Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 15 (Harinya Emosi)


__ADS_3

Tami memecahkan tiga butir telur lalu menaruhnya satu persatu di dalam mangkok dan kemudian mengocoknya bersama parutan keju, cooking cream, dan sejumput garam laut. Kedua matanya begitu serius mengikuti langkah demi langkah yang diarahkan seorang chef muda di YouTube. Selepas melaksanakan shalat subuh ia langsung pergi ke rumah ibu mertuanya untuk mengambil bahan makanan untuk membuat sarapan. Kurasa-menggedor rumah mertua di pagi buta-tidak ada yang pernah melakukannya, kecuali Tami. Ternyata memiliki rumah yang jaraknya hanya lima langkah dari rumah mertua memberinya cukup banyak keuntungan.


Ini sudah kelima kalinya ia mencoba membuat omelet, tapi tak satupun yang kunjung berhasil. Dan yang pasti bukan bahan atau resep dari chef itu yang patut disalahkan karena dialah tersangkanya.


Sayur-sayuran, bumbu dapur, bahkan peralatan memasak pun bertaburan di sana-sini. Dapur sudah seperti kapal yang diobrak-abrik oleh bajak laut. Tami sudah bergelut hampir satu setengah jam di dapur, tapi tak satupun masakan yang berhasil diselesaikannya. Selain rasanya yang tak karuan, omelet serta nasi goreng buatannya pun berbau asap yang tak sedap karena gosong.


Benar-benar pagi dengan kekacauan yang sempurna! Tami menggerutu. Ia hampir muak dengan bau amis telur andai tak mengingat misinya.


"Ya Allah, hamba mau jadi jomblo saja seumur hidup kalau seperti ini." Tami mendengus frustasi.Bahkan membuat sajian yang semudah itu pun tak bisa ia lakukan, lalu bagaimana ia bisa bermimpi untuk memikat hati suaminya? That's impossibble.


Tami berjongkok di lantai. Sudah setengah rak telur yang sia-sia hanya untuk membuat satu menu sarapan. Bulir air matanya hampir saja jatuh andai ia tidak menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit dapur. Jika satu setengah jam yang lalu semangatnya pool seratus persen maka kini hanya tersisa setengahnya. Bahkan mungkin tinggal seperempatnya saja.


Segini doang perjuanganmu, Tami? Ah payah, masa baru mulai sudah patah semangat saja. Bukankah kamu sudah mempertaruhkan banyak hati hanya untuk menyukseskan misi ini? Ini adalah langkah pertamamu untuk menuju bahagia. Kata orang mah hasil adalah urusan belakang, yang penting usaha dulu. Mana si Tami tangguh yang dulu? Tami yang nggak segan-segan nyeret premannya sekolah dan mempermalukannya di lapangan karena telah berani mengintipmu sewaktu ganti baju olahraga.


Eh, tunggu dulu. Apa hubungannya coba nyeret preman sekolah ke lapangan sama bikin omelet yang gagal total. Nggak nyambung bener ini hatinya.


Tami menghirup udara perlahan. Mencoba mengumpulkan kembali semangatnya yang sempat tercecer di lantai.


"Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah bentuk perjuanganku ya Allah, karena hidup itu adalah perjuangan. Jika wanita pada zaman nabi berjuang dengan kayu penyanggah tenda di tangannya untuk melawan tentara Romawi, maka Tami berjuang dengan mengangkat spatula untuk membuat omelet." Tami berseru dengan bersemangat.


Ia berjanji ini terakhir kalinya ia mencoba. Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya menandakan waktunya untuk memasak semakin menipis. Kalaupun kegagalan kembali menyapanya kali ini, ia sudah siap dengan plan B. Ibu mertuanya pasti akan dengan senang hati menerimanya dan Alvin sebagai pengunjung meja makannya.


Tami kembali membuat bahan omelet. Kali ini Tami benar-benar menfokuskan segala perhatiannya hanya kepada makanan berbahan telur itu.


Tanpa sadar segala pergerakan Tami telah diperhatikan seseorang hampir dari sepuluh menit yang lalu. Di sana, di balik pintu dapur. Dengan kedua bola matanya yang cemerlang, Alvin tengah memerhatikan segala tindak tanduk Tami. Suara cempreng gadis itu telah menghentikan langkahnya di anak tangga. Lalu diam-diam mengatur derap langkah, lantas mengawasi di balik pintu bercat putih. Barangkali istrinya yang ajaib itu sudah menghancurkan mahakarya kakaknya sendiri. Dan benar saja, tidak perlu dijelaskan bagaimana keadaan dapur itu. Semuanya bertaburan di mana-mana.


Beberapa menit berlalu, dan gadis itu tampak melompat gembira. Bibirnya pun ikut bersenandung bahagia. Barangkali kali ini masakan gadis itu berhasil dan cukup layak dijadikan menu sarapan pagi ini. Alvin memutuskan kembali naik ke kamar. Sementara Tami, gadis itu tengah sibuk mengagumi omelet buatannya.


.....


Alvin sudah siap dengan pakaian dan tas kerjanya saat menuruni anak tangga. Pria itu tidak cukup terkejut mendapati istrinya berada di anak tangga terakhir dengan senyum yang begitu sumringah. Alvin terpaku di tempatnya, seakan lem merekat kuat di kedua telapak kakinya. Senyuman itu, senyuman yang seakan menghasilkan dentuman kuat di dada sebelah kirinya. Ia pernah melihat senyum yang serupa.Tidak perlu ditebak siapa pemilik senyum itu. Senyum yang dulu pernah membuat hatinya berbunga cinta, tapi kini berbuah luka yang menganganga. Namun senyum yang dilemparkan oleh Tami di anak tangga mampu menggugah jiwanya, membuat semua saraf-sarafnya bergetar halus. Getarannya seakan mengalir hingga ke rongga perutnya dan menerbangkan puluhan kupu-kupu di sana. Alvin berpikir barangkali gadis itu memiliki peri kecil yang ajaib hingga apapun tingkahnya mampu mengalirkan sengatan listrik ke tubuhnya. Sihir ajaibnya kini sudah menarik kedua sudut bibir Alvin dan membentuk busur panah.


"Aduh, Mas Alvin ngapain malah mandet di sana, sih? Capek tahu Tami pasang senyum manis mulu." gadis itu menggerutu lantas menaiki anak tangga.


Satu anak tangga di bawah kaki Alvin, Tami berhenti.Lalu kembali memasang senyumnya yang menawan sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan.


"Mas, ayo sarapan. Tami sudah menyiapkan makanan spesial." katanya dengan wajah bersahabat.


Bola matanya yang hitam legam mampu mengalirkan kehangatan yang seketika menjalan ke setiap saraf-saraf Alvin. Tami mengerak-gerakkan telapak tangannya seakan meminta pria di hadapannya untuk segera menggenggam jemarinya. Dan seperti terkena sihir peri ajaib, Alvin dengan patuh mengulurkan tangannya. Entah kenapa, tapi Alvin tak keberatan untuk menautkan jemari mereka. Berbagi kehangatan pagi ini melalui sela jari-jemari mereka.


Seharusnya saat ini adalah momen bahagia bagi pasangan halal ini, namun malang seakan tak ingin menjauhinya. Langkah Tami yang anggun ternyata berpijak pada tempat yang tidak tepat. Alhasil Tami seketika mengeratkan tautan jemarinya di jari-jemari Alvin dan membawa pria itu jatuh bersamanya.


Bagi orang, berjalan secara normal menuruni anak tangga pastilah menggunakan telapak kaki. Namun pagi ini, sepasang cucu Adam dan Hawa mencetuskan cara baru untuk menuruni tangga, yakni bukan dengan telapak kaki melainkan punggung sebagai penggantinya.


"Aduh...duh...duh..." Tami meringis kesakitan sambil berusaha mengusap bagian punggungnya yang terasa nyeri.


Selama dua menit Tami sibuk dengan rasa sakit yang mendera punggungnya, lantas segera menoleh ke samping untuk melihat si korban yang sebenarnya. Di sampingnya Alvin tengah terdiam dengan kening yang mengerut. Tami? Ia perempuan jadi bisa saja merealisasikan apa yang ia rasakan tanpa perlu menyimpannya. Namun bagi pria seperti Alvin itu bukan hal lumrah untuk dilakukan. Barangkali derajat harga diri akan berkurang setengahnya jika merealisasikan nya. Menghitung ribuan koin mungkin lebih mudah dilakukan ketimbang sibuk mengukur tingkat keangkuhan seorang pria.


"Eh, maaf-maaf, Mas. Tami nggak bermaksud untuk bikin mas jatuh dari tangga."


Tami menggeser tubuhnya lantas mencoba untuk berdiri. Genggaman erat jemari mereka ia leraikan. Dengan langkah seribu Tami berlari menaiki anak tangga meski rasa sakit di punggungnya masih begitu terasa.


"Di tinggalkan begitu saja?" tanya Alvin seorang diri.


Alvin membantu dirinya sendiri untuk bangun. Gadis itu mungkin merasa demikian bersalah hingga meninggalkannya sendiri yang masih terlentang di lantai yang dingin. Pikir Alvin. Dengan sedikit meringis kesakitan, Alvin memaksakan dirinya untuk melangkah ke arah meja makan.


"Bagian mananya yang sakit, Mas? Punggung, ya?"


Tami bertanya dengan wajah yang begitu khawatir, entah hilang kemana rasa sakit yang mendera punggungnya beberapa saat yang lalu. Setelah meletakkan kotak First Aid Kid di atas meja, langkahnya terus diatur menuju lemari pendingin. Bongkahan es batu menjadi tujuannya.

__ADS_1


Alvin bingung dengan tingkah istrinya. Mungkin istrinya lulus sekolah keperawatan hanya bagian teorinya saja, sementara prakteknya barangkali gadis itu diberkahi keberuntungan yang sedemikian besar atau dosennya saja yang tidak tahan melihat wajahnya jadi meluluskannya dirasa sebagai keputusan yang tepat.


Memeriksa keadaan korban seharusnya menjadi prosedur pertama yang di lakukan sebelum memutuskan melakukan pengobatan kepadanya. Tidak mungkin tenaga medis mengobati sebelum mendiagnosis. Namun yang di lakukan Tami justru sebaliknya. Setidaknya menolong korban adalah tindakan yang tepat ketimbang meninggalkannya di lokasi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.


Tami meletakkan mangkok yang berisi bongkahan es lantas bersiap melakukan perawatan.


Tiga menit sudah berlalu tapi tak satupun tindakan pertolongan yang ia lakukan. Tami malah terlihat seperti orang yang salah tingkah di belakang tubuh Alvin.


"Kenapa?" tanya Alvin menggoda.


Ia tahu kalau istrinya sedang gugup saat ini. Padahal tadi malam bukan main ia berdrama air mata meminta agar mereka bisa tidur sekamar.


"Engh, itu Mas" Tami terlihat salah tingkah. "Bisa nggak kalau bajunya di buka dulu sedikit, Tami mau periksa apa ada memar atau nggak. Tenang saja Tami nggak akan nyakitin Mas kok, Tami kan bukan dokter".


Tami mengatur suaranya agar terdengar sedikit meyakinkan meski ia sendiri tampak ragu mendengar nada bicaranya.


Alvin berdiri lantas berbalik menghadap belakang, tepat menghadap wajah Tami. Dan gadis itu tampak menahan napas. Dalam hati Alvin bersorak penuh kemenangan. Dengan gerakan perlahan, Alvin membuka satu persatu kancing kemejanya. Tidak usah ditanya kemana arah kedua bola mata Tami, lantai menjadi pemandangan lebih baik saat ini.


"Punggungku yang perlu di teliti Tami. Mas rasa lantainya baik-baik saja deh, jadi tidak perlu kamu perhatikan sampai sebegitunya." Alvin berbisik dengan nada suara yang sedemikian halus.


Mendengar kalimat yang meluncur mulus tepat di telinganya seketika membuat bulu halus di tubuh Tami berdiri tegak. Panas dingin dirasa seketika menjalar dari ujung kaki sampai ubun-ubunnya.


"Eh, iya. Sini Tami periksa." Tami berusaha menepis rasa gugupnya. Dalihnya yang paling baik adalah dengan menganggap pria di hadapannya itu sebagai pasien. Bukan seorang pria yang tengah mengedor-gedor pintu hatinya hingga meningkatkan kecepatan aliran darahnya.


Tami bersiap melakukan pemeriksaan sebelum menyadari adanya kekeliruan dalam kalimat dan tindakannya. Alvin mengambil kesimpulan kalau istrinya itu benar-benar gugup saat ini.


Kedua indra penglihatan Tami sudah diedarkan ke sepenjuru tubuh bagian depan Alvin kemudian dahinya berkerut seribu.


"Nggak ada yang luka atau memar deh, Mas". kata Tami tidak yakin. Kepalanya celiangak-celinguk mencoba memeriksa dari segala sisi.


Alvin menahan tawa melihat tingkah istrinya. Kedua belah telapak tangan Alvin menangkup wajah Tami lalu membungkukkan sedikit wajahnya agar posisi mereka sejajar mengingat tinggi Tami yang mentok hanya sampai ke dadanya.


"Tadi waktu jatuh perasaan punggungku deh yang mendarat di lantai, bukan wajahku, Tami." katanya mengingatkan.


"Iya, yah. Tami lupa." katanya sambil menepuk jidat. "Mas duduk nyamping gih di kursi biar nggak capek."


Tami kemudian memeriksa bagian punggung Alvin. Di beberapa tempat tampak memar akibat gesekan dengan bagian ujung anak tangga. Tami membalut bongkahan kecil es batu dengan handuk kecil dan menggunakannya untuk mengompres agar dapat mendinginkan pembuluh darah di sekitar area yang memar.


Padahal Alvin hanya membuka baju di depannya, bagaimana bisa seketika ia jadi orang linglung. Tadi malam ia mati-matian mengeluarkan air mata buaya agar Alvin bersedia sekamar dengannya.


Tadi malam.


Ayolah Tami, pikirkan sesuatu. Ibu mertuamu sudah membantu separuh dari rencanamu, sekarang tinggal bagaimana kamu menyempurnakan separuhnya lagi. Lakukan sesuatu yang dapat membuat Alvin bersedia untuk tetap sekamar denganmu seperti sebelumnya. Dengan begitu waktu bersama kalian akan jauh lebih banyak. Kemungkinan misimu berhasil pun akan meningkat.


Beberapa menit Tami berusaha keras berpikir apa tindakan yang harus dilakukannya dan air mata menjadi jawaban yang cukup meyakinkan. Berdasar cerita yang dituturkan Karina, Tami mengetahui bahwa mamanya kerap menggunakan air mata untuk meluluhkan hati ayahnya. Mungkin karena itulah Tami memiliki sifat yang agak cengeng dan sering terbawa perasaan. Meski ibunya mewanti-wanti bahwa air mata bukanlah hal yang baik untuk memperoleh apa yang ia inginkan, tapi Tami rasa saat ini tidak ada ide lain yang dapat dipikirkannya jadi ia membuat pengecualian untuk yang satu ini.


Kata rindu pada ibu dan mamanya membuat dadanya sesak. Ia cenderung sensitif bila memikirkan kedua wanita hebat dalam hidupnya itu.


"Tami tidur di bawah saja, Mas." suara Tami terdengar bergetar, dan ia berusaha menggigit bibir bagian bawahnya.


Celaka.


Alvin berusaha tidak panik ketika manik mata Tami yang bulat nan hitam itu mendadak berkaca-kaca .Ia biasanya gugup bila harus menghadapi air mata.


"Nggak apa-apa kamu tidur di kamar bawah? Tapi mas pikir kamu cukup kuat untuk tidur di atas lantai yang dingin itu." ujar Alvin berusaha menghibur.


Tapi bagi Tami guyonan itu sungguh menjengkelkan. Bukan itu jawaban yang ia butuhkan setelah berusaha keras menemukan sesuatu yang bisa membuat dirinya menjadi sensitif dan mengeluarkan air mata.


Dosa apa hambaMu ini ya Allah, sampai diberi suami yang tidak sepengertian ini. Jerit hati kecilnya.

__ADS_1


Sepertinya air mata saja tidak cukup untuk memuluskan rencananya. Tami meluruhkan tubuhnya ke lantai lalu menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Alvin langsung panik melihat tingkah istrinya.


"Hikss, Mas Alvin jahat. Mas benci banget ya sama Tami sampai nggak mau tidur sekamar sama Tami?" Tami merengek sambil berderaian air mata. Persis bocah yang kehilangan permen kakinya.


Alvin lantas berlutut untuk menenangkan istrinya. Sebuah pekerjaan rumah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


"Loh, bukannya kamu sendiri yang tadi bilang mau tidur di bawah? Kok sekarang malah nangis dan ngatain Mas jahat sih?"


Air mata Tami turun semakin deras saja bak tanggul yang bocor mendengar pertanyaan Alvin. Rasa-rasanya tidak ada makhluk paling menyebalkan yang pernah ia temui kecuali suaminya ini.


"Hikss. Semua lelaki sama saja, nggak ada yang ngerti perasaan perempuan." seru Tami seakan mengutuk semua ras lelaki dunia.


"Apa?" tanya Alvin bingung.


"Tami kan cuma terpaksa bilang begitu, karena pasti Mas Alvin nggak mau sekamar apalagi seranjang sama Tami. Daripada tidur di sofa mending Tami tidur di kamar bawah."


"Yah, terus kenapa kamu malah nangis?" tanya Alvin yang masih tidak mengerti dengan maksud Tami.


"Ih, emang dasarnya lelaki. Kenapa sih lelaki itu nggak ada yang ngerti kodenya perempuan."


"Kasih tahu dong istriku apa maksud dari kodenya." Alvin mencubit gemas pipi Tami yang tembem. Gadis itu berusaha menepis tangan Alvin dengan perasaan yang dongkol.


"Nih Mas, Tami beritahu, ya. Kalau perempuan bilang nggak maksudnya itu malah sebaliknya. Perempuan itu kadang menyampaikan sesuatu dengan cara yang tidak langsung. Perempuan itu menggunakan perasaan jadi sebagai seorang laki-laki, Mas harus bisa mengerti maksud tersirat dari perkataan wanita."


"Ooohh." Alvin ber-oh ria sambil menggut-manggut. "Jadi maunya kamu, apa?"


Tami mendengus kesal. Setelah menjelaskan panjang lebar ternyata pria itu belum mengerti juga apa maksudnya. Mau tidak mau ia harus juga mengutarakan maksudnya. Meski harus merendahkan sedikit egonya sebagai wanita ia bersedia melakukannya demi keberhasilan misinya.


"Maunya Tami kita tidur sekamar saja, Mas. Lagian Tami nggak akan merkosa Mas Alvin kok, palingan cuma Tami godain sedikit." Tami mengerlingkan sebelah matanya.


Si suami hanya melongo saja memerhatikan. Bulu mata Tami yang dipenuhi air mata benar-benar mengacaukan kerlingan indah itu. Seumur-umur baru kali ini ada perempuan yang berkata demikian padanya.


"Kenapa mesam-mesem begitu? Ada yang salah di punggungku?" tanya Alvin.


"Hah?"


Tami mengangkat wajahnya yang tadi begitu serius menunduk. Terlihat jelas rona keterkejutan di wajahnya. Entah sudah berapa Alvin memerhatikan bayangan dirinya pada cermin berukuran cukup besar yang tergantung di dinding. Mungkin pria itu telah mengambil kesimpulan bahwa gadis yang ia nikahi agak kurang waras.


Benar-benar memalukan!


"Nggak kok, nggak ada yang salah." jawab Tami dengan panik.


Aduh, kalau ketahuan mesam-mesem karena nginget kejadian semalam bisa jatuh saham saya." Batinnya.


Tami kembali menunduk dan fokus mengompres memar di punggung suaminya. Kegugupan yang melandanya harus segera diakhiri.


"Nah, sudah selesai."


"Kamu nggak mau diobatin?" Alvin menawarkan setelah berhasil mengancing kancing terakhir kemejanya.


Tami, si gadis polos atau mungkin loading lama lebih tepatnya, mengangguk. Lalu duduk di atas kursi. Meski Alvin memang berniat mengobati memar Tami, tapi melihat kepolosan istrinya ia jadi membelotkan niatnya. Alvin menunduk dan membisikkan sesuatu tepat di indra pendengaran sebelah kanan Tami.


"Bajunya harus dibuka dulu kalau mau diobatin." Alvin dengan senang hati menggoda istrinya.


Dan benar saja tebakannya, gadis itu langsung melompat dari kursi. Seketika semburat merah menjalar di pipinya.


"Nggak jadi deh, Mas. Sepertinya nggak ada yang memar juga." ujar Tami berusaha meyakinkan.


Alvin menaikkan alisnya ke atas, seakan memberitahu bahwa ia tak mempercayai ucapan gadis itu. Dengan perlahan Tami meraba-raba meja mencari keberadaan kotak first aid kid. Alvin maju selangkah mendekati Tami dan gadis itu langsung mengatur langkah seribu setelah berhasil menemukan keberadaan kotak itu.

__ADS_1


"Tami naik dulu ke atas, Mas. Mau ganti baju pakai baju dinas."


Setelah mengatakan kalimat itu Tami langsung berlari naik ke kamar. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang terasa di pundaknya akibat menghantam dinding. Melihat senyum nakal yang terbit di wajah Alvin saja ia merasa seakan sudah kehilangan separuh nyawanya. Sementara Alvin, pria itu menikmati momen pagi ini dengan kemenangan yang berlipat ganda karena hatinya yang berbunga setelah berhasil menggoda istrinya. Hanya satu hal yang tidak dinikmatinya hari ini yakni omelet dengan rasa aneh buatan Tami.


__ADS_2