan kuat? Hmmmm mungkin dia juga kuat jika dilihat dari auranya, namun ya itu, gurunya tersebut tidak pernah serius jika bertarung bahkan lebih banyak menyuruhnya untuk maju ke medan perang sendirian, dianya mah malah santai-santai saja.
__ADS_1