Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 7 (Gadis Ceroboh VS Dokter Galak bin Jutek)


__ADS_3

Alvin yang masih mengenakan baju OK (operation kamer) berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan gontai. Semangat dan tenaganya sudah terkuras habis karena operasi bypass yang berlangsung hampir selama enam jam. Alvin mengurut tengkuknya yang terasa kaku. Urat-uratnya terasa tegang semua. Jangan bayangkan menjadi tenaga kesehatan itu menyenangkan. Dimulai dengan pendidikannya yang memakan waktu lama lalu bekerja di bawah tekanan yang tak mengenal waktu, benar-benar melelahkan. Bisa dikatakan bahwa tenaga medis itu adalah robot hidup yang sesungguhnya. Karena itulah ia sampai harus mengurungkan niat untuk menikahi kekasihnya beberapa tahun yang lalu. Kedua orang tuanya bahkan mengancam tak akan membiayai pendidikannya jika ia memilih menikah. Bukannya tidak boleh menikah saat masih pendidikan, bahkan beberapa temannya memilih menikah ketika masih menjalani coas. Orang tuanya hanya tak ingin pendidikannya terganggu karena sibuk mengurus rumah tangganya. Tapi kini hal yang paling membuatnya bahagia adalah ketika melihat senyum bahagia dari pasien dan keluarganya saat mereka dapat kembali ke rumah yang penuh kehangatan. Alvin merasa bangga dan bahagia karena dirinya menjadi salah satu penyebab kebahagiaan mereka. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sebentar lagi cita-citanya yang sempat ia kesampingkan akan terealisasi. Sungguh, kebahagiaannya jadi berlipat ganda. Kadang memang kita harus melepaskan sesuatu untuk menggapai hal yang lebih besar.


Kaki Alvin hampir saja tersandung andai ia tak cepat memperlebar langkahnya untuk melewati kaki seorang perawat yang melintang di lorong. Alvin menatap perawat itu dengan geram, kedua alisnya berkerut. Bukankah itu adik Karina? Gadis yang ditemuinya beberapa hari yang lalu dalam keadaan serupa. Gadis itulah yang beberapa hari yang lalu ditemukannya tidur terlentang di atas sofa di ruang keluarga, sementara layar televisi masih dalam keadaan menyala. Dan sekarang gadis itu dengan nyenyak tidur terduduk di bangku lorong rumah sakit. Gadis ini memang pantas diberi gelar "si *****" alias nempel langsung molor tertidur. Dimana saja dia berada pasti kedua matanya akan mengatup. Gadis itu jugalah yang sempat ia marahi karena keteledorannya di ruang operasi.


Alvin mengamati Tami dengan seksama. Benar-benar mirip seperti pinang dibelah dua. Pikirnya. Tapi Karina itu anggun, tidak seperti adiknya yang ceroboh. Ia kembali berusaha mengingat apa benar bahwa gadis itu adalah salah satu orang yang pernah ada di masa kecilnya, namun hasilnya nihil. Seberapa keras pun ia berusaha, ia tetap tak bisa mengingat apapun tentang masa kecilnya. Kecelakaan benar-benar telah merenggut semua memori yang tersimpan rapi di sel otaknya.


Tiba-tiba badan Tami melorot ke bawah hingga ia terjatuh ke lantai. Kelopak matanya yang sedari tadi mengatup dengan malas akhirnya terbuka juga saat merasakan sakit di sana-sini. Ia tadi mimpi terjatuh dari tempat tidur dan ternyata ia benar-benar terjatuh atau lebih tepatnya melorot dan wajahnya tepat berada di atas sebuah sepatu. Tunggu dulu..., tidak, sepertinya ini bukan mimpi. Tami melebarkan kelopak matanya dan benar saja ini bukan mimpi, tapi kenyataan. Wajahnya benar-benar berada di atas sepatu dan bukan sekedar sepatu, tapi sepatu itu dipakai seseorang yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Tami memberanikan diri untuk mendongak menatap wajah si pemakai. Ia mengerutkan wajah dan memalingkan pandangannya ke lantai saat mengetahui siapa pengguna sepatu itu. Ia merutuki dirinya sendiri karena sifat pelornya. Lihatlah betapa memalukan keadaan dirinya sekarang. Tami berusaha menebalkan muka. Sakit di tubuhnya tidak seberapa di banding rasa malunya. Ia kemudian berdiri dengan terpaksa karena Alvin seperti tak berniat membantunya untuk berdiri. Alvin menahan tawanya yang sudah berada di ujung tenggorokan.


"Selamat pagi, dok." sapa Tami dengan senyum terpaksa karena menahan malu.


"Pagi juga Tami, nyenyak banget ya tidur kamu." ujar Alvin dengan nada yang sarat akan sindiran. Sudut bibirnya terangkat sebelah.


Tami hanya menyeringai. Rasa malunya jadi berlipat ganda mendengar sindiran Alvin. Rasanya ingin saja ia membenturkan kepalanya ke dinding.


"Sudah mau pulang, dok?" tanyanya basa basi.


"Iya, ngantuk mau tidur. Takutnya kalau saya nggak pulang nanti molor di bangku itu juga."


Tami menarik sudut bibirnya dengan kesal mendengar sindiran Alvin. Awas saja ya kalau sudah jadi abang iparku, ku kerjain nanti dia habis-habisan.


"Dokter mau pulang bareng saya, ehh...," Tami menautkan kedua alisnya, bingung sendiri dengan apa yang diucapkannya tadi. "Maksud saya itu, siapa tahu dokter mau ke rumah nemuin Mbak Karina jadi pulangnya bisa barengan. Lewat jalan yang sama gitu."


"Nggak, makasih." jawab Alvin ketus.


"Ya udah deh, saya pergi dulu dokter. Assalamu'alaikum." Tami berjalan dengan cepat dengan membawa rasa malu yang luar biasa. Bukan cuma malu, ia juga kesal luar biasa dengan calon Abang iparnya itu.


"Calon adik ipar bukannya dibaik-baikin, dibeliin makanan kek, apa kek, ini enggak. Pasang muka jutek terus. Rrrr." Tami menggerutu sendiri di lorong.


Setelah Tami tak kelihatan lagi meletus lah tawa Alvin mengingat kecerobohan gadis itu.


"Wa'alaikumussalam. Dasar gadis ceroboh." gumamnya.


Langkah Tami terhenti saat matanya tak sengaja menatap punggung seseorang yang sedang mengintip di belakang pintu. Perlahan kakinya melangkah, mendekati sesosok tubuh yang terlihat mencurigakan. Matanya melirik ke dalam ruangan dari balik kaca transparan pintu. Ia sepertinya tahu siapakah gerangan penguntit di depannya itu. Dengan jahil ia mengejutkannya, membuat gadis di depannya memekik kuat. Untunglah Tami dengan sigap membekap mulutnya. Tami menarik gadis tadi ke arah kantin yang masih sepi. Gadis tadi hanya menurut saja saat Tami memerintahkannya duduk layaknya seekor anak kucing yang ketahuan mencuri ikan asin.


"Katakan siapa orangnya?" tanya Tami dengan mata melotot. Ia benar-benar tak mengerti dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.


"Siapa apanya?" Tasya balik bertanya dengan polos.


"Siapa lagi Tasya, pria yang kamu incar kali ini?" Tami menggerutu kesal. Ia bingung, Tasya itu lemot, oon, atau bloon sih? Ditanya bukanya dijawab, eh dia malah balik nanya.


"Oh." seru Tasya tak berdosa.


Tami membenturkan kepalanya di meja. Sudah dua kali ia bertanya tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Mempunyai sahabat polos seperti Tasya benar-benar membuat tensi darahnya tinggi. Tami menarik nafas dalam-dalam sebelum bertanya kembali kepada Tasya. Ia berusaha mengumpulkan kembali kesabarannya yang tadi sudah tercecer di lantai. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"Maksudku itu, siapa pria yang kamu suka? Kenapa kamu mengintip seperti maling tadi? Kamu suka dengan dokter Reza atau dokter Arga? Karena dalam ruangan tadi cuma ada mereka berdua." tanya Tami dengan perlahan. Ia menekankan setiap kata agar Tasya mengerti apa yang ia tanyakan.


"Karena aku suka dengan dokter Arga." Tasya menepuk mulutnya yang hobi keceplosan. Tami tertawa melihat tingkah Tasya yang seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya yang putih mulus.


Dulu, Ketika duduk di bangku kelas tiga SMP, Tasya pernah menyukai seorang pria. Tami dan Clara yang mengetahui hal tersebut malah dengan konyol menyarankan agar Tasya lebih dulu menyatakan perasaannya. Karena terlalu polos, Tasya akhirnya mengikuti saran mereka. Namun sedihnya pria itu langsung menolaknya di tempat dan membuat Tasya benar-benar syok dan patah hati. Sejak saat itu, jika menyukai seseorang, Tasya tak pernah berani untuk bercerita kepada teman-temannya.


"Ya kalau suka nggak harus nguntit juga seperti tadi, Tasya. Bisa-bisa kamu dikira mau maling. Kalau suka itu ya diperjuangin. Coba dilamar saja? Nanti keburu diserobot orang lain loh."


Tasya menimbang-nimbang usul Tami. Kalau diserobot orang duluan kan dia juga yang rugi?

__ADS_1


"Tapi gimana caranya aku bisa ngelamar dia. Wong kenal juga ndhak. Aku sudah cari informasi tentang dia di facebook, line, Instagram tapi hasilnya nihil. Sepertinya dia nggak punya media sosial deh."


"Jangan nyerah begitu saja. Gunain aplikasi lama saja."


"Aplikasi lama apaan? WhatsApp? SMS?"


"Bukan, tapi Friendship."


"Oh," Tasya mengangguk panjang. "Maksudnya aku harus deketin temen dia begitu?"


Tami sekali lagi membenturkan kepalanya di meja. "Maksudnya itu lewat aku Sya," Kata Tami seraya menunjuk dirinya sendiri. "Kan dr.Arga itu saudaranya dr.Alvin, calon abang ipar aku."


"Iya ya, aku lupa."


Tami meminum air mineral milik Tasya sebelum membeberkan informasi yang ia ketahui mengenai dr.Arga.


"Nih aku beritahu sedikit informasi tentang dokter Arga. Dia itu duda hot anak satu. Nama anaknya Naufal, yang kemaren foto sama Nala itu. Istrinya namanya Nadia tapi Nadia meninggal sewaktu melahirkan Naufal karena pendarahan pasca melahirkan. Kalau ibunya namanya bu Rafika, nama ayahnya aku lupa siapa. Dokter Arga berusia tiga puluh satu tahun, selisih dua tahun dengan adiknya."


Tasya mengangguk-angguk mendengar penjelasan panjang lebar dari Tami.


"Kok kamu tahu banyak tentang dokter Arga?"


"Oh, jelas. Mamahnya yang ngasih tahu aku waktu lagi maen ke rumah. Oh, satu lagi. Bu Rafika bilang dokter Arga itu susah dekat dengan perempuan makanya beliau sedang mencari calon istri untuk dia."


"Wah, kok bisa pas gitu ya?"


"Makanya buruan gih sana, lamar dia sebelum keduluan karena bu Rafika menawarkan aku untuk jadi menantunya." Tami sengaja menekankan kata " aku" agar Tasya semakin terbakar api semangatnya. Tami meninggalkan Tasya yang sedang komat-kamit membaca mantra karena mendengar ucapan Tami. Biarlah, mungkin dengan begitu Tasya segera mendapat jodohnya. Jadi telinganya nggak ngepul tiap hari dengerin ocehan Tasya yang kebelet mau nikah.


.....


Tami yang sedang fokus menatap layar televisi berbalik saat mendengar pertanyaan bu Rahma. Wanita itu terlihat rapi dengan stelan gamis choco dan khimar dengan warna senada. Tami tersenyum memandangnya. Sangat antik dan menawan. Pujinya dalam diam.


"Mau kemana Ma, kok rapi banget?"


Bu Rahma duduk di samping Tami. "Mama mau ke Mal sayang. Mau belanja barang dapur."


"Kemarin kan Mama baru belanja di pasar. Kok sudah habis saja belanjaannya?"


"Belum habis belanjaannya, tapi Mama mau beli jamur karena kemarin nggak ada di jual di pasar. Kamu temenin Mama ya, soalnya Mbak Asni sama Bi Lina lagi sibuk. Mau ya?"


Tami tersenyum. "Iya,Tami mau kok. Tami naik ke atas dulu ya, Ma. Mau ganti baju"


"Jangan lama-lama ya." pinta bu Rahma


"Tenang Ma, sepuluh menit beres."


...


Tidak butuh waktu lama bagi Tami dan mamanya untuk sampai ke Ayani Mega Mal karena jarak rumahnya yang tidak begitu jauh. Mereka memilih jalan pintas agar cepat sampai. Pengunjung salah satu Mal terbesar di daerah Pontianak ini di dominasi anak muda. Sesampainya di Mal Tami dan Bu Rahma langsung menuju Hypermart di lantai satu.


Antrian panjang di bagian kasir cukup membuat kaki pegal karena memang biasanya di siang hari seperti ini ibu-ibu sibuk berbelanja perlengkapan dapur. Selesai membeli jamur yang dimaksud,Tami dan bu Rahma berkeliling Mal untuk mencari hadiah pernikahan untuk Karina. Mereka sudah beberapa kali memutari Mal tapi tak kunjung menemukan barang yang cocok dijadikan sebuah hadiah pernikahan. Karena terlalu lelah Tami akhirnya menarik bu Rahma untuk duduk di salah satu kursi yang berada pojok.


"Ma, kira-kira barang apa yang paling cocok untuk dijadikan sebagai hadiah? Dari tadi kita muter-muter tapi nggak ketemu juga barangnya." tanya Tami sambil menjilati es krimnya yang mulai mencair.

__ADS_1


"Iya. Mama juga bingung mau beli apa."


"Gimana kalau baju? Tas? Sepatu? Buku pedoman untuk menjadi istri yang baik?" Tami menyebutkan satu persatu barang yang terlintas di benaknya namun semuanya ditolak bu Rahma melalui gelengan kepala.


"Gimana kalau peralatan masak saja, Ma?" usul Tami seakan tak kehabisan ide di otaknya. Bu Rahma menimbang-nimbang usul Tami. Bagus juga idenya, lagian kan biar Karina belajar masak untuk suaminya nanti. Bu Rahma kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mama setuju. Kita beli ulekkan saja gimana? Biar kayak artis yang nikahan di Bali itu, yang ngasih istrinya ulekkan sebagai hadiah pernikahan."


"Wah, ide bagus tuh, Ma. Yuk ah, keburu sore." Tami menarik lengan Mamanya dengan bersemangat. Bayangan tentang pernikahan kakaknyanya benar-benar membuatnya bahagia. Kalau bagian dokter Alvin yang akan menjadi abang iparnya, nah itu yang membuat ia tidak bahagia.


Sebelum pulang, Tami dan bu Rahma menyempatkan diri menikmati makanan di salah satu gerai yang baru buka di Mal tersebut.


"Tami, lihat deh, itu bukannya nak Alvin?"


Kedua bola mata Tami mengikuti arah yang ditunjuk jari telunjuk bu Rahma. Terlihat seorang pria tengah memilih-milih perhiasan di salah satu toko emas yang berada di Mal tersebut. Bu Rahma menarik lengan Tami untuk menghampiri Alvin.


"Assalamu'alaikum. Nak Alvin ngapain di sini? Mau beli perhiasan buat siapa?" tanya bu Rahma beruntun. Alvin menoleh ke samping, melihat siapakah gerangan yang telah mengganggu fokusnya memilih-milih cincin. Ia tersenyum saat melihat calon mertua dan calon adik iparnya.


"Eh, Mama.Wa'alaikumussalam," Alvin menyalami bu Rahma. "Ini Ma, Alvin lagi nyari cincin untuk Karina."


Di depan mama senyumnya lebar banget kayak ember, lah di depan aku mulutnya udah kayak digembok. Dasar dokter jutek.


"Loh, bukannya Karina udah punya cincin yang kamu berikan waktu kalian tunangan?"


"Iya, Ma, tapi kata Karina cincinnya nggak muat di jarinya"


"Terus Karina nya mana? Kan dia yang mau dibeliin cincin."


"Masalahnya dia nggak bisa datang, Ma. Ada keadaan darurat di rumah sakit."


"Itu anak gimana sih? Dia yang mau dibeliin cincin, malah dianya yang nggak ada. Harusnya pas senggang gitu biar belinya barengan." bu Rahma menggerutu, tidak mengerti dengan tingkah putrinya yang satu itu. Perasaan Karina tidak ada mengeluhkan masalah cincinnya di rumah.


"Nak Alvin sudah tahu mau membeli cincin yang mana?"


"Alvin juga bingung, Ma? Alvin nggak tau ukurannya, nanti kalau main beli-beli saja bisa kekecilan, bisa juga kebesaran."


Bu Rahma menepuk pelan pungung Tami yang sedari tadi melihat-lihat cincin, siapa tahu ada yang cocok untuk dikenakan di hari pernikahannya suatu saat nanti.


"Daripada kamu bingung, gimana kalau Tami saja yang nyobain cincinnya. Lagi pula ukuran badan mereka nggak jauh beda, pasti ukuran jarinya juga nggak jauh beda."


Tami dan Alvin menatap bu Rahma dengan tidak percaya. Tami melotot gusar kepada bu Rahma, meminta penjelasan. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kenapa harus Tami, Ma? Kalau nggak sesuai dengan keinginan mbak Karina gimana?" Tami berusaha menolak permintaan mamanya secara halus. Ia merasa tak enak hati dengan permintaan mamanya.


"Ya masa Mama yang harus pakai cincinya. Ayolah Tami tolongin abang iparmu yang lagi bingung. Kasihan Nak Alvin kalau harus bolak-balik ke sini cuma buat nyari cincin yang pas untuk Karina. Lagi pula, pernikahan mereka tinggal menghitung hari saja. Kita nggak punya banyak waktu untuk mengurus hal seperti ini."


Tami sekali lagi ingin menolak, tapi tatapan memohon bu Rahma membuatnya mengurungkan niat. Ia melirik Alvin yang diam saja. Sepertinya ia benar-benar harus menolongnya kali ini.


Kalau bukan demi mbak Karina, nggak sudi aku tuh nolongin orang jutek kayak kamu.


Setelah memilih cincin yang terasa pas, tangan Alvin terulur untuk memasangnya di jari manis Tami, namun gadis itu menolak. Ia memilih memasangnya sendiri. Cincin sederhana yang bertahtahkan berlian kecil di bagian tengah tersarung dengan manis di jarinya. Seleranya boleh juga. Puji Tami dengan ikhlas di dalam hatinya. Pilihannya benar-benar sesuai dengan ukuran jari Tami. Tidak ketat juga tidak longgar.


Alvin meminta pendapat bu Rahma dan bu Rahma tersenyum menyetujui pilihannya.

__ADS_1


"Mbak. Saya pilih yang ini, ya." ujar Alvin kepada salah seorang pegawai yang melayaninya di toko itu.


Bu Rahma dan Tami diantar pulang oleh Alvin. Tadi Alvin sempat mengucapkan terima kasih kepada Tami karena sudah bersedia menolongnya. Ternyata dokter galak bin jutek itu bisa juga rupanya mengucapkan terima kasih kepada orang lain.


__ADS_2