Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 2 (Sebuah Rahasia)


__ADS_3

Kebimbangan tengah melingkupi Tami. Entah harus percaya atau tidak pada kenyataan yang ada, tapi pertemuan dirinya dengan gadis bernama Karina yang terjadi tanpa sengaja telah melahirkan titik-titik keraguan dalam hatinya. Titik keraguan itu semakin hari semakin membesar hingga menimbulkan berbagai pertanyaan yang nyaris membuatnya frustasi. Apalagi tiba-tiba secara mengejutkan, seorang wanita bernama Rahma menganggapnya sebagai putrinya yang telah meninggal.


Seminggu yang lalu.


"Anak, Mama. Kamu kemana saja, sayang?" wanita bernama Rahma itu terisak nyaring dalam pelukan Tami. "Kenapa kamu lama sekali baru datang menemui, Mama?" Tami terperanjat mendengarnya.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Kenapa setelah hampir dua puluh tiga tahun hidup dalam damai bersama ibunya, tiba-tiba saja ia bertemu dengan seseorang yang wajahnya sangat mirip dengannya? Lalu sekarang seorang wanita yang baru ditemuinya menganggap ia sebagai anaknya. Meski berusaha keras mencari jawaban atas kebingungannya, namun semua seperti menemui jalan buntu. Tami memilih diam, membiarkan ibu Rahma memeluknya selama beberapa menit.


"Kamu udah gede banget sekarang, Nak," bu Rahma melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya masih memegang pundak Tami, membuat gadis itu terdiam kaku. "Wajahmu juga semakin mirip saja sama kakakmu, Karina."


Mata Tami tepat menatap manik mata bu Rahma, ia berupaya mencari jawaban atas kebingungannya di sana, namun dalam tatapan sayu itu ia hanya melintas kerinduan yang berbalut luka.


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih telah mendengarkan doa hamba selama ini," Bu Rahma mengusap air mata di pipinya lantas menatap Karina yang berdiri di sisi kiri bed perawatan. "Mama bener kan, Rin...adikmu masih hidup."


Karina hanya mampu tersenyum getir mendengarnya. Hatinya gerimis mendengar wanita yang paling ia cintai berkata demikian. Ternyata selama belasan tahun luka karena kehilangan seorang anak terus-menerus menggores hati mamanya.


"Mama tidur lagi ya. Besok kita ketemu lagi sama Kirana."


Karina menuntun bu Rahma untuk kembali berbaring setelah melihat ekspresi kebingungan di wajah Tami. Ia tahu betul kalau berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benak gadis itu sedang menunggu jawaban serta penjelasan darinya.


"Boleh Mama pegang tangan kamu, sayang. Mama masih rindu sekali sama kamu." Suara bu Rahma terdengar lirih.


Tami yang tidak tahu harus berbuat apa menatap Karina, ia seakan bertanya apa yang harus ia lakukan. Kirana terlihat mengangguk, seakan memohon kepada Tami untuk menuruti keinginan mamanya melalui sorot matanya. Tami menghembuskan nafas pelan, lalu memasang senyum hangat sebelum duduk di atas kursi yang berada di samping bed perawatan sambil balas mengenggam tangan ibu Rahma. Sesekali tangan wanita itu singgah di pipi Tami dengan lembut.


Ya Allah, sebenarnya apa semua ini? Kenapa semuanya mendadak menjadi sangat rumit?


Hingga terdengar dengkuran halus, barulah Tami melepaskan genggaman tangannya. Ia mengusap punggung tangan ibu Rahma lalu membawanya ke bibir dan menciumnya dengan taksim, seakan berpamitan dengan ibunya sendiri.


Tami melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan bed perawatan lalu menutup pintu dengan hati-hati, takut membuat ibu Rahma terbangun dari tidurnya. Ketika berbalik, ia mendapati Karina yang tadi diam-diam keluar kamar tengah berdiri dengan gelisah. Gadis itu langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki Tami yang mendekat ke arahnya.


"Kamu pasti bingung, ya?" Karina menatap wajah Tami yang masih diliputi kebingungan. "Bisa kita bicara sebentar? Tapi bukan di sini."


Tami setuju tanpa banyak bertanya. Ia mengekor mengikuti langkah kaki Karina ke arah taman rumah sakit yang ramai dikunjungi pasien untuk sekedar rehat sejenak. Mereka sudah duduk di salah satu bangku yang ada di sudut taman. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya sesekali deruan angin sore menerpa wajah keduanya.


Karina menghirup udara hingga memenuhi rongga paru-parunya lalu ia hembuskan dengan tenang. Ketika ia mulai berbicara pandangannya lurus ke depan, seakan masa lalunya sedang diputar kembali.


"Dua puluh enam tahun yang lalu mama saya melahirkan saya dan tiga tahun kemudian saudara saya dilahirkan di rumah sakit yang sama. Karina Putri Adhyastha nama saya dan Kirana Putri Adhyastha nama adik saya. Karena wajah kami yang sangat mirip, orang-orang sering mengira kami anak kembar."


Karina mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Tami mendengarkannya dengan seksama.


"Kami hidup bahagia sebagai saudara. Tak pernah sekalipun kami merasa kekurangan kasih sayang karena orang-orang di sekeliling kami mencurahkan kasih sayang mereka yang melimpah dengan tulus. Meskipun wajah kami sama tapi sifat kami berbeda. Karena masih muda Kirana sangat manja dan kerap kali meneteskan air mata, jadi kadangkala semua orang lebih memperhatikannya dibanding aku. Jujur aku sering cemburu padanya dan berharap aku tak mempunyai adik. Namun semua kecemburuanku berakhir ketika usiaku menginjak tujuh tahun dan Kirana berusia empat tahun tahun."


Karina menahan isakan tangis di ujung bibirnya. Bercerita tentang masa kecilnya sama saja membuka lembaran buku masa lalu yang begitu ia sesali hingga membenci dirinya sendiri karena merasa begitu egois.


"Di hari ulang tahunku adalah segala puncak kecemburuanku membuncah. Ia merusak gaun pemberian ayah dan aku yang sangat marah mendorongnya hingga membentur cermin panjang di belakangnya.Kau tahu, dulu aku ingin sekali menjadi seorang model, maka dari itu ayah memberiku hadiah gaun dan cermin panjang di hari ulang tahunku agar aku bisa berlenggak-lenggok di depan cermin panjang itu."


Karina tersenyum getir sambil mengusap air matanya. "Konyol sekali memang. Hanya karena sebuah gaun dan cermin, aku sangat marah kepadanya."


"Kirana meminta maaf padaku berulang kali namun aku malah berteriak padanya dan mengatakan kalau aku tak akan memaafkannya. Dia memunguti cermin yang pecah bertebaran di lantai dan bermaksud untuk memperbaikinya. Dia, adikku yang begitu polos. Saat memunguti pecahan kaca itu, tanpa sengaja jari manisnya teriris dan aku pun panik melihat darah yang mengucur deras dan tangisnya pun pecah. Aku berteriak dengan keras memanggil Mama. Semua orang berdatangan ke kamar. Melihat jari Kirana berdarah mama langsung mengangkatnya ke ranjang dan mengobati lukanya. Aku menangis di sampingnya dan mengatakan bahwa aku tidak bermaksud membuatnya celaka namun Mama memarahiku habis-habisan. Aku mengatakan bahwa ia merusak gaun dan memecahkan cermin pemberian Ayah, tapi bukannya pembelaan yang aku dapatkan tapi mereka malah tambah memarahiku. Siapa yang tak akan berkecil hati jika dimarahi oleh orang tua. Semua orang semakin memerhatikan Kirana sementara aku merasa dijadikan orang asing di rumah sendiri. Aku tahu Mama sedang menghukumku. Jadi Ayah menyarankan agar kami berbaikan. Aku mengikuti saran ayah meski perasaan hatiku masih dongkol. Lalu keesokan harinya sepulang sekolah aku membawanya ke taman yang tidak jauh dari sekolah yang biasa jadi tempat kami menunggu Pak Darmo yang waktu itu merupakan supir yang selalu mengantar jemput kami. Dia memelukku dan tersenyum bahagia. Melihat penjual es krim langganan kami matanya langsung berbinar. Sementara dia menunggu di jungkat-jungkit aku berlari menghampiri penjual es krim itu. Saat aku kembali dia sudah tidak ada disana."


Tami menggenggam tangan Karina yang terasa dingin. Sementara gadis itu mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkan ceritanya.


"Kami kehilangan dia. Setelah pencarian satu minggu jasadnya ditemukan di pinggir sungai tak jauh dari taman itu. Bahkan kami tak bisa mengenali wajahnya. Hati kedua orang tuaku begitu hancur kahilangan Kirana. Bahkan Mama langsung memecat pak Darmo dengan alasan bahwa seharusnya ia datang tepat waktu menjemput kami dari sekolah. Kupikir saat itu aku bahagia tapi ternyata tidak. Tidak ada lagi rengekan dan tangisannya yang biasa mengisi hari-hari kami. Rumah terasa sepi tak berpenghuni. Kami kehilangan cahaya kebahagiaan kami. Sepi, sedih dan menyesal adalah perasaan yang masih kurasakan sampai saat ini ketika aku mengingatnya. Andai...andai waktu itu aku tak mengajaknya ke taman mungkin Kirana masih hidup sampai saat ini hiks...hiks...hiks."


Tami memeluk Karina yang terisak kencang. Hatinya juga terasa ngilu mendengar cerita Karina.Tangannya mengelus pundak Karina untuk menenangkan gadis itu.


"Di hari minggu aku selalu menemuinya di makam dan menceritakan segala isi hatiku padanya namun ia hanya menjadi pendengar saja. Dia tak pernah dan tak akan pernah meresponku seperti dulu sewaktu ia sering menggerutu dan bergumam tidak jelas saat mendengar pembicaraanku."


Semakin kencang saja isakan Karina membuat Hati Tami bergetar. Perempuan bisa merasakan kesakitan perempuan lain karena mereka terhubung lewat perasaan yang dirasakan oleh hati. Karina mengangkat wajahnya yang beberapa saat lalu ia tenggelamkan di balutan hijab Tami. Disekanya aliran air mata yang membasahi wajah ayunya lalu kembali tersenyum melanjutkan ceritanya.


"Namun pertemuanku denganmu di depan lift beberapa minggu lalu membuat harapanku melambung tinggi. Entah kenapa, tapi aku merasa memiliki hubungan yang membuatku tertarik untuk mengenalmu."


"Mohon maaf sebelumnya. Bukan bermaksud menduga-duga, tapi apa mungkin Mbak mengira saya adalah saudara kembar Mbak."

__ADS_1


"Pemikiranmu tepat Tami."


Tami terperanjat dengan pernyataan Karina.


"Bukannya Kirana sudah meninggal?"


"Aku tahu itu, tapi sedari dulu setiap kali aku mengingat Kirana hatiku seringkali berteriak bahwa dia masih ada di dunia ini."


"Lah iyalah, Mbak. Kan Kirana di kubur di bumi ya masih di dunia lah, kecuali dia di kubur di planet lain selain di bumi, di pluto misalnya" Tami mencoba berkelakar.


Karina tertawa, melupakan sejenak kesedihannya.


"Aku tahu itu. Namun kamu pasti tahu apa maksud pembicaraanku."


Tami manggut-manggut saja mendengar Karina.


"Mama nggak sengaja dengar pembicaraan aku dengan ayah tentang pertemuanku denganmu dan menjadi gelisah. Mama memaksa ingin bertemu denganmu dan akhirnya jatuh sakit. Bahkan saat sakit pun Mama tetap berkeras ingin bertemu denganmu. Itulah mengapa aku mencari dan membawamu ke ruang perawatan Mama."


"Mama Mbak Karina juga mengira saya adalah Kirana."


"Iya."


"Hm, kenapa bisa begitu ya. Saya jadi bingung."


"Mama terlalu syok dengan kepergian Kirana. Sampai hari ini pun Mama masih percaya kalau Karina masih hidup entah di bagian bumi mana." Dia cuma pergi sebentar, pasti kalau sudah puas berpergian dia pasti akan kembali" itu kata yang diucapakan Mama setiap dia memandang foto Kirana."


"Lalu apa yang bisa saya bantu, Mbak?"


"Jangan panggil Mbak, aku jadi berasa tua banget."


Tami terkekekeh pelan. "Lalu saya harus manggil apa?"


"Karina saja."


"Iya Mbak, eh salah maksud saya Karina."


"Tami, bisa tolong aku nggak?"


"Tolong apa, Mbak? eh salah, maksud saya Karina. Bagaimana cara saya bisa menolongmu, Karina?Aku bisa tolong apa saja asal jangan minta saya jadi anggota superhero avengers, saya tidak mempunyai kekuatan macam mereka."


"Hahaha."


Karina tertawa lebar mendengar gurauan Tami. Aduh, ayu tenan kamu mbak. Err, naksir deh.


"Kamu ternyata lucu orangnya. Tenang saja aku tak akan memintamu menjadi superhero di avengers tapi kamu mungkin mau jadi superhero buat saya."


"Hah? Gimana caranya?"


"Kamu mau ya di tes DNA."


"Tes DNA? Buat apa?" tanya Tami sambil menggelengkan kepala.


"Kamu kok geleng-geleng kepala sih Tami, kamu nggak mau nolong saya"


"Eh, bukan begitu. Ini efek kebanyakan nonton film India, hehehe. Tenang saja, saya mau kok nolongin kamu."


"Kamu mau ya di tes DNA sama Mama saya. Kalau hasilnya ternyata kamu bukan Kirana setidaknya Mama nggak lagi memiliki harapan kosong kalau Kirana masih hidup."


Tami berfikir sejenak lalu ia mengangguk pasti.


"Iya, saya mau di tes DNA."


Mungkin tes DNA adalah cara terbaik untuk mengetahui kebenarannya.Tami tak ingin hidup dibayangi rasa penasaran. Lagipula ia tak akan rugi apapun kalau di tes DNA.


"Maaf kalau permintaanku ini akan melukai hatimu, tapi supaya lebih akurat maukah kamu tes DNA dengan Ibumu juga?"

__ADS_1


"Itu sama saja dengan meragukan Ibu saya."


"Aku tahu. Tapi aku harap kamu mau mempertimbangkannya."


...


"Hah!"


"Allahu akbar, astaghfirullah."


Tami mengusap lembut dadanya berkali-kali karena sangat terkejut dengan kedatangan Tasya dan Clara yang mengagetkannya dengan memukul meja tempatnya bertopang dagu. Buyar sudah lamunannya karena ulah dua manusia menyebalkan itu.


"Assalamu'alaikum, cantik, buat apetuh? Sorang ke? Boleh Abang temankan? (lagi ngapain? sendiri ya? boleh Abang temenin nggak?)" Clara menggoda Tami kemudian duduk di samping kiri gadis malang yang masih mengusap dada yang tertutupi khimar dan baju putihnya. Tasya kemudian menyusul duduk di samping kanan Tami.


"Wa'alaikumussalam Abang ganteng, ngapain disini bang? buat adek tekejut jak (ngagetin adek saja). Kalau jantung saya satu-satunya ini copot bagaimana bang? mau diganti pakai jantung pisang?"


"Kau tuh, dari tadi kite salam bukannya kau jawab-jawab pun. (Kamu tuh, dari tadi juga kita ngucapin salam tapi nggak dijawab-jawab.)"


"Iya, wajah kamu dari tadi kenapa merengut begitu?" Tasya menimpali perkataan Clara.


"Lagi mikir kapan ya aku ketiban bidadara dari surga?" ujar Tami sambil melengoskan wajah.


"Mimpi saja sana kamu, Tami. Sampai lebaran monyet sekalipun kamu nggak bakal ketiban bidadara, ketiban kotoran burung iya." cibir Clara.


"Ya sudah, hari minggu nanti kita ke kebun binatang saja, siapa tahu monyet-monyetnya lebaran beneran." balas Tami sarkastik.


"Kamu nyembunyiin sesuatu dari kita kan, nggak biasanya wajah kamu merengut siang-siang begini. Lagian tumben itu nasi kamu cuekin. Secara kan kamu jagonya kalau soal makan."


"Emang ye, kamu memang paling jago nebak isi hati aku, Sya."


"Oh...jadi kamu beneran ada masalah, Ta?"


"Masalah yang nggak bikin aku nggak enak makan, nggak nyenyak tidur sampe lupa mandi." kata Tami dramatis.


"Masalah apaan, Ta, kok nggak cerita sama kita?" Clara menatap sahabatnya itu dengan gusar.


Tami menghembuskan nafasnya sejenak.


"Aku bohong dengan Ibu."


"Bohong?" Rara mengangkat kedua alisnya yang rapi lalu mengerutkannya kebawah.


"Bohong apaaan sih, Tami, cerita biar plong hatinya. Jangan malah dipendam sendiri nanti jadi beban, bisa-bisa gantung diri kamu kalau nggak sanggup menanggungnya."


"Aku masih waras, Tasya. Lagipula aku masih muda, belom nikah pula. Rugi kalau mangkas umur dengan cara yang jelas-jelas dibenci Allah.


"Issh, lama banget sih, Tami. Cepetan dong ceritanya, bentar lagi kan waktu istirahat habis, kamu juga harus siap-siap untuk gantiin ners Mira."


"Iya, aku nggak lupa kok soal operasi itu."


"Bismillah. Jadi begini, aku bohongin ibu dengan mengambil darahnya dengan alasan pemeriksaan kesehatan. Kalau pakai rambut aku kurang sreg. Sebenarnya alasan aku ngambil darah ibu untuk melakukan tes DNA."


"Tes DNA? kapan?" tanya Tasya dengan heboh.


"Tiga hari yang lalu, Sya, aku melakukan tes atas permintaan Karina. Tidak hanya dengan Ibu,tapi aku juga melakukan tes dengan Ibu Rahma, Mamanya Karina. Dan ini hasilnya." Tami mengeluarkan dua amplop putih dan menyerahkannya kepada Tasya.


"Ya Allah, Tami. Jadi kamu beneran saudaraan sama dokter Karina." pekik Tasya saat ia membaca keterangan hasil tes DNA itu.


"Husssh. Tasya jangan keras-keras nanti orang lain dengar gimana." tegur Clara


Mendengar ucapan Tasya, Tami mengambil dan membaca kertas laporan tes itu. Ia membuka satu lagi amplop putih yang berisi kertas laporan hasil tes DNA nya dengan ibunya. Matanya seketika membulat dan tubuhnya mungkin sudah limbung kalau ia sedang tidak duduk di kursi.


"Tami, kamu kenapa? kamu dari tadi belum baca keterangan hasil tes DNA itu?" tanya Clara yang panik melihat Tami duduk lemas di kursi. Untunglah saat ini kantin sudah tidak ramai lagi. Jadi kegaduhan mereka tidak ada yang memperhatikan.


Tami hanya mengangguk saja. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Darahnya terasa berhenti mengalir di pembuluh darah. Berbagai pertanyaan berdesakan di benaknya.

__ADS_1


"Ibu, adakah sebuah rahasia yang telah engkau sembunyikan dari putrimu ini?"


__ADS_2