Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 18 (Senyum yang Membunuh)


__ADS_3

Senyum di wajah Tami sudah meleret-leret. Khimar yang menutupi rambut panjangnya nyaris tak berbentuk. Hampir dua puluh menit ia melebarkan senyumnya, membuat wajahnya yang chubby semakin terlihat chubby. Rahangnya berasa sudah mau jatuh ke meja demi untuk mempertahankan ekspresi wajahnya agar terlihat antusias dan bahagia meski bola matanya yang puluhan menit lalu terlihat berbinar kian sayu menahan kantuk yang menyerang. Kalau mau mengikuti kehendak hati, sekarang ia pasti sudah berlayar jauh ke pulau mimpi. Tapi, mengingat tuan suami sedang asyik menikmati hasil karya tangannya maka Tami memilih menunda untuk melakukan hobby yang sangat dicintainya itu. Demi memikat hati suami apapun akan ia lakukan. Setiap usaha menuntut sebuah pengorbanan bukan?Rencananya baru saja dimulai, ia masih memerlukan beberapa pengorbanan lagi agar semuanya dapat berjalan dengan sempurna.


"Kalau ngantuk naik ke atas aja, Ta. Tidur di kamar." saran Alvin. Ia tidak tega juga melihat Tami yang kepalanya lunglai ke kanan ke kiri. Lampu yang temaram tak mampu menyamarkan binar kedua manik mata Tami yang kian meremang. Alvin tahu, istrinya itu pasti luar biasa kelelahan hanya demi untuk menyenangkannya.


Salahnya juga sih kenapa harus pulang larut malam dan membuat istrinya menunggu dengan gelisah di rumah. Keadaan di rumah sakit yang kerap kali tak dapat diprediksi membuatnya sering kehilangan momen bersama keluarga. Membuat ia tak punya waktu bahkan untuk dirinya sendiri. Dan mungkin karena alasan itu juga yang membuat ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang sangat dicinta dan di damba hatinya memilih pergi meninggalkannya tanpa sebarang kata atau pesan yang mampu mengobati sedikit luka yang menganga di hatinya. Jangan tanyakan berapa kali ia menyalahkan dirinya sendiri. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara mencintai dirinya sendiri.


Karina, gadis itu sudah membawa pergi separuh jiwanya. Menyisakan separuh lagi yang ia gunakan untuk meratapi kehilangannya. Ia sungguh mencintai Karina, tak peduli berapa kali pun gadis itu menolaknya. Ia teguh pada pendiriannya bahwa gadis masa kecilnya itu adalah jodoh yang digariskan Yang Maha Pemilik Cinta untuknya. Tapi rupanya takdir berkata lain, ia tak berjodoh dengan gadis pujaannya dan justru mengikat janji dengan calon adik iparnya. Sungguh ia tak mengerti dengan permainan takdir ini. Beberapa saat ia merasa raganya bagai tak berjiwa lagi, namun kehadiran seorang Karina yang lain perlahan mengobati luka di hati dan jiwanya.


Tami Nurul Sabrina, gadis itu menggenggam erat tangannya seakan tahu bahwa luka yang ditorehkan orang yang amat dicintai akan sembuh melalui sentuhan hangat ketulusannya. Ia seperti paham betul di bagian mana ia harus menaburkan mantra-mantranya yang ajaib setahap demi setahap hingga menjalar menembus reruntuhan ketulusannya yang dibombardir Karina hingga luluh lantah tak bersisa. Tami tak mengasihaninya seperti yang selama ini orang lain lakukan padanya. Gadis itu memilih berjalan beriringan, bersama melalui kegetiran kenyataan. Tanpa menghukumnya untuk percaya bahwa yang tersaji kini hanya tumpukan luka dan kepedihan. Ia seakan di bawa ke negeri dongeng yang menjanjikan bahwa ia akan baik-baik saja dan bahagia disana. Tapi sampai kapan dongeng itu akan bertahan? Adakah dongeng itu berakhir dengan bahagia atau kembali ia harus merasakan luka dan kesakitan? Beranikah ia mengambil resiko sekali lagi untuk percaya atau sebaiknya ia mundur saja agar tak ada akhir yang menyakitkan untuk kedua kalinya? Entahlah, takdir begitu misterius maka biarlah ia mengalir seperti bagaimana seharusnya. Ia ingin mencipta bahagia, dan menikmati momen itu sampai takdir kembali mengambil alih segalanya.


"Hah?" respons Tami dengan linglung, susah payah ia membuka kelopak mata kanannya yang terpejam rapat.


Alvin menelan makannya sebelum mengulang apa yang ia ucapkan beberapa saat yang lalu.


"Kamu kalau ngantuk naik aja ke atas, tidur di kamar. Kasian kamunya kalau nungguin mas selesai makan dulu." jempol tangan Alvin terulur mengusap bagian bawah mata kiri Tami. "Mata kamu sampai udah merah gini nahan kantuk." Ia benar-benar tidak tega melihat istrinya begitu setia menunggunya seperti ini.


Kedua belah pipi Tami merona. Sentuhan tangan Alvin sesaat tadi sukses menggedor-gedor dinding jantungnya, membuat organ itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa akhir-akhir ini Ia selalu merasa gugup saat berada di dekat pria itu. Tami menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir rasa canggung yang dirasakannya.


"Nggak kok. Tami nggak ngantuk, suer deh."


Hehh, bilangnya nggak ngantuk tapi kepala mungilnya sedari tadi ngangguk-ngangguk seperti orang India. Matanya saja sudah mirip dengan keadaan lampu jalan yang korslet kesamber petir. Ditinggal dua menit saja pasti sudah tidak sadarkan diri dia.


"Naik saja ke atas, Tami. Nggak usah nungguin Mas selesai makan. Lagian bisa berabe juga kalau kamu sampe ketiduran di sini."


Tami menautkan kedua alisnya, keningnya berkerut bingung. "Emang kenapa, Mas?" tanyanya tanpa bisa membendung rasa penasarannya.


"Engh, itu...itu..."


"Itu? Itu...itu... kenapa sih, Mas?" tanyanya tidak sabar.


"Itu, Mas takut nggak kuat ngegendong kamu. Aw...aw...ampun dah, jangan dicubitin lah, Tami. Kan cuma bercanda."


Tami menarik tangannya dari lengan Alvin. Entah bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Pria yang beberapa saat lalu sukses melukis rona merah jambu di pipinya kini membuatnya menaham geram luar biasa.


"Jangan cemberut gitu lah, tambah imut tau muka kamu. Nanti kalau aku naksir gimana?" goda Alvin sambil tertawa-tawa. Dalam pandangannya, Tami terlihat begitu menggemaskan ketika cemberut seperti ini.


Tami memutar kedua bola matanya, "Au ah, terang."


Kadang Tami sendiri bertanya-tanya, apa Alvin yang duduk di depannya ini adalah orang yang sama dengan dokter Alvin yang galak, cerewet, bin jutek yang ditemuinya di rumah sakit? Masalahnya, tiap kali Alvin hanya berdua dengannya ia seperti menemukan sosok Alvin yang berbeda. Pria itu jauh lebih hangat dan ekspresif. Ia juga tak terlihat canggung saat berinteraksi meski baru beberapa bulan mengenal Tami. Dua anak manusia ini terlihat lebih mirip dua sahabat yang memutuskan hidup bersama ketimbang suami istri. Sedang Tami, gadis itu seperti menemukan sosok Keenan dalam diri Alvin. Meski di luar lebih banyak diam tanpa senyum, namun pada kenyataannya Tami mengetahui bahwa pria yang sudah dicampakkan oleh kakak perempuannya itu memiliki hati yang luar biasa baik dan tulus.


Tanpa sadar Tami menopang dagu dengan kedua tangannya diatas meja. Ia sangat intens memandang suaminya saat ini, seakan menelusuri rahasia terdalam pria itu melalui ekpresi wajahnya.


Alvin yang sadar menjadi pusat perhatian gadis bermata bulat di sampingnya mengalihkan fokus dari piring yang sudah tandas isinya dan memandang Tami tidak kalah intens. Gadis itu tersenyum begitu manis hingga membuat bolongan kecil di pipinya kelihatan sempurna. Hal yang membedakan Tami dengan Karina adalah lesung pipi mungil di pipi kirinya. Tapi bagi Alvin tetaplah bayangan Karina yang ia lihat saat melihat wajah Tami, percayalah kata move on itu mudah diucapkan tapi susah diterapkan. Hubungan Alvin dan Karina memang dulunya sebatas adik kakak bagi Karina, tetapi bagi Alvin hubungan mereka lebih dari itu. Anggaplah Alvin yang bawa perasaan dalam hubungan mereka, tapi memang begitu sih kenyataannya. Ia bahkan tidak tahu kapan rasa cinta itu mulai tumbuh di hatinya. Sejak beranjak remaja ia sangat melindungi Karina dari lelaki yang mendekatinya. Ia bahkan lebih protektif kepada Karina dibanding dengan Keenan yang jelas-jelas adalah saudara kandung Karina. Bisa dibilang Alvin itu bucinnya Karina walau pada akhirnya semua usahanya untuk setia mencintai gadis itu menuai buah yang pahit.


Dan kini, saat kedua bola matanya bertemu pandang dengan kedua bola mata indah milik Tami, kenangan masa lalu mengacak-acak segalanya. Kenangan pahit itu merobek tirai yang sudah ia sulam untuk menutup luka hatinya. Alvin menghembuskan nafasnya pelan dan memilih beranjak dari kursi. Langkahnya terhenti saat lengan kirinya dicekal jemari milik Tami. Pandangan Alvin langsung tertuju ke jemari Tami, lantas menatap Tami yang sedang mendongak.


"Mau kemana, Mas?" yanya gadis itu. Senyum manis masih setia menghiasi wajahnya.


"Mau ngambil air."


Kedua alis Tami bertaut, heran mendengar jawaban Alvin.


"Ngambil air? Buat apa? Kalau buat mandi udah Tami atur suhu airnya tadi jadi hangat. Mas tinggal mandi saja."


Alvin tersenyum, lantas jemarinya terulur untuk mencubit pipi Tami dengan gemas.


"Bukan buat mandi, Tami, tapi buat minum."


"Hah? Minum?"

__ADS_1


"Iya. Masa aku harus minum air yang kamu sediain di kamar mandi."


Tami mengedarkan pandangannya ke arah meja makan, seketika ia beristighfar dan nyengir lucu.


"Hehehe. Tami lupa."


Hadeh, gimana deh dia ini. Air buat mandi dia siapin, masa air buat minum ia sampai lupa sih? Tami beranjak dari tempat duduknya dan menarik Alvin agar duduk di kursinya tadi.


"Mas duduk ganteng aja disini, biar Tami yang ngambil minumnya." katanya, sebelum ngacir ke dapur untuk mengambil segelas air.


Subhanallah, istri macam Tami tuh nggak ada duanya di dunia ini. Sampai-sampai Alvin bingung harus sujud syukur atau banyak-banyakin istighfar karena diberi anugerah istri seorang Tami Nurul Sabrina. Tak lama berselang gadis itu datang membawa secangkir air lantas menyerahkannya kepada Alvin. Ia duduk di sebelah suaminya dengan mata yang setia manatap Alvin yang kelihatan sangat kehausan. Air di gelas yang cukup besar itu habis hanya dengan tiga kali tegukan.


"Gelasnya jangan ditelen sekalian, Mas. Bisa berabe urusannya nanti."


Alvin hampir saja tersedak air mendengar perkataan Tami. Selepas tegukannya yang ketiga tawa Alvin barulah pecah tawa yang sejak tadi ditahannya. Gimana Alvin nggak ketawa coba, omongan Tami tuh sebenarnya masuk dalam kategori melucu tapi ekspresi wajah Tami saat mengatakan itu sangat serius seakan-akan Alvin akan benar-benar menelan gelas itu andai ia tidak mengingatkannya.


Tami menghembuskan nafas pendek-pendek sambil mengelus bagian dadanya guna mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba kembali berdetak dengan sangat tidak wajar saat melihat wajah Alvin yang kelihatan makin tampan saat ia tertawa. Tami memejamkan kedua matanya seraya memanjatkan doa . Ya Rabb kuatkanlah hamba dari pesona orang tampan nan mapan macam pria di depanku ini, Aamiin. Batinnya.


"Kenapa, Ta? Deg-deg ser, yah lihat cowok ganteng yang kelihatan makin guanteng kalau ketawa." tanya Alvin saat melihat ekspresi wajah Tami. Alis matanya sengaja ia mainkan untuk menggoda Tami. Senyum jahil tercetak jelas di wajahnya.


"Hah? Kok tau? Eh, maksud Tami anu...eh, enggak kok. Biasa aja."


Tawa Alvin menggema, memenuhi ruang makan yang sangat minimalis. Sementara Tami sibuk merutuki dirinya sendiri kenapa dia mesti keceplosan ngomong seperti itu. Aduh malu, mau ditaruh dimana nih muka ya Rabb? Susah emang kalau lihat cowok yang gantengnya luber kemana-mana, bawaannya typo mulu nih mulut.


"Iya juga nggak apa-apa kok, aku nggak keberatan. Kenyataan memang susah berbohong loh. Orang ganteng mah susah ditolak pesonanya" ujar Alvin dengan tengil.


Aduh, emang ya mereka tuh pasangan serasi idaman. Dua-duanya sama-sama narsis bin kepedean. Tami berdehem sebentar untuk menghilangkan kegugupannya. Entah bagaimana air mukanya saat ini. Alvin ngomong gitu mah nyantai, lah Tami yang denger berasa jadi ikan lele yang lagi klepek-klepek di tanah karena kekurangan oksigen.


"Riview dong, Mas, gimana rasa makanannya."


"Ohhhh, jadi dari tadi kamu nungguin riview dari masakan kamu toh. Kirain kamu ngeliatin seintens itu karena tersepesona dengan ketampanan mas yang hakiki."


diam-diam bae, subhanallah. Ngomong apa kek gitu. Mungkin masakanku terlalu enak kali makanya mas Alvin sampai lupa komentar apa-apa. Husnuzan sajalah daripada sakit hati.


"Masih nunggu riview dari aku?"


Tami mengangguk dengan lemah. Ya, masa dia harus merengek-rengek minta Alvin komentar. Lelah Hayati menunggu bang.


"Yah, gimana dong. Makanannya udah abis itu. Masak ulang lagi aja nanti aku review." ujar Alvin tanpa merasa berdosa.


Astaghfirullah. Kalau nggak dosa nih yah, ingin saja Tami nyakar-nyakar muka suaminya itu. Dengan dongkol Tami beranjak dari kursinya menuju ruang tengah. Dia tuh bukannya nggak ikhlas makanannya dimakan Alvin, kan emang dia masak buat suaminya tapi, dia hanya ingin mendengar komentar membangun dari Alvin. Ia ingin tahu apa kekurangan dari masakannya. Ia ingin memberikan pengabdian terbaik sebagai seorang istri. Tapi Alvin tuh bener-bener nggak peka orangnya. Ya nasib Tami lah, dapet suami yang terlalu pintar hingga nggak peka dengan lingkungannya.


"Kamu ngambek ya, Ta?"


Alvin melabuhkan tubuhnya di samping Tami. Jari telunjuknya sibuk menoel-noel pundak gadis itu. Dia itu bukan pria romantis. Jangankan merayu, berbicara dengan anak gadis orang saja dia jarang. Itu tuh efek keseringan banget pacaran sama buku jadinya dia sampai lupa bagaimana berinteraksi dengan lawan jenisnya.


"Tamiii, perawat narsis yang kalau ngambek tambah manis, jangan marah dong. Kalau kamu marah besok-besok siapa yang masakin aku?" Alvin lanjut menoel-noel pundak Tami, masih dengan usahanya untuk merayu si istri.


"Mas mau aku masakin lagi?" tanya Tami dengan mata berbinar, ia seperti lupa dengan kekesalannya.


"Nggak" jawab Alvin dengan senyum jahilnya. Dan jawabannya sukses membuat Tami manyun lagi.


"Maksudnya, nggak bisa nolak kalau kamu yang masak. Karena rasa masakan kamu nggak ada duanya."


Tami tersenyum dengan malu-malu.


"Ih gombal." ujarnya seraya mencubit pinggang Alvin.


"Aw..., aduh, Ta, ampun," Alvin menangkap jemari Tami lalu dibawanya ke dekat bibir, " ih, gemes deh. Pengen gigit. Kalau marah nyubit, kesel nyubit, ini bahagia juga nyubit. Satu badanku pasti udah pada merah-merah semua, ayo tanggung jawab."

__ADS_1


Tami nyengir, nggak tau mau jawab apa. "Hehehe, kebiasaan. Nanti aku kerokin deh."


"Hahaha. Ya Allah, istriku lucu banget sih. Kalau dikerokin mah bukannya ilang malah tambah merah atuh, neng."


"Iya, ya?"


"Iya emang. Udah ah, naik ke atas yuk, ngantuk pengen bobo. Bobo bayeng gitu"


"Bobo bayeng?" tanya Tami dengan linglung.


"Iya, Bobo bayeng kamu. Hahahaha."


"Mas ngegodain aku ya?"


"Menurutmu?"


Alvin berjalan menaiki tangga, tawanya seperti tak ingin pergi dari bibirnya. Menggoda Tami menjadi sebuah kesenangan baru baginya. Tami yang masih berdiam di tempatnya. Sepersekian detik kemudian dengan segera pipinya merona setelah menyadari bahwa beberapa saat yang lalu Alvin sengaja menggodanya dan bodohnya ia tak menyadari hal tersebut.


.....


Jadwal shift Tami hari ini dimulai pukul delapan pagi dan akan berakhir pada pukul dua siang. Jadwal ini bisa saja berubah sewaktu-waktu bilamana rumah sakit memerlukan tenaga medis untuk menangani pasien yang membludak atau ada perawat lain yang tidak masuk kerja. Tami biasanya dengan senang hati bersedia mengambil double shift. Tapi, semenjak menikah dengan Alvin dan misinya untuk memikat pria itu sedang berjalan maka ia memilih untuk tidak mengambil double shift lagi. Sepulangnya dari rumah sakit Tami akan langsung menemui ketiga Ibunya di rumah orang tuanya, atau kadangkala juga di rumah mertuanya. Kesibukannya akhir-akhir ini bertambah, selain belajar memasak ia juga sibuk menjadi model dadakan.


Bagaimana tidak, ketiga ibunya gemar sekali menyeretnya ke pusat perbelanjaan untuk membeli berbagai peralatan make-up. Ia juga harus rela bolak-balik ruang ganti untuk mencoba beberapa helai baju khusus untuk memikat si suami. Seperti hari ini, ketiga Ibunya sudah beberapa kali menelponnya. Mereka terus saja menanyakan kapan putri mereka yang cantik jelita akan pulang.


"Iya, Ma. Ini Tami juga lagi beres-beres pengen pulang."


Tami sudah memakai jaket dengan tas mini backpack yang tersampir di punggungnya. Dengan cepat ia menutup loker dan berjalan keluar ruangan. Benda pipih berbentuk persegi panjang masih setia menempel di pipinya. Rupanya orang yang berbicara di seberang sana tidak sabar menunggu kedatangannya. Entah apa lagi rencana mereka sekarang.


"Iya ,Mama, Mamah, dan Ibuku sayang. Ini juga udah mau keluar dari rumah sakit."


Tami melambaikan tangan kanannya ke arah para perawat yang berada di nurse station sambil mengucapkan salam yang dibalas mereka dengan kata wa'alaikumussalam.


"Iya, Mah. Assalamu'alaikum."


Setelah salamnya dijawab, Tami mematikan teleponnya dan memasukkannya di saku bajunya. Ia berjalan sedikit tergesa. Orang rumah sudah menunggunya dan ia tak mau membuat mereka kecewa dengan pulang terlambat. Saat melewati lorong yang sepi, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seorang perempuan yang membawanya ke arah tangga yang jarang digunakan.


"Mbak...Mbak mau bawa aku kemana?" tanya Tami dengan bingung.


Perempuan berbaju putih itu diam saja, tapi tangannya dengan keras mencekal pergelangan tangan Tami hingga membuat gadis itu meringis menahan sakit. Langkah kakinya begitu tergesa menyerat Tami memasuki pintu dan membawanya menaiki anak tangga.


"Mbak mau bawa aku kemana, sih?"


Tami masih berusaha melepaskan cekalan tangan wanita itu, tapi rupanya tangan wanita itu lebih kuat. Tami sebisanya berusaha mempercepat langkah kakinya sementara otaknya berusaha mencari jawaban mengapa wanita yang ia kenal ramah dan lembut itu berubah sifat seratus delapan puluh derajat saat ini. Setelah menaiki sekitar empat puluh anak tangga, langkah wanita itu terhenti. Sekitar dua detik mereka terdiam lalu tanpa Tami perkirakan, wanita itu memelintir pergelangan tangannya dan membenturkan punggungnya di dinding. Tami meringis, merasakan sakit di sekitar area punggung bagian atas yang tidak terlindungi tas.


"Mbak kenap..."


Plak


Suara tamparan itu terdengar begitu keras, menggema sampai ke lantai atas. Tami meraba pipinya yang putih yang kini bernoda merah bekas tamparan wanita di depannya. Tami merasakan darahnya mengalir di satu titik dan pipinya terasa panas dan perih. Sungguh ia tak mengerti setan macam apa yang merasuki wanita yang sangat dia hormati selama ini. Tanpa sebarang kata dan penjelasan wanita itu menamparnya dan kini dengan pandangan setajam pisau merobek-robek kepercayaan Tami terhadapnya. Tami beristighfar dan berdzikir di dalam hatinya. Saat ini hanya Tuhannya yang dapat menyelamatkan dia dari gangguan hawa nafsu dan setan durjana yang menguasai wanita itu.


"Mbak. Sabar, istighfar. Semua masalah bisa kita omongin baik-baik. Nggak perlu pakai emosi seperti ini."


Perempuan itu meludah ke samping, membuat Tami terjengkit kaget. Dadanya naik turun menahan amarah yang sebentar lagi ia hamburkan kepada Tami.


"Diam kamu, dasar perempuan munafik." Wanita itu berteriak tepat di depan wajah Tami.


Air mata Tami mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah. Rasanya begitu menyakitkan saat mengetahui orang yang selama ini dipercaya menghina kita begitu rupa.


Saat kalimat berikutnya meluncur dari bibir wanita itu, tahulah Tami bahwa hanya sebatas senyum pun bisa membunuhmu.

__ADS_1


__ADS_2