Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 13 (Wejangan Tiga Ibu)


__ADS_3

Rangkaian indah ayat demi ayat Al-qur'an mengalun merdu di sepertiga malam yang sunyi. Mendamaikan qalbu, menyejukkan jiwa yang gelisah akan urusan dunia. Bibir Tami bergetar, bulir bening mengalir di pipinya. Ya Rabbku, betapa beruntungnya hambamu ini, masih engkau beri kesempatan membaca ayat-ayat sucimu yang mendamaikan hati yang dilanda gelisah. Membacanya dalam keadaan tenang dan damai, tidak seperti saudara-saudara muslim di negeri Syam yang dicekam ketakutan, tidur berselimutkan rasa khawatir, dan makan bersama deraian air mata akibat penjahat-penjahat yang mengatasnamakan Islam.


Shadaqallahuladzim.


Tami menutup kitab suci itu, lantas membawanya ke bibir, menciumnya bersama deraian air mata. Rasa terima kasih yang tidak terkata karena Allah memilih umat Islam sebagai hambanya, umat Rasul utusannya, Muhammmad shallahu alaihi wasallam. Dan ia termasuk sebagai salah satu hamba pilihanNya.


Malam ini Tami mengadukan segala kegelisahan hati pada Tuhannya. Seseorang yang dilanda kesedihan butuh tempat untuk mengadu dan mencurahkan segala persoalan yang tengah dihadapi. Allah sudah mengingatkan hambanya pada surah Al-fatihah yang dibaca minimal tujuh belas kali dalam sehari.


"Hanya kepadaMu lah kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan."


Tami sedang diselimuti rasa galau saat itu. Antara permintaan yang begitu mendesak minta diberi jawaban dengan penantian yang tak berujung. Ada benang merah tak kasat mata yang mengikat dirinya dan doanya malam ini agar Allah membantunya memutuskan benang merah itu melalui istikharahnya. Meski hatinya sudah begitu mantap dan yakin dengan keputusan yang akan diambilnya, namun ia butuh melakukannya berdasar atas petunjuk Rabbnya. Tidak serta merta keputusan yang lahir dari hati adalah yang terbaik karena bisa jadi yang dianggap baik malah buruk bagimu dan yang buruk malah yang terbaik bagimu.


.....


"Ta? Tami? Kenapa melamun gitu, Nak?"


Tami mengalihkan tatapannya dari rumah sederhana ke sekelilingnya, mencari sumber suara yang tadi mengienterupsinya. Tanpa sadar ia telah berdiri lama memandang bangunan rumah bercat ungu yang berada tepat di depan rumah ibunya. Tidak. Bukan rumah itu yang ditatapnya, melainkan kenangan peristiwa yang pernah terjadi saat kata "ya" meluncur begitu saja dari lisannya.


Ketahuilah bahwa lisannya itu seperti tak mempunyai rem untuk sekedar berkata "tidak". Ia terlalu terkejut saat itu lalu mulutnya yang seperti petasan renteng mendahului sel-sel otaknya dan mengambil alih segalanya hingga membuatnya terjebak. Hanya doa panjang di sepertiga malam yang mampu menenangkan gelisah batinnya lalu kembali bergejolak saat loreng hijau melemparkan rasa hormatnya ke seberang jalan hingga menembus ke balik pintu coklat rumahnya. Sebagai warga negara ia sangat terkesan oleh rasa hormat beraroma sapuan cinta yang begitu kental, namun sebagai seorang gadis hatinya menolak meskipun saat itu pintu hatinya ia buka lebar tanpa adanya penghalang. Tak ada getaran yang ia rasa seperti saat ia membuktikan cinta pada Allah melalui ibadahnya dan pada Rasulnya saat lantunan shalawat mengalun merdu dari lisannya. Hanya senyuman gamang yang ia lemparkan ke pemilik rumah ungu karena hati tak selaras dengan atraksi yang ditampilkan. Tapi sudahlah, toh pilihan yang diambil saat menyetujui permintaan mamanya sudah berdasar atas petunjuk Rabbnya. Ia yakin sekarang tapi masih membutuhkan seseorang untuk memberinya dukungan.Dan karena alasan itulah kakinya melangkahkan kaki setelah sekian lama tidak menjenguk ibu yang begitu disayanginya.


"Ini anak dipanggilin dari tadi malah tambah melamun." gerutu ibunya


Tami berlari menghampiri ibunya lantas memeluknya dengan erat.


"Ibu, kangeeeeen." katanya dengan manja. Tangannya erat melingkar di punggung ibunya.


"Ibu juga kangen banget, sayang, tapi kamu tuh lama banget ngelamunnya."


Tami meleraikan pelukannya.


"Udah yuk masuk, daripada di sini udah panas, apalagi ngelihat kamu melototin rumah itu, tambah panas hati Ibu."


Aduh namanya juga ibu-ibu, anak kangen setengah mati saja tetap diomelin.


Tami mengikuti langkah ibunya yang menggamit lengan kanannya sambil mengomel. Tami tertawa renyah saat bola matanya dengan setia mengikuti bibir ibunya yang komat-kamit. Sudah lama ia merindukan omelan itu, tubuhnya bahkan memberikan sinyal melalui demam tinggi yang tiba-tiba menyerang. Padahal siang harinya meskipun agak meriang dia masih sempat bercengkrama dengan seorang pasien paruh baya.


"Assalamu'alaikum." ucapnya saat memasuki pintu coklat yang membawanya ke dalam dimensi kenangan lampau yang dirindukannya.


Ia rindu aroma dapur yang tak boleh disentuhnya. Ia rindu masakan ibunya yang rasanya juara, juga pada pohon jambu di belakang rumah yang saat musim tak pernah absen untuk ia panjat setiap hari. Dan yang paling ia rindukan adalah pelukan hangat ibunya.


"Wa'alaikumussalam." Ibu menjawab salam putri tersayangnya setelah melabuhkan diri di atas sofa empuk. Beliau menghela nafas sejenak, mencoba mengatur jumlah oksigen yang masuk ke paru-parunya karena harus bersusah payah menyeret Tami dari rumah ungu di seberang jalan. Ia tahu apa yang menghentikan langkah putrinya di situ. Dan itu benar-benar membuatnya ingin murka.


"Jika Tami masih memikirkannya, lebih baik Tami buang jauh-jauh pikiran itu, ibu tidak suka. Dua tahun itu waktu yang lama dan sekarang Allah telah mengirimkan siapa jodohmu yang sesungguhnya meskipun dengan cara yang tidak biasa."


Tami balas menatap ibunya yang sedari tadi membidik tepat ke dasar hatinya. Wanita itu tahu segalanya meski tak sepatah kata pun yang ia keluarkan melainkan salam saat diambang pintu tadi. Tami tersenyum, jiwa seorang ibu sangat peka menelisik kegelisahan dan kegundahan hatinya. Ia tak pernah menyesal menganggap orang yang telah memisahkan ia dari keluarganya sebagai ibu. Takkan ada bahagia tanpa jurang derita. Dan kebohongan yang disimpan rapi ibunya adalah jurang derita terbesar yang pernah dilaluinya untuk mengecap bahagia.


"Tami bimbang, Bu. Tami..."


"Assalamu'alaikum."


Suara salam di teras menghentikan pembicaraannya. Saat Tami menoleh, dua wanita yang begitu dikenalnya sedang berdiri diambang pintu. Keningnya berkerut dalam.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." jawab Tami dan ibunya bersamaan. Ia segera berdiri menyambut kehadiran dua dari tiga wanita yang paling disayanginya di dunia. Tangannya terulur untuk menyalami keduanya. Mereka duduk di sofa saat adegan cipika-cipiki usai dilakukan para ibu.


Sempurna!


Ketiga ibunya berkumpul di satu ruangan dan hatinya memiliki firasat bahwa pertemuan ini bukan tidak disengaja dan hari ini akan ada sidang dadakan baginya.


"Ma, Mamah, kenapa pada nyusul Tami ke sini?" Tami menatap satu persatu wanita yang mengelilinginya dengan penuh selidik.


"Mama sudah janjian sama Mamah mertuamu, pengen silaturahmi dengan Ibumu."


Tami manggut-manggut tidak yakin dan yang ada dibenaknya saat ini adalah,


Ah, masa sih? Kok aku nggak percaya, ya?Pasti ada hal lain ini. Batinnya.


Ibu datang dari arah dapur membawa tiga cangkir es lidah buaya, setumpuk donat kentang, dan sepiring kue balok sebagai kudapan sore ini. Sebelum shif malam, ia sempatkan waktunya untuk bertandang ke rumah ini guna menuntaskan rasa rindu yang menggelayut. Namun kenangan dua setengah tahun silam dan kenangan saat berdoa meminta petunjuk Allah saat ia diminta oleh keluarganya menggantikan posisi Karina sempat menghentikan langkahnya untuk menatap rumah ujung di seberang jalan.


"Silahkan diminum. Donatnya juga masih anget, belom lama keluar dari minyak panas." tawar ibunya.


Tami menikmati kudapannya dengan seribu satu pertanyaan yang menggelayut di benak. Ia tahu benar perangai Mama dan Mamah mertuanya. Tidak mungkin mereka hanya sekedar ingin silaturahmi, ia yakin keduanya datang dengan misi khusus.


"Sudah selesai berpikirnya, Ta?" tanya bu Rahma karena melihat Tami makan dengan kening yang berkerut.


"Hah?" responnya dengan mulut menganga.


"Kami memang datang ke sini untuk silaturahmi, sekalian ada yang ingin kami bicarakan denganmu, sayang." bu Rahma menjelaskan.


Tuh kan bener. Pasti ada apa-apa ini.


"Sejauh yang Mamah lihat, hubungan Tami dengan Alvin selama sebulan ini seperti tak ada perubahan. Apa kalian tidak menjalani pernikahan ini seperti yang seharusnya?"


Tami menelan donatnya dengan susah payah lantas menarik ujung bibirnya sambil tersenyum kecut. Benar adanya apa yang ditanyakan ibu mertuanya.Bagaimana menjalani pernikahan seperti yang seharusnya jika hati Alvin seperti tergembok dengan hati kakaknya. Lihatlah, meskipun Tami bisa melihat luka menganga lewat binar mata Alvin, tapi di saat yang bersamaan ia bisa melihat cinta yang begitu besar dan rindu yang menggelora. Apalagi saat melihat walpaper di handphone Alvin, Tami menyadari bahwa hanya pernikahan lah yang mengikat keduanya. Sedang hati mereka berkutat dengan masa lalu yang enggan beranjak dari belenggu jiwa yang menyesakkan. Jika sudah begitu janganlah berharap ada kata bahagia yang tercetus dari pernikahan yang berdasar pada putusan dua keluarga. Hati tidak bisa dipaksakan sodara-sodara.


"Apa Alvin memperlakukanmu dengan baik selama ini, sayang?" Tami mengangguk, mengiyakan.


Bu Rahma menarik nafas panjang. Ia butuh banyak oksigen karena saat menuturkan wejangan panjangnya sebentar lagi, mungkin tak sempat baginya untuk sekedar mengisi paru-parunya dengan oksigen.


"Dulu, saat Mama menikah dengan Ayahmu, keadaan pernikahan kami seperti kamu dan Alvin." ujar Bu Rahma saat mengenang pernikahannya tiga puluh satu tahun silam. "Nggak ada rasa, hambar. Mama biarkan hubungan itu terombang-ambing dan akhirnya tenggelam dalam ketidakpastian. Ayahmu saat itu sangat mencintai sahabat lamanya, sementara Mama hanyalah gadis lugu pilihan Kakek dan Nenekmu. Hampir enam bulan, hingga akhirnya keputusan bercerai menjadi pilihan. Saat itu Ibu merasa biasa saja, tanpa merasa berdosa karena kami seakan-akan menikah hanya untuk bercerai. Menyalahi janji suci yang menggetarkan langit yang disaksikan oleh Allah dan para malaikat. Lalu Allah menghadirkan penyakit yang menyadarkan Mama bahwa apa yang terjadi pada pernikahan Mama sebab keikhlasan selama menjalani hubungan suci itu hanya tercetus di hati, tapi tidak Mama terapkan. Dua minggu sebelum perceraian, Mama menjadi orang yang berbeda. Dengan bantuan Mamah mertuamu, kala itu Mama berubah menjadi perayu ulung. Tidak ada lagi gadis lugu yang pendiam. Mama melakukan apapun untuk mempertahankan pernikahan Mama, bahkan menjadi model dadakan rela Mama lakoni untuk meluluhkan hati Ayahmu. Suatu hal yang sungguh seumur hidup tak pernah Mama impikan. Mama membuat gaduh di pengadilan saat sidang perceraian hingga akhirnya Ayahmu takluk dan menyerah. Mama berhasil menyingkirkan cinta yang lain di hati Ayahmu karena tanpa permisi Mama menorobos hati Ayah meminta agar ruang hati yang selama ini diisi orang lain menjadi milik Mama. Meskipun berawal dari rasa jengah dan keterpaksaan, namun rasa cinta itu mulai tumbuh dengan subur diantara kami, hingga Allah menghadiahkan buah hati yang menjadi perekat erat dua orang tuanya. Bahagia itu diciptakan dan dijemput, bukan menunggu hingga ia datang sendiri." bu Rahma berhenti sejenak bercerita, lalu mengambil nafas dan menyeruput es lidah buaya miliknya. Ia terlalu bersemangat menceritakan masa lalunya dengan kekasih halalnya, Rizal Adhyastha.


Berdasar pada cerita masa muda Mamanya, kini Tami tambah tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Kamu tak akan tahu rasanya sebelum mencoba, tapi ia harus mencoba apa?


"Kamu mengerti kan apa maksud dari cerita Mama?" tanya bu Rahma.


Tami menggeleng.


"Nggak, Tami sama sekali nggak ngerti maksudnya Mama apaan." jawabnya sambil nyengir lucu.


"Ihhhh, anak siapa kamu nih?" ujar Bu Rahma gregetan.


"Anak kamu Rahma." kata Bu Rafika mengingatkan.


"Oh iya, lupa."

__ADS_1


Hadeh, anak sama emak kok sama ya modelannya.


"Maksudnya Mamah ceritain panjang lebar tuh supaya kamu nyontoh apa yang Mama lakukan, Tami, anak Mama tersayang."


Emang dasar Tami nya nggak mudeng alias lemot lebih tepatnya, masa dia malah bilang gini, "Ngamuk di pengadilan gituh?" tanyanya dengan polos.


"Uh, anakmu Mas Rizal, kok nguji kesabaran banget ya." bu Rahma mengusap dadanya perlahan. Emang titisan dia banget nih anak. Waktu muda dia memiliki sifat dan kelakuan sebelas dua belas dengan Tami.


"Maksud Mama kamu tuh, kamu juga ngelakuin yang sama seperti apa yang Mamamu lakukan dulu gitu. Perjuangin pernikahan kalian, rebut hati anak Mamah. Jangan sampai hubungan ini berujung perceraian." ujar Bu Rafika menjelaskan.


Setelah beberapa detik barulah Tami mengangguk mengiyakan.


"Iya, Ma. InsyaaAllah akan Tami lakukan."


Bu Rafika merogoh selembar foto dari dalam tasnya lalu diserahkan pada anak menantunya.


Dahi Tami berkerut melihat gambar yang ada pada selembar foto itu. Ia mengacungkan gambar itu ke udara sambil mengangkat kedua alisnya. Bu Rafika sangat mengerti pertanyaan apa yang ada di benak Tami.


"Baca bagian belakangnya." kata bu Rafika.


Tanpa menunggu dua kali Tami membaca tulisan di belakang foto.


...Kirana Putri Adhyastha dan Alvin Haiy Brahmantyo....


...20 Maret 2001...


Tami tercenung memandangi gambar gadis kecil yang cemberut karena dua pipinya dipegang dengan gemas oleh seorang bocah laki-laki. Lalu ia membalikkan foto itu untuk memandangi tulisan di sana. Sedekat itukah hubungannya dengan Alvin di masa lalu?


"Maksud foto ini apa, Mah?" tanyanya. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa ibu mertuanya menunjukkan foto itu kepadanya.


"Foto itu diambil tiga bulan sebelum kamu menghilang. Sebenarnya kamu yang disukai Alvin sejak lahir, bukan Karina. Bahkan ia berjanji akan menjagamu sampai kamu dewasa. Maka dari itu Mamah katakan bahwa hanya seorang suami yang bisa menjagamu saat dewasa. Karena sebuah kecelakaan, yang ia ingat hanya satu dari dua sosok gadis bersaudara. Karena itulah Alvin sangat mencintai Karina. Cinta yang ia bawa hingga dewasa. Kamu tahu kan dalam Islam jika seseorang di masa lalu pernah berjanji untuk menikah dengan seseorang yang ia janjikan maka meskipun lupa, orang tersebut tetap harus diberitahu tentang janjinya itu meskipun nanti ia menolak atau menerima. Dan saat kamu kembali ke pangkuan keluargamu, Mamah berniat memberitahu Alvin segalanya sebelum pernikahannya dengan Karina berlangsung. Namun niat itu urung Mama lakukan karena Karina memilih pergi tanpa kabar. Akhirnya setelah diskusi panjang kami semua memutuskan bahwa kamu lah yang akan menggantikan posisi Karina." bu Rafika menghentikan pembicaraannya kemudian meralat apa yang barusan ia katakan.


"Bukan kamu yang menggantikan posisi Karina, tepatnya Karina lah yang selama ini menggantikan posisimu, Tami. Jodoh kalian kuat sayang, karena itu walaupun telah berpisah lama pada akhirnya kamu juga yang menikah dengan Alvin, bukan Karina."


Tami terdiam. Satu lagi rahasia terpendam yang kini muncul ke permukaan. Tapi bisakah cinta masa kecil dijadikan sebuah landasan, sedang ia tahu meskipun Karina menggantikan posisinya bukan berarti Alvin akan berpaling dari saudaranya. Cinta masa kecil berbeda sekali dengan cinta saat dewasa. Cinta Alvin kecil yang dimaksud ibu mertuanya hanya ungkapan dari bentuk rasa sayang Alvin pada sosok Kirana kecil. Rasa sayang yang Tami tebak seperti rasa sayang kakak laki-laki kepada adik perempuannya, mengingat kedekatan dua keluarga mereka. Tidak lebih dari itu.


"Maafin Ibu sayang karena telah membuat hidup Tami jadi ribet begini."


Tami beranjak lalu duduk di lengan sofa memeluk ibunya dengan erat. Wanita itu kembali menyalahkan dirinya karena apa yang dialami Tami sekarang.


"Hidupmu nggak akan seribet ini kalau Ibu nggak merenggut kamu dari keluargamu, Nak." terdengar isakan keluar dari bibir tua ibunya.


"Nggak, ini bukan salah ibu kok. Ini takdir Tami yang sudah digariskan oleh Allah." katanya sambil menggelengkan kepala. Ia pun ikut terisak juga.


Tidak tega rasanya jika membiarkan seorang ibu terlarut-larut dalam rasa bersalah meskipun tindakan ibunya di masa lalu tidak bisa dibenarkan juga. Tami menghapus bulir bening yang menganak sungai di pipi ibunya dengan kedua jempolnya. Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.


"Tami, untuk menghilangkan rasa sakit maka kita butuh mencintai orang lain. Meskipun nantinya Alvin hanya menganggap kamu sebagai pelarian tapi jadikanlah itu sebagai pelarian terindah dalam hidupnya." ujar bu Rahma. Jeda beberapa detik, "Jadilah seperti Khadijah meskipun tak ada pria sebaik dan sehebat Nabi Muhammad di dunia ini. Dan Mama yakin bahwa anak Mama ini mewarisi sifat Mama yang mampu menaklukkan jurang pemisah yang menghalangi kebahagiaan kalian. Obat dari rasa sakit karena cinta hanyalah cinta itu sendiri."


Selang beberapa menit, ibunya yang angkat bicara. "Sekarang Tami punya dua alasan kuat untuk menaklukkan hati nak Alvin.Selain status sebagai istri, kamu juga adalah gadis yang seharusnya dicintai Nak Alvin selama ini."


Wejangan dari ketiga ibunya telah memberi kekuatan besar pada dirinya untuk menaklukkan hati Alvin. Dan misi menaklukkan hati si suami akan segera ia mulai. Ayo Tami, kamu pasti bisa melakukannya, jangan biarkan keraguan kembali mematahkan niatmu. Tami memberikan semangat kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2