
Bola kuning keemasan menggantung dengan gagah, menghiasi birunya bentangan langit di antara putihnya kapas-kapas tipis yang perlahan pudar tertiup angin. Terik cahaya sang surya dengan ganas membakar kulit. Melahirkan bulir-bulir keringat di kening si gadis bergaun maroon. Pita berwarna cream yang melingkar manis di pinggangnya terkulai lemas, seakan dapat merasakan suhu panas yang mendominasi hari ini tanpa adanya lembut tiupan angin yang biasa membuatnya melambai indah.
Tami berjalan mondar-mandir dengan resah. Sesekali matanya melirik ke dalam halaman rumah yang dipagari besi hitam yang cukup tinggi. Jalan perumahan sangat lengang hari ini, hingga tak satupun orang dapat dimintai uluran tangan agar bersedia menolong gadis malang yang telah menunggu hampir dua jam di bawah teriknya sinar matahari.
Memang benar kata orang, bahwa ibu kota itu lebih kejam daripada ibu tiri. Jika di rumah ibunya Tami sudah pasti tidak sudi menunggu di bawah teriknya sinar matahari. Ia akan memanjat jambu di depan rumah bang Juned yang pelitnya seperti ular serit, meski berisiko di timpuk dengan dengan sepasang sendal dan mendengar teriakannya yang menggelegar sambil menunggu ibunya pulang mengurus usaha kateringnya. Di sini, di ibu kota, memangnya apa yang bisa ia panjat. Sepanjang mata memandang kamu hanya akan mendapati pagar-pagar rumah yang menjulang tinggi. Barangkali pagar yang tinggi lebih dipercayai pemilik rumah dapat melindungi rumah mereka dari kawanan pencuri, ketimbang satpam dua puluh empat jam yang hobinya molor di pos jaga.
Tami meletakkan tangan di keningnya, berusaha menghindari teriknya sinar matahari sambil menatap pagar hitam di depannya. Lehernya mendongak ke atas, mengira-ngira apakah kakinya yang pendek itu cukup kuat memanjat pagar dengan kemungkinan cidera yang minim. Ia lantas menatap dirinya sendiri, dengan gaun panjang yang menutup hingga ke mata kaki, sedikit banyak akan mempersulit pergerakannya. Tapi tekadnya sudah bulat, Ia akan tetap masuk ke dalam rumah itu bagaimana pun caranya. Puluhan kali ia menekan bel namun tak satupun penghuni rumah itu yang keluar.
"Huh!" Tami membuang nafas sejenak untuk mengurangi rasa gugup yang melandanya. Terakhir kali memanjat pohon jambu di pinggir sungai, ia berakhir tragis di tengah sekawanan bebek yang sedang asik berenang.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Dengan mengucap basmalah Tami memulai aksinya memanjat pagar. Ternyata ia belum lupa bagaimana caranya memanjat yang baik dan benar. Tapi Tami yang pelupa itu sepertinya tidak ingat akan satu hal bahwa ia tidak pernah tahu bagaimana caranya turun dengan cara yang baik dan benar. Alhasil gadis pelupa itu terjebak di atas pagar sambil menatap ngeri ke bawah. Kumpulan batu persegi lima yang tersusun rapi di bawah sana bukanlah tempat yang tepat untuk mendaratkan kedua telapak kaki gadis dengan penyakit jantung "kronis". Organ yang berada di balik tulang rusuknya itu berdetak lebih kencang dari biasanya seperti habis lari marathon.
Saat pikirannya menemui jalan buntu ternyata Allah telah mengirimkan pangeran yang sayangnya berwajah muram untuk menolongnya. Masa bodoh dengan wajah muram itu, yang penting pria yang kini menatap heran ke luar pagar bersedia menolongnya.
"Lah, kabur kemana tuh, anak." gumam pria itu sambil melirik ke luar pagar, ia sudah bersiap memutar balik langkahnya andai tak mendengan teriakan yang terdengar begitu histeris dan mengerikan
"Mas Keeeeeen." Tami berteriak histeris dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu memprihatinkan.
Gadis itu sudah sangat panik membayangkan tubuhnya yang berukuran tidak seberapa itu jatuh terjerembab ke bawah. Rugi...rugi... kalau masih muda sudah bongkok seperti nenek.
Keenan celingak celinguk mencari sumber suara cempreng adiknya.
"Tami di atas, Mas." teriak Tami sekencang mungkin.
Keenan menatap tak percaya. Sejak kapan adiknya yang tersayang itu berubah menjadi spiderman.
"Ngapain kamu di atas pagar, Tami?" tanyanya heran.
"Lagi camping aku tuh, nggak lihat?" jawab Tami dengan gemas. Sudah jelas-jelas dia lagi nangkring manja diatas pagar masih lagi ditanyain lagi ngapain. Kan minta banget di timpuk pakai high heels yang dia pakai saat nikahan kemaren.
"Ya sudah, lanjutin ya. Mas mau ke dalam dulu, nanti kalau sudah selesai bilang-bilang ya."
Tami menghembuskan nafas melalui mulutnya sambil memejamkan mata. Untung kamu ganteng mas, sabar Tami, sabar. Saat membuka kelopak matanya, Keenan benar-benar sudah berjalan menjauhi pagar. Tami panik bukan kepalang. Serius, dia bener-bener nggak tahu gimana cara turun kalau sudah manjat.
"Mas Keeeeeeen." Tami berteriak begitu kencang sampai-sampai burung yang sedang terbang saja memilih balik arah. "Ih, mas Keen tega banget sih ninggalin Tami di atas sini."
Keenan menghampiri adiknya sambil cengengesan. "Kan tadi katanya lagi camping, ya siapa tahu nggak mau di ganggu kan." kata Keenan tanpa merasa berdosa.
"Nggak lihat nih kakiku sampai gemeter gini, Mas. Gimana dong ini? Tami nggak tahu cara turun dari sini."
Keenan tertawa. Ia tidak habis pikir, dari mana ia dapat adik aneh bin ajaib seperti Tami.
"Ih malah diketawain, tolongin napa." pinta Tami dengan frustasi.
"Ya abisan kamu tuh lucu, masa tahu cara naik tapi nggak tahu caranya turun. Gimana ceritanya coba?"
Tami mengipaskan tangan kanannya ke wajahnya, lantas menjawab Keenan dengan sebal. "Mas tuh nggak bukain pagar dari tadi, daripada kering kayak ikan asin mending Tami manjat saja biar cepat."
"Ya sudah, buruan turun." Keenan melambai-lambaikan tangannya ke udara. "Nanti kamu dikira maling lagi sama tetangga."
Sangking kesalnya, tanpa sadar Tami melepaskan pegangan tangannya dari pagar. Besi yang menjulang tinggi itu bergerak-gerak, membuat Tami kehilangan keseimbangan.
"Mas Keeeeeeen." jerit Tami dengan panjang, matanya terpejam rapat sebelum tubuhnya jatuh di atas pelukan Keenan.
Setelah beberapa saat, barulah ia membuka kelopak matanya saat mendengar keluhan mengaduh dari masnya. Kan malang nian nasib si Keen ini, niatnya ingin menggoda adiknya malah dia yang ketiban musibah. Memang apalagi yang bisa ia lakukan? Dia begitu panik saat melihat adiknya kehilangan keseimbangan di atas sana. Niatnya ingin menangkap Tami dengan kedua tangannya malah harus berakhir dengan dia mendarat di atas kumpulan batu persegi lima dengan Tami di atas tubuhnya yang memeluknya dengan erat.
.....
"Nih minum dulu airnya, Mas."
Tami menyerahkan segelas air putih di atas meja makan. Setelah membaca basmalah Keen meminum air itu dengan sekali teguk. Tami menarik kursi dan duduk di samping Keenan. Ia begitu merasa bersalah kepada kakak lelakinya itu.
"Ada yang sakit nggak, Mas?" Tami meneliti tubuh Keenan dengan kedua bola matanya.
Keenan menaruh kembali gelas yang kosong di atas meja. Kepalanya mengangguk beberapa kali mengiyakan, padahal sesungguhnya rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa.
"Bukan sakit lagi, tapi remuk." katanya dengan dramatis.
Tami merasa tambah bersalah.
"Ya maaf, Mas, kan Tami nggak sengaja. Lagian badan Tami nggak berat-berat amat kok, masa badan Mas sampai remuk sih?"
"Kamu dikasih makan apaan sih sama Alvin? Pasti di kasih makan batu kan makanya sampai berat banget kayak gini?"
Tami yang sibuk meneliti tubuh Keenan mendelik gusar ke arah masnya.
"Ye, fitnah saja. Masa orang cantik macam Tami di kasih makan batu. Yang benar saja, apa kata dunia?"
Astagfirullah Tami, pede amat kamu nak. Emang sih nunggu orang lain yang muji tuh lama.
__ADS_1
Keen berdecak pasrah. "Iyain aja dah biar cepat."
Tami menarik toples yang berada tidak jauh dari lengannya. Ia dengan cekatan membuka tutup toples lantas memakan emping goreng di dalamnya dengan lahap. Lumayanlah buat ngisi perut sebelum sesi bertempurnya dimulai.
"Kamu ngapain dah siang-siang bolong begini maen ke rumah?" Keenan mengambil dua keping emping goreng dan mengunyahnya dengan mode slow motion.
Tami menghentikan kunyahannya. "Emang nggak boleh? Kalau nggak boleh Tami pulang nih." ancamnya sambil bersiap untuk berdiri
"Ya sudah, pulang saja sana. Hush, hush." Tangan kanan Keenan bergerak-gerak seperti mengusir seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.
"Ih, Mas jahat banget sih!" seru Tami sambil mencubit lengan Keenan dengan geram, membuat pria itu meringis kesakitan.
Keenan mengusap lengannya yang tadi di cubit oleh adiknya. Dia nggak habis pikir, kok punya saudara pada galak semua sih? Apa jangan-jangan adiknya ini turunan kepiting, abis nyubitnya itu loh sama seperti capitan makhluk laut itu.
"Kok Mas dibilang jahat sih? Kan kamu tadi yang mau pulang. Sok atuh, dipersilahkeun."
Tami sudah bersiap untuk mendaratkan cubitannya di lengan Keenan untuk kedua kalinya, tapi Masnya itu dengan cekatan menghindar dengan memeluk tubuhnya sendiri. Akhirnya Tami memilih untuk beranjak ke lemari pendingin untuk mengambil segelas air dingin lalu kembali duduk.
"Emang dalam rangka apaan sih kamu kesini, dek?"
Keenan kembali mengunyah empingnya yang tersisa. Sementara Tami menjawab setelah menghabiskan setengah isi gelasnya.
"Itu, Mama mau ngajarin Tami masak."
"Kamu, belajar masak?" tanya Keenan tidak percaya. Ia tahu adiknya itu memang tidak pandai dalam urusan dapur, terakhir kali ia melihat Tami memasak, dapur ini penuh dengan kepulan asap dan bau gosong. Untung nggak kebakar dapurnya.
"Iya, Tami mau belajar masak sama Mama." jawab Tami dengan yakin.
"Kamu mau belajar memasak atau belajar ngehancurin dapur, dek?"
"Belajar masak tahu." jawab Tami dengan galak.
"Emang kamu bisa masak?"
"Bisa."
"Masa? Emang bisa masak apa?" yanya Keenan dengan mengangkat dagunya.
"Masak air sama Indomie, hehehe."
Keenan terkekeh geli. Masak begituan mah semua orang bisa kali. Ada-ada saja manusia bernama Tami ini.
"Itu suara pagar kebuka, Mas?" yanya Tami saat mendengar suara gesekan roda pagar dan besinya.
Tami menautkan kedua alisnya.
"Lah, tadi emang pagernya nggak dikunci?"
"Iya, emang tadi kamu kira pagernya dikunci?"
Tami manggut-manggut.
"Welah dalah, ternyata matamu sudah rabun ya dek. Heh, kebanyakan liatin mukanya si Alvin pasti nih." jari telunjuk Keen menuding tepat ke wajah adiknya. Tami hampir saja menggigit jari itu andai Keenan tidak dengan cekatan menarik tangannya.
"Biarin rabun karena ngelihat muka Mas Alvin, pahalanya banyak tahu." sungut Tami.
"Tapi bukan rabun deh kayaknya, tapi matamu ketinggalan di rumah. Hahaha. Aww... aww..., jangan nyubit-nyubit napa, sudah sakit pedes lagi cubitannya." Keenan mengusap-usap dan sesekali meniup lengannya yang kemerahan karena cubitan Tami. Asli cubitannya Tami itu ganas banget, nyubitnya pakai perasaan euy.
"Ha, rasain tuh. Siapa suruh jadi orang nyebellin amat." omel Tami. Ia menutup toples emping lalu mengembalikannya di tempat semula.
"Lah, mau kemana, dek?" tanya Keen saat melihat Tami beranjak dari bangku. Tami menoleh sebentar ke arah Keenan
"Mau bukain pintu buat Mama."
Keenan pun beranjak kursi dan berjalan mendahului Tami. Kamar menjadi tujuannya.
"Ingat ya, dek!"
"Ingat apa, Mas?" tanya Tami bingung.
"Ingat. Pintunya di buka ya, bukan dipanjat."
Setelah mengatakan kalimat itu, Keenan berlari dengan cepat menaiki tangga dengan gelak tawa yang tak kunjung usai. Sementara Tami berjalan ke arah pintu sambil sibuk komat-kamit dengan kesal. Hari ini Masnya itu sangat menyebalkan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Ma."
Tami segera menghampiri Bu Rahma yang menenteng banyak belanjaan di kedua tangannya.
"Sini, Ma. Tami yang bawain." Tami mengambil alih sebagian belanjaan dari tangan Mamanya. Ya, kalau di ngambil alih semua nggak sanggup juga dia.
__ADS_1
"Beli apaan saja, Ma? Ngeborong kayaknya." yanya Tami. Dia sibuk memilah-milah belanjaan untuk di taruh di wadah plastik. Lauk seperti ikan dan ayam ia simpan di freezer, sementara sayuran dan bumbu ia taruh di kulkas bagian bawah.
"Beli belanjaan buat seminggu, sayang. Sekalian Mama belanja buat kamu belajar masak." jawab Bu Rahma, tangannya sibuk menuang air ke dalam gelas lantas meminumnya setelah membaca basmalah.
"Aduh, maaf banget ngerepotin ya, Ma."
Beberapa hari yang lalu Ia merengek-rengek kepada mamanya minta diajarin masak. Tapi tanpa merengek pun sebenarnya Mamanya bersedia mengajarinya memasak. Ia benar-benar minder berat setelah melihat bekal yang disiapkan Mira untuk suaminya. Selain penampilannya menarik, Ia yakin seratus persen bahwa makanan yang dibuat Mira pasti enak. Ternyata hari itu Alvin memilih memakan bekal yang ia siapkan sementara masakan Mira ia bawa pulang ke rumah. Saat ia tanya kenapa, Alvin menjawab bahwa makanan buatan Tami rasanya jauh lebih enak. Ia jadi terharu dibuatnya. Padahal Ia yakin rasa masakannya pasti amburadul tapi Alvin tetap memakannya untuk menyenangkan hati istrinya. Dan benar saja, setelah mencicipi makanan pemberian Mira yang ia panaskan sebelumnya, rasanya luar biasa enak. Sejak hari itu ia bertekad untuk membuat masakan jauh yang lebih enak dari masakan Mira. Ya kasian juga kan Alvin ia cekoki mulu dengan masakannya, bisa overdosis garam tuh anak orang karena selama ini masakannya selalu keasinan.
"Nggak ngerepotin kok, sayang. Justru Mama seneng banget. Jadi rumah nggak sepi lagi, Mama juga jadi ada kegiatan di rumah."
Tami menghampiri Bu Rahma di meja makan setelah ia membereskan semua belanjaan.
"Makasih ya, Ma, udah mau bantuin Tami."
Bu Rahma menggenggam kedua tangan putrinya.
"Kembali kasih, sayang."
Tami tersenyum membalas tatapan Bu Rahma yang begitu hangat.
"Jadi hari ini kita masak apa, Ma?"
"Gimana kalau masak udang asam manis sama sop jagung?"
"Wah, kayaknya menarik deh, Ma." kata Tami antusias. Ia meleraikan genggaman tangan Bu Rahma lantas dengan bersemangat berjalan ke dapur. Bu Rahma juga mengekor di belakangnya.
"Bahan-bahannya apa saja, Ma?" Tami
sudah bersiap-siap mengambil bahan di depan lemari pendingin. Kepalanya bahkan sudah celingak-celinguk di dalam lemari pendingin.
"Ambilin udang yang kemaren sudah disiangin (dibersihkan), ada di kulkas bawah ya, ambilin tempat bumbu juga sekalian sama jagung dua buah, wortel dua buah sama buncis lima buah."
Tami mengambil satu persatu bahan yang dipinta Bu Rahma. Sementara bu Rahma sibuk menyiapkan peralatan masak.
"Udah, Ma. Ada lagi?" tanya Tami setelah meletakkan semua bahan masakan di meja.
"Apa, ya?"
Bu Rahma meneliti satu persatu bahan masakan di atas meja.
"Oh, iya. Ambilin tepung bumbu sama tepung roti."
Tami secepat kilat melaksanakan perintah Bu Rahma.
"Ada lagi?"
"Hampir lupa, Mama. Ambilin semua buah-buahan yang ada di lemari pendingin bagian paling bawah. Buah naganya jangan sampai ketinggalan, ya."
Tami menaruh tangan kanannya di ujung alisnya, melakukan mode hormat.
"Siap, Nyonya."
Setelah semua bahan terkumpul, Tami mengawali kegiatan memasak dengan membaca basmalah. Tenang suamiku sayang, istrimu ini pasti akan memasakkanmu makanan terenak di dunia.
Tami memulai dengan membersihkan dengan membuang semua kulit udang kecuali bagian ekor. Ia lalu melumuri udang dengan tepung bumbu yang sudah dicairkan. Setelah dilumuri dengan tepung bumbu, udang kemudian dilumuri dengan tepung roti. Sampai bagian ini dia yang memegang kendali, dengan petunjuk bu Rahma tentunya. Saat adegan goreng menggoreng dimulai sebenarnya Tami sudah mau angkat tangan saja. Dia agak trauma karena beberapa waktu lagu ia menggoreng ikan, eh ikannya malah ngamuk di penggorengan. Alhasil minyak gorengnya nyiprat kemana-mana dan mengenai lengannya beberapa kali. Tapi kali ini Tami memberanikan diri, apapun dia lakukan agar bisa memikat hati Alvin. Dan syukurlah, udang-udang itu berbaik hati dan tidak melawan saat dimasukkan di minyak panas.
Setelah beberapa udang matang, bu Rahma mengambil alih pekerjaan Tami dan menyuhnya memotong bumbu. Semua baik-baik saja hingga Tami tanpa sengaja mengucek matanya yang gatal menggunakan tangan yang tadi ia gunakan memegang cabai yang sudah diiris.
"Ma, mata Tami kepedesan Ma." adunya dengan panik. Ia berjalan kesana-kemari dengan mata tertutup sebelah, tangannya ia pakai untuk mengipas-ngipas matanya yang kepedesan.
Bu Rahma segera menghampiri Tami dan membawa putrinya ke tempat pembersih piring.
"Sini, sini, sayang. Matanya di buka, ya."
Bu Rahma menyalakan air dan meminta Tami mencuci matanya dengan air yang mengalir. Setelahnya ia membawa Tami di depan freezer. Hawa dingin freezer perlahan-lahan menghilangkan rasa perih di mata Tami.
"Ma, gorenganya." kata Tami mengingatkan.
Sangking paniknya, bu Rahma sampai lupa mematikan kompor alhasil udang yang ada di penggorengan pun gosong.
"Yah, Udangnya gosong semua, Ma." Tami memandangi udang yang tadi ia goreng sudah berubah warna jadi hitam.
Bu Rahma tertawa menanggapi putrinya. "Nggak apa-apa lah gosong, yang penting kamunya nggak kenapa-napa."
Tami tersenyum. Ia bersyukur memiliki seorang ibu yang amat penyayang dan pengertian.
Mereka melanjutkan pembelajaran memasak. Tami agak heran saat mamanya memasukkan potongan kulit buah naga di udang saus asam manis buatannya, ternyata penabahan kulit buah naga itu dimaksudkan agar masakan udangnya tambah enak. Meskipun keadaan dapur kacau balau tapi hari ini Tami berhasil membuat semua masakan dengan rasa yang tidak keasinan lagi berkat bimbingan Mamanya, dengan izin Allah tentunya.
Keenan meletakkan semangkok besar potongan buah untuk dijadikan salad buah di atas meja. Saat istirahat tadi, tiba-tiba Mamanya memintanya untuk membantu memotong buah. Ia menatap heran ke arah dapur yang berantakan. Di sana ada Mama dan adiknya yang sibuk beres-beres.
"Lah, ini habis masak apa tawuran sih?" Tanyanya. Mau dibilang masak tapi berantakan banget kayak tempat habis tawuran, mau dibilang tawuran tapi tempatnya di dapur. Ia tahu kerjaan siapa ini. Dan pelakunya cuma bisa cengangas cengenges.
__ADS_1
Kalau nggak berantakan bukan Tami namanya.