Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 10 (Malam Sengsara)


__ADS_3

Kedua mempelai menyandarkan tubuh mereka di dinding lift. Waktu hampir menyentuh jam sepuluh malam ketika acara resepsi pernikahan selesai dilaksanakan. Tami menghembuskan nafas panjang sembari melipat ujung pashmina di dagunya. Berdiri di pelaminan selama berjam-jam membuat tubuhnya luar biasa kelelahan. Rasanya ia seperti baru saja memanggul beras berkarung-karung. Menyalami tamu yang tak henti-hentinya berdatangan membuat Tami curiga jika keluarganya dan keluarga Alvin mengundang masyarakat sekota Pontianak untuk menghadiri resepsi mereka.


Tami mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali, berharap rasa pegal di tangannya sedikit berkurang.


"Kapok. Nggak mau nikah lagi." Keluhnya.


Alvin yang tadi terlelap sejenak membuka mata. Ia menatap Tami dengan seulas senyuman lalu berkata, "Kalau begitu, kamu harus siap lahir dan batin untuk menjadi janda seumur hidup."


Tami menghentikan aktivitasnya. Matanya melirik tajam ke arah Alvin. Pria itu jadi berfikir mungkin saja istrinya diikutin hantu penari Bali karena hobinya yang suka mendelik.


"Apa? Mau aku bacain Yasin biar tenang di sana? Cepetan keluar dari tubuhnya." Perintah Alvin dengan galak. Tami makin tajam melirik Alvin. Giginya bergemelatuk geram.


"Kamu pikir aku lagi kesurupan kunti, sundel bolong, pocong atau suster ngesot?" tanya Tami tak terima. Bisa-bisanya Alvin menganggapnya sedang kesurupan. Kalau dia benar-benar kesurupan maka pria itu pasti sudah tidak ada di sampingnya, karena sudah ia lempar jauh-jauh ke kutub agar dimakan beruang. Kalaupun tidak, biar beku saja sekalian di sana asal Alvin tidak ada bersamanya karena pria itu selalu membuatnya jengkel setengah mati. Kesabaran di hatinya jadi terkikis sia- sia seperti batu karang yang dilanda abrasi pantai.


"Hantu penari Bali kali? Karena matamu itu selalu mendelik. Hati-hati nanti matamu jereng."


"Itu karena kamu bilang a..."


Ting.


Tami tak pernah menyelesaikan kalimatnya karena pintu lift sudah terbuka dan Alvin sudah melangkah keluar dari lift, meninggalkan dirinya yang tertatih-tatih melangkah karena sepatu hak tinggi yang dipakainya. Entah karena terlalu buru-buru atau memang karena ceroboh, tiba-tiba saja kakinya yang melangkah salah mengambil ancang-ancang hingga membuatnya jatuh terhuyung di lantai. Alvin yang mendengar suara seseorang jatuh menoleh ke belakang. Bukannya menolong, pria itu malah tertawa.


"Sudah tahu nggak bisa makai sepatu yang begituan, kenapa masih maksain makai, sih? Suka banget nyiksa diri sendiri."


Tami yang sudah berdiri hampir saja melempar sepatu yang ia tenteng. Istigfar Tami, istigfar. Astagfirullah haladzim...Astagfirullah haladzim...Astagfirullah haladzim. Tami mengelus-elus dadanya. Berusaha melawan syaitan yang tengah merasuki pikirannya. Jika menuruti keinginan syaitan pasti sepatu di tanganya sudah mendarat di wajah mulus Alvin.


"Jangan banyak tertawa. Tertawa itu bisa mengeraskan hati, apalagi menertawakan penderitaan orang lain."


Tami melangkah tergesa mendahului Alvin yang menyusul di belakang. Mereka menyusuri lorong kamar mencari-cari nomor kamar hotel yang khusus disediakan pihak hotel untuk kedua mempelai pengantin baru. Begitu mendapati kamar mereka, Tami buru-buru merebut cardlock dari tangan Alvin lalu menempelkannya di kotak sensor pada pintu kamar. Ia sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur.


Ketika melangkah memasuki kamar kedua mempelai terperangah melihat dekorasi kamar. Kalau pasangan yang menikah karena cinta pasti akan mengatakan bahwa suasana di kamar itu sangat romantis, tapi tidak bagi pasangan yang satu ini. Baik Tami maupun Alvin, keduanya menganggap suasana di kamar itu lebih mirip dengan kuburan. Tami berjalan ke arah lemari. Matanya terbelalak saat melihat pakaian yang tergantung di dalam lemari tersebut. Semuanya adalah pakaian kekurangan bahan yang bolong di sana-sini. Menurutnya, semua pakaian itu lebih cocok digunakan untuk menggantikan jaring nelayan yang rusak. Pakaian-pakaian di dalam lemari sama sekali berbeda dengan baju yang ditaruhnya di dalam koper. Bahkan koper yang titipkan pada bi Lina juga tidak ada di sana.


Ini pasti kerjaan mama nih. Gerutunya di dalam hati. Tami mencoba melihat ke dalam kamar mandi dan suasanya tidak jauh berbeda dengan suasana kamar. Kelopak bunga mawar yang bertaburan di tambah lilin warna-warni di sana-sini sukses membuatnya bergidik ngeri.


"Kamar ini sudah mirip kuburan yang ditaburin kembang tujuh rupa." ujar Alvin sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dramatis.


"Iya, kita disuruh ngepet kali sambil memakai baju tarzan," Tami memperlihatkan salah satu baju yang ada di lemari. "Tarzan mungkin mau juga pakai baju modelan begini karena bisa bikin masuk angin." imbuhnya.


"Cepetan beresin barang kamu. Malam ini kita nginap di rumah aku saja."


"Nggak ada yang perlu diberesin. Koper aku pasti sudah ada di rumah kamu. Lagipula di lemari isinya baju tarzan semua jadi tinggalin saja disini, nggak ada gunanya juga kalau dibawa."


"Siapa tahu nanti kamu berubah pikiran. Nanti susah lagi kalau harus balik ke sini ngambilnya."


Tami sudah bersiap mengeluarkan jurus macannya tapi Alvin sudah menghilang di balik pintu.


"Berubah pikiran? Heeh, sampai lebaran monyet juga aku nggak akan berubah pikiran!" seru Tami dengan dongkol.


Perjalanan dari hotel menuju rumah Alvin yang berada di tengah kota tidak memakan waktu yang panjang. Dalam waktu kurang dari lima belas menit keduanya sudah sampai ke tempat tujuan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tami memasuki kamar Alvin dengan gontai. Kamar Alvin didominasi warna putih. Ada tirai panjang berwarna putih juga yang menjuntai sampai ke lantai tidak jauh dari tempat tidur. Lantai kamar yang dipasangi vinyl bercorak kayu serta pencahayaan yang cukup terang sukses menghadirkan kesan hangat. Bed cover berwarna putih menutupi tempat tidur sementara selimut dan bantal berwarna abu-abu. Dinding yang menempel di headboard dilapisi batu alam berwarna gelap sehingga menampilkan kesan maskulin. Kontras, namun tetap seimbang. Rak buku panjang berisi buku-buku tebal di dekat jendela dengan kursi panjang di sampingnya.


Seperti tebakannya, koper berwarna pink miliknya bersandar di pintu lemari panjang berwarna abu-abu di balik tirai. Tami segera membongkar isi kopernya dan mengambil pakaian tidur, dalaman serta jilbab instan lalu masuk ke kamar mandi. Tidak mempedulikan Alvin yang sudah lebih memegang gagang pintu.


"Tami...aku duluan yang mau mandi. Kenapa main serobot-serobot saja?" protes Alvin tak terima.


"Ladies first." Laung Tami dari dalam.


Alvin mengalah dan memilih merapikan bajunya di lemari dan memindahkan ke bagian lain yang kosong agar Tami bisa menaruh bajunya di situ. Ia membuka saluran televisi untuk mengusir rasa bosan menunggu Tami selesai mandi. Sekitar setengah kemudian barulah Tami keluar.


"Lama banget kamu mandinya."


Alvin memasuki kamar mandi sebelum mendengar protesan balik dari Tami.


"Namanya juga perempuan." ujar Tami dengan suara nyaring.


Tami menyusun semua pakaiannya di bagian dalam lemari yang tadi sengaja dikosongkan Alvin. Ia menggelar sajadah saat Alvin keluar dari kamar mandi. Ia mengambil sarung, baju koko dan peci dari lemari dan mengenakannya. Ia menggelar sajadah dengan posisi sedikit di depan sajadah Tami.


"Darimana tahu arah kiblatnya?" tanya Alvin pada Tami yang baru selesai mengenakan telekung.


"Dari Handphone." jawabnya singkat.


"Oh. Kamu iqomah dulu, ya." pinta Alvin lembut.


Tami tersenyum dan mengangguk lalu melakukan iqomah seperti yang dipinta Alvin. Setelahnya barulah mereka melakukan sholat isya berjamaah lalu sholat sunnah ba'diyah isya. Setelah melakukan wirid dan doa,Tami mencium tangan Alvin dengan takzim. Sebenarnya Tami juga merasa canggung dan enggan melakukan adegan salam-salaman, tapi suaminya yang menyebalkan itu sudah terlanjur mengulurkan tangan dengan mata yang mendelik-delik dan bibir mengerucut. Jadi mau tidak mau ia harus menuruti permintaan suami. Dengan ragu, Alvin mengelus kepala Tami yang tertutup telekung. Andai pernikahan ini bukan berdasarkan keputusan keluarga mungkin mereka akan menjadi orang paling berbahagia hari ini.


.....

__ADS_1


Beberapa kali Tami berusaha memejamkan matanya,namun indra penglihatannya tetap tak mau diajak kompromi. Padahal rasa lelah sedari tadi menggelayuti tubuhnya.


"Tami, kenapa sih dari tadi krasak-krusuk terus? Aku jadi nggak bisa tidur." Alvin yang tadi memunggungi Tami merubah posisi tidurnya jadi menghadap Tami.


"Nggak tahu. Mungkin karena baru disini, jadi belum terbiasa." jawab Tami sambil menatap langit-langit. Ia tak berani menoleh ke samping karena tahu Alvin tengah memandanginya.


"Siapa suruh durhaka dengan suami."


Tami jadi teringat hadis Rasulullah tentang wanita penghuni surga yang tak bisa tidur sampai ia mendapat ridho dari suaminya. Spontan Tami memutar tubuhnya menghadap Alvin.Ada rasa gugup di hatinya seperti yang tadi siang dirasakannya sebab Alvin adalah pria pertama yang tidur satu kasur dengannya. Kendati demikian, ia berusaha keras untuk menutupi rasa gugupnya dengan mencoba untuk banyak berbicara.


"Emang aku keterlaluan banget ya sampai kamu marah?" Tami menaik-naikkan kedua alisnya meminta jawaban.


"Nggak juga sih. Cuma kamu orangnya cerewet banget. Kalau ngomong seperti bunyi petasan renteng, nggak berenti-berenti bunyi."


"Tuh kan, ngatain aku lagi."


"Kan kenyataannya memang begitu, Tami. Tadi siang waktu tidur saja kamu komat-kamit nggak jelas, makanya jadi susah tidur karena nyumpahin aku."


"Siapa yang nyumpahin? Suudzon banget sih jadi orang."


"Kalau bukan nyumpahin, terus apa dong? Perasaan tadi siang kamu komat-kamit panjang banget dah."


"Bukan nyumpahin, cuma ngatain dikit." Tami berusaha menunjukkan gambaran sedikit yang ia maksudkan dengan mendekatkan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Ye, itu mah sama saja."


"Ya, udah. Aku minta maaf karena sudah ngatain kamu tadi siang." Tami mengalah juga, padahal biasanya ada saja kata-kata yang akan ia keluarkan untuk membalas Alvin.


"Ikhlas nggak?"


"Iya suamiku. Istrimu ini meminta maaf dari hati yang paling dalam."


"Sini aku belah perutmu biar aku bisa lihat hatimu yang paling dalam."


Tangan Tami langsung mengambil guling yang menjadi pemisah diantara mereka dan berusaha menimpuk Alvin. Dengan sigap Alvin menahan guling itu dengan kedua tangannya.


"Barusan juga minta maaf sudah KDRT in suami saja."


"Habisnya nggak percaya banget kalau aku ikhlas minta maafnya."


"Kan tadi bercanda doang, Tami."


"Dimaafin nggak." tanya Tami tak sabaran.


"Nah gitu dong. Dari tadi kek. Aku kan jadi kesal."


"Bisa nggak kamu manggilnya yang lain gitu? Jangan aku kamu."


"Terus maunya di panggil apa? Aa, Akang, Mas, Abang, Kakak, Daeng, Hubby, Honey, Husband, Habibie, atau Kakanda." Tami meyebutkan semua panggilan istri kepada suami mulai dari yang tingkat Nasional sampai yang Internasional.


"Tuh kan bener, seperti petasan renteng."


"Kan aku nyebutin pilihannya. Monggo dipilih nanti kalau aku yang milih kamu nggak setuju."


"Terserah kamu lah, yang penting jangan aku kamu."


"Ya udah, nanti aku pikirin dalam mimpi. Sekarang mau tidur. Assalamu'alaikum." Tami meneggelamkan dirinya di balik selimut seperti biasa.


"Wa'alaikumussalam." jawab Alvin lalu memejamkan kedua matanya.


Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika alarm berbunyi dengan cukup nyaring. Setengah terpejam, Tami dengan malas meraih jam weker lalu mematikannya. Tami menghidupkan lampu kamar dengan menekan stop kontak yang berada di belakang lampu yang ada di nakas. Ketika menoleh ke samping tanpa sengaja hidungnya menabrak jari-jari kaki seseorang. Sebelum pikiran buruk menghampiri benaknya dengan sigap Tami menyibakkan selimut hingga terjatuh di lantai. Ia menarik nafas lega karena ternyata jari kaki itu milik Alvin yang tidur berlawan arah dengannya hingga kaki Alvin bertemu dengan kepalanya, kepala Alvin bertemu dengan kakinya.


"Perasaan tadi malam dia tidur kepalanya di atas deh, kenapa sekarang malah di bawah?"


Tak ada yang menjawab pertanyaannya karena Alvin masih dengan tidur nyenyaknnya. Tami turun dari tempat tidur lalu memungut selimut dan meletakkannya di tubuh Alvin yang terlihat kedinginan karena suhu ruangan. Setelah itu ia mandi dan melaksanakan sholat sunnah tahajud dan witir lalu bersiap melaksanakan shalat subuh. Tami menepuk-nepuk bahu Alvin untuk membangunkannya namun pria itu seperti tak terusik.


"Tidur kok seperti kebo, susah banget dibangunin." gerutunya. Tami sudah kehabisan akal untuk membangunkan Alvin. Ia membuka murrotal surat yasin oleh Syeikh Mishary Rashid dari handphonenya dan meletakkannya tepat di telinga kanan Alvin. Ternyata usahanya tidak sia-sia, Alvin terbangun juga dari tidur pulasnya.


"Kamu ngapain sih nyetel murrotal surat yasin? Aku belum meninggal tahu."


"Kata orang kalau ada yang sakit bagusnya dibacakan surat yasin."


"Aku nggak sakit."


"Siapa bilang? Kamu itu punya penyakit dua penyakit yaitu penyakit malas bangun dan penyakit malas sholat subuh. Ckckck, parah banget itu penyakitnya." ujar Tami dengan dramatis.


"Itu semua gara-gara kamu tadi malam."


"Loh, kok aku?" tanya Tami bingung. Ia benar-benar tidak tahu kenapa Alvin menyalahkannya karena susah bangun subuh.


Alvin beringsut dari tempat tidur lalu mengambil pakaiannya dan masuk ke ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Tami terlebih dahulu.

__ADS_1


.....


"Assalamu'alaikum, Mah." Tami menyapa ibu mertuanya yang berada di dapur. Bu Rafika yang tengah fokus dengan telur dadar di wajan menjawab salam Tami tanpa melihat siapakah gerangan yang baru mengucapkan salam tadi.


"Wa'alaikumussalam. Tumben kamu ke dapur pagi-pagi begini, Lya."


Tami terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. Ternyata Bu Rafika mengira bahwa dirinya adalah Alya, anak bungsunya.


"Ini Tami, Mah. Bukan Alya."


Bu Rafika segera mengalihkan fokusnya dari telur dadar untuk menatap anak menantunya. Dahinya berkerut dalam karena ia mengira Tami sedang berada di hotel bersama Alvin.


"Loh kok Tami di sini? Pagi-pagi banget kalian balik dari hotel."


"Baliknya dari tadi malam, Mah."


Tami sudah mengambil alih kerjaan ibu mertuanya karena Bu Rafika terlihat bingung. Kalau dibiarkan, bisa gosong telur dadar yang ada di atas kompor. Meskipun ia tak bisa memasak, tapi untuk melakukan hal-hal kecil seperti mendadar telur bukanlah masalah untuknya. Ibunya sekalipun tak pernah membiarkan kedua tangannya menyentuh peralatan dapur. Tami bagaikan putri raja di rumahnya, dimanjakan dengan limpahan kasih sayang dan didikan yang sesuai syariat agama. Itulah cara ibunya menebus semua kekhilafannya karena tega merenggut Tami dari keluarganya. Hanya beberapa kali ketika berkunjung ke rumah Mai, maka ia akan mencuri kesempatan itu untuk memasak sesuatu yang sederhana seperti telur dadar dan mie kuah, tidak lebih dari itu.


"Kenapa balik, Tami? Kamu nggak betah di hotel?"


Tami memindahkan telur dadar dari penggorengan ke atas piring datar sembari menjawab pertanyaan Bu Rafika.


"Iya, Mah. Nggak betah karena kamarnya ditaburin kembang seperti di kuburan. Ada lilin di sana-sini seperti orang mau ngepet dan bajunya seperti baju tarzan semua, nggak ada yang layak pakai."


Tami berjalan ke meja makan untuk menaruh telur dadar diikuti Bu Rafika di belakangnya. Wanita itu menarik salah satu kursi lalu melabuhkan tubuhnya.


"Itu kan biar romantis ceritanya, Tami." Bu Rafika begitu gemas mendengar jawaban polos dari Tami. Kenapa anak menantunya itu tidak mengerti kalau suasana seperti itu sengaja dibuat untuk pasangan yang baru menikah atau pasangan yang berbulan madu.


"Nggak ada romantis-romantisnya, Mah. Malah merinding Tami." Katanya sambil bergidik ngeri.


Tami bukannya tidak mengerti kenapa kamar itu dihias sedemikian indah, ia sangat mengerti. Namun sedari awal ia menyadari bahwa itu semua tidak ditujukan untuknya dan bukan haknya melainkan untuk Karina, sang mempelai yang sebenarnya. Ia juga dapat dengan jelas membaca kekecewaan dan luka di wajah Alvin saat melihat seisi kamar. Malam yang seharusnya istimewa bagi Alvin dan Karina nyatanya malah porak-poranda karena tingkah kakaknya yang terang-terangan menggores luka yang dalam di hati suaminya.


Tidak! Mungkin itu tidak hanya sekedar goresan, tapi luka menganga yang tak pasti kapan akan sembuhnya karena tak ada penawarnya. Mungkin akan sembuh jika Karina kembali dan meminta maaf. Sekarang ia malah ikut terseret arus hubungan antara suami dan kakaknya, bagaikan orang ketiga yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.


Bu Rafika menghembuskan nafas kecewa. Padahal dia dan Rahma sudah mengatur sedemikian rupa agar keduanya bisa saling menerima dengan ikhlas pernikahan ini. Mungkin mereka terlalu terburu-buru. Tami dan Alvin butuh waktu untuk saling mengenal barulah benih-benih cinta dapat diharapkan tumbuh.


"Mamah, pagi-pagi ngelamunin apaan?"


Bu Rafika tersadar dari lamunan begitu merasakan sentuhan tangan Alya di pundaknya. Ia tersenyum melihat putrinya yang sudah berpakaian rapi dengan mengenakan gamis berwarna abu-abu yang menyapu lantai dan khimar segi empat berwarna dusty choco yang menjulur hingga ke paras pinggang. Alya menari kursi di samping bu Rafika lalu melabuhakan tubuhnya di sana.


"Rapih bener, Ly. Ada kuliah hari ini?" tanya bu Rafika pada putri semata wayangnya. Bukan, Alya bukan lagi putri semata wayangnya karena sekarang ada Tami yang menjadi putrinya juga.


"Nggak ada, Mah. Hari ini ada pengumpulan donasi untuk saudara kita yang ada di Palestina oleh tim dakwah kampus." katanya menjelaskan.


"Oh. Abah, Arga, Alvin sama Naufal pada kemana? Jam segini kok pada belum turun." bu Rafika memanjangkan lehernya demi melihat apakah orang-orang yang tadi ditanyakannya sudah turun atau belum.


"Mas Arga sudah pergi dari tadi pagi. Biasa, di kan workaholic sejati. Kalau Naufal tidur lagi habis subuh tadi, Mah. Kata Mbak Nila, Naufal susah tidur tadi malam. Nggak tahu kalau Abah sama mas Alvin, mungkin masih di kamar.


"Eh, kamu tahu kalau Alvin pulang tadi malam?" tanya bu Rafika penuh selidik.


"Iya, tadi malam Lya yang bukain pagar."


Alya segera mengalihkan perhatiaanya saat ayah dan kakak lelakinya, Alvin duduk di meja makan. Tami datang tergopoh-gopoh sambil membawa beberapa gelas untuk wadah teh hangat. Ia menarik kursi di samping namun belum sempat ia melabuhkan tubuhnya, bu Rafika lebih dulu menghentikannya.


"Tami kenapa duduk di situ? Duduk di samping Alvin, ya." pinta bu Rafika dengan lembut. Tami mengikuti saja permintaan ibu mertuanya. Alya menggeser kursi hingga menimbulkan derit karena kaki kursi bergesekan dengan lantai. Alya lalu berdiri mengulurkan tangan kanannya melintang di atas meja makan, ia hendak bersalaman dengan kakak iparnya.


"Kenalin, Kak. Aku Alya, adik bungsunya Bang Alvin. Kemarin Alya belum sempat kenalan sama mbak."


Tami tersenyum lembut menjabat uluran tangan adik iparnya.


"Nama kakak, Tami." ujar Tami memperkenalkan diri. Keduanya kamudian duduk kembali di kursi masing-masing.


"Abah mau Tami ambilin nasi goreng?" tawarnya pada Abah. Abah tersenyum dan mengangguk menerima tawaran anak menantunya. Dari wajah teduhnya Tami bisa melihat kebijaksanaan yang terpatri di sana. Abah mengenakan baju kokoh dengan kopiah putih yang bertengger gagah di kepalanya. Meskipun sekilas terlihat menakutkan, tapi Tami bisa melihat kelembutan di mata teduhnya.


"Terima kasih, Nak."


"Iya, Bah."


Tami lalu menyendokkan nasi goreng juga ke piring Alvin, Alya dan Ibu mertuanya.


"Wah, Kak Tami menantu idaman banget deh. Alya mau les deh nanti sebelum nikah sama Kak Tami." Tami tersipu mendengar pujian adik iparnya.


"Gimana malam pertamanya tadi malam, Vin?"


Sontak Alvin dan Tami menghentikan aktivitas makan mereka. Tami melirik ke samping untuk melihat reaksi Alvin, namun pria itu diam saja seperti tak mau menjawab pertanyaan ibunya. Tami juga bingung harus menjawab apa karena mereka memang hanya sekedar tidur tanpa lakukan aktivitas selain itu.


Malam pertama apaan? Bukan malam pertama, tapi malam sengsara lebih tepatnya. Batin Alvin. Ia benar-benar susah tidur tadi malam karena kelakuan Tami yang nggak karuan di tempat tidur. Wajah mulusnya bahkan beberapa kali menjadi tempat Tami mendaratkan tangan, kalau tidak mau dibilang menampar wajahnya. Bahkan ia sempat terjatuh dari tempat tidur karena Tami tidur memepet dirinya hingga tubuhnya mendarat di atas lantai. Ia hanya bisa terlelap ketika membalik arah tidurnya, berlawanan arah dengan Tami.


"Jadi bagaimana malam pertamanya, bang?" Alya juga begitu antusias ingin mengetahui tentang malam pertamanya. Karena melihat Tami yang salah tingkah akhirnya Alvin menjawab juga.


"Kalau mau tahu bagaimana, mending kamu cepetan nikah."

__ADS_1


"Ih...Abang."


Bu Rafika dan Alya seperti melupakan pertanyaannya tadi begitu mendengar jawaban Alvin. Tami menarik nafas lega, ternyata Alvin tahu juga cara menjawab pertanyaan ibu dan adiknya tanpa harus berbohong.


__ADS_2