Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 16 (Air Mata Buaya)


__ADS_3

"Busyet dah, Ta. Habis berantem sama preman mana lagi sampai bisa memar begini?"


Tasya sibuk mengompres luka memar yang agak keunguan. Gadis itu tak cukup heran dengan luka memar di pundak Tami. Ia sudah terbiasa merawat luka di tubuh sahabatnya yang satu ini bahkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Tasya kenal betul dengan perangai, Tami. Di depan keluarganya Tami bisa saja menunjukkan sifatnya yang manja plus cengeng, namun lain cerita jika berhadapan dengan penindasan. Tami memang bukan ahli bela diri pofesional, tapi ia sanggup terluka demi membela para perempuan dari penindasan para biang onar di sekolah.Bahkan ia beberapa kali duduk manis di ruang bimbingan dan konseling bersama beberapa biang onar untuk mendengarkan ceramah gratis yang membisingkan telinga. Tasya menebak-membela perempuan yang ditindas-adalah bentuk ungkapan penyesalan Tami karena pernah gagal melindungi ibunya dari kejahatan mantan suaminya.


"Aku sudah lama kali Sya pensiun berantem sama preman. Sudah tobat, sudah insyaf." katanya dengan setengah kesal.


Yang sebenarnya adalah ia tidak kesal dengan pertanyaan yang diajukan Tasya, namun mengingat siapa yang sudah membuatnya berubah menjadi gadis feminim benar-benar merubah suasana hatinya jadi dongkol. Pernah berkata seorang Adam bahwa ia hanya perlu menjadi wanita seutuhnya karena sang Adam yang akan melindungi dengan menjaga segenap hatinya, namun pada kenyataannya itu hanya omong kosong belaka karena pada akhirnya dia juga lah yang melukai hati dan perasaannya.


"Iya, Ta. Ampun. Jangan ngegas gitu, nanti kamu berasep susah. Jangan-jangan kamu habis dari kantor kelurahan ya?"


Tami menoleh manatap wajah Tasya dengan sebelah alis terangkat. "Ngapain?" tanyanya, heran.


"Bikin surat keterangan tidak mampu. Tidak mampu move on dari dia."


Tami langsung mendaratkan pukulannya pada Tasya yang sudah tertawa seperti mbak Kunti. Padahal mati-matian Tami mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sekarang hatinya baik-baik saja. Namun apa yang dikatakan Tasya kembali mengusik perasaannya. Lantas benarkah teriakan jiwanya, kalau Alvin hanya menjadi pelarian semata. Meski itu benar, ia bertekad menjadikan Alvin sebagai pelarian terindah di hidupnya.


"Nih ya, Sya. Yang pertama luka memar di pundakku itu bukan karena berantem sama preman tapi karena kebentur sama dinding dan yang kedua aku sudah move on dari dia. Kalau kamu ngebahas dia lagi, aku pastiin kamu akan tidur di rumah sakit ini sebagai pasien dan aku pastiin kamu nggak akan ingat bagaimana kronologinya kamu bisa sampai di sana." ancamTami berapi-api.Membahas tentang "dia" benar-benar menyulut amarahnya.


"Calm down, Ta. Istigfar, banyak-banyak inget Allah. Jangan sampai amarah mengusai jiwamu. Tarik nafas, keluarin. Tarik nafas, keluarin." ujar Tasya seraya menaik turunkan tangannya bersamaan dengan menghirup udara lalu mengeluarkan karbon dioksida.


Tami menirukan apa yang dicontohkan Tasya sambil banyak beristigfar dalam hati.


Astagfirullahhaladzim, astagfirullahhaladzim. Calm down, Tamj, calm down. Ingat Tami, sekarang syaitan pasti lagi bikin api unggun di hatimu. Kalau kamu manas terus bisa-bisa mereka bakar sate di sana sambil berpesta ria.


"Sudah tenang? " tanya Tasya memastikan apakah sahabatnya itu sudah kembali ke mode dingin.


Tami menghirup nafas sekali lagi lalu menghembuskannya perlahan. Segaris senyum merekah di wajah ayunya. Barangkali syaitan sudah ngelipat tenda dan nggak jadi kemah, gagal bawa trofi kemenangan.


"Kalau sudah tenang, bisa nggak ceritain kronologisnya kenapa bisa sampai memar gini?"


Tami menghembuskan nafas sejenak lalu mulai bercerita.


"Jadi gini, Sya. Tadi pagi habis shalat subuh aku pergi ke rumah mertua untuk minta bahan bikin omelet. Omelet yang pertama gosong, yang kedua keasinan, yang ketiga ome..."


Tasya cepat-cepat memotong pembicaraan Tami. Kalau dibiarkan bicara terus semua embel-embel yang nggak penting juga akan ia ceritakan. Benar-benar membuang waktu lawan bicaranya saja.


"Stop-stop, Ta. Kalau kamu ceritain semuanya, bisa-bisa satu jam nggak bakal selesai. Intinya ceritain adegan pas kamu jatuh saja. Nggak usah cerita panjang kali lebar."


"Oh itu, tadi pagi aku sama Mas Alvin jatuh dari tangga gara-gara kaki aku yang mendarat di tempat yang nggak tepat, alhasil punggung aku kepentok di dinding."


"Terus kenapa nggak dikompres dari tadi pagi? Fokter Alvin memar juga nggak?" tanya Tasya beruntun.


"Memar di punggung Mas Alvin udah aku kompres. Aku nggak ngompres memarnya karena tadi pagi pas dateng langsung nanganin pasien yang kecelakaan minibus. Jadi sibuk, nggak ada waktu."


"Nggak minta tolong dikompres sama dokter Alvin di rumah?"


Tami menggeleng. "Dia nawarin sih, tapi pas ngeh kalau ngompresnya harus buka baju dulu aku langsung lompat dari kursi."

__ADS_1


Tasya melongo tak percaya. Ia tahu sih kalau Tami itu tidak pernah membuka auratnya di depan lelaki yang bukan mahram, tapi masa sama suami sendiri malu. Heh, ada-ada saja si Tami ini.


Tami tahu bahwa Allah menguji hambanya dengan menghadirkan sebuah rasa istimewa yang perlahan menelusup memasuki ruang kosong bernama hati. Ibunya pernah mengatakan bahwa saat kita bertemu dengan pria yang salah maka semua hal yang ada pada diri insan tersebut dianggap sempurna. Bagai ia lah sesosok Adam paling sempurna di atas bumi Allah. Roda kehidupan terasa bagai tak berjalan tanpanya. Tapi kadang di situlah letak kelalaian anak manusia. Ia lupa bahwa ada insan paling mulia yang cintanya tak terhingga kepada umatnya. Bahkan di akhir hayatnya cinta beliau semakin besar kepada umatnya.


Ya, Rasulullah. Beliau yang mengajarkan manusia untuk saling mencintai, untuk saling menyayangi. Beliau yang paling memuliakan wanita.Sudah menjadi kewajiban untuk menempatkan cinta kepada Allah dan Rasulullah di tempat teristimewa di hati.Namun kala cinta yang salah hadir, maka ia akan mengusik bahkan merebut perlahan tempat istimewa itu. Tami pernah merasakannya, seperti tak berpijak di bumi lagi apabila melangkah.


Namun jika pria itu adalah orang yang tepat maka ia akan sepenuh hati memperjuangkanmu. Dirinya memang tak sempurna dan kamu akan membenci ketidaksempurnaan itu, tapi percayalah bahwa cinta sejati memiliki tempat yang istimewa juga, namun tak akan menyerobot tempat yang tak menjadi haknya.


Tami tak ingin bersikap egois. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk menjadikan Alvin sebagai tempat pelarian. Tekadnya hanya satu saat menerima permintaan orang tuanya untuk menjadi mempelai yakni membawa kebahagian untuk semua orang dengan menyambung tali silaturahmi yang nyaris putus.


Menikah dengan calon kakak iparnya-apalagi notabene Alvin cinta mati dengan saudarinya-membuat Tami harus berusaha lebih untuk memikat hati pria itu. Ia tidak tahu pasti apa alasan Karina mencampakkan pria yang mati-matian memperjuangkan cintanya, tapi satu hal yang ia tahu bahwa pria itu sudah sah menjadi penyempurna separuh agamanya. Alvin mempunyai hak atas dirinya dan ia pun mempunyai hak atas diri suaminya. Dan salah satu hak itu adalah hak untuk menggantikan posisi istimewa Karina di hati Alvin. Ia mengambil keputusan ini bukan sepihak dari hatinya, namun sudah ia diskusikan terlebih dahulu dengan Rabbnya.


"Hei, Ta. Bengong saja. Lagi ngelamunin apaan sih?" tanya Tasya sambil menepuk sebelah pipi Tami.


Tami terlonjak kaget, setelah hampir lima menit gadis itu baru menyadari kalau kantung yang berisi es batu yang tadi menempel di pundaknya sudah nangkring manis di wajah ayunya.


"Subhanallah, nih anak." Tami menggerutu kesal.


Buru-buru ia mengambil cermin untuk melihat kondisi pipinya. Tasya hanya cengar-cengir nggak jelas melihat kepanikan Tami.


"Ya Allah, sampe merah gini, Sya." Tami tidak berhenti mendumak sambil mengambil bedak untuk touch up.


"Lagian siapa suruh ngelamun sampai nggak ingat dunia?" ujar Tasya dengan wajah polos, "Ngelamunin siapa? Dokter Alvin, ya?"


Pertanyaan Tasya dibiarkannya saja menguap di udara. Ia terlalu sibuk memoles bedak di pipinya yang memerah. Padahal sebelum pergi menemui Tasya, ia berjuang keras mencuri waktu luang untuk belajar tutorial make up sederhana. Benar-benar bikin naik darah gadis yang satu ini. Untung ia sudah insyaf, kalau nggak bisa di jadiin rempeyek dia.


"Eh, tunggu dulu." ujar Tasya sambil menahan ujung baju Tami. "Mau kemana? Buru-buru banget."


"Mau ngasih bekal makan siang untuk suamiku yang tercinta." jawab Tami sambil melotot.


Tami sengaja menekankan kata suamiku tercinta karena ia tahu benar kalau gadis di depannya itu sudah ngebet banget pengen nikah. Dikira nikah itu gampang kali, lha bikin sarapan untuk suami saja susahnya minta ampun. Tami mencibir di dalam hatinya. Lebih tepatnya cibiran itu ia tujukan untuk dirinya sendiri. Namun reaksi yang dinanti-nantikan Tami tidak kunjung muncul. Tasya tetap teguh dengan segaris senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Tidak uring-uringan seperti biasanya. Barangkali gadis itu sudah bosan mencari jodoh yang tak kunjung di kirim Allah.


Saat Tami bersiap untuk meninggalkan ruang istirahat staf rumah sakit langkahnya kembali di hentikan oleh pegangan tangan Tasya di lengannya.


"Aduh apalagi sih, Sya?" tanya Tami mulai kehilangan kesabaran.


Tasya menaikkan telapak tangannya ke udara.


"Bayarannya mana?"


Tami memutar bola matanya. Ternyata Tasya lagi butuh modal untuk cari jodoh. Pantas saja hari ini ia tidak sesi cerita adegan pas nguntitin pria seperti hari-hari biasanya.


"Kamu hitung saja totalnya berapa, nanti bakal aku bayar di amplop nikahan kamu."


Tami berlalu meninggalkan Tasya yang sudah mencebikkan bibir.


"Sabar, Tasya, sabar. Kamu sendiri sih yang kebelet pengen nikah jadi ya terima saja dengan lapang dada kalau ada yang menyinggungmu soal pernikahan." ujar Tasya bermonolog sendiri.

__ADS_1


.....


Tami berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan bersemangat. Terkecuali dengan punggungnya yang sakit, semua hal sepanjang hari ini membuat hatinya menghangat. Ada sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelum ini saat orang lain membicarakan tentang Alvin. Hatinya bagai di tumbuhi bunga-bunga yang mulsi bermekaran.


Sambil celingak-celinguk matanya mengintai kesana kemari mencari keberadaan seorang pria yang perlahan tapi pasti menelusup di hatinya. Pria yang namanya selalu ia sebut-sebut dalam doa di sepertiga malamnya meski kadang pria itu membuatnya meradang karena sikap cuek dan tidak berperasaan yang dimilikinya.


Kelelahan menyusuri tiap sudut di rumah sakit, Tami memutuskan untuk mengalihkan langkahnya ke ruangan suaminya. Barangkali pria itu tengah beristirahat setelah empat jam berada di ruangan operasi.


Saat langkah Tami berjarak hampir enam langkah dari pintu, kedua kakinya kompak berhenti. Ia mematung di sana sambil menatap lurus ke depan. Seorang wanita yang cukup dikenalnya berdiri tepat di depan pintu. Wanita itu terlihat kaget, namun hanya sebentar. Senyuman indah menghiasi wajahnya yang menawan beberapa saat kemudian.


Tami menelan salivanya lantas membalas senyuman wanita itu.


"Assalamu'alaikum, kak Mira." Sapa Tami dengan santun.


Ia mengenali wanita itu. Bagaimana tidak, bahkan-saat belum menikah dengannya-Alvin memuji kesigapan dan kegesitannya di ruang operasi lalu membandingkannya dengannya. Sudah tentu, bahkan Tami pun dapat melihat keprofesionalan yang amat besar di miliki wanita itu. Ia lebih memilih mendampingi Alvin di meja operasi ketimbang duduk manis merawat putranya yang terbaring di ruang perawatan.


"Wa'alaikumussalam, Tami." jawabnya dengan senyum manis yang tak lekang dari wajahnya. "Nyari dokter Alvin, ya?"


"Iya."


"Dokter Alvin lagi shalat di masjid. Kamu tunggu saja di dalam, palingan sebentar lagi dia balik."


Tami mengangguk setuju.


"Tami mau nganter makan siang untuk dokter Alvin?"


"Iya."


"Kakak juga habis nganter makanan ke dalam. Tadi pagi kakak masak banyak di rumah. Karena kebanyakan jadi kakak bawa saja ke sini daripada mubazir di rumah." penjelas Mira.


Barangkali wanita itu tidak enak hati melihat Tami yang membawa kotak bekal makan siang, karenanya ia memberi penjelasan agar Tami tak salah paham.


"Kamu temenin dia makan, ya. Kasihan dia pasti kelelahan pasca operasi tadi. Kakak pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah salamnya dijawab, wanita itu berlalu meninggalkan Tami. Dengan mengatur langkah secepat kilat Tami memasuki ruangan Alvin. Gadis itu begitu penasaran dengan isi kotak bekal makan siang yang dimaksud Mira.


Satu menit...


Dua menit...


Lima menit...


Sepuluh menit...


Bahkan jarum jam pun terasa bergerak lambat saat Tami melihat isi kotak bekal dari Mira. Dibandingkan dengan isi kotak bekal buatannya, punya Mira seperti langit dan miliknya di dalam bumi. Tenggelam dan terkubur di bawah lapisan tanah yang dingin. Benar-benar perbandingan yang tidak sebanding.

__ADS_1


Sekonyong-konyong gadis itu uring-uringan sendiri sambil menatap miris makanan buatannya. Oh Tami, penyesalan memang datang belakangan. Kenapa juga kamu dengan sombong menolak tawaran les memasak oleh ketiga ibumu? Sekarang bersiaplah untuk menulis surat tanda permintaan maaf kepada mereka.


__ADS_2