
Udara malam terasa begitu dingin, menusuk hingga menembus kerasnya tulang. Hembusan angin yang bertiup lembut membuka kembali memori-memori using masa kecilnya. Masa dimana ia bebas bermain dan tertawa ceria tanpa beban dan kesedihan. Memang miris jika kenyataan terlalu dalam disimpan hingga tak dapat muncul ke permukaan, memperlihatkan bagaimana kenyataan menggores luka sekaligus bahagia di hati dan jiwa. Ini bukan masa lalu yang teramat pahit, tapi tentang masa lalu yang begitu manis namun memilih pergi dan menghilang tak berjejak. Bukan inginnya memang, tapi garis takdir Tuhan yang tak dapat ditebak pada akhirnya akan membawanya pada suatu kenyataan yang akan menyakiti suatu hari nanti.
La Tahzan, janganlah bersedih. Percayalah Allah lebih tahu mana yang terbaik bagimu. Itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
"Bu, Tami punya saudara nggak sih?" Tami memandang wajah teduh wanita yang duduk di sampingnya dan seperti dugannya, raut wajah tenang itu berubah seketika. Seharusnya ia tidak mengajukan pertanyaan konyol itu.
Tami menghembuskan nafas lamat-lamat lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seperti biasa, malam ini Tami dan ibunya duduk di teras rumah sambil menatap langit yang berhiaskan indahnya bulan dan ribuan bintang yang bersinar amat cerah. Ciptan-Nya yang begitu anggun nan mempesona adalah satu dari sekian banyak fasilitas duniawi yang melengkapi keindahan dunia yang fana ini, namun begitu seringkali tak menyadari semua itu dan melupakannya.
Tak segera mendapat jawaban, Tami mencoba menoleh, mata bulatnya yang berwarna hitam pekat mencoba menelisik kembali perubahan ekspresi wajah wanita berusia kepala lima yang biasa ia panggil ibu. Kentara sekali si ibu sangat terkejut mendengar pertanyaan anak semata wayangnya, namun cepat-cepat ia merubah mimik wajahnya, ia takut keterkejutannya terbaca oleh si anak.
"Kamu ngomong apa sih, nak?" tanyanya. Ekspresi terkejut di wajahnya ia buat semeyakinkan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan baru yang akan membongkar sebuah rahasia yang telah tersimpan rapat selama bertahun-tahun. "Kamu kan tahu, ya hanya kamu satu-satunya anak ibu. Anak yang penyanyang dan paling berbakti di dunia." sambung ibu. Tangan tuanya terulur untuk mengusap kepala Tami yang tertutup khimar dengan lembut dan penuh kasih.
Di rumah yang cukup besar ini, mereka hanya tinggal berdua. ibu dan si gadis bermata bulat, Tami Nurul Sabrina.
Kepala Tami menoleh, bola matanya perlahan mengecil tertutup kelopak mata seiring dengan senyuman manis yang coba ia hadirkan di wajah. Ia tahu pertanyaannya sedikit banyak menyinggung hati dan perasaan ibunya tapi rasa ingin tahu akan masa lalunya seringkali membuatnya penasaran dan rasa penasaran itu semakin membuncah saat ia tanpa sengaja bertemu gadis yang sangat mirip dengannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan kata Clara, sahabat dekatnya, mereka berdua bak pinang dibelah dua.
"Maaf ya, bu. Tami nanyanya aneh-aneh." ujar Tami merasa bersalah.
"Iya, nggak apa-apa, sayang. Ibu sangat mengerti rasa penasaran kamu. Tapi apa yang penting sekarang adalah menjalani kehidupan saat ini. Masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran untuk menjalani hari esok, bukan untuk dikenang."
Ibunya selalu sebijak ini dalam menasihati, membuat rasa penasaran yang sekejap tadi singgah di benaknya seketika lenyap. Memang benar apa yang dikatakan orang, bahwa nasihat seorang ibu bagaikan air yang menyirami hati anak-anaknya, membawa kesejukan dan ketenangan batin. Tami memeluk lengan ibunya dan menyandarkan kepalanya disana. Sesekali seperti ini, mengenang masa kecil di pekatnya malam terasa menghangatkan relung jiwa yang butuh kedamaian.
"Masuk yuk, udah malem nih, besok kan kamu jadwalnya shift malem. Mana hawanya dingin lagi."
"Ibu duluan saja deh. Pemandangan langit lagi bagus, sayang kalau dianggurin."
"Ya udah jangan lama-lama, nanti ada yang ngambil anak ibu lagi."
"Ah, Ibu. Mana ada yang mau ngambil anak Ibu ini, suster ngesot? mana tega dia sama teman seprofesi."
"Ya, kali aja ada cowok ganteng yang mau nyulik anak ibu untuk dibawa ke KUA."
"Nah, kalau nyulik untuk dibawa ke KUA sih aku mau banget. Bosen ngejomblo. Ondel-ondel saja berdua, masa Tami sendiri mulu."
"Sabar ya, anak Ibu. Insyaa Allah jodoh pasti bertamu." ujar Ibu dan sekali lagi beliau mengelus Tami sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
"Tukang panci kredit kali ah yang bertamu." gumam Tami seorang diri.
.........
Nasihat ibunya malam itu cukup menjadi asupan semangat bagi Tami dalam menjalani hari-harinya di tempat kerja yang situasinya kadang tak menentu. Mungkin benar kata ibunya, untuk apa terus menggali masa lalu yang tak dapat diingatnya hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Ia sama sekali tak memerlukan semua itu karena selama hidupnya ia selalu dikelilingi oleh orang-orang tak tak henti-hentinya melimpahkan kasih sayang untuknya.
Setelah selesai mengurus pasien korban kecelakaan lalu lintas, Tami memutuskan untuk istirahat sejenak di bangku panjang yang berada tepat di depan nurse station. Begitu menarik nafas, udara yang bercampur bau obat-obatan langsung merangsek masuk memenuhi rongga paru-parunya.
"Ta!" panggil seseorang dengan cukup nyaring.
Tami yang dalam keadaan setengah terpejam saat mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku terkejut bukan main ketika merasakan pundaknya dipukul agak keras. Ia berulang kali menghembuskan nafas sambil menepuk-nepuk dada untuk menenangkangkan jantungnya yang berdetak cepat karena terlalu kaget.
"Ish, kebiasaan deh. Dateng-dateng bukannya ngucapin salam, eh malah ngagetin orang. Untung aku nggak punya penyakit jantung, kalau nggak aku bisa-bisa jadi pasien yang menuhin bed perawatan di UGD." Omelnya dengan wajah sebal.
"Ya, sorry dah. Tadi refleks, tiba-tiba aja melintas di otakku yang mumet ini buat ngagetin kamu, Ta. Eh, tapi ekspresi kaget kamu lumayan bikin otakku lebih rileks dikit, hehehe." Tasya tertawa pelan. Ia dan Clara melabuhkan punggungnya bersamaan di samping kiri dan kanan Tami.
"Lain kali kalau ngagetin lagi, ku kirim kalian berdua ke TK lagi biar diajarin sama bu gurunya gimana cara menyapa orang dengan baik dan benar."
Tasya menaruh kedua telapak tangannya yang menyatu di depan dahi sambil berkata, "Iya, Mak. Ampun, nggak bakal diulangi lagi.
__ADS_1
"Ssstt."
Tasya mengangkat kepala lalu nyengir kikuk saat mendapati sang kepala perawat tiba-tiba muncul dari balik meja nurse station memberinya isyarat untuk memelankan suaranya yang kelewat cempreng.
"Maaf, Mbak Salwa. Kelepasan tadi."
Perempuan bernama Salwa itu menggelengkan kepala sejenak lalu kembali fokus ke layar komputernya yang menampilkan data pasien rumah sakit.
"Eh, ngomong-ngomong, Ta, " ujar Clara yang sedari tadi hanya duduk diam. "Kamu udah nanya ke Ibu belum soal kemungkinan kamu punya saudara kembar."
"Aduh, Ra. Aku jadi keinget lagi deh soal itu."
"Emang kenapa, Ta? Ibu kamu emang jawab apa pas kamu nanya." tanya Tasya dengan binar mata yang penuh tanda tanya.
Tami menarik nafas sejenak, mengingat kembali jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan kepada ibunya dua malam yang lalu. "Ibu bilang aku nggak punya saudara apalagi kembaran. Hanya aku anak Ibu satu-satunya."
"Serius Ibu kamu bilang gitu?" pertanyaan Clara membuat Tami mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Ya seriuslah, Ra. Masa aku bohong."
"Tapi kok bisa mirip banget gitu ya? Kalau kamu berdiri hadap-hadapan sama dia pasti kelihatan kayak orang lagi bercermin. Sama persis. Yakin deh, pasti semua bakal bilang kalian kembar." Clara manggut-manggut menyetujui spekulasi Tasya. Sejujurnya Tami pun merasa janggal dengan kemiripan wajahnya dengan seorang dokter muda yang tak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit.
"Mungkin cuma kebetulan kali." ujar Tami berusaha mematahkan spekulasi Tasya. "Pernah denger doppelganger nggak? Konon katanya orang punya tujuh kembaran di dunia ini."
"Sejak kapan seorang Tami Nurul Sabrina percaya pada mitos hah?" cibir Tasya. Ia tahu sekali jika Tami adalah orang yang tidak percaya sama sekali dengan yang namanya mitos.
"Sejak aku temenan sama Tasya, si tukang ngayal." respon Tami.
"Sorry yah, sini tukang ngayal berkualitas. Beda kelas. Tapi Ya sudahlah, anggap saja kalian itu saudara kembar yang nggak sedarah sama...siapa sih namanya?" tanya Tasya sambil berusaha mengingat-ngingat nama dokter muda yang menurutnya mirip sekali dengan Tami.
"Namanya Karina, Karina Putri Adhyastha." Ujar Clara.
"Dia pasien di rumah sakit ini?" tanya Tasya.
"Bukan. Dia itu dokter umum di rumah sakit sebelah. Katanya dia malaikat cantik penjaga IGD yang bikin pasiennya betah berlama-lama di berbaring di bed perawatan. Denger-denger sih dia udah tunangan dengan salah satu dokter yang kerja disini."
"Oh, pantesan dia suka main ke sini." ucap Tasya sambil ber-oh ria.
"Dapat info darimana kamu, Ra. Kok kayaknya tahu banyak tentang dia?" tanya Tami.
"Dari Dian," Clara menyebutkan nama teman sekelas mereka saat kuliah keperawatan. "Dia kebetulan kerja di rumah sakit yang sama dengan dokter Karina."
"Wah, hilang satu lagi nih daftar calon jodohku." ujar Tasya. Nada bicara gadis berusia dua puluh dua tahun itu terdengar begitu sedih seolah dia ditinggal kekasih menikah.
Clara memutar kedua bola matanya. "Ampun deh, Sya. Kebelet amat sih kamu mau kawin."
Tami memukul pelan paha Clara. "Nikah, Ra... nikah. Kalau kawin mah kucing."
"Halah, sebelas dua belas itu mah. Kan sama-sama ngehasilin anak." elaknya.
"Lah, dikira nikah sama kayak bikin pabrik anak." Cibir Tasya dengan alis naik turun. Tami dan Clara hanya cengengesan mendengarnya.
"Daripada ngomongin nikah kawin, mendingan kamu pergi ganti baju deh, Ra. Baju kamu banyak noda darahnya gitu." usul Tami.
Clara memerhatikan bajunya yang dipenuhi banyak noda merah. "Iya, sampe lupa. Tadi baju aku kecipratan darah pasien."
__ADS_1
"Aunty nurse abis ngicep dalah ciapa tuh, Ma? Tanya seorang anak perempuan yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Iya, celem banget ada pampil ciang-ciang begini." Celetuk bocah perempuan yang satunya lagi. Rambutnya yang diikat dua terlihat bergerak-gerak saat bergidik ngeri. Sontak, kedua Ibu mereka langsung menasihati dua bocah perempuan tadi dan meminta maaf kepada Clara.
"Tuh kan. Apa coba aku bilang. Kasihan perawat cantik begini malah dikira anggota keluarga Cullen yang tersesat." ujar Tami. Ia dan Tasya tertawa lepas tanpa memperdulikan wajah Clara yang terlihat kesal. Untunglah kedua bocah tadi bareng sama ibunya, kalau tidak bisa-bisa mereka nangis kejer diplototin Clara yang terkenal galak.
"Tami, kamu diminta menemui seorang pasien yang dirawat di ruang VIP. Namanya Bu Rahma." kata seorang perawat yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Di ruangan apa namanya, Re?" tanya Tami kepada Teresytha.
"Tahu, tanya saja sama Mbak Salwa." jawab Teresytha cuek. Gadis yang terkenal karena sikapnya yang tidak bersahabat itu berlalu pergi begitu saja.
"Dih kenapa sih, gitu banget kalau ketemu sama kita, punya dendam pribadi apa tuh orang. Tinggal dijawab saja kok repot." dumal Clara. Ia sangat tidak menyukai sikap Teresytha yang menurutnya amat menjengkelkan. Sejak pertama kali bekerja di rumah sakit ini, tidak pernah sekalipun ia melihat senyuman di wajah gadis itu.
"Nggak apa-apa, Ra. Ini soal gampang kok, nggak perlu pakai emosi." Tami berjalan menghampiri meja nurse station yang berada tepat di depan mereka. Setelah mendapatkan nama ruang VIP yang dimaksud Teresytha, Tami buru-buru mengatur langkahnya menuju lift, meninggalkan Tasya yang sibuk menenangkan Clara yang sesekali terdengar mendumal kesal.
"Kamu mau ke ruang perawatan Ibu Rahma ya?" tanya seseorang kepada Tami saat ia berada di lift. Tami menoleh ke samping mencari sumber suara dan ia cukup terkejut mendapati gadis "kembarannya" tengah berdiri di sebelahnya. Kondisi lift yang cukup ramai disesaki orang membuat ia tak menyadari keberadaan Karina.
"Iya." jawab Tami. Senyuman Tami yang terlihat canggung dibalas karina dengan seulas senyum yang terlihat begitu manis hingga bisa membuat beberapa ekor semut yang sedang hibernasi ramai-ramai mengerubungi lift itu.
"Kamu cantik banget kalau lagi senyum."
Bah, mimpi apa aku semalam sampai bisa dipuji begini? Sama orang yang nggak dikenal pula. Apa di punya maksud tertentu ya? Secara wajah kami hampir sama persis, hanya tinggi kami saja yang berbeda. Batin Tami.
"Kamu perawat di rumah sakit ini ya?"
"Iya," jawab Tami singkat. "Mbak sendiri?" tanya Tami mencoba berbasa-basi.
"Saya dateng ngejenguk Ibu saya yang dirawat di sini. Ngomong-ngomong kamu udah lama kerja di sini?"
"Alhamdulillah, sudah hampir dua tahun."
"Oh, hm."
Tami meremas tangannya dengan gelisah. Rasanya canggung sekali, seperti ketemu calon mertua.
"Kamu nggak penasaran kenapa wajah kita berdua hampir sama persis?"
Deg. Tami merasakan gemuruh aneh di balik dadanya saat mendengar pertanyaan Karina. Entah kenapa ia merasa benar-benar tak ingin mendengar pertanyaan itu. Tami akhirnya dapat menarik nafas lega saat pintu lift terbuka.
"Saya duluan ya, Mbak." Tami sempat menoleh sebentar menatap wajah Karina dengan seulas senyum ramah di bibirnya sebelum akhirnya keluar dari ruangan berbentuk kotak persegi panjang itu. Tami berusaha melangkah cepat melewati beberapa ruang perawatan. Merasa ada sesuatu yang janggal, ia mencoba menoleh ke belakang. Ternyata firasatnya benar, Karina terlihat berjalan mengikuti langkah kaki Tami.
"Aduh, ngapain sih tuh orang ngikutin aku." gumam Tami terdengar resah. Benaknya dipenuhi berbagai pikiran buruk.
Karena berjalan terlalu cepat, hampir saja kepalanya terbentur di pintu karena tidak menyadari dirinya telah sampai di depan kamar perawatan ibu Rahma.
"Pura-pura nggak tahu saja deh kalau dia ngikutin aku." gumamnya lagi.
Tami menghembuskan nafas sejenak agar ritme detak jantungnya kembali normal. Tami membaca basmalah sebelum melangkah masuk ke dalam ruang perawatan yang cukup besar itu dengan sedikit menundukkan kepala. Ia takut telah melakukan kesalahan tanpa di sadari, meski seingatnya ia belum pernah bertemu dengan pasien bernama Rahma tersebut.
"Assalamu'alaikum. Selamat siang, Bu." Sapa Tami seraya menghampiri bu Rahma yang terlihat sedang konsentrasi membaca Al-Qu'an kecil miliknya. Wanita yang Tami perkirakan berumur setengah abad itu mengangkat kepala, wajah cantiknya yang pucat terlihat syok melihat Tami.
Kedua bola mata Tami membulat saat merasakan sentuhan tangan bu Rahma yang masih terpasang selang infus di wajahnya. Tak lama kemudian, Tami merasakan tubuhnya dipeluk erat dan terdengar tangisan pilu yang mengalun dari bibir wanita itu. Tami tentu saja syok, apalagi ketika mendapati Karina juga ternyata sudah berada di ruangan itu.
Sekali lagi gadis itu memamerkan senyum manisnya tapi kali ini dia juga meneteskan air mata. Entah untuk apa, Tami pun tak dapat menebak.
__ADS_1
Detik berikutnya saat wanita itu membuka suara, pertanyaan yang sempat menggelayuti benaknya selama berhari-hari yang lalu kembali hadir untuk meminta jawaban.
"Siapakah aku sebenarnya di masa kecilku?"