
"Tapak penembus awan? Nama yang cukup bagus!"
"..."
"Pergi cari beberapa kayu dan buatlah api, aku akan menangkap beberapa ayam hutan." Max berkata sambil berjalan ke arah hutan.
"Bukankan kita memiliki beberapa kue kering?"
"..."
Melihat Theo yang memiringkan kepalanya dengan bingung, Max tidak bisa tidak berkata kasar. Memangnya beberapa kue kering itu cukup untuk mengganjal perutnya? Lagian itu hanya kue cemilan bukan makanan utama.
Tanpa menjawab pertanyaan Theo, Max kembali lanjut berjalan. Tidak terlalu jauh masuk kehutan hanya di pinggiran saja tapi Max sudah bisa mendapatkan empat ekor ayam.
Kembali dan melihat Theo sudah selesai dengan tugasnya, Max menyerahkan dua ayam lainya pada Theo dan memintanya untuk bantu membersihkan.
"Campur dengan ini." Max memberikan satu botol kecil yang berisi bubuk putih pada Theo.
Dengan mengambil botol itu Theo berkata dengan malas.
"Apa ini??"
"Racun."
"..."
Mendengar jawaban Max yang tak acuh, entah kenapa itu membuat Theo merasa ingin memukulnya. Apa tadi? Racun? Apa b-jingan gila itu ingin membunuhnya? Omong kosong suci!
"Cepatlah dan panggang ayam itu!"
"Ya, ya, ya, sabar sedikit napa bos!"
Dengan rasa malas dan tak peduli Theo mengoleskan bubuk putih itu pada seluruh bagian ayam, menusuknya dengan ranting yang lumayan kuat lalu memanggangnya.
Bau harum khas ayam bakar menyebar dengan cepat yang mampu membuat siapa saja yang menciumnya akan meneteskan air liur. Apalagi Theo orang yang sangat dekat dengan aroma bau itu, bocah kecil berusia 12 tahun itu tidak mampu untuk menahan air liurnya.
"..."
Melihat air liur Theo yang bercucuran mampu membuat sudut bibir Max berkedut. Max tahu bahwa dia lapar tapi seharusnya tidak sampai sebegitu nya. Dasar Foodie!
Mengabaikan Theo, Max mengangkat ayam miliknya kemudian menaruhnya diatas daun yang sudah dia siapkan. Dengan memotong kaki dan tangan Max memakannya dengan khidmat.
__ADS_1
!
"AAAARRRRGGGGHHH..!.!.!"
Max melihat Theo yang berteriak kesakitan dengan santai, tanpa niat untuk membantu. Max hanya makan sambil menonton Theo yang berguling-guling kesana-kemari.
Beberapa waktu berlalu, kini Theo tidak lagi berteriak kesakitan. Dia hanya diam terlentang dengan napas yang ngos-ngosan, keringat telah membasahi seluruh tubuhnya.
Mengumpulkan sedikit kekutan, Theo mencoba bangkit untuk duduk dengan susah payah. Melihat Max yang masih asik makan dengan tenang, Theo tidak bisa tidak mengutuk dalam hati.
'B-jingan gila ini!'
"..."
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Max berkata dengan nada yang polos. Sudut mulut Theo berkedut cukup keras, dengan membuang mukanya dia bergumam.
"Tidak seharusnya aku percaya padanya!"
"..."
Malam harinya.
Max dan Theo berjalan saling bergandengan tangan, meski tidak ingin namun itu salah satu hal untuk mencegah salah satu dari mereka tergelincir dan jatuh.
Max berjalan didepan dan menuntun Theo untuk mengikuti setiap langkahnya. Satu saja Max salah mengambil jalan, maka mereka berdua bisa mati akibat terpeleset dan jatuh kebawah.
Apalagi selain bebatuan di gunung, dibawah dan sekitarnya juga banyak terdapat batu-batu tajam.
"Jalan perlahan."
Max berbelok ke kanan dan menarik Theo untuk bisa memanjat.
"Kenapa tidak kita lakukan saat siang hari saja? Jika berjalan dengan penerangan yang minim begini bukankah akan lebih sulit dan berbahaya?"
"Tentu saja apa yang kamu katakan tidak salah, Theo. Tapi kamu harus ingat! Berjalan diatas batu pada siang hari yang begitu panas. Menurutmu ...
Apakah kau sanggup berjalan dan melewatinya?"
Max terus berjalan dengan hati-hati. Sesekali dia akan melirik kebelakang melihat posisi Theo.
__ADS_1
"Tapi ... Bukankah kita bisa menggunakan jurus meringankan badan?"
Theo masih belum menyerah dan kembali berkata. "Seharusnya itu tidak tampak begitu susah ... Kan?"
"..."
Mendengar perkataan Theo yang begitu impulsif, Max hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Max terus berjalan sampai akhirnya mereka berdua sampai diatas puncak gunung batu.
"Kita akan istirahat sebentar untuk makan, setelah itu kita akan melanjutkan turun gunung."
Max mengeluarkan daging ayam yang sempat dia awetkan sebelumnya, membagi dua dan memakan bagiannya.
Theo menerima daging dari Max kemudian ikut duduk didepannya, dengan mengigit daging ditangannya, Theo berkata.
"Apa kita tidak akan tidur malam ini?"
"Kita akan tidur ketika sudah sampai di bawah."
"..."
Tanpa berkata lagi, Theo diam memakan makanannya. Kali ini dia akan mendengarkan perkata Max meski sedikit rasa malas.
"Ayo!"
Ketika dirasa sudah cukup istirahat dan makan, Max dan Theo kembali melanjutkan perjalanan dan kali ini mereka akan menuruni gunung batu ini, jika bisa sebelum matahari terbit mereka harus sudah sampai di bawah.
Sama seperti sebelumnya ketika mendaki, Max berjalan didepan dan Theo akan mengikuti langkahnya. Bukan karena apa, tapi memang gunung batu ini terkenal akan kesulitannya entah itu naik ataupun turun.
Banyak orang yang meremehkan gunung batu ini namun pada akhirnya mereka hanya bisa menyesalinya. Bukan hanya bidangnya yang sulit dilewati, tapi gunung batu ini memiliki ketajaman yang lumayan di setiap batunya.
"Argh ... "
Hampir saja terjatuh jika bukan Max yang segera menangkap tangannya, Theo mengusap keringat yang mengucur di dahinya.
Dengan sekali tarikan dari Max, Theo kembali ke posisi awalnya semula.
"Hati-hati."
"Ya, terimakasih guru!"
Beberapa waktu kemudian akhirnya mereka sampai juga di kaki gunung, dengan melepas lelah begitu saja mereka membuang tas di punggungnya dan segera merebahkan diri tanpa memilih tempat yang lebih aman dulu, mungkin karena terlalu lelah dan mengantuk.
__ADS_1